Masjid yang menanti Anda ...

PEMBANGUNAN MASJID & PESANTREN

Masjid dan pesantren 2010 Masjid di Jurang jero, Sadan, Kebumen, Jawa Tengah Masjid diKemalang, Klaten, Jawa Tengah Masjid di Jurug, Pan...



As-Salāmu ‘Alaykum,
Bismillāh:

Before the noble reader is an article discussing a few points on basic Islamic hygiene. The article is taken from Shaykh, Dr. Ṣāliḥ Fawzān’s “Explanation of Akhṣar al-Mukhtaṣirāt (1).” The organizer of the book, Dr. Salmān al-Suwaylim, provided the aḥādīth in the footnotes.


[1]: Cleaning One’s Teeth: Using the siwāk (2) is a highly recommend sunnah. There are many aḥādīth that mention the Messenger of Allāh, prayers and peace upon him, encouraged the use of the siwāk. The siwāk cleanses the mouth and removes foul odors. Using it is from Islamic etiquette.  
The Messenger of Allāh, prayers and peace upon him, said: “If it wasn’t for the fact that I do not want to cause hardship on my nation, I would have ordered that the siwāk be used for every wuḍū.” [Bukhārī]
[2]: Moisturizing One’s Hair: It is recommended to moisturize one’s hair every other day, just as the Messenger, prayers and peace upon him, would do. (3)
[3]: Looking at One’s Self in the Mirror: It is recommended to look at one’s self in the mirror when he finishes cleaning and beautifying himself. One looks in the mirror because there is a possibility that something needs to be adjusted or tweaked. Thus, one looks in the mirror before going out to meet people. This is the sunnah. The Messenger of Allah, prayers and peace upon him, used to look in the mirror (4).
[4]: Using Delightful Fragrances (5): This is done because all of the Prophets did so. It is also done so that a person’s scent is pleasant, not offensive. So, he applies fragrances when he generally goes to prayer, and specifically when he goes to Friday prayer (al-Jumu’ah). He also uses delightful fragrances in the circles of remembrance and when he goes to gatherings.
[5]: Shaving the Pubic Area: It is recommended to remove the hair from one’s pubic area. This can be done by any means that serves the purpose. This is also from the ways of the Prophets.
[6]: Trimming the Mustache Closely: So, one does not let his mustache grow long. Likewise, he does not shave it completely because that is considered a form of disfigurement. He leaves its origin. This is because the Messenger, prayers and peace upon him, did not command us to shave it completely; rather, he ordered us to trim it closely (6). This is a form of beautification for men.
[7]: Trimming One’s Nails: From the way of the Prophet is to trim one’s fingernails and toenails, they are not to be left long. Leaving them long is considered ugliness and a resemblance to predatory animals.
[8]: Removing One’s Underarm Hair: One also removes the hair from his underarms by any means that serve the purpose. This is because leaving hair to grow under the arms is ugly and it causes an unpleasant odor. [End of Shaykh Fawzān's words]
I ask Allāh, The Most High, to beautify our appearances, just as he has beautified our hearts with al-tawhīd and our actions with the sunnah. And our last supplication is that All praise belongs to Allāh.

Translated by:
Abū Ādam Jamīl Finch
Umm al-Qurā University, College of Sharī̄’ah
Makkah, Kingdom of Saudi Arabia
Dhūl-Ḥijjah 21, 1432/November 17, 2011

(1) Ṣālih al-Fawzān, Explanation of Akhṣar al-Mukhtaṣirāt, vol. 1, pp. 75-83, abridged in places, [Dār al-‘Āsimah]
(2) [TN]: Likewise, a toothbrush
(3) Abdullāh b. Mugaffal narrated: “The Messenger of Allāh, prayers and peace upon him, prohibited us from tending to our hair, except for every other day.” [Abī Dawūd #4159, Authenticated by: al-Albānī]
[TN]: Faḍālah b. ‘Ubayd, narrated: “The Messenger prohibited us from too much luxury.” [Abī Dawūd #4160, Authenticated by: al-Albānī]
(4) Ibn ‘Abbās narrated: “When the Messenger of Allāh, prayers and peace upon him, looked in the mirror, he would say: ‘All praise is due to Allāh, He who beautified my figure and adorned on me that which was not adorned on others.’ ”  [Musnad Abī Y’alā vol.4/pg. 487]
(5) [TN]: Women do not wear fragrances in the presence of foreign men.
(6) Ibn ‘Umar narrated: The Messenger of Allāh, prayers and peace upon him, said: “Trim the mustaches closely and grow the beards.” [Bukhārī and Muslim]

Reward For Deeds After Death & Sadaqa Jariya (Perpetual Charity)

AbdurRahman.org
Sadaqa Jaariya - Reward For Deeds After Death

From Aboo Hurairah – radiyallaahi ‘anhu – who said:
Allaah’s Messenger – salallaahu ‘alayhi wa sallam – said:
"Among the deeds and virtues whose reward will reach the Believer after his death are: knowledge that he taught and disseminated; a righteous son whom he left behind; a written copy of the Qur`aan which he left as a legacy; or a mosque that he built; or a house that he built for the passing traveller; or a canal which he dug and caused to flow; or charity which he gave from his property whilst he was alive and well, for which he will continue to receive reward after his death."

Reported by Ibn Maajah (no.242), Ibn Khuzaymah (4/121/2490), and al-Bayhaqee in Shu`abul-Eemaan (3/274/3448). Declared ‘hasan’ by Shaikh al-Albaanee in Saheehut- Targheeb wat-Tarheeb (no.77).

Source: http://alitisaambissunnah.wordpress.com (It has Arabic text of hadeeth as well)
Related Links :

Mari Berqurban di Ambarawa dan Wilayah Pendangkalan Akidah

http://sditambarawa.blogspot.com/

A. PENDAHULUAN

Kecamatan Ambarawa adalah sebuah kota pasar yang terletak di antara Semarang dan Salatiga. Kecamatan ini terletak di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. (http://id.wikipedia.org/wiki/Ambarawa,_Semarang)


Dengan luas area 56,11 km² dan jumlah penduduk 80.801 jiwa, Ambarawa memiliki sejarah panjang terkait dengan perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda dan Jepang. Peninggalan penjajah yang nampak hingga kini adalah museum kereta api, benteng Belanda di Pojoksari dan gereja jago peninggalan penjajah.

Di Ambarawa banyak berdiri gereja besar dan kecil, hampir di setiap kelurahan telah berdiri gereja dan tempat kebaktian. Hal ini ditambah minimnya pengetahuan agama dan benteng akidah kaum muslim yang belum kokoh, menjadikan sebagian masyarakat berpindah agama. Tidak sedikit masyarakat menjual nilai kemiskinan dan perkara duniawi lainnya sebagai alasan  perpindahan agama tersebut.
Terdorong keprihatinan yang mendalam, dengan mengharapkan ridho Alloh Ta'ala sebagian kaum muslimin merasa terdorong untuk berperan nyata dalam membantu masyarakat untuk lebih mengenal Islam dan mengamalkannya sesuai tuntunan Rasululloh Shalallohu alaihi wassalam dan mencontoh para sahabat beliau.
Selain telah melaksanakan kegiatan pendidikan (TPA, TKIT/ PAUD, SDIT IBNU MAS'UD dan kursus keterampilan), Yayasan Al Ummah Ambarawa, menjadi salah satu lembaga kegiatan dakwah dan sosial kemanusiaan umat Islam di Ambarawa.
Dakwah melalui jalur sosial kemanusiaan merupakan cara efektif untuk mambantu menyelesaikan problem umat. Di antara program yayasan adalah beasiswa pendidikan anak yatim, santunan anak yatim, TPA gratis dan panti asuhan yatim, serta pendistribusian daging qurban untuk anak yatim dan fakir miskin.

Pada momen Idul qurban tahun ini Yayasan Al Ummah dengan tulus ikhlas semata-mata hanya mengharapkan ridho dari Allah Ta'ala, kami mengetuk hati Bapak/ Ibu sekalian, kaum muslimin untuk mengambil kesempatan emas ini, yaitu momen Hari Raya Qurban ini untuk menyisihkan sebagian dari rizki dan nikmat yang telah Allah anugrahkan kepada Bapak/ Ibu untuk saudara-saudara kita yang kurang mampu dan sangat membutuhkannya.
Dan momentum ini sebagai tanda bukti rasa syukur kita kepada Allah sebagaimana Allah telah berfirman  “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Surat Ibrahim (14) ayat 7.

Masih Banyak saudara muslim kita pelosok desa di sekitar Ambarawa yang hidup jauh di bawah kemiskinan, kemelaratan dan kekurangan. Jangankan untuk menikmati lezatnya sepotong daging, untuk sekedar makan nasi campur garam guna mengganjal perut saja mereka susah untuk memenuhinya. Bagi mereka, daging adalah suatu barang mewah yang mungkin mereka hanya berharap dapat manikmatinya sekali dalam setahun, yaitu pada hari raya qurban. Mereka menjadikan hari raya qurban ini adalah saat-saat yang paling dinantikan. Oleh karena itu, marilah kita sambut penantian panjang saudara-saudara kita tersebut. Janganlah kita biarkan mereka merasa sedih dan hampa di hari baik dan mulia ini.

B. INFO HEWAN QURBAN
No
Qurban
Berat
Harga @

1
Kambing / Domba
± 23 Kg
Rp 1.200.000,-
2
Sapi
± 250 Kg
Rp 9.800.000,-
3
Sapi Kolektif
± 250 Kg
Rp 1.400.000,-
*) Harga tersebut sudah termasuk; biaya pemotongan hewan, operasional serta biaya distribusi/ penyaluran ke pelosok desa



C. PELAKSANAAN

NoKegiatanTanggal Pelaksanaan
1PendanaanSampai 7 Nopember 2011
2Penyembelihan10-12 Dzulhijjah/ 6-8 Nopember 2011
3Penyaluran (kepada yang berhak)10-12 Dzulhijjah



D. CARA MUDAH BERQURBAN
1. Jemput hewan Qurban (Untuk Ambarawa dan sekitarnya)
Hubungi kami SMS/ telepon (082137860274/ 08179531872/ 0298-594616) untuk konfirmasi penjemputan donasi qurban Anda. Kami siap memberikan pendampingan dan penjemputan dana/ hewan Qurban .
2. Kunjungan ke kantor
Kunjungi kantor kami di SDIT Ibnu Mas'ud, Jl. Mgr. Sugiyopranoto km 3, Ngampin Ambarawa
3. Transfer Bank
BANK
Nomer Rekening
608701.002889.531
an. Yayasan Al Ummah

BNI Syariah
0184127630
an. Edi Santoso

Bank BCA
3200224557
an. Abdul Malik

Muamalat
912-9309799 an. Rochmadi
Setelah transfer, dimohon konfirmasi melalui SMS ke: 0821 3786 0274 dengan format:
QURBAN#nama#alamat#jenis qurban#nama bank#tgl transfer#qurban atas nama
Contoh : QURBAN#ADI#Jl. A.YANI 12 Jkt#Sapi#BNI#3 Oct#ADI bin EKO



 Alhamdulillah atas kemurahan dari Alloh kemudian bantuan dari donatur, saat ini anak yatim di Ambarawa yang telah mendapatkan beasiswa pendidikan gratis sebanyak 7 anak, semoga Alloh memudahkan langkah kita dalam kebaikan. amin


E. INFORMASI DAN KETERANGAN
SDIT Ibnu Mas'ud
Jl. Mgr. Sugiyopranoto km 3, Ngampin, Ambarawa, Kab. Semarang
Telp. (
0298) 594616/ 08179531872
SMS center: 0821 3786 0274
website: sditambarawa.blogspot.com

email: sholihkids@gmail.com

7 Faedah Qona'ah

http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/7-faedah-qonaah.html

a. Hati akan dipenuhi dengan keimanan kepada Allah

Seorang yang qana’ah akan yakin terhadap ketentuan yang ditetapkan Allah ta’ala sehingga diapun ridha terhadap rezeki yang telah ditakdirkan dan dibagikan kepadanya. Hal ini erat kaitannya dengan keimanan kepada takdir Allah. Seorang yang qana’ah beriman bahwa Allah ta’ala telah menjamin dan membagi seluruh rezeki para hamba-Nya, bahkan ketika sang hamba dalam kondisi tidak memiliki apapun. Sehingga, dia tidak akan berkeluh-kesah mengadukan Rabb-nya kepada makhluk yang hina seperti dirinya.

Ibnu Mas’ud radhilallahu ‘anhu pernah mengatakan,

إِنَّ أَرْجَى مَا أَكُونُ لِلرِّزْقِ إِذَا قَالُوا لَيْسَ فِي الْبَيْتِ دَقِيقٌ

“Momen yang paling aku harapkan untuk memperoleh rezeki adalah ketika mereka mengatakan, “Tidak ada lagi tepung yang tersisa untuk membuat makanan di rumah” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam].

إِنَّ أَحْسَنَ مَا أَكُونُ ظَنًّا حِينَ يَقُولُ الْخَادِمُ: لَيْسَ فِي الْبَيْتِ قَفِيزٌ مِنْ قَمْحٍ وَلَا دِرْهَمٌ

“Situasi dimana saya mempertebal husnuzhanku adalah ketika pembantu mengatakan, “Di rumah tidak ada lagi gandum maupun dirham.” [Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah (34871); Ad Dainuri dalam Al Majalisah (2744); Abu Nu'aim dalam Al Hilyah (2/97)].

Imam Ahmad mengatakan,

أَسَرُّ أَيَّامِي إِلَيَّ يَوْمٌ أُصْبِحُ وَلَيْسَ عِنْدِي شَيْءٌ

“Hari yang paling bahagia menurutku adalah ketika saya memasuki waktu Subuh dan saya tidak memiliki apapun.” [Shifatush Shafwah 3/345].

b. Memperoleh kehidupan yang baik

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” [An-Nahl: 97].

Kehidupan yang baik tidaklah identik dengan kekayaan yang melimpah ruah. Oleh karenanya, sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kehidupan yang baik dalam ayat di atas adalah Allah memberikannya rezeki berupa rasa qana’ah di dunia ini, sebagian ahli tafsir yang lain menyatakan bahwa kehidupan yang baik adalah Allah menganugerahi rezeki yang halal dan baik kepada hamba [Tafsir ath-Thabari 17/290; Maktabah asy-Syamilah].

Dapat kita lihat di dunia ini, tidak jarang, terkadang diri kita mengorbankan agama hanya untuk memperoleh bagian yang teramat sedikit dari dunia. Tidak jarang bahkan kita menerjang sesuatu yang diharamkan hanya untuk memperoleh dunia. Ini menunjukkan betapa lemahnya rasa qana’ah yang ada pada diri kita dan betapa kuatnya rasa cinta kita kepada dunia.

Tafsir kehidupan yang baik dengan anugerah berupa rezeki yang halal dan baik semasa di dunia menunjukkan bahwa hal itu merupakan nikmat yang harus kita usahakan. Harta yang melimpah ruah sebenarnya bukanlah suatu nikmat jika diperoleh dengan cara yang tidak diridhai oleh Allah. Tapi sayangnya, sebagian besar manusia berkeyakinan harta yang sampai ketangannya meski diperoleh dengan cara yang haram itulah rezeki yang halal. Ingat, kekayaan yang dimiliki akan dimintai pertanggungjawaban dari dua sisi, yaitu bagaimana cara memperolehnya dan bagaimana harta itu dihabiskan. Seorang yang dianugerahi kekayaan melimpah ruah tentu pertanggungjawaban yang akan dituntut dari dirinya di akhirat kelak lebih besar.

c. Mampu merealisasikan syukur kepada Allah

Seorang yang qana’ah tentu akan bersyukur kepada-Nya atas rezeki yang diperoleh. Sebaliknya barangsiapa yang memandang sedikit rezeki yang diperolehnya, justru akan sedikit rasa syukurnya, bahkan terkadang dirinya berkeluh-kesah. Nabi pun mewanti-wanti kepada Abu Hurairah,

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا، تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَكُنْ قَنِعًا، تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ

“Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’ niscaya dirimu akan menjadi hamba yang paling taat. Jadilah orang yang qana’ah, niscaya dirimu akan menjadi hamba yang paling bersyukur” [HR. Ibnu Majah: 4217].

