Masjid yang menanti Anda ...

PEMBANGUNAN MASJID & PESANTREN

Masjid dan pesantren 2010 Masjid di Jurang jero, Sadan, Kebumen, Jawa Tengah Masjid diKemalang, Klaten, Jawa Tengah Masjid di Jurug, Pan...

Maksiat Menggelapkan Hati

Rumaysho.Com

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Setiap hari tidak bosan-bosannya kita melakukan maksiat. Aurat terus diumbar, tanpa pernah sadar untuk mengenakan jilbab dan menutup aurat yang sempurna. Shalat 5 waktu yang sudah diketahui wajibnya seringkali ditinggalkan tanpa pernah ada rasa bersalah. Padahal meninggalkannya termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa zina. Saudara muslim jadi incaran untuk dijadikan bahan gunjingan (alias “ghibah”). Padahal sebagaimana daging saudaranya haram dimakan, begitu pula dengan kehormatannya, haram untuk dijelek-jelekkan di saat ia tidak mengetahuinya. Gambar porno jadi bahan tontonan setiap kali browsing di dunia maya. Tidak hanya itu, yang lebih parah, kita selalu jadi budak dunia, sehingga ramalan primbon tidak bisa dilepas, ngalap berkah di kubur-kubur wali atau habib jadi rutinitas, dan jimat pun sebagai penglaris dan pemikat untuk mudah dapatkan dunia. Hati ini pun tak pernah kunjung sadar. Tidak bosan-bosannya maksiat terus diterjang, detik demi detik, di saat pergantian malam dan siang. Padahal pengaruh maksiat pada hati sungguh amat luar biasa. Bahkan bisa memadamkan cahaya hati. Inilah yang patut direnungkan saat ini.
Ayat yang patut jadi renungan di malam ini adalah firman Allah Ta’ala,
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthoffifin: 14)
Makna ayat di atas diterangkan dalam hadits berikut.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan "ar raan" yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”[1]
Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qotadah, Ibnu Zaid dan selainnya.[2]
Mujahid rahimahullah mengatakan, “Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya ia dalam keadaan terbuka dan jika berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Jika berbuat dosa, maka jari-jemari perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tersebut. Jika ia berbuat dosa lagi, maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya seluruh telapak tangan tadi tertutupi oleh jari-jemari.”[3]
Penulis Al Jalalain rahimahumallah menafsirkan, “Hati mereka tertutupi oleh “ar raan” seperti karat karena maksiat yang mereka perbuat.”[4]
Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan perkataan Hudzaifah dalam fatawanya. Hudzaifah berkata, “Iman membuat hati nampak putih bersih. Jika seorang hamba bertambah imannya, hatinya akan semakin putih. Jika kalian membelah hati orang beriman, kalian akan melihatnya putih bercahaya. Sedangkan kemunafikan membuat hati tampak hitam kelam. Jika seorang hamba bertambah kemunafikannya, hatinya pun akan semakin gelap. Jika kalian membelah hati orang munafik, maka kalian akan melihatnya hitam mencekam.”[5]
Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat Al Muthoffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.”[6]
Inilah di antara dampak bahaya maksiat bagi hati. Setiap maksiat membuat hati tertutup noda hitam dan lama kelamaan hati tersebut jadi tertutup. Jika hati itu tertutup, apakah mampu ia menerima seberkas cahaya kebenaran? Sungguh sangat tidak mungkin. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran.”[7]
Perbanyaklah taubat dan istighfar, itulah yang akan menghilangkan gelapnya hati dan membuat hati semakin bercahaya sehingga mudah menerima petunjuk atau kebenaran.
Ya Allah, tunjukkanlah hati kami ini agar selalu taat pada-Mu dan berusaha menjauhi setiap maksiat yang benar-benar telah Engkau larang, apalagi dosa syirik dan kekufuran. Amin Yaa Mujibbas Saailin.


Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Disusun di malam hari, 7 Syawal 1431 H (15/09/2010) di Panggang - Gunung Kidul
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.rumaysho.com

[1] HR. At Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, Ibnu Hibban (7/27) dan Ahmad (2/297). At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[2] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Al Qurthubah, 14/268.
[3] Fathul Qodir, Asy Syaukani, Mawqi’ At Tafasir, 7/442.
[4] Tafsir Al Jalalain, Al Mahalli dan As Suyuthi, Mawqi’ At Tafasir, 12/360
[5] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426, 15/283
[6] Ad Daa’ wad Dawaa’, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, hal. 70.
[7] Ad Daa’ wad Dawaa’, hal. 107.

Koleksi Kartu Ucapan Selamat Idul Fitri

http://ebsoft.web.id


Hari Raya Idul Fitri insyaAllah sebentar lagi tiba, dan salah satu kebiasaan kita adalah mengucapkan selamat dan saling mendoakan, semoga amal ibadah selama bulan Ramadhan ini bisa di terima Allah Subhanahu wata’ala. Masih bingung belum mendapatkan kartu ucapan Idul Fitri yang cocok? Berikut koleksi ucapan Selamat Idul Fitri yang sudah saya buat, mungkin masih sederhana, sehingga silahkan jika ingin menambahkan kata atau kalimat di kartu ini dan menyebarkannya.


Silahkan klik masing-masing gambar untuk download yang dipilih saja, untuk melihat atau download seluruhnya, silahkan buka Folder Kartu Idul Fitri 1431 H. Kartu ini bebas di modifikasi dan diubah sesuai dengan keinginan anda asal digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Sebagai pengunjung ebsoft, anda juga bebas menyebarkan kartu ini ke teman atau saudara-saudara kita. Semoga kartu ucapan ini bermanfaat bagi pembuat, pen-download dan penerimanya.

Nasihat dari Bumi Perantauan Kepada Sanak Saudaraku di Kampung Halaman (1)

muslim.or.id
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta, shalawat dan salam buat Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, semoga shalawat dan salam juga terlimpahkan buat keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk Mereka sampai hari kiamat.

