Masjid yang menanti Anda ...

PEMBANGUNAN MASJID & PESANTREN

Masjid dan pesantren 2010 Masjid di Jurang jero, Sadan, Kebumen, Jawa Tengah Masjid diKemalang, Klaten, Jawa Tengah Masjid di Jurug, Pan...

Jejak Islam Benua Amerika


Penjelajah Muslim

(Berita SuaraMedia) - Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai 'The New World' ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492.

Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah 'Dunia Baru'. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun peradaban di Amerika.

Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus.

Secara historis umat Islam telah memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua Amerika.

''Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,'' tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba.

Jika Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.

Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam.

Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.

Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.

Berbicara tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.

Yang membuatnya sangat luar biasa adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.

Nama-nama suku Indian dan kepala sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak hanya ditemukan pada suku Cherokee (Shar-kee), tapi juga Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni.

Bahkan, beberapa kepala suku Indian juga mengenakan tutp kepala khas orang Islam. Mereka adalah Kepala Suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Hal ini ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.

Secara umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya.

Seperti penuturan seorang Kepala Suku Ohiyesa : ”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. Bukankah Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah pada Allah

Bagaimana bisa Kepala suku Indian Cheeroke itu muslim?

Sejarahnya panjang, Semangat orang-orang Islam dan Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet (tentunya saat itu nama planet belum terdengar) tempat tinggalnya selain untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah Islam mendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.

Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng Ho dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan hanya tercatat pada buku-buku akademis.

Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369).

Menurut catatan ahli sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi.

Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.

Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.

Dr. Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III (tahun 929-961) dari dinasti Umayah, tercatat adanya orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan membawa barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing.

Beliau juga menuliskan menurut catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009) seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary).

Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada bulan Mei 999.

Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 – 1307) raja keenam dalam dinasti Marinid.

Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam.

Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama.

Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu.

Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 – 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.

Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab.

Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517. Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.

Pengaruh Islam di Benua Amerika

Sekali-kali cobalah Anda membuka peta Amerika. Telitilah nama tempat yang ada di Negeri Paman Sam itu. Sebagai umat Islam, pastilah Anda akan dibuat terkejut. Apa pasal? Ternyata begitu banyak nama tempat dan kota yang menggunakan kata-kata yang berakar dan berasal dari bahasa umat Islam, yakni bahasa Arab.

Tak percaya? Cobalah wilayah Los Angeles. Di daerah itu ternyata terdapat nama-nama kawasan yang berasal dari pengaruh umat Islam. Sebut saja, ada kawasan bernama Alhambra. Bukankah Alhambra adalah nama istana yang dibangun peradaban Islam di Cordoba?

Selain itu juga ada nama teluk yang dinamai El Morro serta Alamitos. Tak cuma itu, ada pula nama tempat seperti; Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra.

Setelah itu, mari kita bergeser ke bagian tengah Amerika. Mulai dari selatan hingga Illinois juga terdapat nama-nama kota yang bernuansa Islami seperti; Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. Malah, di negara bagian Washington terdapat nama kota Salem.

Pengaruh Islam lainnya pada penamaan tempat atau wilayah di Amerika juga sangat kental terasa pada penamaan Karibia (berasal dari bahasa Arab). Di kawasan Amerika Tengah, misalnya, terdapat nama wilayah Jamaika dan Kuba. Muncul pertanyaan, apakah nama Kuba itu berawal dan berakar dari kata Quba - masjid pertama yang dibangun Rasulullah adalah Masjid Quba. Negara Kuba beribu kota La Habana (Havana).

Di benua Amerika pun terdapat sederet nama pula yang berakar dari bahasa Peradaban Islam seperti pulau Grenada, Barbados, Bahama, serta Nassau. Di kawasan Amerika Selatan terdapat nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Ada pula nama pegunungan Absarooka yang terletak di pantai barat.

Menurut Dr A Zahoor, nama negara bagian seperti Alabama berasal dari kata Allah bamya. Sedangkan Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah. Sedangkan Tennesse dari kata Tanasuh. Selain itu, ada pula nama tempat di Amerika yang menggunakan nama-nama kota suci Islam, seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, serta Medina di Texas. Begitulah peradaban Islam turut mewarnai di benua Amerika.

Fakta Eksistensi Islam di Amerika

Tahun 999 M: Sejarawan Muslim Abu Bakar Ibnu Umar Al-Guttiya mengisahkan pada masa kekuasaan Khalifah Muslm Spanyol bernama Hisham II (976 M -1009 M), seorang navigator Muslim bernama Ibnu Farrukh telah berlayar dari Kadesh pada bulan Februari 999 M menuju Atlantik. Dia berlabuh di Gando atau Kepulauan Canary Raya. Ibnu Farrukh mengunjungi Raja Guanariga. Sang penjelajah Muslim itu memberi nama dua pulau yakni Capraria dan Pluitana. Ibnu Farrukh kembali ke Spanyol pada Mei 999 M.