Seorang yang berkeluh-kesah atas rezeki yang diperolehnya, sesungguhnya tengah berkeluh-kesah atas pembagian yang telah ditetapkan Rabb-nya. Barangsiapa yang mengadukan minimnya rezeki kepada sesama makhluk, sesungguhnya dirinya tengah memprotes Allah kepada makhluk. Seseorang pernah mengadu kepada sekelompok orang perihal kesempitan rezeki yang dialaminya, maka salah seorang diantara mereka berkata, “Sesungguhnya engkau ini tengah mengadukan Zat yang menyayangimu kepada orang yang tidak menyayangimu” [Uyun al-Akhbar karya Ibnu Qutaibah 3/206].

d. Memperoleh keberuntungan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa seorang yang qana’ah akan mendapatkan keberuntungan.

Fudhalah bin Ubaid radhiallalahu ‘anhu pernah mendengar nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

طُوبَى لِمَنْ هُدِيَ إِلَى الإِسْلَامِ، وَكَانَ عَيْشُهُ كَفَافًا وَقَنَعَ

“Keberuntungan bagi seorang yang diberi hidayah untuk memeluk Islam, kehidupannya cukup dan dia merasa qana’ah dengan apa yang ada” [HR. Ahmad 6/19; Tirmidzi 2249].

Abdullah bin Amr mengatakan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang yang memeluk Islam, diberi rezki yang cukup dan Allah menganugerahi sifat qana’ah atas apa yang telah diberikan-Nya” [HR. Muslim: 1054; Tirmidzi: 2348].

e. Terjaga dari berbagai dosa

Seorang yang qana’ah akan terhindar dari berbagai akhlak buruk yang dapat mengikis habis pahala kebaikannya seperti hasad, namimah, dusta dan akhlak buruk lainnya. Faktor terbesar yang mendorong manusia melakukan berbagai akhlak buruk tersebut adalah tidak merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan, tamak akan dunia dan kecewa jika bagian dunia yang diperoleh hanya sedikit. Semua itu berpulang pada minimnya rasa qana’ah.

Jika seseorang memiliki sifat qana’ah, bagaimana bisa dia melakukan semua akhlak buruk di atas? Bagaimana bisa dalam hatinya timbul kedengkian, padahal dia telah ridha terhadap apa yang telah ditakdirkan Allah?

Abdullah bin Mas’ud radhiallalhu ‘anhu mengatakan,

الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسُخْطِ اللَّهِ، وَلَا تَحْسُدَ أَحَدًا عَلَى رِزْقِ اللَّهِ، وَلَا تَلُمْ أَحَدًا عَلَى مَا لَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ، فَإِنَّ الرِّزْقَ لَا يَسُوقُهُ حِرْصُ حَرِيصٍ، وَلَا يَرُدُّهُ كَرَاهَةُ كَارِهٍ، فَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى – بِقِسْطِهِ وَعِلْمِهِ وَحُكْمِهِ – جَعَلَ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ فِي الْيَقِينِ وَالرِّضَا، وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحُزْنَ فِي الشَّكِّ وَالسُّخْطِ

“Al Yaqin adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, engkau tidak dengki kepada seorangpun atas rezeki yang ditetapkan Allah, dan tidak mencela seseorang atas sesuatu yang tidak diberikan Allah kepadamu. Sesungguhnya rezeki tidak akan diperoleh dengan ketamakan seseorang dan tidak akan tertolak karena kebencian seseorang. Sesungguhnya Allah ta’ala –dengan keadilan, ilmu, dan hikmah-Nya- menjadikan ketenangan dan kelapangan ada di dalam rasa yakin dan ridha kepada-Nya sserta menjadikan kegelisahan dan kesedihan ada di dalam keragu-raguan (tidak yakin atas takdir Allah) dan kebencian (atas apa yang telah ditakdirkan Allah)” [Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin (118) dan Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman (209)].

Sebagian ahli hikmah mengatakan, “Saya menjumpai yang mengalami kesedihan berkepanjangan adalah mereka yang hasad sedangkan yang memperoleh ketenangan hidup adalah mereka yang qana’ah” [Al Qana’ah karya Ibnu as-Sunni hlm. 58].

f. Kekayaan sejati terletak pada sifat qana’ah

Qana’ah adalah kekayaan sejati. Oleh karenanya, Allah menganugerahi sifat ini kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman,

وَوَجَدَكَ عَائِلًا فأغنى

“Dan Dia menjumpaimu dalam keadaan tidak memiliki sesuatu apapun, kemudian Dia member kekayaan (kecukupan) kepadamu” [Adh-Dhuha: 8].

Ada ulama yang mengartikan bahwa kekayaan dalam ayat tersebut adalah kekayaan hati, karena ayat ini termasuk ayat Makkiyah (diturunkan sebelum nabi hijrah ke Madinah). Dan pada saat itu, sudah dimaklumi bahwa nabi memiliki harta yang minim [Fath al-Baari 11/273].

Hal ini selaras dengan hadits-hadits nabi yang menjelaskan bahwa kekayaan sejati itu letaknya di hati, yaitu sikap qana’ah atas apa yang diberikan-Nya, bukan terletak pada kuantitas harta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya kemewahan dunia, akan tetapi kekayaan hakiki adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)” [HR. Bukhari: 6446; Muslim: 1051].

Abu Dzar radhiallalhu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya, “Wahai Abu Dzar apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itu adalah kekakayaan sebenarnya?” Saya menjawab, “Iya, wahai rasulullah.” Beliau kembali bertanya, “Dan apakah engkau beranggapan bahwa kefakiran itu adalah dengan sedikitnya harta?” Diriku menjawab, “Benar, wahai rasulullah.” Beliau pun menyatakan, “Sesungguhnya kekayaan itu adalah dengan kekayaan hati dan kefakiran itu adalah dengan kefakiran hati” [HR. An-Nasaai dalam al-Kubra: 11785; Ibnu Hibban: 685].

Apa yang dinyatakan di atas dapat kita temui dalam realita kehidupan sehari-hari. Betapa banyak mereka yang diberi kenikmatan duniawi yang melimpah ruah, dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan diri dan keturunannya selama berpuluh-puluh tahun, namun tetap tidak merasa cukup sehingga ketamakan telah merasuk ke dalam urat nadi mereka. Dalam kondisi demikian, bagaimana lagi dia bisa perhatian terhadap kualitas keagamaan yang dimiliki, bukankah waktunya dicurahkan untuk memperoleh tambahan dunia?

Sebaliknya, betapa banyak mereka yang tidak memiliki apa-apa dianugerahi sifat qana’ah sehingga merasa seolah-olah dirinyalah orang terkaya di dunia, tidak merendahkan diri di hadapan sesama makhluk atau menempuh jalan-jalan yang haram demi memperbanyak kuantitas harta yang ada.

Rahasianya terletak di hati sebagaimana yang telah dijelaskan. Oleh karena pentingnya kekayaan hati ini, Umar radhilallahu ‘anhu pernah berpesan dalam salah satu khutbahnya,

تَعْلَمُونَ أَنَّ الطَّمَعَ فَقْرٌ، وَأَنَّ الْإِيَاسَ غِنًى، وَإِنَّهُ مَنْ أَيِسَ مِمَّا عِنْدَ النَّاسِ اسْتَغْنَى عَنْهُمْ

“Tahukah kalian sesungguhnya ketamakan itulah kefakiran dan sesungguhnya tidak berangan-angan panjang merupakan kekayaan. Barangsiapa yang tidak berangan-angan memiliki apa yang ada di tangan manusia, niscaya dirinya tidak butuh kepada mereka” [HR. Ibnu al-Mubarak dalam az-Zuhd: 631].

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu pernah berwasiat kepada putranya, “Wahai putraku, jika dirimu hendak mencari kekayaan, carilah dia dengan qana’ah, karena qana’ah merupakan harta yang tidak akan lekang” [Uyun al-Akhbar : 3/207].

Abu Hazim az-Zahid pernah ditanya,

مَا مَالُكَ؟

“Apa hartamu”,

beliau menjawab,

لِي مَالَانِ لَا أَخْشَى مَعَهُمَا الْفَقْرَ: الثِّقَةُ بِاللَّهِ، وَالْيَأْسُ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

“Saya memiliki dua harta dan dengan keduanya saya tidak takut miskin. Keduanya adalah ats-tsiqqatu billah (yakin kepada Allah atas rezeki yang dibagikan) dan tidak mengharapkan harta yang dimiliki oleh orang lain [Diriwayatkan Ad Dainuri dalam Al Mujalasah (963); Abu Nu'aim dalam Al Hilyah 3/231-232].

Sebagian ahli hikmah pernah ditanya, “Apakah kekayaan itu?” Dia menjawab, “Minimnya angan-anganmu dan engkau ridha terhadap rezeki yang mencukupimu” [Ihya ‘Ulum ad-Diin 3/212].

g. Memperoleh kemuliaan

Kemuliaan terletak pada sifat qana’ah sedangkan kehinaan terletak pada ketamakan. Mengapa demikian, karena seorang yang dianugerahi sifat qana’ah tidak menggantungkan hidupnya pada manusia, sehingga dirinya pun dipandang mulia. Adapun orang yang tamak justru akan menghinakan dirinya di hadapan manusia demi dunia yang hendak diperolehnya. Jibril ‘alaihissalam pernah berkata,

يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

“Wahai Muhammad, kehormatan seorang mukmin terletak pada shalat malam dan kemuliaannya terletak pada ketidakbergantungannya pada manusia” [HR. Hakim: 7921].

Al Hasan berkata,

لَا تَزَالُ كَرِيمًا عَلَى النَّاسِ – أَوْ لَا يَزَالُ النَّاسُ يُكْرِمُونَكَ مَا لَمْ تُعَاطِ مَا فِي أَيْدِيهِمْ، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ اسْتَخَفُّوا بِكَ، وَكَرِهُوا حَدِيثَكَ وَأَبْغَضُوكَ

“Engkau akan senantiasa mulia di hadapan manusia dan manusia akan senantiasa memuliakanmu selama dirimu tidak tamak terhadap harta yang mereka miliki. Jika engkau melakukannya, niscaya mereka akan meremehkanmu, membenci perkataanmu dan memusuhimu” [Al-Hilyah: 3/20].

Al Hafizh Ibnu Rajab mengatakan,

وَقَدْ تَكَاثَرَتِ الْأَحَادِيثُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْأَمْرِ بِالِاسْتِعْفَافِ عَنْ مَسْأَلَةِ النَّاسِ وَالِاسْتِغْنَاءِ عَنْهُمْ، فَمَنْ سَأَلَ النَّاسَ مَا بِأَيْدِيهِمْ، كَرِهُوهُ وَأَبْغَضُوهُ؛ لِأَنَّ الْمَالَ مَحْبُوبٌ لِنُفُوسِ بَنِي آدَمَ، فَمَنْ طَلَبَ مِنْهُمْ مَا يُحِبُّونَهُ، كَرِهُوهُ لِذَلِكَ

“Begitu banyak hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan untuk bersikap ‘iifah (menjaga kehormatan) untuk tidak meminta-minta dan tidak bergantung kepada manusia. Setiap orang yang meminta harta orang lain, niscaya mereka akan tidak suka dan membencinya, karena harta merupakan suatu hal yang amat dicintai oleh jiwa anak Adam. Oleh karenanya, seorang yang meminta orang lain untuk memberikan apa yang disukainya, niscaya mereka akan membencinya” [Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam 2/205].

Kepemimpinan dalam agama yang identik dengan kemuliaan pun dapat diperoleh jika seorang ‘alim tidak menggantungkan diri kepada manusia, sehingga mereka tidak direpotkan dengan berbagai kebutuhan hidup yang dituntutnya. Seyogyanya manusia membutuhkan sang ‘alim karena ilmu, fatwa dan nasehatnya. Mereka bukannya butuh ketamakan dari sang ‘alim. Seorang Arab badui pernah bertanya kepada penduduk Bashrah,

مَنْ سَيِّدُ أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ؟ قَالُوا: الْحَسَنُ، قَالَ: بِمَا سَادَهُمْ؟ قَالُوا: احْتَاجَ النَّاسُ إِلَى عِلْمِهِ، وَاسْتَغْنَى هُوَ عَنْ دُنْيَاهُمْ

“Siapa tokoh agama di kota ini?” Penduduk Bashrah menjawab, “Al Hasan.” Arab badui bertanya kembali, “Dengan apa dia memimpin mereka?” Mereka menjawab, “Manusia butuh kepada ilmunya, sedangkan dia tidak butuh dunia yang mereka miliki” [Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam 2/206].

Sumber: Al Qana’ah, Mafhumuha, Manafi’uha, ath-Thariqu ilaiha karya Ibrahim bin Muhammad al-Haqil disertai beberapa penambahan.

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Artikel www.muslim.or.id


Dijual Rumah Dekat Pesantren Islamic Centre Bin Baz


Alamat; Desa Sitimulyo, Kec. Piyungan, Kab. Bantul, DI.Yogyakarta 55792
Luas tanah; 179 m2, Luas Bangunan; 15 x 8,6 m, 2 KM plus 1 ruang cuci, 5 kamar tidur, 2 R. tamu, ruang keluarga, teras, SHM, listrik 1.300 watt, air sumur.
Lingkungan desa yang asri dan ramah, dekat lokasi TK,SD dan SMA Negeri, 70 m dari balai desa dan dekat jalan
Info lengkap silahkan 
telp/ sms : 082137860274 
email      : sholihkids@gmail.com

Rencana Pesantren di Desa Miskin Gunung Kidul

Rumaysho.Com
Muhammad Abduh Tuasikal


pesantren_darush_sholihin_gunung_kidulRencana Pendirian Pesantren Darush Sholihin dengan Pendiri Ustadz M. Abduh Tuasikal.
Alamat: Masjid Jami' Al Adha, Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta, 55872.
HP: 0815 680 7937, email: rumaysho@gmail.com, PIN BB Pesantren: 231831BE, website: www.rumaysho.com