Bermacam cobaan dan bencana telah menimpa negeri tercinta ini namun kesadaran masih juga belum kunjung datang pada diri kita masing-masing. Kita masih saling menyalahkan, bahkan kita mengira bahwa semua bencana tersebut disebabkan oleh dosa orang lain. Adapun diri kita sendiri tidak pernah bersalah dan tidak pernah berdosa. Diawali dari kesemberawutan ekonomi dan politik, datang banjir yang menenggelamkan berbagai kota besar di nusantara, lalu musim kemarau panjang dan kebakaran hutan serta kabut yang menyelimuti berbagai daerah, disertai kekurangan pangan dan kelaparan di mana-mana, gempa dan tsunami yang telah memporak-porandakan Aceh dan beberapa negara lainnya disusul oleh gempa Nias yang memakan korban cukup banyak pula. Masihkah belum cukup untuk kita berpikir dan mengambil ‘ibroh dari segala kejadian tersebut? Kita mengeluh kemiskinan melanda negeri kita tapi parabola menjamur di atas gubuk-gubuk yang hampir reok! Kita mengeluh atas tersebarnya berbagai maksiat di tengah-tengah masyarakat, tapi berbagai media informasi dua puluh empat jam menampilkan acara yang berbau porno dan sex (yang diperhalus dengan istilah pornoaksi dan pornografi), yang kesemuanya disantap oleh anak-anak yang baru bisa merangkak sampai kakek-kakek yang sudah pikun. Berbagai berita maksiat tersebar; ada kakek yang memerkosa anak di bawah umur, ada guru SD yang melacur, banyak siswi SMK yang hamil, ada… ada… ada… dan seterusnya.
Kerusakan tidak hanya sampai di situ bahkan sampai kepada titik memperolok-olokkan agama, menghujat Allah, memutarbalikkan pengertian ayat-ayat al-Qur’an, membikin model ibadah-ibadah baru dan seterusnya. Yang seharusnya pelakunya mendapat hukuman justru sebaliknya mendapat sanjungan sebagai intelektual dan segudang sanjungan lainnya.
Sangat nyata apa yang dikatakan Allah dalam firman-Nya:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah muncul kerusakan di darat dan di laut dengan sebab ulah perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagaian (dari) akibat perbuatan mereka, agar Mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Ruum: 41)
Itu hanya sekelumit persoalan yang sedang menimpa negara kita. Tapi pernahkah kita bertanya dan memikirkan kenapa semua ini terjadi? Bagaimana caranya kita selamat dari bencana ini? Yaitu bencana kehidupan dan keimanan.
Bila dua pertanyaan ini bisa terjawab dengan benar dan baik, maka penyelesaian dan kesembuhan akan bisa diharapkan. Karena dengan mengetahui sebab-sebab penyakit dari situ akan bisa merencanakan terapi yang jitu. Mengetahui sebab-sebab kehancuran supaya dihindari. Kemudian berusaha mencari jalan keluar dari kehancuran ini agar bisa membangun kembali puing-puing yang sudah roboh tanpa mengesampingkan pengalaman pahit yang berlalu untuk dijadikan sebagai pelajaran dan bahan pertimbangan dalam membangun kehidupan yang baru.
Oleh sebab itu Allah berulang kali menceritakan tentang kaum-kaum yang dihancurkan dalam kitab-Nya yang mulia, supaya umat manusia mengambil ‘ibroh dan pelajaran dari kisah mereka, mengapa mereka ditimpa azab dan bencana? Apakah karena mereka miskin? Atau karena tidak punya angkatan perang yang cukup? Atau karena sistem politik dan ekonomi Mereka yang lemah? Atau karena hal lain yaitu karena kufur kepada Allah, tidak mau bersyukur kepada Allah, serta menolak kebenaran yang diturunkan Allah??
Dalam tulisan singkat ini kita mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas sesuai dengan apa yang dituangkan dalam Al Quran dan Sunnah. Karena keselamatan dan kebahagiaan hanya bisa digapai dengan mengamalkan keduanya, selama penyelesaian tidak berpedoman kepada wahyu Ilahi selama itu pula penyelesaian yang menjadi impian tidak akan datang.
Tulisan ini sebagaiimbauan nasihat dari perantauan ilmu yaitu kota Nabi (kota Madinah) kepada sanak saudaraku di kampung halaman (Ranah Minang khususnya dan Tanah air pada umumnya -ed).
Imbauan Nasihat ini di latar belakangi oleh beberapa hal:
  1. Musibah yang tidak putus-putusnya menimpa negara kita tercinta, mulai dari sengketa politik, krisis ekonomi sampai pada musibah tsunami dan gempa Nias.
  2. Maraknya berbagai maksiat di tengah-tengah masyarakat khususnya di Ranah Minang, mulai maraknya pembunuhan yang lebih menyayat hati seorang anak tega menyembelih ibu kandungnya sendiri, maraknya perzinaan dan perjudian bukan hanya di kalangan masyarakat umum tapi justru sudah merambah ke lembaga pendidikan.
  3. Mendangkalnya rasa keagamaan, mulai dari gerakan permurtadan, maraknya perbuatan syirik, kebiasaan meninggalkan shalat dan melakukan praktek-praktek ibadah yang tidak ada dalam Islam.
  4. Dan banyak lagi hal-hal lain yang tidak bisa diungkapkan satu persatu dalam pesan ringkas ini.
Imbauan ini sudah lama terbetik dalam hati kami, tapi selalu ragu untuk menulisnya dengan pertimbangan dan alasan ini dan itu; seperti masalah keikhlasan dalam menyampaikan nasihat, masalah masih banyaknya orang yang jauh lebih berilmu di Ranah Minang ini yang lebih berhak untuk berbicara, keberadaan penulis yang jauh dari kampung yang bila bicara akan dianggap tidak mengetahui persoalan kampung. Dan banyak lagi yang selalu menjanggal untuk dimulainya penulisan nasihat ini.
Tapi pada tanggal 7 April 2005 perasaan sedih bercampur haru semakin mengganggu sehingga membuat tidurpun tidak enak apalagi setelah membuka padang ekspres lewat internet, sebuah berita mengejutkan sekaligus mengherankan tentang pelaksanaan shalat Dhuha berjamaah di lapangan Taman Budaya Padang dengan bacaan dikeraskan, disertai iqamah segala. Dengan seketika kami terkesima; “Wah ini memang sudah kebablasan dan tidak tau lagi siapa yang harus diikut dalam beragama, ke mana ulama Ranah Minang yang dulu katanya sebagai gudang ulama?”
Karena takut akan diancam azab Allah, kami mencoba mengikhlaskan niat dan memberanikan diri untuk menulis nasihat ini, sekalipun tidak ada yang mau menerima tapi kewajiban sebagai seorang muslim kami harus menunaikan amanah yang berat ini. Serta mensyukuri rahmat Allah kepada kami yang telah memberi nikmat untuk menimba ilmu dari ulama di kota Nabi tepatnya di Universitas Islam Madinah yang sekarang dalam menyelesaikan S3 di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin -Jurusan Aqidah.
Semoga Allah menjadikannya sebagai nasihat yang ikhlas, dan menjadikannya bermanfaat bagi penulis dan pembacanya. Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin.
Kewajiban untuk Saling Menasihati
Banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang mewajibkan kita untuk saling menasihati sesama muslim, saat kewajiban ini telah diabaikan maka saat itulah bencana dan kehancuran akan datang, karena sudah tidak ditegakkannya kewajiban ini kebinasaan telah melanda dalam segala aspek kehidupan kita. Saya masih ingat waktu saya kecil bagaimana adanya saling nasihat antara sesama muslim, bila saya ditemui seseorang di tengah jalan atau masih main-main pada jam enam sore, ia dengan spontan menegur: “Oii wa ang ndak ka surau”, saya tidak kenal siapa dia, tapi begitulah kehidupan pada masa itu, semua orang merasakan bahwa anak saudaranya adalah anaknya sendiri yang harus dibimbing dan dinasihati. Begitu pula bila melihat seorang berjalan bergandengan dengan lawan jenis akan disapa dan di tegur bahkan merupakan aib yang amat besar bila dilihat orang kampung berjalan dengan lawan jenis (bukan suami istri). Bahkan orang tua atau mamaknya akan memberikan ganjaran tertentu, seperti ancaman; bila diulangi kalau dia perempuan akan di gundul kepalanya. Begitulah penerapan nasihat dulu di Ranah Minang, tetapi sekarang bila anaknya tidak bisa membawa pacar pulang ke rumah, orang tuanya akan merasa gengsi dengan tetangga. Bila anaknya ditegur dari tindakan yang merusak moral dengan spontan ia akan membanggakan diri dan merasa dihina. Sehingga bila kita menasihati berarti kita telah menghina dan melanggar hak kebebasannya. Sedangkan agama hanya memberi kebebasan dalam melakukan perbuatan yang baik, adapun dalam berbuat kerusakan Islam tidak memberikan kebebasan kepada siapapun, itulah arti kebebasan dalam Islam, bukan sebagaimana yang diinginkan oleh orang-orang kafir yaitu kebebasan hutan belantara.
Berikut kita sebutkan beberapa ayat dan hadits yang mewajibkan untuk saling menasihati dalam menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran;
Firman Allah:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)
Keberuntungan yang disebutkan pada akhir ayat di atas adalah bersifat umum mencakup keberuntungan di dunia dan keberuntungan di akhirat.
Sebagaimana perintah Lukman kepada anaknya:
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (Mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)
Dalam ayat di atas ada satu hal yang amat penting untuk di ketahui yaitu rahasia mengapa perintah untuk bersikap sabar setelah perintah untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar? Karena perintah menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar itu tidak akan bisa dilakukan kecuali oleh orang yang memiliki kesabaran, baik dalam menyampaikan kebenaran itu sendiri maupun dalam menerima cobaan dan tantangan dari pelaku kemungkaran. maka oleh sebab itu tidak ada seorang rasulpun yang diutus kecuali mendapat perlawanan dari kaumnya, baik berbentuk perlawanan fisik maupun mental.
Kemudian menyampaikan nasihat sesama muslim adalah ciri-ciri manusia yang beruntung dalam kehidupannya. Sebagaimana yang terdapat dalam surat Al ‘Ashr:
وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasihat- menasihati dengan kebenaran dan saling nasihat-menasihati dengan kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)
Dalam ayat yang mulia di atas ditegaskan bahwa manusia itu merugi dalam sepanjang masa kecuali orang yang mengisi masanya dengan empat hal; yaitu beriman, beramal saleh, memberi nasihat dengan kebenaran dan memberi nasihat dengan kesabaran.
Begitu pula disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Agama itu adalah nasihat, (Beliau mengulanginya ucapan tersebut sampai tiga kali), Para sahabat bertanya: untuk siapa (ya Rasulullah)? Beliau menjawab: Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin serta kaum muslimin secara umum.” (HR. Imam Muslim no. 55)
Kandungan hadits ini menerangkan tentang wajibnya menyampaikan nasihat dalam agama untuk pemimpin dan masyarakat umum, yaitu dalam hal wajibnya membina kehidupan bermasyarakat untuk taat kepada Allah serta menjunjung tinggi perintah dan hukum-hukum yang diterangkan dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Nasihat untuk Allah yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah nasihat untuk menaati perintah Allah dalam segala aspek kehidupan bernegara, baik politik, ekonomi maupun pendidikan, maka pendidikan hendaknya harus mengacu dan memacu untuk mendidik para peserta didik untuk tunduk dan taat kepada Allah, bukan sebaliknya.
Nasihat untuk kitab Allah adalah nasihat untuk menjadikan kitab tersebut sebagai landasan dan pola dalam segala aspek kehidupan bernegara dan bermasyarakat, baik yang berhubungan dengan hukum ataupun peraturan dan undang-undang.
Nasihat untuk Rasul-Nya adalah menjadikan ajarannya sebagai acuan dalam menunaikan hak dan kewajiban bermasyarakat dan bernegara, baik yang berbentuk hubungan Vertikal antara rakyat dengan penguasa, maupun hubungan Horizontal antar sesama rakyat termasuk hubungan antar umat beragama dalam satu negara, serta menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut sebagai Uswah dalam kepemimpinan.
Adapun nasihat untuk pemimpin adalah supaya Mereka berbuat adil dan menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber hukum, melakukan tugas yang diamanahkan Allah kepada Mereka dengan penuh tanggung jawab dan pengorbanan demi kesejahteraan rakyat banyak, bukan sebaliknya untuk kesejahteraan pribadi. Bila Mereka melakukan tugas tersebut sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah Mereka akan dibalasi dengan balasan yang sangat istimewa pada hari kiamat. Seperti yang disebutkan Rasulullah dalam sabda beliau: Bahwasanya Mereka termasuk salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, di hari yang tiada naungan kecuali naungan Allah. (HR. Imam Bukhari no. 628 dan Imam Muslim no. 1031)
Dan Mereka akan ditinggikan di atas podium yang terbuat dari cahaya yang terletak di sebelah kanan Allah. (HR. Imam Muslim no. 1827)
Adapun nasihat untuk kaum muslimin secara umum adalah hendaklah Mereka selalu berbuat ketaatan kepada Allah dan meninggalkan perbuatan maksiat. Terutama sekali meninggalkan perbuatan syirik, seperti meminta kepada kuburan, bebatuan, pepohonan dan sebagainya. Serta menciptakan hubungan yang harmonis dengan penguasa. Menaati Mereka dalam segala hal yang ma’ruf untuk mencapai kehidupan yang diridhai oleh Allah ta’ala.
-bersambung insya Allah-
***
Penulis: Dr. Ali Musri Semjan Putra
Artikel www.muslim.or.id