Pendahuluan
Dusun Warak terletak sekitar 70 km dari kota Jogja. Dusun ini berada di daerah pegunungan dengan kondisi tanah yang kering. Dusun Warak yang berada di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunung Kidul, DIY adalah di antara dusun miskin, bertaraf pendidikan rendah (rata-rata lulusan SMP) dan juga sangat kekurangan air di musim kemarau karena mengingat kondisi tanah yang sulit menampung air. Air untuk keperluan mandi dan makan di musim kemarau mesti didapat dengan cara membeli per tangki (5000 L) sekitar Rp.120.000. Walaupun dari segi ekonomi agak sedikit maju untuk saat ini dikarenakan fasilitan jalan yang telah mengalami renovasi dari tahun-tahun sebelumnya. Pekerjaan warga rata-rata adalah bertani dengan kondisi tanah mengalami kekeringan di musim kemarau. Sebagian lagi sebagai buruh bangunan yang mesti melaju ke Jogja setiap pekannya untuk mengais rizki.
Sembilan puluh delapan persen (98%) warga Dusun Warak memeluk agama Islam. Dari sisi agama, Dusun Warak terbilang masih jauh tertinggal, Islam bahkan bisa dikata hanya Islam KTP. Kenduren dan tradisi syirik sejak dahulu masih jadi pegangan masyarakat, meskipun saat ini berangsur-angsur hilang. Akidah masyarakat pun masih perlu ditata ulang karena masih menganut ajaran-ajaran nenek moyangnya dahulu yang berlatar belakang ajaran Hindu. Ditambah lagi dari sisi bacaan Qur'an pun masih sedikit yang menguasai. Generasi muda saat inilah yang mulai sadar akan pentingnya belajar Al Qur'an dan belajar Islam. Sejak empat tahun belakangan ini, mulai digencarkan pembelajaran Al Qur'an setiap malam Ahad yang disebut dengan 'sema'an keliling' karena pada malam tersebut dilakukan tadarusan keliling ke setiap masjid di Dusun Warak (ada 6 masjid). Yang biasa mengikuti kegiatan ini mulai dari anak kelas 3 SD sampai dengan anak SMA yang sudah bisa membaca Al Qur'an. Dalam kegiatan sema'an tersebut diisi pula dengan kajian Islam yang sifatnya sederhana dan memahamkan. Adapun untuk kelas pendidikan Al Qur'an terhadap anak-anak usia dini dibina melalui TPA. Di masjid besar, TPA masih terus berjalan. Namun di beberapa masjid atau musholla masih sangat tertinggal karena para pengajar biasanya adalah anak SMP atau SMA yang jika mereka sudah lulus sekolah mesti mengais rizki ke Jogja.
Latar Belakang
Berlatar belakang kurangnya ilmu agama (dengan pemahaman yang benar) di tengah masyarakat Dusun Warak, ditambah lagi kurangnya kaderisasi da'i di masyarakat, sangat perlu sekali didirikan pesantren yang bisa membina generasi muda. Karena setiap orang tua sangat ingin anaknya tetap belajar di sekolah umum di pagi harinya, maka yang sangat mungkin adalah pembelajaran di sore hari. Sedangkan bagi yang sudah lulus SMP atau SMA bisa mengikuti pesantren ini jika diberi lapangan pekerjaan sehingga mereka tidak perlu jauh-jauh ke Jogja setiap pekannya untuk mencari penghidupan. Begitu pula santri pun sangat senang jika mereka mendapatkan keringanan dengan bebas biaya pendidikan, bahkan bisa mendapatkan beasiswa tiap bulannya untuk memotivasi mereka dalam belajar dan menunjang pula ekonomi keluarganya yang rata-rata berada di bawah garis kemiskinan. Sedangkan bagi yang telah lulus dan sambil kerja di pesantren, juga bisa mendapatkan penghasilan yang cukup. Jadi, pesantren yang berbasis pengajaran wirausaha sangat dibutuhkan di Dusun Warak ini.
Gambaran Pesantren
  1. Pesantren ini diberi nama Pesantren Darush Sholihin, dengan rencana menggunakan gedung sarana belajar dua lantai dengan tanah yang akan dibebaskan seluas 399 m2.
  2. Pembelajaran Pesantren Darush Sholihin akan dimulai insya Allah Februari 2013.
  3. Waktu pembelajaran adalah di sore hari, mulai pukul 16.00 – 19.00 WIB. Di bulan Ramadhan mulai pukul 15.00 – 17.00 WIB.
  4. Para santri akan dibagi beberapa kelas, yaitu (1) Kelas A: pembelajaran Iqro' dan dasar-dasar Islam, (2) Kelas B: pembelajaran Al Qur'an dan dasar-dasar Islam, (3) Kelas C: pembelajaran Al Qur'an dan ajaran Islam lanjutan sebagai bekal untuk menjadi seorang mubaligh, (4) Kelas D: pembelajaran Islam lanjutan, bekal menjadi seorang mubaligh dan bekal wirausaha.
  5. Di samping pelajaran agama, khususnya santri kelas D akan dididik wirausaha dan disediakan lapangan kerja. Di pagi hari mereka bekerja. Di sore harinya, mereka mengikuti pelajaran pesantren seperti kelas C. Lapangan kerja yang akan disesuaikan disesuaikan dengan sumber daya alam setempat. Seperti mengolah singkong menjadi berbagai kripik, lempeng menjadi makanan yang gurih dan nikmat. Juga akan dikembangkan usaha toko online untuk pemasaran produk desa atau produk lainnya bagi santri yang berasal dari STM jurusan IT. Ada pula lapangan pekerja untuk santri yang memiliki ketrampilan menjahit, mereka bisa memproduksi pakaian muslim dan muslimah.
  6. Pesantren hanya menyiapkan fasilitas dan sarana belajar, tanpa menyediakan asrama karena target santri adalah warga sekitar yang tidak butuh menginap.
  7. Pesantren selama Ramadhan 1432 H ini sudah berjalan untuk masa uji coba dengan memanfaatkan rumah kediaman pengajar yang telah dilengkapi beberapa fasilitas mengajar seperti projector dan printer. Santri yang aktif mengikuti pesantren selama Ramadhan dibagi menjadi dua kelas. Kelas A sebanyak 22 santri, terdiri dari siswa kelas 5 SD s/d 1 SMP. Kelas B sebanyak 31 santri, terdiri dari siswa kelas 2 SMP s/d SMA.
Anggaran
Untuk mendirikan bangunan Pesantren Darush Sholihin, besar dana yang dibutuhkan:
  1. Pendirian talut Rp.20.000.000
  2. Pendirian bangunan 2 lantai Rp.100.000.000
  3. Penyediaan sarana belajar mengajar Rp.10.000.000
  4. Penyediaan sarana wirausaha Rp.10.000.000
Total dana: Rp.140.000.000 (*)
(*) Ini perhitungan kasaran dan sudah termasuk overhead.
Penggalangan Dana
Donasi untuk pendirian Pesantren Darush Sholihin bisa disalurkan lewat:
  1. Rekening BCA KCP Kaliurang atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 8610123881.
  1. Rekening BNI Syariah atas nama Sdr Muhammad Abduh Tuasikal: 0194475165.
  1. Rekening Bank Syariah Mandiri KCP Wonosari atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 3107011155.
  2. Rekening BRI Yogyakarta Cik Ditiro atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 0029-01-101480-50-9.
Setelah mengirimkan donasi, silakan mengkonfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) atau via BBM ke PIN BB Pesantren: 231831BE dengan mengetik: nama donatur, besar donasi, rekening tujuan, tanggal transfer, keperluan transfer. Konfirmasi ini harus ada untuk membedakan dengan donasi lainnya yang disalurkan lewat www.rumaysho.com.
Contoh konfirmasi : Ahmad#Rp.2.000.123#BSM#12 Agustus 2011#pesantren.
Menyalurkan dana untuk pendirian pesantren ini termasuk amal jariyah yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh ” (HR. Muslim no. 1631)
Semoga Allah berkahi rizki para pengunjung rumaysho.com sekalian dan moga mendapat pahala melimpah.
Warak, Girisekar, Panggang, Gunung Kidul
12 Ramadhan 1432 H (12/08/2011)
Pimpinan Pesantren Darush Sholihin
Muhammad Abduh Tuasikal, ST
Tentang Pimpinan Pesantren Darush Sholihin:
Beliau adalah pengasuh web islami di antaranya website pribadi beliau rumaysho.com dan muslim.or.id. Beliau juga menjadi penasehat di Majalah Pengusaha Muslim dan beberapa tulisan beliau sempat dimuat di beberapa majalah Islami seperti Majalah Al Furqon dan Majalah Fatawa. Saat ini beliau sedang melanjutkan studi S2 Magister Polymer Engineering di Jami'ah Malik Su'ud Riyadh KSA. Di sore harinya juga rutin menghadiri majelis beberapa ulama di Riyadh di antaranya Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah.
Keadaan Pembangunan Pesantren saat ini (s/d 12/09/2011)
Gambar 1 - Pesantren yang dekat dengan Masjid Jami' Al Adha
pesantren_darush_sholihin_1
Gambar 2 - Pekerjaan Talut di Hari Pertama, 12/09/2011
pesantren_darush_sholihin_2
Gambar 3 - Pekerjaan Talut di Hari Pertama dengan pekerja dari warga sekitar, 12/09/2011
Gambar 4 - Rapat di malam hari 11/09/2011 membicarakan swadaya masyarakat untuk pendirian pesantren
Gambar 5 - Kondisi Masjid dan Pesantren yang dekat dengan jalan
pesantren_darush_sholihin_5
Gambar 6 - Denah Lantai 1
DENAH_PESANTREN_web

Marriage At An Early Age And It’s Benefits

http://theclearsunnah.wordpress.com

MATRIMONY AT AN EARLY AGE AND ITS BENEFITS
SHAYKH FOWZAN
Taken from: ISLAAM’S SOLUTION FOR THE PROBLEMS FACING TODAY’S YOUTH, Pgs. 44-48
From among the benefits of getting married at an early age is the obtaining of children, which make the youth delighted at their presence.
Allah says:
And those who say: “Our Lord! Bestow on us from our wives and our offspring who will be the comfort of our eyes, and make us leaders for the Muttaqûn ” (pious – see V.2:2 and the footnote of V.3:164).” (Al-Furqan 25:74)
Wives and children are a deligh; Allah prmised that marriage brings about pleasure. This pleasure encourages and persuades the youth to take an interest in matrimony.
This is also similar to how Allah mentioned that childred are a share of this world’s beauty.
Wealth and children are the adornment of the life of this world. But the good righteous deeds (five compulsory prayers, deeds of Allâh’s obedience, good and nice talk, remembrance of Allâh with glorification, praises and thanks, etc.), that last, are better with your Lord for rewards and better in respect of hope. (Al-Kahf 18:46)

Therefore, this world is adorned by children. The human-being seeks out adornment the same ways he tries to obtain wealth. Similarly, he craves for children, because they are equal to wealth in their existence. This is in this world. Then in the hereafter, righteous children can benefit their fathers as the Prophet sallalahu ‘alayhe wasallam said:
Whenever the son of Adam dies his action stop except three: Knowledge that benefits people, a recurring charity, and a righteous child that supplicates for his parent .”
(Hadeeth Saheeh, Collected by Muslim #1631)
The second benefit of matrimony at an early age is that it produces children increasing the Muslim Ummah and Islaamic society. The Prophet sallalahu ‘alayhe wasallam said
Marry the loving and fertile, for verily I want to have the largest Ummah on the Day of Resurrection.”

[Hadeeth Saheeh, Collected by Abu Dawud in his Sunnan (#2050), An-Nisa'i in his Sunnan As-Sughara (#3227), Al-Hakim in Al-Mustadrak (#2/162), and Ibn Hibban in his Saheeh (#4057), Al-Baghawee in his Sharh-us-Sunnah (#9/17), Al-Bayhaqee in his Sunnan AL-Kubara (#7/81) on the authority of Ma'qal Ibn Yasaar. Graded Saheeh by Al-Albani in his checking of Abu Dawud.]
Great blessing result from marriage. From among them are the ones we previously mentioned. So if these virtues and blessings are explained to the adolscents, then the fallacious problems that hinder people from getting married will disappear.
As for the saying that, getting married at an early age diverts from gaining knowledge and from studying, this is not the case. Rather, the opposite of this is correct because tranquility, peace of mind, and pleasure never cease to be obtained through marriage. These things help the student to reach his goal because, he has peace of mind, and his thoughts are not cluttered due to discomfort and this helps him study.
Now on the other hand abstaining from marriage in reality blocks whatever knowledge he wants to attain, because it is not possible to acquire knowledge in a state of confusion and anxiety. However, if he gets married, his mind is at rest and his soul is at ease. He gets a house to take as a shelter and a wife who relaxes and helps him. These things help him to attain knowledge.
If Allah makes it easy and this marraige becomes a source of comfot to become a relationship, then this is from among the things which make it easy for the student to pursue knowledge. Matrimony does not block the path to knowledge as some believe. For that reason, having children is an enormous blessing in this life and in the next.
As for the statement that marriage at an early age burdens the adolsecent to supply provisions for his children, wife and other responsibilities, this also is not correct. Along with marriage comes blessings and well-being. Matrimony is obedience to Allah and His Messenger sallalahu ‘alayhe wasallam and there is good in every act of obedience. So if the youth gets married following the orders of the Prophet sallalahu ‘alayhe wasallam by seeking the blessings that have been promised with the correct intentions, then this marriage will be a reason for his blessings. The provisions are in the hands of Allah.
Allah, the Mighty and Majestic states:
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا
And no (moving) living creature is there on earth but its provision is due from Allâh.
(Hud 11:6)
Consequently, if Allah makes it easy for you to get married, then He will make providing for your children easy.
نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ
We provide sustenance for you and for them. (Al-An’am 6:151)
Marriage does not burden the young man above his ability as some of the people think. Marriage brings benefits and blessings. Matrimony is a necessary Sunnah of Allah for the human-being. Matrimony is not a horrible nightmare. It is only a door from the doors of righteousness for the person with the correct intention.
As for the excuses about the obstacles placed in the path of marriage, then this is from their evil behavior. Marriage in itself does not require such things as a plump dowry, parties which amount to more than required or other expenses with no authority from Allah. Rather, what is required is a wedding with ease.
Hence, it is a duty to clarify to the people that these extravagances placed in the path to a wedding bring about evil consequences for their sons and daughters. These extravagances are not from their well-being. Therefore, it is a must to remedy these problems, so that matrimony can return to its ease and convenience.
We ask Allah the Glorious and Most High to grant us the safety of success, guidance and to rectify the condition of all of us. We ask Allah to rectify the Muslim youth and to return the Muslims to their rank and honor the same way Allah gave the Muslim honor before. We ask Allah to return this honor and to rectify the Muslims state.
Allah says the Most High:
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّالْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ 
But honour, power and glory belong to Allâh, His Messenger (Muhammad Sallalahu ‘Alayhe Wasallam), and to the believers, but the hypocrites know not. (Al-Munafiqun 63:8)
We ask Allah to give the Muslims insight in their religion and to protect them from the evil of their enemies. Peace and blessings be upon our Prophet, his family and all his companions. Praise be to Allah.

Seeking refuge in Allaah from the evil of one’s soul and from the evil of Shaytan and his shirk

 
Seeking refuge from evil of soul and Shaytan and its shirk
Allahumma faatiras-samaawaati wal-ardhi, ‘Aalimal-ghaybi wash-shahaadati, , Rabba kulli shay’in wa maleekahu, ‘ash-hadu ‘an laa ‘ilaaha ‘illaa Anta, ‘a’oothu bika min sharri nafsee, wa min sharrish-shaytaani wa shirkihi (*), wa ‘an ‘aqtarifa ‘alaa nafsee soo’an ‘aw ajurrahu ‘ilaa muslim.
“O Allaah, Creator of the heavens and the earth, Knower of the unseen and visible, the Lord of everything and it’s Possessor, I bear witness that nothing is worthy of worship but You. I seek refuge in You from the evil of my soul and from the evil of Shaytan and his shirk. (I seeek refuge in You) from bringing evil upon my soul and from harming any Muslim.” (**)
Related by Ahmad (#51, #63, #81, and #7961), al-Bukhaaree in (al-Adabul-Mufrad) (#1202, #1204), and in the narrative of Imaam Ahmad #7961 from him where he said in the last part of the narration: “…Say it when you have entered upon morning and when you have entered upon the evening, and when you take to your bed.” And it was authenticated by al-‘Alaamah Ibn Baaz-may Allah have mercy upon him-in Tuhfat-ul-Akhyaar.
Source : Supplication # 17 in “Precious Rememberance” – Written by ash-Shaykh Ibn ‘Uthaymeen
Also mentioned in Hisn al Muslim – Sahih At-Tirmidhi 3/142 and AbuDawood
Also mentioned  in  Saheeh Al-Kalimaat At-Tayyib –  Hadeeth No # 21
The following notes has been taken from  “More than 1000 Sunan Every Day & Night” published by Dar-us-Salaam
(*) There are two opinions on how this should be pronounced:
(a) The first opinion is that the word should be pronounced as Shiraki, which means plots and plans. So, this part of the supplication would read, “I seek refuge in You from the evil of my soul and from the evil and plans of Shaytaan“.
(b) The second opinion, which seems to be the strongest, is that it should be pronounced as Shirki; this refers to whatever the Shaytaan is calling you towards, in terms of acts of worship, which result in associating partners with Allah. It doesn’t meant that Shirk is being commited by Shaytaan himself. On the contrary it is the person who commits the shirk in obedienec to Shaytaan.
For a more detailed explanation, refer to TuhfatAl-Ahwadee, Volume 9, Hadeeth 3452, by Shaykh Muhammad Al-Mubaarakpuri.
(**) Shaykh Al-Albanee mentioned that the last part,
..is from another narration is Sunan At-Tirmidhi, narrated by Abdullah bin Ammaar, and is not mentioned as part of this supplication, which is also from Sunan At-Tirmidhee, but narrated by Aboo Hurayrah.