Beribadah Bukan Hanya Sesaat dan 8 Kemungkaran di Hari Raya

At Tauhid edisi VI/36
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Beribadah Bukan Hanya Sesaat
Bulan Ramadhan, sungguh membawa berbagai berkah. Lihat saja bagaimana di bulan suci tersebut marak sekali berbagai aktivitas ibadah di berbagai masjid. Mulai dari orang-orang rajin ke masjid untuk melaksanakan shalat lima waktu dan shalat tarawih. Begitu pula kegiatan rutin tadarusan setiap malamnya. Ini semua merupakan tanda keberkahan bulan tersebut. Namun, kadangkala kita saksikan bahwa ibadah-ibadah yang dilakukan ini hanya musiman. Contohnya saja, shalat lima waktu. Di bulan Ramadhan, boleh jadi rajin bukan kepalang. Setelah bulan Ramadhan, seakan-akan tidak ada bekas yang tersisa atau mungkin sudah semakin diremehkan karena sering bolongnya dalam mengerjakan shalat.

Beribadah Bukan Musiman
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni kematian).” (QS. Al Hijr: 99). Az Zujaaj mengatakan bahwa makna ayat ini adalah sembahlah Allah selamanya. Ulama lainnya mengatakan, “Sembahlah Allah bukan pada waktu tertentu saja”. Jika memang maksudnya adalah demikian tentu orang yang melakukan ibadah sekali saja, maka ia sudah disebut orang yang taat. Namun Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sembahlah Allah sampai datang ajal”. Ini menunjukkan bahwa ibadah itu diperintahkan selamanya sepanjang hayat.[1]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan kita beribadah bukan hanya sesaat. Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”[2]
Asy Syibliy pernah ditanya, ”Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?” Beliau pun menjawab, ”Jadilah Robbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.” Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah setiap saat dan bukan hanya di bulan Sya’ban saja. Kami (penulis) juga dapat mengatakan, ”Jadilah Robbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin.”[3] Maksudnya, beribadahlah secara kontinu (ajeg) sepanjang tahun dan jangan hanya di bulan Ramadhan saja.

Amalan Setelah Ramadhan
Pertama, menjaga shalat lima waktu.
Shalat lima waktu sudah kita ketahui bersama merupakan bagian dari rukun Islam. Artinya shalat tersebut adalah suatu yang tidak disangsikan lagi wajibnya. Sehingga ancaman orang yang meninggalkannya pun begitu keras. Lihat saja dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut, “Perjanjian antara kami (muslim) dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia kafir.”[4] ‘Umar bin Khottob rahimahullah pernah mengatakan di akhir-akhir hidupnya, “Tidaklah disebut muslim orang yang meninggalkan shalat.”[5]
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”[6] Artinya di sini, orang yang meninggalkan satu shalat saja, dosanya lebih parah dari dosa orang yang berzina.