http://shayaateen.wordpress.com/2011/09/24/seeking-refuge-in-allaah-from-the-evil-of-ones-soul-and-from-the-evil-of-shaytan-and-his-helpers/

The Story Of How An-Najjaashee Became The King Of Abyssinia

[Translated by Aboo Talhah Daawood ibn Ronald Burbank]
Posted by Saad Burbank 


* Concerning an-Najjaashee’s refusal to surrender the Muslims in his land to the Mushrikoon from Quraish, and his refusal to accept gifts to bribe him to do that:-
* az-Zuhree said: “I had this hadeeth narrated by “Urwah ibn az-Zubayr (rahimahullaah): from Umm Salamah (radiyallaahu “anhaa). So “Urwah said: “Do you know what he (i.e. an-Najjaashee) meant by his saying: “Allaah did not take any bribe from me, when He restored my kingdom to me, such that I should accept any bribe to keep my kingdom; And Allaah did not do what the people wanted with regard to me, such that I should obey the people against Him.” ?
So I said; “No.”… So then “Urwah explained it, saying:  ”Aa’ishah (radiyallaahu ‘anhaa) narrated to me that:
<< His father was previously king of his people, and he had a brother, and his brother had twelve sons. But the father of an-Najjaashee had no child besides an-Najjaashee.
So the people of Abyssinia started plotting together and they said: We ought to kill the father of an-Najjaashee, and give the kingship to his brother, then his brother has twelve sons. So then later they can inherit the kingship and the Abyssinian people will remain for a long time without any infighting between them. So they attacked (the king) and killed him, and they made his brother king.
So then an-Najjaashee entered upon his uncle, and he impressed him so much that he consulted nobody else besides him, and he was found to be a person of intellect and firm resolve.
So when the rest of the Abyssinians saw the status which he now had with his uncle they said: This boy has got the better of his uncle now, so we do not feel safe that he will not make him king over us (after himself), and he knows that we have killed his father. So if that happens, he will not leave a single noble amongst us except he will kill him.
So they went to his uncle and said: You know that we killed his father, and put you in his place; and we do not feel safe that he will not become king over us (after you). So either you kill him, or you banish him from our land.
He said, “Woe to you, you killed his father yesterday, and now I have to kill him today! Rather I will send him away from your land.”
So they took him away, and put him in the market place; and they sold him as a slave to a trader from the traders who threw him into a ship, having bought him for 600 or 700 dirhams.
Then he departed with him.
Then when it was the evening of that same day some clouds from the autumn clouds appeared. So his uncle went out to enjoy the rain, but he was struck by a lightening bolt which killed him.
So the people quickly went to his children, but they found that they were stupid people. There was not a single one that had any good in him. So the affair of the Abyssinians was thrown into confusion.
So some of them said to others:
“You know, by Allaah, that the only one who is suitable to be king over you is the one who you sold this morning. So if you have any concern for the affair of the Abyssinians, then go and get him before he leaves.”
So they went searching for him. So they found him and they brought him back; and they placed the crown upon his head, and they sat him upon his throne, and they made him the king.
But the trader (came and) said: “Give me back my money, for you have taken my slave!”
They said: “We will not give you anything.”
So the trader said, “Then by Allaah, I will go and speak to him.”
So he went to him and spoke to him, and said: “O king! I bought a slave and the people who sold him to me took the price, but then they seized the slave and took him away from me, and they won”t give me my money back.” So this was the first case that was seen from the firmness, wisdom, and justice of an- Najjaashee that he said:
“You must either give him his money back; or hand over his slave to him so that he may take him wherever he wants.”
So the people said: “Rather we will give him his money.” So they gave it to him.
So this is why ((when the Najjaashee did not surrender the Muslims, and did not accept the bribe from the Quraish to hand over the Muslims)), he said:
“Allaah did not take any bribe from me, when He restored my kingdom to me, such that I should take any bribe to keep my kingdom; And Allaah did not do what the people wanted with regard to me, such that I should obey the people against Him.”
* Shaikh al- Albaanee mentioned that it is reported by Ibn Hishaam in his abridgement of Ibn Ishaaq”s “Seerah” (1/363-364), and by Aboo Nu”aym in “ad-Dalaa.il” (pp.81- 84), and that its chain of narration is “hasan”.
* – This is the same one, an- Najjaashee, who sent a message to the Prophet (sallallaahu “alaihi-wa sallam) to say that he had accepted Islaam; and he died upon Islaam (radiyallaahu “anhu).
- Then Ibn Ishaaq reports through his chain of narration from “Aa.ishah that when an- Najjaashee died that the people mentioned that light was continually seen over his grave. Shaikh al-Albaanee said its chain is hasan (good).
- He is the one who is mentioned in al-Bukhaaree and Muslim in a hadeeth of Aboo Hurairah (radiyallaahu ‘anhu) that when he died, the Prophet (sal Allaahu alaihi wa sallam) was told through Revelation, and that he ordered the Companions to form rows and he prayed the Funeral Prayer for him, as no one in his land prayed the Funeral Prayer for him.

Receive a Good Deed for each of the Believing Men and Women

http://greatrewards.wordpress.com
 
Seeking Forgiveness for Each believing Man and Woman

’Ubaadah ibn as-Saamit radiallaahu ’anhu related that the Prophet sallallaahu ’alayhi wa sallam said:
“Whosoever seeks forgiveness for the believing men and the believing women, Allaah will record for that person – equivalent to every believing man and believing woman – a good deed.”
Related by al-Haythamî in Majma’az-Zuwaa‘id (l/210) where he said: “The isnaad is jayyid.”
[at-Tabarani, classed as Hasan by Al-Albani]
Supplications from the Noble Qur’aan:
[Qur'aan 59:10]
“Our Lord! Forgive us and our brethren who have preceded us in Faith, and put not in our hearts any hatred against those who have believed. Our Lord! You are indeed full of kindness, Most Merciful. (Al-Hashr 59:10)
“Rabbana ighfir lana wali ikhwanina allatheena sabaqoona bi aleemani wala tajal fee quloobina ghillan lillatheena amanoo rabbana innaka raoofun raheemun

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
[Qur'aan 71:28]
“My Lord! Forgive me, and my parents, and him who enters my home as a believer, and all the believing men and women.” (Nuh 71:28)

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًاوَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
Rabbi ighfir lee waliwalidayya waliman dakhala baytiya muminan walilmumineena wa almuminaat

***


Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “The Holy Spirit (i.e. Jibreel) inspired to me that no soul will die until it has been given its provision in full. Fear Allaah and be moderate in seeking a living, and do not let the fact that it is slow in coming make you seek it by disobeying Allaah, for that which is with Allaah cannot be attained except by obeying Him.”  Narrated by Abu Na’eem in  al-Hilyah; classed as saheeh by al-Albaani in Saheeh al-Jaami’ no. 2085.

Tahun 2050 Rusia Menjadi Negeri Muslim


 
 
Bayangkan Rusia pada tahun 2050! Menurut Paul Goble, seorang spesialis yang secara khusus melakukan kajian terhadap minoritas etnis di Federasi Rusia, nampaknya ia memperkirakan dalam beberapa dekade mendatang, Rusia akan menjadi sebuah negara mayoritas Muslim. Sekarang jumlah Muslim di seluruh Rusia mencapai 16 juta jiwa.
Disisi lain, ada berita buruk dengan penurunan yang cepat jumlah populasi negeri Beruang Merah ini. Melihat kecenderungan populasi penduduk Rusia yang terus cenderung menurun itu telah menjadi "pusing" bagi para politisi Rusia dan para pembuat kebijakan.
Presiden Vladimir Putin telah menyerukan kepada perempuan Rusia untuk memiliki anak lagi. Karena ahli demografi memprediksi bahwa populasi Rusia akan turun secara drastis dari 143 juta jiwa menjadi 100 juta jiwa pada tahun 2050.

Perkembangan dan situasi ini mengejutkan bagi para pemimpin Rusia dan Barat, karena bersamaan menurunnya populasi penduduk Rusia, para analis memperkirakan jumlah umat Islam akan menjadi kelompok mayoritas di Russia. Hanya kurang dari lima dekade Rusia akan menjadi negeri Muslim, yang mayoritas peduduknya beragama Islam.
Laju pertumbuhan populasi Muslim sejak tahun 1989, dieprkirakan mencapai antara 40 dan 50 persen, dan ini kecenderungan semua kelompok etnis. Saat ini Rusia memiliki sekitar 8.000 masjid sementara 15 tahun yang lalu, hanya terdapat 300 masjid di seluruh Rusia.

Menurut data statistik, pada akhir 2015, jumlah masjid di Rusia akan meningkat drastis menjadi 25.000 masjid di seluruh Rusia. Statistik ini menakutkan banyak etnis Rusia lainnya, yang sangat phobi dengan Islam, yang selalu mengaitkan Islam dengan perang dan terorisme. Seperti, sering terjadinya konflik bersenjata antara aparat keamanan Rusia dengan kelompok Chechnya, dan wilayah Kaukasus yang mayoritas Muslim. Namun, kekawatiran itu meluai menyurut, bersamaan dengan perubahan-perubahan yang ada, khususnya dikalangan penduduk Muslim dan para pemimpinnya yang semakin akomdatif.
Menghadapi penurunan populasi atau jumlah penduduk etnis Rusia itu, yang terus menurun, Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin telah menawarkan insentif kepada wanita yang akan memiliki anak lagi.

Dia mengatakan bahwa pemerintah akan menawarkan 1.500 rubel untuk anak pertama, dan 3.000 rubel untuk anak kedua. Dia lebih lanjut mengatakan bahwa pemerintah akan menawarkan insentif keuangan bagi pasangan yang akan mengadopsi anak yatim Rusia. Tapi, tanggapan terhadap seruan Vladimir Putin hampir nol. Alasan utama di balik penurunan cepat dalam populasi non-Muslim di Rusia, terutama sebagian besar perempuan muda di negara ini tidak tertarik dan mendukung memiliki anak lagi.
Jika seseorang terbatas hanya memilik anak satu-satunya, dan kemudian generasi berikutnya sama sekali tidak ingin memiliki anak, maka pertumbuhan penduduk Rusia menjadi nol. Di sisi lain, hampir semua pasangan muslim sedikitnya memiliki tiga anak. Jumlah keluarga muslim umumnya mereka mempunyai anak antara 3-5 orang anak.
Berbicara dengan Blitz, seorang pemimpin Moscow, daerah yang paling padat penduduknya, mengatakan jika pertumbuhan penduduk Muslim terus meningkat, dan dengan penurunan yang serius pada populasi komunitas agama lain, Rusia pada akhirnya akan menjadi sebuah negara Muslim pada dua dekade mendatang.
Dia menyarankan propaganda besar-besaran demi memiliki anak lagi di Rusia dengan menggunakan media massa serta peningkatan jumlah insentif. Ia juga menunjuk fakta bahwa, dalam banyak kasus, insentif tersebut jatuh lagi ke ibu muslim, yang umumnya memiliki lebih dari satu anak.

Ini bukan masalah tentang insentif, yang lebih penting realisasinya bagi penduduk seluruh Rusia yang non-Muslim. Mereka harus memahami bahwa dengan jumlah anak Muslim yang banyak, mereka secara bertahap ikut mendorong nasib negara Rusia menuju federasi Islam.
Mengomentari masalah ini, mantan seorang diplomat mengatakan, setelah jatuhnya Uni Soviet, sayangnya, seluruh bangsa Rusia telah kehilangan semangat nasionalisme mereka, karena kemiskinan dan kondisi yang sangat malang yang mereka hadapi, baik di bidang ekonomi, politik, dan sosial.

Sekarang mereka takut memiliki lebih dari satu anak dalam keluarga, karena akibat biaya hidup yang sangat mahal. Sementara dalam banyak kasus, keluarga perempuan Rusia dipaksa untuk bekerja di berbagai sektor bidang untuk mendapatkan uang ekstra bagi k keluarga mereka.
Ia mengatakan, tidak hanya jumlah populasi Muslim di Rusia,yang mengalami pertumbuhan cepat, karena memang perempuan Muslim memiliki lebih satu anak, tapi dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah besar LSM Islam aktif bekerja di dalam negeri Rusia, yang memainkan peran penting, terutama bagi penduduk Rusia yang putus asa, dan sebagian besar mereka memilih jalan hidup yang baru, dan mereka bertobat kemudian masuk Islam. Mereka umumnya meninggalkan agama sebelumnya yang mereka anut. Dia lebih lanjut mengatakan, terutama kelompok atheis secara bertahap semakin cenderung ke arah Islam, karena propaganda luas dan kegiatan LSM Islam.
Mereka yang berpendidikan sarjana terlibat aktif dalam memberikan khotbah di masjid-masjid dan tempat-tempat umum lainnya secara teratur, yang mempunyai dampak luar biasa pada pikiran orang-orang Rusia, terutama generasi mudanya. Para ulama Islam dengan jas dan wajah dicukur bersih, mereka berbicara dengan bahasa yang berbeda serta lancar, yang merupakan titik yang sangat kuat bagi mereka untuk menarik perhatian orang Rusia yang berpendidikan, yang berada dalam kesulitan ekonomi dan sosial yang serius.
Dia mengatakan, kegiatan LSM Islam mempunyai pengaruh yang luas, dibandingkan hampir tidak ada atau sangat sedikit kegiatan misionaris dari agama agama lain di Rusia. Meskipun ulama Islam dan mereka memiliki misi yang sering disebut "tersembunyi" , tetapi dari wajah mereka, saat menyampaikan khotbah, sangat sulit untuk mengidentifikasi apa pun yang negatif terhadap kegiatan mereka.

Mereka awalnya menyebarkan pesan perdamaian, tetapi mereka juga menyampaikan nilai-nilai agama dan jihad. LSM-LSM Islam secara bertahap menggunakan media Rusia, melalui investasi negara-negara Barat, yang sebenarnya menggunakan dana dari negara-negara Arab. Mereka juga ikut terlibat dalam aktivitas politik, seperti pemilihan, dan memberikan suara dan kekuatan untuk para calon pemimpin Muslim, tentu dengan tujuan nantinya akan memiliki akses kekuasaan di Kremlin.
Membandingkan Muslim Rusia dengan Muslim di negara-negara lain, katanya, mereka memiliki komitmen yang lebih kuat, dan keyakinan mereka yang mendalam berakar dalam pikiran mereka yang benar-benar dari ajaran Islam. Mereka secara terbuka menyatakan bahwa, alasan utama di balik menerima Islam adalah menyelamatkan hari depan mereka. Mereka menghadapi situasi yang sulit berkaitan dengan konflik yang masih terjadi di wilayah Chechnya dan Kaukasus. Tetapi, mereka tetap optimis terhadap kehidupan mereka.

Seorang wartawan senior kantor berita Rusia Interfax, Blitz mengatakan, berdasarkan dari sumber Afro-Arab, sejumlah negara Arab melakukan investasi jutaan dolar kepada sejumlah LSM Islam di Rusia. Dalam waktu dekat, cukup banyak kursi penting di parlemen Rusia juga akan jatuh ke tangan para pemimpin Muslim.
Dia mengatakan, di klub pers Rusia, sejumlah wartawan Muslim terus meningkat. Dia mengatakan, jutaan dolar yang dihabiskan untuk membangun masjid dan lembaga-lembaga Islam di berbagai belahan Moskow dan bagian lain di Rusia.
LSM Islam bahkan membangun panti asuhan, tempat anak-anak dari berbagai agama yang diadopsi, dan mereka mendapatkan pendidikan Islam, dan menjadi Muslim yang taat. Masa depan Islam di Rusia sangat menggembirakan. (mh)
http://www.eramuslim.com/berita/gerakan-dakwah/tahun-2050-rusia-menjadi-negeri-muslim.htm


As-Salāmu ‘Alaykum,
Bismillāh:

Before the noble reader is an article discussing a few points on basic Islamic hygiene. The article is taken from Shaykh, Dr. Ṣāliḥ Fawzān’s “Explanation of Akhṣar al-Mukhtaṣirāt (1).” The organizer of the book, Dr. Salmān al-Suwaylim, provided the aḥādīth in the footnotes.