Kedua, menjaga shalat jama’ah.
Bagi pria, tentu saja ia lebih afdhol melaksanakan shalat jama’ah di masjid. Bahkan menurut pendapat terkuat hukum shalat jama’ah itu wajib. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa shalat jama’ah itu wajib adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan shalat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti sholat jama’ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka”.[7] Imam Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.”[8]

Ketiga, merutinkan puasa sunnah.
Puasa sunnah tentu saja adalah penyempurna puasa wajib. Jika ada kekurangan pada puasa wajib kita di bulan Ramadhan, kekurangan tersebut bisa ditambal dengan amalan puasa sunnah.
Di antara amalan puasa yang bisa dilakukan selepas ramadhan adalah puasa enam hari di bulan Syawwal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.”[9]
Selain itu, puasa yang bisa dirutinkan adalah puasa Senin-Kamis. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.”[10]
Minimal setiap bulan hijriyah, ada puasa sebanyak tiga hari. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: [1] berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] mengerjakan shalat Dhuha, [3] mengerjakan shalat witir sebelum tidur.”[11]

Keempat, merutinkan shalat malam.
Jika di bulan Ramadhan, kita sudah terbiasa melakukan shalat tarawih di awal malam. Perlu diketahui bahwa shalat tarawih adalah istilah yang dimaksudkan untuk shalat malam (shalat tahajjud). Namun shalat tarawih di bulan Ramadhan dikerjakan di awal malam, sedangkan shalat tahajjud di luar Ramadhan lebih afdhol dikerjakan di akhir malam. Di luar ramadhan sudah sepantasnya shalat ini pun tetap dilaksanakan. Karena ibadah itu bukan musiman. Ibadah terbaik adalah sepanjang hayat.
Lihatlah bagaimana celaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang yang rutin mengerjakan shalat malam, namun belakangan ia tinggalkan. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.”[12]

8 Kemungkaran di Hari Raya

Hari raya ‘Idul Fithri adalah hari yang selalu dinanti-nanti kaum muslimin. Tak ada satu pun di antara kaum muslimin yang ingin kehilangan moment berharga tersebut. Apalagi di negeri kita, selain memeriahkan Idul Fithri atau lebaran, tidak sedikit pula yang berangkat mudik ke kampung halaman. Di antara alasan mudik adalah untuk mengunjungi kerabat dan saling bersilaturahmi. Namun ada beberapa hal yang perlu dikritisi saat itu, yaitu beberapa amalan yang keliru dan mungkar. Satu sisi, amalan tersebut hanyalah tradisi yang memang tidak pernah ada dalil pendukung dalam Islam dan ada pula yang termasuk maksiat.
Pertama: Tasyabbuh (meniru-niru) orang kafir dalam berpakaian. Terutama kita lihat bagaimana model pakaian muda-mudi saat ini ketika hari raya, tidak mencerminkan bahwa mereka muslim ataukah bukan. Sulit membedakan ketika melihat pakaian yang mereka kenakan. Sungguh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda, ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”[13]
Kedua: Mendengarkan dan memainkan musik/nyanyian/nasyid di hari raya. Imam Al Bukhari membawakan dalam Bab “Siapa yang menghalalkan khomr dengan selain namanya” sebuah riwayat dari Abu ‘Amir atau Abu Malik Al Asy’ari telah menceritakan bahwa dia tidak berdusta, lalu beliau menyampaikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik.”[14] Jika dikatakan menghalalkan musik, berarti musik itu haram.[15]
Ibnu Mas’ud mengatakan, “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayuran.” Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Nyanyian adalah mantera-mantera zina.” Adh Dhohak mengatakan, “Nyanyian itu akan merusak hati dan akan mendatangkan kemurkaan Allah.”[16] Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Nyanyian adalah suatu hal yang sia-sia yang tidak kusukai karena nyanyian itu adalah seperti kebatilan. Siapa saja yang sudah kecanduan mendengarkan nyanyian, maka persaksiannya tertolak.”[17] Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak ada satu pun dari empat ulama madzhab yang berselisih pendapat mengenai haramnya alat musik.”[18]
Ketiga: Wanita berhias diri ketika keluar rumah. Padahal seperti ini diharamkan di dalam agama ini berdasarkan firman Allah (yang artinya), “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab: 33). Abu ‘Ubaidah mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.” Az Zujaj mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.”[19] Seharusnya berhias diri menjadi penampilan istimewa si istri di hadapan suami dan ketika di rumah saja, dan bukan di hadapan khalayak ramai.
Keempat: Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahrom. Fenomena ini merupakan musibah di tengah kaum muslimin apalagi di hari raya. Tidak ada yang selamat dari musibah ini kecuali yang dirahmati oleh Allah. Lihat bagaimana contoh dari suri tauladan kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku tidak akan bersalaman dengan wanita. Perkataanku terhadap seratus wanita adalah seperti perkataanku terhadap seorang wanita, atau seperti perkataanku untuk satu wanita.“[20]
Kelima: Mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya ‘ied. Kita memang diperintahkan untuk ziarah kubur sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sekarang ziarah kuburlah karena itu akan lebih mengingatkan kematian.”[21] Namun tidaklah tepat diyakini bahwa setelah Ramadhan adalah waktu terbaik untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”). Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Masalahnya, jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa setelah Ramadhan (saat Idul Fithri) adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.
Keenam: Tidak sedikit dari yang memeriahkan Idul Fithri meninggalkan shalat lima waktu karena sibuk bersilaturahmi. Kaum pria pun tidak memperhatikan shalat berjama’ah di masjid. Demi Allah, sesungguhnya ini adalah salah satu bencana yang amat besar.
Ketujuh: Begadang saat malam ‘Idul Fithri untuk takbiran hingga pagi sehingga kadang tidak mengerjakan shalat shubuh dan shalat ‘ied di pagi harinya. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[22]
Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[23]
Takbiran yang dilakukan juga sering mengganggu kaum muslimin yang hendak beristirahat. Padahal hukum mengganggu sesama muslim adalah terlarang. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.”[24] Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.”[25] Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!
Kedelapan: Memeriahkan ‘Idul Fithri dengan petasan. Selain mengganggu kaum muslimin lain sebagaimana dijelaskan di atas, petasan juga adalah suatu bentuk pemborosan. Karena pemborosan kata Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar. Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.”[26] Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27).
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. [Muhammad Abduh Tuasikal]
Segenap redaksi Buletin At Tauhid mengucapkan
Selamat Idul Fithri 1431 H
Taqobbalallahu minna wa minkum
Semoga Allah menerima amalan kami dan kalian di bulan Ramadhan
_____________
[1] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, Al Maktab Al Islami, 4/423.
[2] HR. Muslim no. 783.
[3] Lihat Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H, hal. 390.
[4] HR. An Nasai no. 463, At Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079 dan Ahmad 5/346. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[5] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, Ibnul Qayyim, Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, 1426 H, hal. 41.
[6] Ash Sholah, hal. 7.
[7] HR. Bukhari no. 644 dan Muslim no. 651, dari Abu Hurairah.
[8] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 107
[9] HR. Muslim no. 1164
[10] HR. Tirmidzi no. 747. Shahih dilihat dari jalur lainnya
[11] HR. Bukhari no. 1178
[12] HR. Bukhari no. 1152
[13] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.
[14] Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq dengan lafazh jazm/ tegas.
[15] Hadits di atas dinilai shahih oleh banyak ulama, di antaranya adalah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Istiqomah (1/294) dan Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (1/259). Penilaian senada disampaikan An Nawawi, Ibnu Rajab Al Hambali, Ibnu Hajar dan Asy Syaukani –rahimahumullah-.
[16] Lihat Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, Darul Kutub Al ‘Arobi, cetakan pertama, 1405 H, hal. 289.
[17] Lihat Talbis Iblis, 283.
[18] Majmu’ Al Fatawa, 11/576-577.
[19] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, Al Maktab Al Islami, 6/379-380.
[20] HR. Malik 2/982. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[21] HR. Muslim no. 976.
[22] HR. Bukhari no. 568
[23] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, Asy Syamilah, 3/278.
[24] HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40
[25] Syarh Al Bukhari, 1/38.
[26] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, 8/474-475.

Maksiat Menggelapkan Hati

Rumaysho.Com

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Setiap hari tidak bosan-bosannya kita melakukan maksiat. Aurat terus diumbar, tanpa pernah sadar untuk mengenakan jilbab dan menutup aurat yang sempurna. Shalat 5 waktu yang sudah diketahui wajibnya seringkali ditinggalkan tanpa pernah ada rasa bersalah. Padahal meninggalkannya termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa zina. Saudara muslim jadi incaran untuk dijadikan bahan gunjingan (alias “ghibah”). Padahal sebagaimana daging saudaranya haram dimakan, begitu pula dengan kehormatannya, haram untuk dijelek-jelekkan di saat ia tidak mengetahuinya. Gambar porno jadi bahan tontonan setiap kali browsing di dunia maya. Tidak hanya itu, yang lebih parah, kita selalu jadi budak dunia, sehingga ramalan primbon tidak bisa dilepas, ngalap berkah di kubur-kubur wali atau habib jadi rutinitas, dan jimat pun sebagai penglaris dan pemikat untuk mudah dapatkan dunia. Hati ini pun tak pernah kunjung sadar. Tidak bosan-bosannya maksiat terus diterjang, detik demi detik, di saat pergantian malam dan siang. Padahal pengaruh maksiat pada hati sungguh amat luar biasa. Bahkan bisa memadamkan cahaya hati. Inilah yang patut direnungkan saat ini.
Ayat yang patut jadi renungan di malam ini adalah firman Allah Ta’ala,
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthoffifin: 14)
Makna ayat di atas diterangkan dalam hadits berikut.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan "ar raan" yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”[1]
Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qotadah, Ibnu Zaid dan selainnya.[2]
Mujahid rahimahullah mengatakan, “Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya ia dalam keadaan terbuka dan jika berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Jika berbuat dosa, maka jari-jemari perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tersebut. Jika ia berbuat dosa lagi, maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya seluruh telapak tangan tadi tertutupi oleh jari-jemari.”[3]
Penulis Al Jalalain rahimahumallah menafsirkan, “Hati mereka tertutupi oleh “ar raan” seperti karat karena maksiat yang mereka perbuat.”[4]
Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan perkataan Hudzaifah dalam fatawanya. Hudzaifah berkata, “Iman membuat hati nampak putih bersih. Jika seorang hamba bertambah imannya, hatinya akan semakin putih. Jika kalian membelah hati orang beriman, kalian akan melihatnya putih bercahaya. Sedangkan kemunafikan membuat hati tampak hitam kelam. Jika seorang hamba bertambah kemunafikannya, hatinya pun akan semakin gelap. Jika kalian membelah hati orang munafik, maka kalian akan melihatnya hitam mencekam.”[5]
Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat Al Muthoffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.”[6]
Inilah di antara dampak bahaya maksiat bagi hati. Setiap maksiat membuat hati tertutup noda hitam dan lama kelamaan hati tersebut jadi tertutup. Jika hati itu tertutup, apakah mampu ia menerima seberkas cahaya kebenaran? Sungguh sangat tidak mungkin. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran.”[7]
Perbanyaklah taubat dan istighfar, itulah yang akan menghilangkan gelapnya hati dan membuat hati semakin bercahaya sehingga mudah menerima petunjuk atau kebenaran.
Ya Allah, tunjukkanlah hati kami ini agar selalu taat pada-Mu dan berusaha menjauhi setiap maksiat yang benar-benar telah Engkau larang, apalagi dosa syirik dan kekufuran. Amin Yaa Mujibbas Saailin.


Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Disusun di malam hari, 7 Syawal 1431 H (15/09/2010) di Panggang - Gunung Kidul
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.rumaysho.com

[1] HR. At Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, Ibnu Hibban (7/27) dan Ahmad (2/297). At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[2] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Al Qurthubah, 14/268.
[3] Fathul Qodir, Asy Syaukani, Mawqi’ At Tafasir, 7/442.
[4] Tafsir Al Jalalain, Al Mahalli dan As Suyuthi, Mawqi’ At Tafasir, 12/360
[5] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426, 15/283
[6] Ad Daa’ wad Dawaa’, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, hal. 70.
[7] Ad Daa’ wad Dawaa’, hal. 107.

Koleksi Kartu Ucapan Selamat Idul Fitri

http://ebsoft.web.id


Hari Raya Idul Fitri insyaAllah sebentar lagi tiba, dan salah satu kebiasaan kita adalah mengucapkan selamat dan saling mendoakan, semoga amal ibadah selama bulan Ramadhan ini bisa di terima Allah Subhanahu wata’ala. Masih bingung belum mendapatkan kartu ucapan Idul Fitri yang cocok? Berikut koleksi ucapan Selamat Idul Fitri yang sudah saya buat, mungkin masih sederhana, sehingga silahkan jika ingin menambahkan kata atau kalimat di kartu ini dan menyebarkannya.


Silahkan klik masing-masing gambar untuk download yang dipilih saja, untuk melihat atau download seluruhnya, silahkan buka Folder Kartu Idul Fitri 1431 H. Kartu ini bebas di modifikasi dan diubah sesuai dengan keinginan anda asal digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Sebagai pengunjung ebsoft, anda juga bebas menyebarkan kartu ini ke teman atau saudara-saudara kita. Semoga kartu ucapan ini bermanfaat bagi pembuat, pen-download dan penerimanya.

Nasihat dari Bumi Perantauan Kepada Sanak Saudaraku di Kampung Halaman (1)

muslim.or.id
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta, shalawat dan salam buat Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, semoga shalawat dan salam juga terlimpahkan buat keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk Mereka sampai hari kiamat.