[1]: Cleaning One’s Teeth: Using the siwāk (2) is a highly recommend sunnah. There are many aḥādīth that mention the Messenger of Allāh, prayers and peace upon him, encouraged the use of the siwāk. The siwāk cleanses the mouth and removes foul odors. Using it is from Islamic etiquette.  
The Messenger of Allāh, prayers and peace upon him, said: “If it wasn’t for the fact that I do not want to cause hardship on my nation, I would have ordered that the siwāk be used for every wuḍū.” [Bukhārī]
[2]: Moisturizing One’s Hair: It is recommended to moisturize one’s hair every other day, just as the Messenger, prayers and peace upon him, would do. (3)
[3]: Looking at One’s Self in the Mirror: It is recommended to look at one’s self in the mirror when he finishes cleaning and beautifying himself. One looks in the mirror because there is a possibility that something needs to be adjusted or tweaked. Thus, one looks in the mirror before going out to meet people. This is the sunnah. The Messenger of Allah, prayers and peace upon him, used to look in the mirror (4).
[4]: Using Delightful Fragrances (5): This is done because all of the Prophets did so. It is also done so that a person’s scent is pleasant, not offensive. So, he applies fragrances when he generally goes to prayer, and specifically when he goes to Friday prayer (al-Jumu’ah). He also uses delightful fragrances in the circles of remembrance and when he goes to gatherings.
[5]: Shaving the Pubic Area: It is recommended to remove the hair from one’s pubic area. This can be done by any means that serves the purpose. This is also from the ways of the Prophets.
[6]: Trimming the Mustache Closely: So, one does not let his mustache grow long. Likewise, he does not shave it completely because that is considered a form of disfigurement. He leaves its origin. This is because the Messenger, prayers and peace upon him, did not command us to shave it completely; rather, he ordered us to trim it closely (6). This is a form of beautification for men.
[7]: Trimming One’s Nails: From the way of the Prophet is to trim one’s fingernails and toenails, they are not to be left long. Leaving them long is considered ugliness and a resemblance to predatory animals.
[8]: Removing One’s Underarm Hair: One also removes the hair from his underarms by any means that serve the purpose. This is because leaving hair to grow under the arms is ugly and it causes an unpleasant odor. [End of Shaykh Fawzān's words]
I ask Allāh, The Most High, to beautify our appearances, just as he has beautified our hearts with al-tawhīd and our actions with the sunnah. And our last supplication is that All praise belongs to Allāh.

Translated by:
Abū Ādam Jamīl Finch
Umm al-Qurā University, College of Sharī̄’ah
Makkah, Kingdom of Saudi Arabia
Dhūl-Ḥijjah 21, 1432/November 17, 2011

(1) Ṣālih al-Fawzān, Explanation of Akhṣar al-Mukhtaṣirāt, vol. 1, pp. 75-83, abridged in places, [Dār al-‘Āsimah]
(2) [TN]: Likewise, a toothbrush
(3) Abdullāh b. Mugaffal narrated: “The Messenger of Allāh, prayers and peace upon him, prohibited us from tending to our hair, except for every other day.” [Abī Dawūd #4159, Authenticated by: al-Albānī]
[TN]: Faḍālah b. ‘Ubayd, narrated: “The Messenger prohibited us from too much luxury.” [Abī Dawūd #4160, Authenticated by: al-Albānī]
(4) Ibn ‘Abbās narrated: “When the Messenger of Allāh, prayers and peace upon him, looked in the mirror, he would say: ‘All praise is due to Allāh, He who beautified my figure and adorned on me that which was not adorned on others.’ ”  [Musnad Abī Y’alā vol.4/pg. 487]
(5) [TN]: Women do not wear fragrances in the presence of foreign men.
(6) Ibn ‘Umar narrated: The Messenger of Allāh, prayers and peace upon him, said: “Trim the mustaches closely and grow the beards.” [Bukhārī and Muslim]

Reward For Deeds After Death & Sadaqa Jariya (Perpetual Charity)

AbdurRahman.org
Sadaqa Jaariya - Reward For Deeds After Death

From Aboo Hurairah – radiyallaahi ‘anhu – who said:
Allaah’s Messenger – salallaahu ‘alayhi wa sallam – said:
"Among the deeds and virtues whose reward will reach the Believer after his death are: knowledge that he taught and disseminated; a righteous son whom he left behind; a written copy of the Qur`aan which he left as a legacy; or a mosque that he built; or a house that he built for the passing traveller; or a canal which he dug and caused to flow; or charity which he gave from his property whilst he was alive and well, for which he will continue to receive reward after his death."

Reported by Ibn Maajah (no.242), Ibn Khuzaymah (4/121/2490), and al-Bayhaqee in Shu`abul-Eemaan (3/274/3448). Declared ‘hasan’ by Shaikh al-Albaanee in Saheehut- Targheeb wat-Tarheeb (no.77).

Source: http://alitisaambissunnah.wordpress.com (It has Arabic text of hadeeth as well)
Related Links :

Mari Berqurban di Ambarawa dan Wilayah Pendangkalan Akidah

http://sditambarawa.blogspot.com/

A. PENDAHULUAN

Kecamatan Ambarawa adalah sebuah kota pasar yang terletak di antara Semarang dan Salatiga. Kecamatan ini terletak di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. (http://id.wikipedia.org/wiki/Ambarawa,_Semarang)


Dengan luas area 56,11 km² dan jumlah penduduk 80.801 jiwa, Ambarawa memiliki sejarah panjang terkait dengan perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda dan Jepang. Peninggalan penjajah yang nampak hingga kini adalah museum kereta api, benteng Belanda di Pojoksari dan gereja jago peninggalan penjajah.

Di Ambarawa banyak berdiri gereja besar dan kecil, hampir di setiap kelurahan telah berdiri gereja dan tempat kebaktian. Hal ini ditambah minimnya pengetahuan agama dan benteng akidah kaum muslim yang belum kokoh, menjadikan sebagian masyarakat berpindah agama. Tidak sedikit masyarakat menjual nilai kemiskinan dan perkara duniawi lainnya sebagai alasan  perpindahan agama tersebut.
Terdorong keprihatinan yang mendalam, dengan mengharapkan ridho Alloh Ta'ala sebagian kaum muslimin merasa terdorong untuk berperan nyata dalam membantu masyarakat untuk lebih mengenal Islam dan mengamalkannya sesuai tuntunan Rasululloh Shalallohu alaihi wassalam dan mencontoh para sahabat beliau.
Selain telah melaksanakan kegiatan pendidikan (TPA, TKIT/ PAUD, SDIT IBNU MAS'UD dan kursus keterampilan), Yayasan Al Ummah Ambarawa, menjadi salah satu lembaga kegiatan dakwah dan sosial kemanusiaan umat Islam di Ambarawa.
Dakwah melalui jalur sosial kemanusiaan merupakan cara efektif untuk mambantu menyelesaikan problem umat. Di antara program yayasan adalah beasiswa pendidikan anak yatim, santunan anak yatim, TPA gratis dan panti asuhan yatim, serta pendistribusian daging qurban untuk anak yatim dan fakir miskin.

Pada momen Idul qurban tahun ini Yayasan Al Ummah dengan tulus ikhlas semata-mata hanya mengharapkan ridho dari Allah Ta'ala, kami mengetuk hati Bapak/ Ibu sekalian, kaum muslimin untuk mengambil kesempatan emas ini, yaitu momen Hari Raya Qurban ini untuk menyisihkan sebagian dari rizki dan nikmat yang telah Allah anugrahkan kepada Bapak/ Ibu untuk saudara-saudara kita yang kurang mampu dan sangat membutuhkannya.
Dan momentum ini sebagai tanda bukti rasa syukur kita kepada Allah sebagaimana Allah telah berfirman  “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Surat Ibrahim (14) ayat 7.

Masih Banyak saudara muslim kita pelosok desa di sekitar Ambarawa yang hidup jauh di bawah kemiskinan, kemelaratan dan kekurangan. Jangankan untuk menikmati lezatnya sepotong daging, untuk sekedar makan nasi campur garam guna mengganjal perut saja mereka susah untuk memenuhinya. Bagi mereka, daging adalah suatu barang mewah yang mungkin mereka hanya berharap dapat manikmatinya sekali dalam setahun, yaitu pada hari raya qurban. Mereka menjadikan hari raya qurban ini adalah saat-saat yang paling dinantikan. Oleh karena itu, marilah kita sambut penantian panjang saudara-saudara kita tersebut. Janganlah kita biarkan mereka merasa sedih dan hampa di hari baik dan mulia ini.

B. INFO HEWAN QURBAN
No
Qurban
Berat
Harga @

1
Kambing / Domba
± 23 Kg
Rp 1.200.000,-
2
Sapi
± 250 Kg
Rp 9.800.000,-
3
Sapi Kolektif
± 250 Kg
Rp 1.400.000,-
*) Harga tersebut sudah termasuk; biaya pemotongan hewan, operasional serta biaya distribusi/ penyaluran ke pelosok desa



C. PELAKSANAAN

NoKegiatanTanggal Pelaksanaan
1PendanaanSampai 7 Nopember 2011
2Penyembelihan10-12 Dzulhijjah/ 6-8 Nopember 2011
3Penyaluran (kepada yang berhak)10-12 Dzulhijjah



D. CARA MUDAH BERQURBAN
1. Jemput hewan Qurban (Untuk Ambarawa dan sekitarnya)
Hubungi kami SMS/ telepon (082137860274/ 08179531872/ 0298-594616) untuk konfirmasi penjemputan donasi qurban Anda. Kami siap memberikan pendampingan dan penjemputan dana/ hewan Qurban .
2. Kunjungan ke kantor
Kunjungi kantor kami di SDIT Ibnu Mas'ud, Jl. Mgr. Sugiyopranoto km 3, Ngampin Ambarawa
3. Transfer Bank
BANK
Nomer Rekening
608701.002889.531
an. Yayasan Al Ummah

BNI Syariah
0184127630
an. Edi Santoso

Bank BCA
3200224557
an. Abdul Malik

Muamalat
912-9309799 an. Rochmadi
Setelah transfer, dimohon konfirmasi melalui SMS ke: 0821 3786 0274 dengan format:
QURBAN#nama#alamat#jenis qurban#nama bank#tgl transfer#qurban atas nama
Contoh : QURBAN#ADI#Jl. A.YANI 12 Jkt#Sapi#BNI#3 Oct#ADI bin EKO



 Alhamdulillah atas kemurahan dari Alloh kemudian bantuan dari donatur, saat ini anak yatim di Ambarawa yang telah mendapatkan beasiswa pendidikan gratis sebanyak 7 anak, semoga Alloh memudahkan langkah kita dalam kebaikan. amin


E. INFORMASI DAN KETERANGAN
SDIT Ibnu Mas'ud
Jl. Mgr. Sugiyopranoto km 3, Ngampin, Ambarawa, Kab. Semarang
Telp. (
0298) 594616/ 08179531872
SMS center: 0821 3786 0274
website: sditambarawa.blogspot.com

email: sholihkids@gmail.com

7 Faedah Qona'ah

http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/7-faedah-qonaah.html

a. Hati akan dipenuhi dengan keimanan kepada Allah

Seorang yang qana’ah akan yakin terhadap ketentuan yang ditetapkan Allah ta’ala sehingga diapun ridha terhadap rezeki yang telah ditakdirkan dan dibagikan kepadanya. Hal ini erat kaitannya dengan keimanan kepada takdir Allah. Seorang yang qana’ah beriman bahwa Allah ta’ala telah menjamin dan membagi seluruh rezeki para hamba-Nya, bahkan ketika sang hamba dalam kondisi tidak memiliki apapun. Sehingga, dia tidak akan berkeluh-kesah mengadukan Rabb-nya kepada makhluk yang hina seperti dirinya.

Ibnu Mas’ud radhilallahu ‘anhu pernah mengatakan,

إِنَّ أَرْجَى مَا أَكُونُ لِلرِّزْقِ إِذَا قَالُوا لَيْسَ فِي الْبَيْتِ دَقِيقٌ

“Momen yang paling aku harapkan untuk memperoleh rezeki adalah ketika mereka mengatakan, “Tidak ada lagi tepung yang tersisa untuk membuat makanan di rumah” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam].

إِنَّ أَحْسَنَ مَا أَكُونُ ظَنًّا حِينَ يَقُولُ الْخَادِمُ: لَيْسَ فِي الْبَيْتِ قَفِيزٌ مِنْ قَمْحٍ وَلَا دِرْهَمٌ

“Situasi dimana saya mempertebal husnuzhanku adalah ketika pembantu mengatakan, “Di rumah tidak ada lagi gandum maupun dirham.” [Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah (34871); Ad Dainuri dalam Al Majalisah (2744); Abu Nu'aim dalam Al Hilyah (2/97)].

Imam Ahmad mengatakan,

أَسَرُّ أَيَّامِي إِلَيَّ يَوْمٌ أُصْبِحُ وَلَيْسَ عِنْدِي شَيْءٌ

“Hari yang paling bahagia menurutku adalah ketika saya memasuki waktu Subuh dan saya tidak memiliki apapun.” [Shifatush Shafwah 3/345].

b. Memperoleh kehidupan yang baik

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” [An-Nahl: 97].

Kehidupan yang baik tidaklah identik dengan kekayaan yang melimpah ruah. Oleh karenanya, sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kehidupan yang baik dalam ayat di atas adalah Allah memberikannya rezeki berupa rasa qana’ah di dunia ini, sebagian ahli tafsir yang lain menyatakan bahwa kehidupan yang baik adalah Allah menganugerahi rezeki yang halal dan baik kepada hamba [Tafsir ath-Thabari 17/290; Maktabah asy-Syamilah].

Dapat kita lihat di dunia ini, tidak jarang, terkadang diri kita mengorbankan agama hanya untuk memperoleh bagian yang teramat sedikit dari dunia. Tidak jarang bahkan kita menerjang sesuatu yang diharamkan hanya untuk memperoleh dunia. Ini menunjukkan betapa lemahnya rasa qana’ah yang ada pada diri kita dan betapa kuatnya rasa cinta kita kepada dunia.

Tafsir kehidupan yang baik dengan anugerah berupa rezeki yang halal dan baik semasa di dunia menunjukkan bahwa hal itu merupakan nikmat yang harus kita usahakan. Harta yang melimpah ruah sebenarnya bukanlah suatu nikmat jika diperoleh dengan cara yang tidak diridhai oleh Allah. Tapi sayangnya, sebagian besar manusia berkeyakinan harta yang sampai ketangannya meski diperoleh dengan cara yang haram itulah rezeki yang halal. Ingat, kekayaan yang dimiliki akan dimintai pertanggungjawaban dari dua sisi, yaitu bagaimana cara memperolehnya dan bagaimana harta itu dihabiskan. Seorang yang dianugerahi kekayaan melimpah ruah tentu pertanggungjawaban yang akan dituntut dari dirinya di akhirat kelak lebih besar.

c. Mampu merealisasikan syukur kepada Allah

Seorang yang qana’ah tentu akan bersyukur kepada-Nya atas rezeki yang diperoleh. Sebaliknya barangsiapa yang memandang sedikit rezeki yang diperolehnya, justru akan sedikit rasa syukurnya, bahkan terkadang dirinya berkeluh-kesah. Nabi pun mewanti-wanti kepada Abu Hurairah,

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا، تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَكُنْ قَنِعًا، تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ

“Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’ niscaya dirimu akan menjadi hamba yang paling taat. Jadilah orang yang qana’ah, niscaya dirimu akan menjadi hamba yang paling bersyukur” [HR. Ibnu Majah: 4217].