Bermacam cobaan dan bencana telah menimpa negeri tercinta ini namun kesadaran masih juga belum kunjung datang pada diri kita masing-masing. Kita masih saling menyalahkan, bahkan kita mengira bahwa semua bencana tersebut disebabkan oleh dosa orang lain. Adapun diri kita sendiri tidak pernah bersalah dan tidak pernah berdosa. Diawali dari kesemberawutan ekonomi dan politik, datang banjir yang menenggelamkan berbagai kota besar di nusantara, lalu musim kemarau panjang dan kebakaran hutan serta kabut yang menyelimuti berbagai daerah, disertai kekurangan pangan dan kelaparan di mana-mana, gempa dan tsunami yang telah memporak-porandakan Aceh dan beberapa negara lainnya disusul oleh gempa Nias yang memakan korban cukup banyak pula. Masihkah belum cukup untuk kita berpikir dan mengambil ‘ibroh dari segala kejadian tersebut? Kita mengeluh kemiskinan melanda negeri kita tapi parabola menjamur di atas gubuk-gubuk yang hampir reok! Kita mengeluh atas tersebarnya berbagai maksiat di tengah-tengah masyarakat, tapi berbagai media informasi dua puluh empat jam menampilkan acara yang berbau porno dan sex (yang diperhalus dengan istilah pornoaksi dan pornografi), yang kesemuanya disantap oleh anak-anak yang baru bisa merangkak sampai kakek-kakek yang sudah pikun. Berbagai berita maksiat tersebar; ada kakek yang memerkosa anak di bawah umur, ada guru SD yang melacur, banyak siswi SMK yang hamil, ada… ada… ada… dan seterusnya.
Kerusakan tidak hanya sampai di situ bahkan sampai kepada titik memperolok-olokkan agama, menghujat Allah, memutarbalikkan pengertian ayat-ayat al-Qur’an, membikin model ibadah-ibadah baru dan seterusnya. Yang seharusnya pelakunya mendapat hukuman justru sebaliknya mendapat sanjungan sebagai intelektual dan segudang sanjungan lainnya.
Sangat nyata apa yang dikatakan Allah dalam firman-Nya:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah muncul kerusakan di darat dan di laut dengan sebab ulah perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagaian (dari) akibat perbuatan mereka, agar Mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Ruum: 41)
Itu hanya sekelumit persoalan yang sedang menimpa negara kita. Tapi pernahkah kita bertanya dan memikirkan kenapa semua ini terjadi? Bagaimana caranya kita selamat dari bencana ini? Yaitu bencana kehidupan dan keimanan.
Bila dua pertanyaan ini bisa terjawab dengan benar dan baik, maka penyelesaian dan kesembuhan akan bisa diharapkan. Karena dengan mengetahui sebab-sebab penyakit dari situ akan bisa merencanakan terapi yang jitu. Mengetahui sebab-sebab kehancuran supaya dihindari. Kemudian berusaha mencari jalan keluar dari kehancuran ini agar bisa membangun kembali puing-puing yang sudah roboh tanpa mengesampingkan pengalaman pahit yang berlalu untuk dijadikan sebagai pelajaran dan bahan pertimbangan dalam membangun kehidupan yang baru.
Oleh sebab itu Allah berulang kali menceritakan tentang kaum-kaum yang dihancurkan dalam kitab-Nya yang mulia, supaya umat manusia mengambil ‘ibroh dan pelajaran dari kisah mereka, mengapa mereka ditimpa azab dan bencana? Apakah karena mereka miskin? Atau karena tidak punya angkatan perang yang cukup? Atau karena sistem politik dan ekonomi Mereka yang lemah? Atau karena hal lain yaitu karena kufur kepada Allah, tidak mau bersyukur kepada Allah, serta menolak kebenaran yang diturunkan Allah??
Dalam tulisan singkat ini kita mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas sesuai dengan apa yang dituangkan dalam Al Quran dan Sunnah. Karena keselamatan dan kebahagiaan hanya bisa digapai dengan mengamalkan keduanya, selama penyelesaian tidak berpedoman kepada wahyu Ilahi selama itu pula penyelesaian yang menjadi impian tidak akan datang.
Tulisan ini sebagaiimbauan nasihat dari perantauan ilmu yaitu kota Nabi (kota Madinah) kepada sanak saudaraku di kampung halaman (Ranah Minang khususnya dan Tanah air pada umumnya -ed).
Imbauan Nasihat ini di latar belakangi oleh beberapa hal:
  1. Musibah yang tidak putus-putusnya menimpa negara kita tercinta, mulai dari sengketa politik, krisis ekonomi sampai pada musibah tsunami dan gempa Nias.
  2. Maraknya berbagai maksiat di tengah-tengah masyarakat khususnya di Ranah Minang, mulai maraknya pembunuhan yang lebih menyayat hati seorang anak tega menyembelih ibu kandungnya sendiri, maraknya perzinaan dan perjudian bukan hanya di kalangan masyarakat umum tapi justru sudah merambah ke lembaga pendidikan.
  3. Mendangkalnya rasa keagamaan, mulai dari gerakan permurtadan, maraknya perbuatan syirik, kebiasaan meninggalkan shalat dan melakukan praktek-praktek ibadah yang tidak ada dalam Islam.
  4. Dan banyak lagi hal-hal lain yang tidak bisa diungkapkan satu persatu dalam pesan ringkas ini.
Imbauan ini sudah lama terbetik dalam hati kami, tapi selalu ragu untuk menulisnya dengan pertimbangan dan alasan ini dan itu; seperti masalah keikhlasan dalam menyampaikan nasihat, masalah masih banyaknya orang yang jauh lebih berilmu di Ranah Minang ini yang lebih berhak untuk berbicara, keberadaan penulis yang jauh dari kampung yang bila bicara akan dianggap tidak mengetahui persoalan kampung. Dan banyak lagi yang selalu menjanggal untuk dimulainya penulisan nasihat ini.
Tapi pada tanggal 7 April 2005 perasaan sedih bercampur haru semakin mengganggu sehingga membuat tidurpun tidak enak apalagi setelah membuka padang ekspres lewat internet, sebuah berita mengejutkan sekaligus mengherankan tentang pelaksanaan shalat Dhuha berjamaah di lapangan Taman Budaya Padang dengan bacaan dikeraskan, disertai iqamah segala. Dengan seketika kami terkesima; “Wah ini memang sudah kebablasan dan tidak tau lagi siapa yang harus diikut dalam beragama, ke mana ulama Ranah Minang yang dulu katanya sebagai gudang ulama?”
Karena takut akan diancam azab Allah, kami mencoba mengikhlaskan niat dan memberanikan diri untuk menulis nasihat ini, sekalipun tidak ada yang mau menerima tapi kewajiban sebagai seorang muslim kami harus menunaikan amanah yang berat ini. Serta mensyukuri rahmat Allah kepada kami yang telah memberi nikmat untuk menimba ilmu dari ulama di kota Nabi tepatnya di Universitas Islam Madinah yang sekarang dalam menyelesaikan S3 di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin -Jurusan Aqidah.
Semoga Allah menjadikannya sebagai nasihat yang ikhlas, dan menjadikannya bermanfaat bagi penulis dan pembacanya. Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin.
Kewajiban untuk Saling Menasihati
Banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang mewajibkan kita untuk saling menasihati sesama muslim, saat kewajiban ini telah diabaikan maka saat itulah bencana dan kehancuran akan datang, karena sudah tidak ditegakkannya kewajiban ini kebinasaan telah melanda dalam segala aspek kehidupan kita. Saya masih ingat waktu saya kecil bagaimana adanya saling nasihat antara sesama muslim, bila saya ditemui seseorang di tengah jalan atau masih main-main pada jam enam sore, ia dengan spontan menegur: “Oii wa ang ndak ka surau”, saya tidak kenal siapa dia, tapi begitulah kehidupan pada masa itu, semua orang merasakan bahwa anak saudaranya adalah anaknya sendiri yang harus dibimbing dan dinasihati. Begitu pula bila melihat seorang berjalan bergandengan dengan lawan jenis akan disapa dan di tegur bahkan merupakan aib yang amat besar bila dilihat orang kampung berjalan dengan lawan jenis (bukan suami istri). Bahkan orang tua atau mamaknya akan memberikan ganjaran tertentu, seperti ancaman; bila diulangi kalau dia perempuan akan di gundul kepalanya. Begitulah penerapan nasihat dulu di Ranah Minang, tetapi sekarang bila anaknya tidak bisa membawa pacar pulang ke rumah, orang tuanya akan merasa gengsi dengan tetangga. Bila anaknya ditegur dari tindakan yang merusak moral dengan spontan ia akan membanggakan diri dan merasa dihina. Sehingga bila kita menasihati berarti kita telah menghina dan melanggar hak kebebasannya. Sedangkan agama hanya memberi kebebasan dalam melakukan perbuatan yang baik, adapun dalam berbuat kerusakan Islam tidak memberikan kebebasan kepada siapapun, itulah arti kebebasan dalam Islam, bukan sebagaimana yang diinginkan oleh orang-orang kafir yaitu kebebasan hutan belantara.
Berikut kita sebutkan beberapa ayat dan hadits yang mewajibkan untuk saling menasihati dalam menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran;
Firman Allah:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)
Keberuntungan yang disebutkan pada akhir ayat di atas adalah bersifat umum mencakup keberuntungan di dunia dan keberuntungan di akhirat.
Sebagaimana perintah Lukman kepada anaknya:
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (Mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)
Dalam ayat di atas ada satu hal yang amat penting untuk di ketahui yaitu rahasia mengapa perintah untuk bersikap sabar setelah perintah untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar? Karena perintah menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar itu tidak akan bisa dilakukan kecuali oleh orang yang memiliki kesabaran, baik dalam menyampaikan kebenaran itu sendiri maupun dalam menerima cobaan dan tantangan dari pelaku kemungkaran. maka oleh sebab itu tidak ada seorang rasulpun yang diutus kecuali mendapat perlawanan dari kaumnya, baik berbentuk perlawanan fisik maupun mental.
Kemudian menyampaikan nasihat sesama muslim adalah ciri-ciri manusia yang beruntung dalam kehidupannya. Sebagaimana yang terdapat dalam surat Al ‘Ashr:
وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasihat- menasihati dengan kebenaran dan saling nasihat-menasihati dengan kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)
Dalam ayat yang mulia di atas ditegaskan bahwa manusia itu merugi dalam sepanjang masa kecuali orang yang mengisi masanya dengan empat hal; yaitu beriman, beramal saleh, memberi nasihat dengan kebenaran dan memberi nasihat dengan kesabaran.
Begitu pula disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Agama itu adalah nasihat, (Beliau mengulanginya ucapan tersebut sampai tiga kali), Para sahabat bertanya: untuk siapa (ya Rasulullah)? Beliau menjawab: Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin serta kaum muslimin secara umum.” (HR. Imam Muslim no. 55)
Kandungan hadits ini menerangkan tentang wajibnya menyampaikan nasihat dalam agama untuk pemimpin dan masyarakat umum, yaitu dalam hal wajibnya membina kehidupan bermasyarakat untuk taat kepada Allah serta menjunjung tinggi perintah dan hukum-hukum yang diterangkan dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Nasihat untuk Allah yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah nasihat untuk menaati perintah Allah dalam segala aspek kehidupan bernegara, baik politik, ekonomi maupun pendidikan, maka pendidikan hendaknya harus mengacu dan memacu untuk mendidik para peserta didik untuk tunduk dan taat kepada Allah, bukan sebaliknya.
Nasihat untuk kitab Allah adalah nasihat untuk menjadikan kitab tersebut sebagai landasan dan pola dalam segala aspek kehidupan bernegara dan bermasyarakat, baik yang berhubungan dengan hukum ataupun peraturan dan undang-undang.
Nasihat untuk Rasul-Nya adalah menjadikan ajarannya sebagai acuan dalam menunaikan hak dan kewajiban bermasyarakat dan bernegara, baik yang berbentuk hubungan Vertikal antara rakyat dengan penguasa, maupun hubungan Horizontal antar sesama rakyat termasuk hubungan antar umat beragama dalam satu negara, serta menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut sebagai Uswah dalam kepemimpinan.
Adapun nasihat untuk pemimpin adalah supaya Mereka berbuat adil dan menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber hukum, melakukan tugas yang diamanahkan Allah kepada Mereka dengan penuh tanggung jawab dan pengorbanan demi kesejahteraan rakyat banyak, bukan sebaliknya untuk kesejahteraan pribadi. Bila Mereka melakukan tugas tersebut sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah Mereka akan dibalasi dengan balasan yang sangat istimewa pada hari kiamat. Seperti yang disebutkan Rasulullah dalam sabda beliau: Bahwasanya Mereka termasuk salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, di hari yang tiada naungan kecuali naungan Allah. (HR. Imam Bukhari no. 628 dan Imam Muslim no. 1031)
Dan Mereka akan ditinggikan di atas podium yang terbuat dari cahaya yang terletak di sebelah kanan Allah. (HR. Imam Muslim no. 1827)
Adapun nasihat untuk kaum muslimin secara umum adalah hendaklah Mereka selalu berbuat ketaatan kepada Allah dan meninggalkan perbuatan maksiat. Terutama sekali meninggalkan perbuatan syirik, seperti meminta kepada kuburan, bebatuan, pepohonan dan sebagainya. Serta menciptakan hubungan yang harmonis dengan penguasa. Menaati Mereka dalam segala hal yang ma’ruf untuk mencapai kehidupan yang diridhai oleh Allah ta’ala.
-bersambung insya Allah-
***
Penulis: Dr. Ali Musri Semjan Putra
Artikel www.muslim.or.id