Seorang yang berkeluh-kesah atas rezeki yang diperolehnya, sesungguhnya tengah berkeluh-kesah atas pembagian yang telah ditetapkan Rabb-nya. Barangsiapa yang mengadukan minimnya rezeki kepada sesama makhluk, sesungguhnya dirinya tengah memprotes Allah kepada makhluk. Seseorang pernah mengadu kepada sekelompok orang perihal kesempitan rezeki yang dialaminya, maka salah seorang diantara mereka berkata, “Sesungguhnya engkau ini tengah mengadukan Zat yang menyayangimu kepada orang yang tidak menyayangimu” [Uyun al-Akhbar karya Ibnu Qutaibah 3/206].

d. Memperoleh keberuntungan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa seorang yang qana’ah akan mendapatkan keberuntungan.

Fudhalah bin Ubaid radhiallalahu ‘anhu pernah mendengar nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

طُوبَى لِمَنْ هُدِيَ إِلَى الإِسْلَامِ، وَكَانَ عَيْشُهُ كَفَافًا وَقَنَعَ

“Keberuntungan bagi seorang yang diberi hidayah untuk memeluk Islam, kehidupannya cukup dan dia merasa qana’ah dengan apa yang ada” [HR. Ahmad 6/19; Tirmidzi 2249].

Abdullah bin Amr mengatakan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang yang memeluk Islam, diberi rezki yang cukup dan Allah menganugerahi sifat qana’ah atas apa yang telah diberikan-Nya” [HR. Muslim: 1054; Tirmidzi: 2348].

e. Terjaga dari berbagai dosa

Seorang yang qana’ah akan terhindar dari berbagai akhlak buruk yang dapat mengikis habis pahala kebaikannya seperti hasad, namimah, dusta dan akhlak buruk lainnya. Faktor terbesar yang mendorong manusia melakukan berbagai akhlak buruk tersebut adalah tidak merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan, tamak akan dunia dan kecewa jika bagian dunia yang diperoleh hanya sedikit. Semua itu berpulang pada minimnya rasa qana’ah.

Jika seseorang memiliki sifat qana’ah, bagaimana bisa dia melakukan semua akhlak buruk di atas? Bagaimana bisa dalam hatinya timbul kedengkian, padahal dia telah ridha terhadap apa yang telah ditakdirkan Allah?

Abdullah bin Mas’ud radhiallalhu ‘anhu mengatakan,

الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسُخْطِ اللَّهِ، وَلَا تَحْسُدَ أَحَدًا عَلَى رِزْقِ اللَّهِ، وَلَا تَلُمْ أَحَدًا عَلَى مَا لَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ، فَإِنَّ الرِّزْقَ لَا يَسُوقُهُ حِرْصُ حَرِيصٍ، وَلَا يَرُدُّهُ كَرَاهَةُ كَارِهٍ، فَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى – بِقِسْطِهِ وَعِلْمِهِ وَحُكْمِهِ – جَعَلَ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ فِي الْيَقِينِ وَالرِّضَا، وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحُزْنَ فِي الشَّكِّ وَالسُّخْطِ

“Al Yaqin adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, engkau tidak dengki kepada seorangpun atas rezeki yang ditetapkan Allah, dan tidak mencela seseorang atas sesuatu yang tidak diberikan Allah kepadamu. Sesungguhnya rezeki tidak akan diperoleh dengan ketamakan seseorang dan tidak akan tertolak karena kebencian seseorang. Sesungguhnya Allah ta’ala –dengan keadilan, ilmu, dan hikmah-Nya- menjadikan ketenangan dan kelapangan ada di dalam rasa yakin dan ridha kepada-Nya sserta menjadikan kegelisahan dan kesedihan ada di dalam keragu-raguan (tidak yakin atas takdir Allah) dan kebencian (atas apa yang telah ditakdirkan Allah)” [Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin (118) dan Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman (209)].

Sebagian ahli hikmah mengatakan, “Saya menjumpai yang mengalami kesedihan berkepanjangan adalah mereka yang hasad sedangkan yang memperoleh ketenangan hidup adalah mereka yang qana’ah” [Al Qana’ah karya Ibnu as-Sunni hlm. 58].

f. Kekayaan sejati terletak pada sifat qana’ah

Qana’ah adalah kekayaan sejati. Oleh karenanya, Allah menganugerahi sifat ini kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman,

وَوَجَدَكَ عَائِلًا فأغنى

“Dan Dia menjumpaimu dalam keadaan tidak memiliki sesuatu apapun, kemudian Dia member kekayaan (kecukupan) kepadamu” [Adh-Dhuha: 8].

Ada ulama yang mengartikan bahwa kekayaan dalam ayat tersebut adalah kekayaan hati, karena ayat ini termasuk ayat Makkiyah (diturunkan sebelum nabi hijrah ke Madinah). Dan pada saat itu, sudah dimaklumi bahwa nabi memiliki harta yang minim [Fath al-Baari 11/273].

Hal ini selaras dengan hadits-hadits nabi yang menjelaskan bahwa kekayaan sejati itu letaknya di hati, yaitu sikap qana’ah atas apa yang diberikan-Nya, bukan terletak pada kuantitas harta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya kemewahan dunia, akan tetapi kekayaan hakiki adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)” [HR. Bukhari: 6446; Muslim: 1051].

Abu Dzar radhiallalhu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya, “Wahai Abu Dzar apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itu adalah kekakayaan sebenarnya?” Saya menjawab, “Iya, wahai rasulullah.” Beliau kembali bertanya, “Dan apakah engkau beranggapan bahwa kefakiran itu adalah dengan sedikitnya harta?” Diriku menjawab, “Benar, wahai rasulullah.” Beliau pun menyatakan, “Sesungguhnya kekayaan itu adalah dengan kekayaan hati dan kefakiran itu adalah dengan kefakiran hati” [HR. An-Nasaai dalam al-Kubra: 11785; Ibnu Hibban: 685].

Apa yang dinyatakan di atas dapat kita temui dalam realita kehidupan sehari-hari. Betapa banyak mereka yang diberi kenikmatan duniawi yang melimpah ruah, dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan diri dan keturunannya selama berpuluh-puluh tahun, namun tetap tidak merasa cukup sehingga ketamakan telah merasuk ke dalam urat nadi mereka. Dalam kondisi demikian, bagaimana lagi dia bisa perhatian terhadap kualitas keagamaan yang dimiliki, bukankah waktunya dicurahkan untuk memperoleh tambahan dunia?

Sebaliknya, betapa banyak mereka yang tidak memiliki apa-apa dianugerahi sifat qana’ah sehingga merasa seolah-olah dirinyalah orang terkaya di dunia, tidak merendahkan diri di hadapan sesama makhluk atau menempuh jalan-jalan yang haram demi memperbanyak kuantitas harta yang ada.

Rahasianya terletak di hati sebagaimana yang telah dijelaskan. Oleh karena pentingnya kekayaan hati ini, Umar radhilallahu ‘anhu pernah berpesan dalam salah satu khutbahnya,

تَعْلَمُونَ أَنَّ الطَّمَعَ فَقْرٌ، وَأَنَّ الْإِيَاسَ غِنًى، وَإِنَّهُ مَنْ أَيِسَ مِمَّا عِنْدَ النَّاسِ اسْتَغْنَى عَنْهُمْ

“Tahukah kalian sesungguhnya ketamakan itulah kefakiran dan sesungguhnya tidak berangan-angan panjang merupakan kekayaan. Barangsiapa yang tidak berangan-angan memiliki apa yang ada di tangan manusia, niscaya dirinya tidak butuh kepada mereka” [HR. Ibnu al-Mubarak dalam az-Zuhd: 631].

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu pernah berwasiat kepada putranya, “Wahai putraku, jika dirimu hendak mencari kekayaan, carilah dia dengan qana’ah, karena qana’ah merupakan harta yang tidak akan lekang” [Uyun al-Akhbar : 3/207].

Abu Hazim az-Zahid pernah ditanya,

مَا مَالُكَ؟

“Apa hartamu”,

beliau menjawab,

لِي مَالَانِ لَا أَخْشَى مَعَهُمَا الْفَقْرَ: الثِّقَةُ بِاللَّهِ، وَالْيَأْسُ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

“Saya memiliki dua harta dan dengan keduanya saya tidak takut miskin. Keduanya adalah ats-tsiqqatu billah (yakin kepada Allah atas rezeki yang dibagikan) dan tidak mengharapkan harta yang dimiliki oleh orang lain [Diriwayatkan Ad Dainuri dalam Al Mujalasah (963); Abu Nu'aim dalam Al Hilyah 3/231-232].

Sebagian ahli hikmah pernah ditanya, “Apakah kekayaan itu?” Dia menjawab, “Minimnya angan-anganmu dan engkau ridha terhadap rezeki yang mencukupimu” [Ihya ‘Ulum ad-Diin 3/212].

g. Memperoleh kemuliaan

Kemuliaan terletak pada sifat qana’ah sedangkan kehinaan terletak pada ketamakan. Mengapa demikian, karena seorang yang dianugerahi sifat qana’ah tidak menggantungkan hidupnya pada manusia, sehingga dirinya pun dipandang mulia. Adapun orang yang tamak justru akan menghinakan dirinya di hadapan manusia demi dunia yang hendak diperolehnya. Jibril ‘alaihissalam pernah berkata,

يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

“Wahai Muhammad, kehormatan seorang mukmin terletak pada shalat malam dan kemuliaannya terletak pada ketidakbergantungannya pada manusia” [HR. Hakim: 7921].

Al Hasan berkata,

لَا تَزَالُ كَرِيمًا عَلَى النَّاسِ – أَوْ لَا يَزَالُ النَّاسُ يُكْرِمُونَكَ مَا لَمْ تُعَاطِ مَا فِي أَيْدِيهِمْ، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ اسْتَخَفُّوا بِكَ، وَكَرِهُوا حَدِيثَكَ وَأَبْغَضُوكَ

“Engkau akan senantiasa mulia di hadapan manusia dan manusia akan senantiasa memuliakanmu selama dirimu tidak tamak terhadap harta yang mereka miliki. Jika engkau melakukannya, niscaya mereka akan meremehkanmu, membenci perkataanmu dan memusuhimu” [Al-Hilyah: 3/20].

Al Hafizh Ibnu Rajab mengatakan,

وَقَدْ تَكَاثَرَتِ الْأَحَادِيثُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْأَمْرِ بِالِاسْتِعْفَافِ عَنْ مَسْأَلَةِ النَّاسِ وَالِاسْتِغْنَاءِ عَنْهُمْ، فَمَنْ سَأَلَ النَّاسَ مَا بِأَيْدِيهِمْ، كَرِهُوهُ وَأَبْغَضُوهُ؛ لِأَنَّ الْمَالَ مَحْبُوبٌ لِنُفُوسِ بَنِي آدَمَ، فَمَنْ طَلَبَ مِنْهُمْ مَا يُحِبُّونَهُ، كَرِهُوهُ لِذَلِكَ

“Begitu banyak hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan untuk bersikap ‘iifah (menjaga kehormatan) untuk tidak meminta-minta dan tidak bergantung kepada manusia. Setiap orang yang meminta harta orang lain, niscaya mereka akan tidak suka dan membencinya, karena harta merupakan suatu hal yang amat dicintai oleh jiwa anak Adam. Oleh karenanya, seorang yang meminta orang lain untuk memberikan apa yang disukainya, niscaya mereka akan membencinya” [Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam 2/205].

Kepemimpinan dalam agama yang identik dengan kemuliaan pun dapat diperoleh jika seorang ‘alim tidak menggantungkan diri kepada manusia, sehingga mereka tidak direpotkan dengan berbagai kebutuhan hidup yang dituntutnya. Seyogyanya manusia membutuhkan sang ‘alim karena ilmu, fatwa dan nasehatnya. Mereka bukannya butuh ketamakan dari sang ‘alim. Seorang Arab badui pernah bertanya kepada penduduk Bashrah,

مَنْ سَيِّدُ أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ؟ قَالُوا: الْحَسَنُ، قَالَ: بِمَا سَادَهُمْ؟ قَالُوا: احْتَاجَ النَّاسُ إِلَى عِلْمِهِ، وَاسْتَغْنَى هُوَ عَنْ دُنْيَاهُمْ

“Siapa tokoh agama di kota ini?” Penduduk Bashrah menjawab, “Al Hasan.” Arab badui bertanya kembali, “Dengan apa dia memimpin mereka?” Mereka menjawab, “Manusia butuh kepada ilmunya, sedangkan dia tidak butuh dunia yang mereka miliki” [Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam 2/206].

Sumber: Al Qana’ah, Mafhumuha, Manafi’uha, ath-Thariqu ilaiha karya Ibrahim bin Muhammad al-Haqil disertai beberapa penambahan.

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Artikel www.muslim.or.id


Dijual Rumah Dekat Pesantren Islamic Centre Bin Baz


Alamat; Desa Sitimulyo, Kec. Piyungan, Kab. Bantul, DI.Yogyakarta 55792
Luas tanah; 179 m2, Luas Bangunan; 15 x 8,6 m, 2 KM plus 1 ruang cuci, 5 kamar tidur, 2 R. tamu, ruang keluarga, teras, SHM, listrik 1.300 watt, air sumur.
Lingkungan desa yang asri dan ramah, dekat lokasi TK,SD dan SMA Negeri, 70 m dari balai desa dan dekat jalan
Info lengkap silahkan 
telp/ sms : 082137860274 
email      : sholihkids@gmail.com

Rencana Pesantren di Desa Miskin Gunung Kidul

Rumaysho.Com
Muhammad Abduh Tuasikal


pesantren_darush_sholihin_gunung_kidulRencana Pendirian Pesantren Darush Sholihin dengan Pendiri Ustadz M. Abduh Tuasikal.
Alamat: Masjid Jami' Al Adha, Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta, 55872.
HP: 0815 680 7937, email: rumaysho@gmail.com, PIN BB Pesantren: 231831BE, website: www.rumaysho.com


Pendahuluan
Dusun Warak terletak sekitar 70 km dari kota Jogja. Dusun ini berada di daerah pegunungan dengan kondisi tanah yang kering. Dusun Warak yang berada di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunung Kidul, DIY adalah di antara dusun miskin, bertaraf pendidikan rendah (rata-rata lulusan SMP) dan juga sangat kekurangan air di musim kemarau karena mengingat kondisi tanah yang sulit menampung air. Air untuk keperluan mandi dan makan di musim kemarau mesti didapat dengan cara membeli per tangki (5000 L) sekitar Rp.120.000. Walaupun dari segi ekonomi agak sedikit maju untuk saat ini dikarenakan fasilitan jalan yang telah mengalami renovasi dari tahun-tahun sebelumnya. Pekerjaan warga rata-rata adalah bertani dengan kondisi tanah mengalami kekeringan di musim kemarau. Sebagian lagi sebagai buruh bangunan yang mesti melaju ke Jogja setiap pekannya untuk mengais rizki.
Sembilan puluh delapan persen (98%) warga Dusun Warak memeluk agama Islam. Dari sisi agama, Dusun Warak terbilang masih jauh tertinggal, Islam bahkan bisa dikata hanya Islam KTP. Kenduren dan tradisi syirik sejak dahulu masih jadi pegangan masyarakat, meskipun saat ini berangsur-angsur hilang. Akidah masyarakat pun masih perlu ditata ulang karena masih menganut ajaran-ajaran nenek moyangnya dahulu yang berlatar belakang ajaran Hindu. Ditambah lagi dari sisi bacaan Qur'an pun masih sedikit yang menguasai. Generasi muda saat inilah yang mulai sadar akan pentingnya belajar Al Qur'an dan belajar Islam. Sejak empat tahun belakangan ini, mulai digencarkan pembelajaran Al Qur'an setiap malam Ahad yang disebut dengan 'sema'an keliling' karena pada malam tersebut dilakukan tadarusan keliling ke setiap masjid di Dusun Warak (ada 6 masjid). Yang biasa mengikuti kegiatan ini mulai dari anak kelas 3 SD sampai dengan anak SMA yang sudah bisa membaca Al Qur'an. Dalam kegiatan sema'an tersebut diisi pula dengan kajian Islam yang sifatnya sederhana dan memahamkan. Adapun untuk kelas pendidikan Al Qur'an terhadap anak-anak usia dini dibina melalui TPA. Di masjid besar, TPA masih terus berjalan. Namun di beberapa masjid atau musholla masih sangat tertinggal karena para pengajar biasanya adalah anak SMP atau SMA yang jika mereka sudah lulus sekolah mesti mengais rizki ke Jogja.
Latar Belakang
Berlatar belakang kurangnya ilmu agama (dengan pemahaman yang benar) di tengah masyarakat Dusun Warak, ditambah lagi kurangnya kaderisasi da'i di masyarakat, sangat perlu sekali didirikan pesantren yang bisa membina generasi muda. Karena setiap orang tua sangat ingin anaknya tetap belajar di sekolah umum di pagi harinya, maka yang sangat mungkin adalah pembelajaran di sore hari. Sedangkan bagi yang sudah lulus SMP atau SMA bisa mengikuti pesantren ini jika diberi lapangan pekerjaan sehingga mereka tidak perlu jauh-jauh ke Jogja setiap pekannya untuk mencari penghidupan. Begitu pula santri pun sangat senang jika mereka mendapatkan keringanan dengan bebas biaya pendidikan, bahkan bisa mendapatkan beasiswa tiap bulannya untuk memotivasi mereka dalam belajar dan menunjang pula ekonomi keluarganya yang rata-rata berada di bawah garis kemiskinan. Sedangkan bagi yang telah lulus dan sambil kerja di pesantren, juga bisa mendapatkan penghasilan yang cukup. Jadi, pesantren yang berbasis pengajaran wirausaha sangat dibutuhkan di Dusun Warak ini.
Gambaran Pesantren
  1. Pesantren ini diberi nama Pesantren Darush Sholihin, dengan rencana menggunakan gedung sarana belajar dua lantai dengan tanah yang akan dibebaskan seluas 399 m2.
  2. Pembelajaran Pesantren Darush Sholihin akan dimulai insya Allah Februari 2013.
  3. Waktu pembelajaran adalah di sore hari, mulai pukul 16.00 – 19.00 WIB. Di bulan Ramadhan mulai pukul 15.00 – 17.00 WIB.
  4. Para santri akan dibagi beberapa kelas, yaitu (1) Kelas A: pembelajaran Iqro' dan dasar-dasar Islam, (2) Kelas B: pembelajaran Al Qur'an dan dasar-dasar Islam, (3) Kelas C: pembelajaran Al Qur'an dan ajaran Islam lanjutan sebagai bekal untuk menjadi seorang mubaligh, (4) Kelas D: pembelajaran Islam lanjutan, bekal menjadi seorang mubaligh dan bekal wirausaha.
  5. Di samping pelajaran agama, khususnya santri kelas D akan dididik wirausaha dan disediakan lapangan kerja. Di pagi hari mereka bekerja. Di sore harinya, mereka mengikuti pelajaran pesantren seperti kelas C. Lapangan kerja yang akan disesuaikan disesuaikan dengan sumber daya alam setempat. Seperti mengolah singkong menjadi berbagai kripik, lempeng menjadi makanan yang gurih dan nikmat. Juga akan dikembangkan usaha toko online untuk pemasaran produk desa atau produk lainnya bagi santri yang berasal dari STM jurusan IT. Ada pula lapangan pekerja untuk santri yang memiliki ketrampilan menjahit, mereka bisa memproduksi pakaian muslim dan muslimah.
  6. Pesantren hanya menyiapkan fasilitas dan sarana belajar, tanpa menyediakan asrama karena target santri adalah warga sekitar yang tidak butuh menginap.
  7. Pesantren selama Ramadhan 1432 H ini sudah berjalan untuk masa uji coba dengan memanfaatkan rumah kediaman pengajar yang telah dilengkapi beberapa fasilitas mengajar seperti projector dan printer. Santri yang aktif mengikuti pesantren selama Ramadhan dibagi menjadi dua kelas. Kelas A sebanyak 22 santri, terdiri dari siswa kelas 5 SD s/d 1 SMP. Kelas B sebanyak 31 santri, terdiri dari siswa kelas 2 SMP s/d SMA.
Anggaran
Untuk mendirikan bangunan Pesantren Darush Sholihin, besar dana yang dibutuhkan:
  1. Pendirian talut Rp.20.000.000
  2. Pendirian bangunan 2 lantai Rp.100.000.000
  3. Penyediaan sarana belajar mengajar Rp.10.000.000
  4. Penyediaan sarana wirausaha Rp.10.000.000
Total dana: Rp.140.000.000 (*)
(*) Ini perhitungan kasaran dan sudah termasuk overhead.
Penggalangan Dana
Donasi untuk pendirian Pesantren Darush Sholihin bisa disalurkan lewat:
  1. Rekening BCA KCP Kaliurang atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 8610123881.
  1. Rekening BNI Syariah atas nama Sdr Muhammad Abduh Tuasikal: 0194475165.
  1. Rekening Bank Syariah Mandiri KCP Wonosari atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 3107011155.
  2. Rekening BRI Yogyakarta Cik Ditiro atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 0029-01-101480-50-9.
Setelah mengirimkan donasi, silakan mengkonfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) atau via BBM ke PIN BB Pesantren: 231831BE dengan mengetik: nama donatur, besar donasi, rekening tujuan, tanggal transfer, keperluan transfer. Konfirmasi ini harus ada untuk membedakan dengan donasi lainnya yang disalurkan lewat www.rumaysho.com.
Contoh konfirmasi : Ahmad#Rp.2.000.123#BSM#12 Agustus 2011#pesantren.
Menyalurkan dana untuk pendirian pesantren ini termasuk amal jariyah yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh ” (HR. Muslim no. 1631)
Semoga Allah berkahi rizki para pengunjung rumaysho.com sekalian dan moga mendapat pahala melimpah.
Warak, Girisekar, Panggang, Gunung Kidul
12 Ramadhan 1432 H (12/08/2011)
Pimpinan Pesantren Darush Sholihin
Muhammad Abduh Tuasikal, ST
Tentang Pimpinan Pesantren Darush Sholihin:
Beliau adalah pengasuh web islami di antaranya website pribadi beliau rumaysho.com dan muslim.or.id. Beliau juga menjadi penasehat di Majalah Pengusaha Muslim dan beberapa tulisan beliau sempat dimuat di beberapa majalah Islami seperti Majalah Al Furqon dan Majalah Fatawa. Saat ini beliau sedang melanjutkan studi S2 Magister Polymer Engineering di Jami'ah Malik Su'ud Riyadh KSA. Di sore harinya juga rutin menghadiri majelis beberapa ulama di Riyadh di antaranya Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah.
Keadaan Pembangunan Pesantren saat ini (s/d 12/09/2011)
Gambar 1 - Pesantren yang dekat dengan Masjid Jami' Al Adha
pesantren_darush_sholihin_1
Gambar 2 - Pekerjaan Talut di Hari Pertama, 12/09/2011
pesantren_darush_sholihin_2
Gambar 3 - Pekerjaan Talut di Hari Pertama dengan pekerja dari warga sekitar, 12/09/2011
Gambar 4 - Rapat di malam hari 11/09/2011 membicarakan swadaya masyarakat untuk pendirian pesantren
Gambar 5 - Kondisi Masjid dan Pesantren yang dekat dengan jalan
pesantren_darush_sholihin_5
Gambar 6 - Denah Lantai 1
DENAH_PESANTREN_web

Marriage At An Early Age And It’s Benefits

http://theclearsunnah.wordpress.com

MATRIMONY AT AN EARLY AGE AND ITS BENEFITS
SHAYKH FOWZAN
Taken from: ISLAAM’S SOLUTION FOR THE PROBLEMS FACING TODAY’S YOUTH, Pgs. 44-48
From among the benefits of getting married at an early age is the obtaining of children, which make the youth delighted at their presence.
Allah says:
And those who say: “Our Lord! Bestow on us from our wives and our offspring who will be the comfort of our eyes, and make us leaders for the Muttaqûn ” (pious – see V.2:2 and the footnote of V.3:164).” (Al-Furqan 25:74)
Wives and children are a deligh; Allah prmised that marriage brings about pleasure. This pleasure encourages and persuades the youth to take an interest in matrimony.
This is also similar to how Allah mentioned that childred are a share of this world’s beauty.
Wealth and children are the adornment of the life of this world. But the good righteous deeds (five compulsory prayers, deeds of Allâh’s obedience, good and nice talk, remembrance of Allâh with glorification, praises and thanks, etc.), that last, are better with your Lord for rewards and better in respect of hope. (Al-Kahf 18:46)

Therefore, this world is adorned by children. The human-being seeks out adornment the same ways he tries to obtain wealth. Similarly, he craves for children, because they are equal to wealth in their existence. This is in this world. Then in the hereafter, righteous children can benefit their fathers as the Prophet sallalahu ‘alayhe wasallam said:
Whenever the son of Adam dies his action stop except three: Knowledge that benefits people, a recurring charity, and a righteous child that supplicates for his parent .”
(Hadeeth Saheeh, Collected by Muslim #1631)
The second benefit of matrimony at an early age is that it produces children increasing the Muslim Ummah and Islaamic society. The Prophet sallalahu ‘alayhe wasallam said
Marry the loving and fertile, for verily I want to have the largest Ummah on the Day of Resurrection.”

[Hadeeth Saheeh, Collected by Abu Dawud in his Sunnan (#2050), An-Nisa'i in his Sunnan As-Sughara (#3227), Al-Hakim in Al-Mustadrak (#2/162), and Ibn Hibban in his Saheeh (#4057), Al-Baghawee in his Sharh-us-Sunnah (#9/17), Al-Bayhaqee in his Sunnan AL-Kubara (#7/81) on the authority of Ma'qal Ibn Yasaar. Graded Saheeh by Al-Albani in his checking of Abu Dawud.]
Great blessing result from marriage. From among them are the ones we previously mentioned. So if these virtues and blessings are explained to the adolscents, then the fallacious problems that hinder people from getting married will disappear.
As for the saying that, getting married at an early age diverts from gaining knowledge and from studying, this is not the case. Rather, the opposite of this is correct because tranquility, peace of mind, and pleasure never cease to be obtained through marriage. These things help the student to reach his goal because, he has peace of mind, and his thoughts are not cluttered due to discomfort and this helps him study.
Now on the other hand abstaining from marriage in reality blocks whatever knowledge he wants to attain, because it is not possible to acquire knowledge in a state of confusion and anxiety. However, if he gets married, his mind is at rest and his soul is at ease. He gets a house to take as a shelter and a wife who relaxes and helps him. These things help him to attain knowledge.
If Allah makes it easy and this marraige becomes a source of comfot to become a relationship, then this is from among the things which make it easy for the student to pursue knowledge. Matrimony does not block the path to knowledge as some believe. For that reason, having children is an enormous blessing in this life and in the next.
As for the statement that marriage at an early age burdens the adolsecent to supply provisions for his children, wife and other responsibilities, this also is not correct. Along with marriage comes blessings and well-being. Matrimony is obedience to Allah and His Messenger sallalahu ‘alayhe wasallam and there is good in every act of obedience. So if the youth gets married following the orders of the Prophet sallalahu ‘alayhe wasallam by seeking the blessings that have been promised with the correct intentions, then this marriage will be a reason for his blessings. The provisions are in the hands of Allah.
Allah, the Mighty and Majestic states:
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا
And no (moving) living creature is there on earth but its provision is due from Allâh.
(Hud 11:6)
Consequently, if Allah makes it easy for you to get married, then He will make providing for your children easy.
نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ
We provide sustenance for you and for them. (Al-An’am 6:151)
Marriage does not burden the young man above his ability as some of the people think. Marriage brings benefits and blessings. Matrimony is a necessary Sunnah of Allah for the human-being. Matrimony is not a horrible nightmare. It is only a door from the doors of righteousness for the person with the correct intention.
As for the excuses about the obstacles placed in the path of marriage, then this is from their evil behavior. Marriage in itself does not require such things as a plump dowry, parties which amount to more than required or other expenses with no authority from Allah. Rather, what is required is a wedding with ease.
Hence, it is a duty to clarify to the people that these extravagances placed in the path to a wedding bring about evil consequences for their sons and daughters. These extravagances are not from their well-being. Therefore, it is a must to remedy these problems, so that matrimony can return to its ease and convenience.
We ask Allah the Glorious and Most High to grant us the safety of success, guidance and to rectify the condition of all of us. We ask Allah to rectify the Muslim youth and to return the Muslims to their rank and honor the same way Allah gave the Muslim honor before. We ask Allah to return this honor and to rectify the Muslims state.
Allah says the Most High:
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّالْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ 
But honour, power and glory belong to Allâh, His Messenger (Muhammad Sallalahu ‘Alayhe Wasallam), and to the believers, but the hypocrites know not. (Al-Munafiqun 63:8)
We ask Allah to give the Muslims insight in their religion and to protect them from the evil of their enemies. Peace and blessings be upon our Prophet, his family and all his companions. Praise be to Allah.

Seeking refuge in Allaah from the evil of one’s soul and from the evil of Shaytan and his shirk

 
Seeking refuge from evil of soul and Shaytan and its shirk
Allahumma faatiras-samaawaati wal-ardhi, ‘Aalimal-ghaybi wash-shahaadati, , Rabba kulli shay’in wa maleekahu, ‘ash-hadu ‘an laa ‘ilaaha ‘illaa Anta, ‘a’oothu bika min sharri nafsee, wa min sharrish-shaytaani wa shirkihi (*), wa ‘an ‘aqtarifa ‘alaa nafsee soo’an ‘aw ajurrahu ‘ilaa muslim.
“O Allaah, Creator of the heavens and the earth, Knower of the unseen and visible, the Lord of everything and it’s Possessor, I bear witness that nothing is worthy of worship but You. I seek refuge in You from the evil of my soul and from the evil of Shaytan and his shirk. (I seeek refuge in You) from bringing evil upon my soul and from harming any Muslim.” (**)
Related by Ahmad (#51, #63, #81, and #7961), al-Bukhaaree in (al-Adabul-Mufrad) (#1202, #1204), and in the narrative of Imaam Ahmad #7961 from him where he said in the last part of the narration: “…Say it when you have entered upon morning and when you have entered upon the evening, and when you take to your bed.” And it was authenticated by al-‘Alaamah Ibn Baaz-may Allah have mercy upon him-in Tuhfat-ul-Akhyaar.
Source : Supplication # 17 in “Precious Rememberance” – Written by ash-Shaykh Ibn ‘Uthaymeen
Also mentioned in Hisn al Muslim – Sahih At-Tirmidhi 3/142 and AbuDawood
Also mentioned  in  Saheeh Al-Kalimaat At-Tayyib –  Hadeeth No # 21
The following notes has been taken from  “More than 1000 Sunan Every Day & Night” published by Dar-us-Salaam
(*) There are two opinions on how this should be pronounced:
(a) The first opinion is that the word should be pronounced as Shiraki, which means plots and plans. So, this part of the supplication would read, “I seek refuge in You from the evil of my soul and from the evil and plans of Shaytaan“.
(b) The second opinion, which seems to be the strongest, is that it should be pronounced as Shirki; this refers to whatever the Shaytaan is calling you towards, in terms of acts of worship, which result in associating partners with Allah. It doesn’t meant that Shirk is being commited by Shaytaan himself. On the contrary it is the person who commits the shirk in obedienec to Shaytaan.
For a more detailed explanation, refer to TuhfatAl-Ahwadee, Volume 9, Hadeeth 3452, by Shaykh Muhammad Al-Mubaarakpuri.
(**) Shaykh Al-Albanee mentioned that the last part,
..is from another narration is Sunan At-Tirmidhi, narrated by Abdullah bin Ammaar, and is not mentioned as part of this supplication, which is also from Sunan At-Tirmidhee, but narrated by Aboo Hurayrah.