Beribadah Bukan Hanya Sesaat dan 8 Kemungkaran di Hari Raya

At Tauhid edisi VI/36
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Beribadah Bukan Hanya Sesaat
Bulan Ramadhan, sungguh membawa berbagai berkah. Lihat saja bagaimana di bulan suci tersebut marak sekali berbagai aktivitas ibadah di berbagai masjid. Mulai dari orang-orang rajin ke masjid untuk melaksanakan shalat lima waktu dan shalat tarawih. Begitu pula kegiatan rutin tadarusan setiap malamnya. Ini semua merupakan tanda keberkahan bulan tersebut. Namun, kadangkala kita saksikan bahwa ibadah-ibadah yang dilakukan ini hanya musiman. Contohnya saja, shalat lima waktu. Di bulan Ramadhan, boleh jadi rajin bukan kepalang. Setelah bulan Ramadhan, seakan-akan tidak ada bekas yang tersisa atau mungkin sudah semakin diremehkan karena sering bolongnya dalam mengerjakan shalat.

Beribadah Bukan Musiman
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni kematian).” (QS. Al Hijr: 99). Az Zujaaj mengatakan bahwa makna ayat ini adalah sembahlah Allah selamanya. Ulama lainnya mengatakan, “Sembahlah Allah bukan pada waktu tertentu saja”. Jika memang maksudnya adalah demikian tentu orang yang melakukan ibadah sekali saja, maka ia sudah disebut orang yang taat. Namun Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sembahlah Allah sampai datang ajal”. Ini menunjukkan bahwa ibadah itu diperintahkan selamanya sepanjang hayat.[1]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan kita beribadah bukan hanya sesaat. Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”[2]
Asy Syibliy pernah ditanya, ”Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?” Beliau pun menjawab, ”Jadilah Robbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.” Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah setiap saat dan bukan hanya di bulan Sya’ban saja. Kami (penulis) juga dapat mengatakan, ”Jadilah Robbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin.”[3] Maksudnya, beribadahlah secara kontinu (ajeg) sepanjang tahun dan jangan hanya di bulan Ramadhan saja.

Amalan Setelah Ramadhan
Pertama, menjaga shalat lima waktu.
Shalat lima waktu sudah kita ketahui bersama merupakan bagian dari rukun Islam. Artinya shalat tersebut adalah suatu yang tidak disangsikan lagi wajibnya. Sehingga ancaman orang yang meninggalkannya pun begitu keras. Lihat saja dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut, “Perjanjian antara kami (muslim) dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia kafir.”[4] ‘Umar bin Khottob rahimahullah pernah mengatakan di akhir-akhir hidupnya, “Tidaklah disebut muslim orang yang meninggalkan shalat.”[5]
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”[6] Artinya di sini, orang yang meninggalkan satu shalat saja, dosanya lebih parah dari dosa orang yang berzina.