http://shayaateen.wordpress.com/2011/09/24/seeking-refuge-in-allaah-from-the-evil-of-ones-soul-and-from-the-evil-of-shaytan-and-his-helpers/

The Story Of How An-Najjaashee Became The King Of Abyssinia

[Translated by Aboo Talhah Daawood ibn Ronald Burbank]
Posted by Saad Burbank 


* Concerning an-Najjaashee’s refusal to surrender the Muslims in his land to the Mushrikoon from Quraish, and his refusal to accept gifts to bribe him to do that:-
* az-Zuhree said: “I had this hadeeth narrated by “Urwah ibn az-Zubayr (rahimahullaah): from Umm Salamah (radiyallaahu “anhaa). So “Urwah said: “Do you know what he (i.e. an-Najjaashee) meant by his saying: “Allaah did not take any bribe from me, when He restored my kingdom to me, such that I should accept any bribe to keep my kingdom; And Allaah did not do what the people wanted with regard to me, such that I should obey the people against Him.” ?
So I said; “No.”… So then “Urwah explained it, saying:  ”Aa’ishah (radiyallaahu ‘anhaa) narrated to me that:
<< His father was previously king of his people, and he had a brother, and his brother had twelve sons. But the father of an-Najjaashee had no child besides an-Najjaashee.
So the people of Abyssinia started plotting together and they said: We ought to kill the father of an-Najjaashee, and give the kingship to his brother, then his brother has twelve sons. So then later they can inherit the kingship and the Abyssinian people will remain for a long time without any infighting between them. So they attacked (the king) and killed him, and they made his brother king.
So then an-Najjaashee entered upon his uncle, and he impressed him so much that he consulted nobody else besides him, and he was found to be a person of intellect and firm resolve.
So when the rest of the Abyssinians saw the status which he now had with his uncle they said: This boy has got the better of his uncle now, so we do not feel safe that he will not make him king over us (after himself), and he knows that we have killed his father. So if that happens, he will not leave a single noble amongst us except he will kill him.
So they went to his uncle and said: You know that we killed his father, and put you in his place; and we do not feel safe that he will not become king over us (after you). So either you kill him, or you banish him from our land.
He said, “Woe to you, you killed his father yesterday, and now I have to kill him today! Rather I will send him away from your land.”
So they took him away, and put him in the market place; and they sold him as a slave to a trader from the traders who threw him into a ship, having bought him for 600 or 700 dirhams.
Then he departed with him.
Then when it was the evening of that same day some clouds from the autumn clouds appeared. So his uncle went out to enjoy the rain, but he was struck by a lightening bolt which killed him.
So the people quickly went to his children, but they found that they were stupid people. There was not a single one that had any good in him. So the affair of the Abyssinians was thrown into confusion.
So some of them said to others:
“You know, by Allaah, that the only one who is suitable to be king over you is the one who you sold this morning. So if you have any concern for the affair of the Abyssinians, then go and get him before he leaves.”
So they went searching for him. So they found him and they brought him back; and they placed the crown upon his head, and they sat him upon his throne, and they made him the king.
But the trader (came and) said: “Give me back my money, for you have taken my slave!”
They said: “We will not give you anything.”
So the trader said, “Then by Allaah, I will go and speak to him.”
So he went to him and spoke to him, and said: “O king! I bought a slave and the people who sold him to me took the price, but then they seized the slave and took him away from me, and they won”t give me my money back.” So this was the first case that was seen from the firmness, wisdom, and justice of an- Najjaashee that he said:
“You must either give him his money back; or hand over his slave to him so that he may take him wherever he wants.”
So the people said: “Rather we will give him his money.” So they gave it to him.
So this is why ((when the Najjaashee did not surrender the Muslims, and did not accept the bribe from the Quraish to hand over the Muslims)), he said:
“Allaah did not take any bribe from me, when He restored my kingdom to me, such that I should take any bribe to keep my kingdom; And Allaah did not do what the people wanted with regard to me, such that I should obey the people against Him.”
* Shaikh al- Albaanee mentioned that it is reported by Ibn Hishaam in his abridgement of Ibn Ishaaq”s “Seerah” (1/363-364), and by Aboo Nu”aym in “ad-Dalaa.il” (pp.81- 84), and that its chain of narration is “hasan”.
* – This is the same one, an- Najjaashee, who sent a message to the Prophet (sallallaahu “alaihi-wa sallam) to say that he had accepted Islaam; and he died upon Islaam (radiyallaahu “anhu).
- Then Ibn Ishaaq reports through his chain of narration from “Aa.ishah that when an- Najjaashee died that the people mentioned that light was continually seen over his grave. Shaikh al-Albaanee said its chain is hasan (good).
- He is the one who is mentioned in al-Bukhaaree and Muslim in a hadeeth of Aboo Hurairah (radiyallaahu ‘anhu) that when he died, the Prophet (sal Allaahu alaihi wa sallam) was told through Revelation, and that he ordered the Companions to form rows and he prayed the Funeral Prayer for him, as no one in his land prayed the Funeral Prayer for him.

Receive a Good Deed for each of the Believing Men and Women

http://greatrewards.wordpress.com
 
Seeking Forgiveness for Each believing Man and Woman

’Ubaadah ibn as-Saamit radiallaahu ’anhu related that the Prophet sallallaahu ’alayhi wa sallam said:
“Whosoever seeks forgiveness for the believing men and the believing women, Allaah will record for that person – equivalent to every believing man and believing woman – a good deed.”
Related by al-Haythamî in Majma’az-Zuwaa‘id (l/210) where he said: “The isnaad is jayyid.”
[at-Tabarani, classed as Hasan by Al-Albani]
Supplications from the Noble Qur’aan:
[Qur'aan 59:10]
“Our Lord! Forgive us and our brethren who have preceded us in Faith, and put not in our hearts any hatred against those who have believed. Our Lord! You are indeed full of kindness, Most Merciful. (Al-Hashr 59:10)
“Rabbana ighfir lana wali ikhwanina allatheena sabaqoona bi aleemani wala tajal fee quloobina ghillan lillatheena amanoo rabbana innaka raoofun raheemun

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
[Qur'aan 71:28]
“My Lord! Forgive me, and my parents, and him who enters my home as a believer, and all the believing men and women.” (Nuh 71:28)

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًاوَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
Rabbi ighfir lee waliwalidayya waliman dakhala baytiya muminan walilmumineena wa almuminaat

***


Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “The Holy Spirit (i.e. Jibreel) inspired to me that no soul will die until it has been given its provision in full. Fear Allaah and be moderate in seeking a living, and do not let the fact that it is slow in coming make you seek it by disobeying Allaah, for that which is with Allaah cannot be attained except by obeying Him.”  Narrated by Abu Na’eem in  al-Hilyah; classed as saheeh by al-Albaani in Saheeh al-Jaami’ no. 2085.

Tahun 2050 Rusia Menjadi Negeri Muslim


 
 
Bayangkan Rusia pada tahun 2050! Menurut Paul Goble, seorang spesialis yang secara khusus melakukan kajian terhadap minoritas etnis di Federasi Rusia, nampaknya ia memperkirakan dalam beberapa dekade mendatang, Rusia akan menjadi sebuah negara mayoritas Muslim. Sekarang jumlah Muslim di seluruh Rusia mencapai 16 juta jiwa.
Disisi lain, ada berita buruk dengan penurunan yang cepat jumlah populasi negeri Beruang Merah ini. Melihat kecenderungan populasi penduduk Rusia yang terus cenderung menurun itu telah menjadi "pusing" bagi para politisi Rusia dan para pembuat kebijakan.
Presiden Vladimir Putin telah menyerukan kepada perempuan Rusia untuk memiliki anak lagi. Karena ahli demografi memprediksi bahwa populasi Rusia akan turun secara drastis dari 143 juta jiwa menjadi 100 juta jiwa pada tahun 2050.

Perkembangan dan situasi ini mengejutkan bagi para pemimpin Rusia dan Barat, karena bersamaan menurunnya populasi penduduk Rusia, para analis memperkirakan jumlah umat Islam akan menjadi kelompok mayoritas di Russia. Hanya kurang dari lima dekade Rusia akan menjadi negeri Muslim, yang mayoritas peduduknya beragama Islam.
Laju pertumbuhan populasi Muslim sejak tahun 1989, dieprkirakan mencapai antara 40 dan 50 persen, dan ini kecenderungan semua kelompok etnis. Saat ini Rusia memiliki sekitar 8.000 masjid sementara 15 tahun yang lalu, hanya terdapat 300 masjid di seluruh Rusia.

Menurut data statistik, pada akhir 2015, jumlah masjid di Rusia akan meningkat drastis menjadi 25.000 masjid di seluruh Rusia. Statistik ini menakutkan banyak etnis Rusia lainnya, yang sangat phobi dengan Islam, yang selalu mengaitkan Islam dengan perang dan terorisme. Seperti, sering terjadinya konflik bersenjata antara aparat keamanan Rusia dengan kelompok Chechnya, dan wilayah Kaukasus yang mayoritas Muslim. Namun, kekawatiran itu meluai menyurut, bersamaan dengan perubahan-perubahan yang ada, khususnya dikalangan penduduk Muslim dan para pemimpinnya yang semakin akomdatif.
Menghadapi penurunan populasi atau jumlah penduduk etnis Rusia itu, yang terus menurun, Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin telah menawarkan insentif kepada wanita yang akan memiliki anak lagi.

Dia mengatakan bahwa pemerintah akan menawarkan 1.500 rubel untuk anak pertama, dan 3.000 rubel untuk anak kedua. Dia lebih lanjut mengatakan bahwa pemerintah akan menawarkan insentif keuangan bagi pasangan yang akan mengadopsi anak yatim Rusia. Tapi, tanggapan terhadap seruan Vladimir Putin hampir nol. Alasan utama di balik penurunan cepat dalam populasi non-Muslim di Rusia, terutama sebagian besar perempuan muda di negara ini tidak tertarik dan mendukung memiliki anak lagi.
Jika seseorang terbatas hanya memilik anak satu-satunya, dan kemudian generasi berikutnya sama sekali tidak ingin memiliki anak, maka pertumbuhan penduduk Rusia menjadi nol. Di sisi lain, hampir semua pasangan muslim sedikitnya memiliki tiga anak. Jumlah keluarga muslim umumnya mereka mempunyai anak antara 3-5 orang anak.
Berbicara dengan Blitz, seorang pemimpin Moscow, daerah yang paling padat penduduknya, mengatakan jika pertumbuhan penduduk Muslim terus meningkat, dan dengan penurunan yang serius pada populasi komunitas agama lain, Rusia pada akhirnya akan menjadi sebuah negara Muslim pada dua dekade mendatang.
Dia menyarankan propaganda besar-besaran demi memiliki anak lagi di Rusia dengan menggunakan media massa serta peningkatan jumlah insentif. Ia juga menunjuk fakta bahwa, dalam banyak kasus, insentif tersebut jatuh lagi ke ibu muslim, yang umumnya memiliki lebih dari satu anak.

Ini bukan masalah tentang insentif, yang lebih penting realisasinya bagi penduduk seluruh Rusia yang non-Muslim. Mereka harus memahami bahwa dengan jumlah anak Muslim yang banyak, mereka secara bertahap ikut mendorong nasib negara Rusia menuju federasi Islam.
Mengomentari masalah ini, mantan seorang diplomat mengatakan, setelah jatuhnya Uni Soviet, sayangnya, seluruh bangsa Rusia telah kehilangan semangat nasionalisme mereka, karena kemiskinan dan kondisi yang sangat malang yang mereka hadapi, baik di bidang ekonomi, politik, dan sosial.

Sekarang mereka takut memiliki lebih dari satu anak dalam keluarga, karena akibat biaya hidup yang sangat mahal. Sementara dalam banyak kasus, keluarga perempuan Rusia dipaksa untuk bekerja di berbagai sektor bidang untuk mendapatkan uang ekstra bagi k keluarga mereka.
Ia mengatakan, tidak hanya jumlah populasi Muslim di Rusia,yang mengalami pertumbuhan cepat, karena memang perempuan Muslim memiliki lebih satu anak, tapi dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah besar LSM Islam aktif bekerja di dalam negeri Rusia, yang memainkan peran penting, terutama bagi penduduk Rusia yang putus asa, dan sebagian besar mereka memilih jalan hidup yang baru, dan mereka bertobat kemudian masuk Islam. Mereka umumnya meninggalkan agama sebelumnya yang mereka anut. Dia lebih lanjut mengatakan, terutama kelompok atheis secara bertahap semakin cenderung ke arah Islam, karena propaganda luas dan kegiatan LSM Islam.
Mereka yang berpendidikan sarjana terlibat aktif dalam memberikan khotbah di masjid-masjid dan tempat-tempat umum lainnya secara teratur, yang mempunyai dampak luar biasa pada pikiran orang-orang Rusia, terutama generasi mudanya. Para ulama Islam dengan jas dan wajah dicukur bersih, mereka berbicara dengan bahasa yang berbeda serta lancar, yang merupakan titik yang sangat kuat bagi mereka untuk menarik perhatian orang Rusia yang berpendidikan, yang berada dalam kesulitan ekonomi dan sosial yang serius.
Dia mengatakan, kegiatan LSM Islam mempunyai pengaruh yang luas, dibandingkan hampir tidak ada atau sangat sedikit kegiatan misionaris dari agama agama lain di Rusia. Meskipun ulama Islam dan mereka memiliki misi yang sering disebut "tersembunyi" , tetapi dari wajah mereka, saat menyampaikan khotbah, sangat sulit untuk mengidentifikasi apa pun yang negatif terhadap kegiatan mereka.

Mereka awalnya menyebarkan pesan perdamaian, tetapi mereka juga menyampaikan nilai-nilai agama dan jihad. LSM-LSM Islam secara bertahap menggunakan media Rusia, melalui investasi negara-negara Barat, yang sebenarnya menggunakan dana dari negara-negara Arab. Mereka juga ikut terlibat dalam aktivitas politik, seperti pemilihan, dan memberikan suara dan kekuatan untuk para calon pemimpin Muslim, tentu dengan tujuan nantinya akan memiliki akses kekuasaan di Kremlin.
Membandingkan Muslim Rusia dengan Muslim di negara-negara lain, katanya, mereka memiliki komitmen yang lebih kuat, dan keyakinan mereka yang mendalam berakar dalam pikiran mereka yang benar-benar dari ajaran Islam. Mereka secara terbuka menyatakan bahwa, alasan utama di balik menerima Islam adalah menyelamatkan hari depan mereka. Mereka menghadapi situasi yang sulit berkaitan dengan konflik yang masih terjadi di wilayah Chechnya dan Kaukasus. Tetapi, mereka tetap optimis terhadap kehidupan mereka.

Seorang wartawan senior kantor berita Rusia Interfax, Blitz mengatakan, berdasarkan dari sumber Afro-Arab, sejumlah negara Arab melakukan investasi jutaan dolar kepada sejumlah LSM Islam di Rusia. Dalam waktu dekat, cukup banyak kursi penting di parlemen Rusia juga akan jatuh ke tangan para pemimpin Muslim.
Dia mengatakan, di klub pers Rusia, sejumlah wartawan Muslim terus meningkat. Dia mengatakan, jutaan dolar yang dihabiskan untuk membangun masjid dan lembaga-lembaga Islam di berbagai belahan Moskow dan bagian lain di Rusia.
LSM Islam bahkan membangun panti asuhan, tempat anak-anak dari berbagai agama yang diadopsi, dan mereka mendapatkan pendidikan Islam, dan menjadi Muslim yang taat. Masa depan Islam di Rusia sangat menggembirakan. (mh)
http://www.eramuslim.com/berita/gerakan-dakwah/tahun-2050-rusia-menjadi-negeri-muslim.htm