Kedua, menjaga shalat jama’ah.
Bagi pria, tentu saja ia lebih afdhol melaksanakan shalat jama’ah di masjid. Bahkan menurut pendapat terkuat hukum shalat jama’ah itu wajib. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa shalat jama’ah itu wajib adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan shalat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti sholat jama’ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka”.[7] Imam Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.”[8]

Ketiga, merutinkan puasa sunnah.
Puasa sunnah tentu saja adalah penyempurna puasa wajib. Jika ada kekurangan pada puasa wajib kita di bulan Ramadhan, kekurangan tersebut bisa ditambal dengan amalan puasa sunnah.
Di antara amalan puasa yang bisa dilakukan selepas ramadhan adalah puasa enam hari di bulan Syawwal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.”[9]
Selain itu, puasa yang bisa dirutinkan adalah puasa Senin-Kamis. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.”[10]
Minimal setiap bulan hijriyah, ada puasa sebanyak tiga hari. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: [1] berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] mengerjakan shalat Dhuha, [3] mengerjakan shalat witir sebelum tidur.”[11]

Keempat, merutinkan shalat malam.
Jika di bulan Ramadhan, kita sudah terbiasa melakukan shalat tarawih di awal malam. Perlu diketahui bahwa shalat tarawih adalah istilah yang dimaksudkan untuk shalat malam (shalat tahajjud). Namun shalat tarawih di bulan Ramadhan dikerjakan di awal malam, sedangkan shalat tahajjud di luar Ramadhan lebih afdhol dikerjakan di akhir malam. Di luar ramadhan sudah sepantasnya shalat ini pun tetap dilaksanakan. Karena ibadah itu bukan musiman. Ibadah terbaik adalah sepanjang hayat.
Lihatlah bagaimana celaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang yang rutin mengerjakan shalat malam, namun belakangan ia tinggalkan. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.”[12]

8 Kemungkaran di Hari Raya

Hari raya ‘Idul Fithri adalah hari yang selalu dinanti-nanti kaum muslimin. Tak ada satu pun di antara kaum muslimin yang ingin kehilangan moment berharga tersebut. Apalagi di negeri kita, selain memeriahkan Idul Fithri atau lebaran, tidak sedikit pula yang berangkat mudik ke kampung halaman. Di antara alasan mudik adalah untuk mengunjungi kerabat dan saling bersilaturahmi. Namun ada beberapa hal yang perlu dikritisi saat itu, yaitu beberapa amalan yang keliru dan mungkar. Satu sisi, amalan tersebut hanyalah tradisi yang memang tidak pernah ada dalil pendukung dalam Islam dan ada pula yang termasuk maksiat.
Pertama: Tasyabbuh (meniru-niru) orang kafir dalam berpakaian. Terutama kita lihat bagaimana model pakaian muda-mudi saat ini ketika hari raya, tidak mencerminkan bahwa mereka muslim ataukah bukan. Sulit membedakan ketika melihat pakaian yang mereka kenakan. Sungguh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda, ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”[13]
Kedua: Mendengarkan dan memainkan musik/nyanyian/nasyid di hari raya. Imam Al Bukhari membawakan dalam Bab “Siapa yang menghalalkan khomr dengan selain namanya” sebuah riwayat dari Abu ‘Amir atau Abu Malik Al Asy’ari telah menceritakan bahwa dia tidak berdusta, lalu beliau menyampaikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik.”[14] Jika dikatakan menghalalkan musik, berarti musik itu haram.[15]
Ibnu Mas’ud mengatakan, “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayuran.” Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Nyanyian adalah mantera-mantera zina.” Adh Dhohak mengatakan, “Nyanyian itu akan merusak hati dan akan mendatangkan kemurkaan Allah.”[16] Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Nyanyian adalah suatu hal yang sia-sia yang tidak kusukai karena nyanyian itu adalah seperti kebatilan. Siapa saja yang sudah kecanduan mendengarkan nyanyian, maka persaksiannya tertolak.”[17] Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak ada satu pun dari empat ulama madzhab yang berselisih pendapat mengenai haramnya alat musik.”[18]
Ketiga: Wanita berhias diri ketika keluar rumah. Padahal seperti ini diharamkan di dalam agama ini berdasarkan firman Allah (yang artinya), “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab: 33). Abu ‘Ubaidah mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.” Az Zujaj mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.”[19] Seharusnya berhias diri menjadi penampilan istimewa si istri di hadapan suami dan ketika di rumah saja, dan bukan di hadapan khalayak ramai.
Keempat: Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahrom. Fenomena ini merupakan musibah di tengah kaum muslimin apalagi di hari raya. Tidak ada yang selamat dari musibah ini kecuali yang dirahmati oleh Allah. Lihat bagaimana contoh dari suri tauladan kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku tidak akan bersalaman dengan wanita. Perkataanku terhadap seratus wanita adalah seperti perkataanku terhadap seorang wanita, atau seperti perkataanku untuk satu wanita.“[20]
Kelima: Mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya ‘ied. Kita memang diperintahkan untuk ziarah kubur sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sekarang ziarah kuburlah karena itu akan lebih mengingatkan kematian.”[21] Namun tidaklah tepat diyakini bahwa setelah Ramadhan adalah waktu terbaik untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”). Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Masalahnya, jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa setelah Ramadhan (saat Idul Fithri) adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.
Keenam: Tidak sedikit dari yang memeriahkan Idul Fithri meninggalkan shalat lima waktu karena sibuk bersilaturahmi. Kaum pria pun tidak memperhatikan shalat berjama’ah di masjid. Demi Allah, sesungguhnya ini adalah salah satu bencana yang amat besar.
Ketujuh: Begadang saat malam ‘Idul Fithri untuk takbiran hingga pagi sehingga kadang tidak mengerjakan shalat shubuh dan shalat ‘ied di pagi harinya. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[22]
Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[23]
Takbiran yang dilakukan juga sering mengganggu kaum muslimin yang hendak beristirahat. Padahal hukum mengganggu sesama muslim adalah terlarang. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.”[24] Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.”[25] Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!
Kedelapan: Memeriahkan ‘Idul Fithri dengan petasan. Selain mengganggu kaum muslimin lain sebagaimana dijelaskan di atas, petasan juga adalah suatu bentuk pemborosan. Karena pemborosan kata Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar. Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.”[26] Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27).
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. [Muhammad Abduh Tuasikal]
Segenap redaksi Buletin At Tauhid mengucapkan
Selamat Idul Fithri 1431 H
Taqobbalallahu minna wa minkum
Semoga Allah menerima amalan kami dan kalian di bulan Ramadhan
_____________
[1] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, Al Maktab Al Islami, 4/423.
[2] HR. Muslim no. 783.
[3] Lihat Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H, hal. 390.
[4] HR. An Nasai no. 463, At Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079 dan Ahmad 5/346. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[5] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, Ibnul Qayyim, Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, 1426 H, hal. 41.
[6] Ash Sholah, hal. 7.
[7] HR. Bukhari no. 644 dan Muslim no. 651, dari Abu Hurairah.
[8] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 107
[9] HR. Muslim no. 1164
[10] HR. Tirmidzi no. 747. Shahih dilihat dari jalur lainnya
[11] HR. Bukhari no. 1178
[12] HR. Bukhari no. 1152
[13] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.
[14] Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq dengan lafazh jazm/ tegas.
[15] Hadits di atas dinilai shahih oleh banyak ulama, di antaranya adalah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Istiqomah (1/294) dan Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (1/259). Penilaian senada disampaikan An Nawawi, Ibnu Rajab Al Hambali, Ibnu Hajar dan Asy Syaukani –rahimahumullah-.
[16] Lihat Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, Darul Kutub Al ‘Arobi, cetakan pertama, 1405 H, hal. 289.
[17] Lihat Talbis Iblis, 283.
[18] Majmu’ Al Fatawa, 11/576-577.
[19] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, Al Maktab Al Islami, 6/379-380.
[20] HR. Malik 2/982. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[21] HR. Muslim no. 976.
[22] HR. Bukhari no. 568
[23] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, Asy Syamilah, 3/278.
[24] HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40
[25] Syarh Al Bukhari, 1/38.
[26] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, 8/474-475.