Tahun 1178 M: Sebuah dokumen Cina yang bernama Dokumen Sung mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah bernama Mu-Lan-Pi (Amerika). Tahun 1310 M: Abu Bakari seorang raja Muslim dari Kerajaan Mali melakukan serangkaian perjalanan ke negara baru. Tahun 1312 M: Seorang Muslim dari Afrika (Mandiga) tiba di Teluk Meksiko untuk mengeksplorasi Amerika menggunakan Sungai Mississipi sebagai jalur utama perjalanannya.

Tahun 1530 M: Budak dari Afrika tiba di Amerika. Selama masa perbudakan lebih dari 10 juta orang Afrika dijual ke Amerika. Kebanyakan budak itu berasal dari Fulas, Fula Jallon, Fula Toro, dan Massiona - kawasan Asia Barat. 30 persen dari jumlah budak dari Afrika itu beragama Islam.

Tahun 1539 M: Estevanico of Azamor, seorang Muslim dari Maroko, mendarat di tanah Florida. Tak kurang dari dua negara bagian yakni Arizona dan New Mexico berutang pada Muslim dari Maroko ini. Tahun 1732 M: Ayyub bin Sulaiman Jallon, seorang budak Muslim di Maryland, dibebaskan oleh James Oglethorpe, pendiri Georgia. Tahun 1790 M: Bangsa Moor dari Spanyol dilaporkan sudah tinggal di South Carolina dan Florida.

Sequoyah, also known as George Gist Bukti lainnya adalah, Columbus sendiri mengetahui bahwa orang-orang Carib (Karibia) adalah pengikut Nabi Muhammad. Dia faham bahwa orang-orang Islam telah berada di sana terutama orang-orang dari Pantai Barat Afrika.

Mereka mendiami Karibia, Amerika Utara dan Selatan. Namun tidak seperti Columbus yang ingin menguasai dan memperbudak rakyat Amerika. Orang-Orang Islam datang untuk berdagang dan bahkan beberapa menikahi orang-orang pribumi.

Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in Early America, Van Sertima, menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.

Van Sertima juga menuturkan, saat menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. "Columbus juga tahun bahwa Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara," papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.

Menurut Van Sertima, Columbus pun mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba. Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada. Itulah bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh sebelum Barat tiba.

Lebih lanjut Columbus mengakui pada 21 Oktober 1492 dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba melihat sebuah masjid (berdiri di atas bukit dengan indahnya menurut sumber tulisan lain). Sampai saat ini sisa-sisa reruntuhan masjid telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.

Dan tahukah anda? 2 orang nahkoda kapal yang dipimpin oleh Columbus kapten kapal Pinta dan Nina adalah orang-orang muslim yaitu dua bersaudara Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362). [THACHER,JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950]
. (ar/rpk/amf) www.suaramedia.com

Kesaksian Seorang Dokter

http://buku-islam.blogspot.com/2010/01/kesaksian-seorang-dokter.html

Judul : Kesaksian Seorang Dokter
Penulis : dr. Khalid bin Abdul Aziz al Jubair, SpJP
Penerbit: Darus Sunnah
Cetakan : Kesebelas, Januari 2009
Halaman : 176

Buku yang sudah mencapai cetakan ke-11 ini berisi kisah-kisah yang dialami oleh penulisnya sendiri yang merupakan seorang dokter spesialis bedah dan jantung di sebuah rumah sakit di Riyadh, Saudi Arabia. Ada puluhan kisah-kisah nyata yang sarat dengan pelajaran, nasehat dan hikmah yang bisa kita ambil. Kisah-kisahnya membuat kita merenung dan berintrospeksi terhadap diri kita, agar semakin dekat dengan Allah Jalla wa 'Ala.

Pada ringkasan ini saya kutipkan dua kisah yang menarik diantara yang menarik dari buku tersebut. Yang pertama adalah tentang keyakinan bahwa Allah-lah Yang Menyembuhkan. Yang kedua adalah tentang pengobatan yang banyak dilupakan orang. Semoga kutipan ini bermanfaat bagi kaum muslimin.

[KESABARAN DAN KEYAKINAN]
=========================
Saya berkunjung ke negara Maroko untuk mengadakan pengobatan -operasi jantung- secara cuma-cuma khusus untuk kalangan fakir miskin dengan dana sukarela dari seseorang di Saudi Arabia.

Kunjungan itu saya awali dengan melakukan inspeksi (pemeriksaan dengan teliti yang dilakukan oleh pihak terkait) untuk mengetahui gambaran umum kondisi kesehatan di negara itu. Dalam acara ini saya ditemani oleh dr. Muhsin Ubaidillah yang bertindak sebagai asisten dan penterjemah, karena beliau adalah penduduk asli negara ini. Beliau juga melakukan banyak tugas dan pekerjaan dalam rangka menyukseskan acara saya ini. Semoga Allah membalas semua kebaikannya.

Diantara pasien yang datang, ada seorang pasien yang telah berusia empat puluh tahun, ketika melihat keadaannya saya sangat khawatir, ia berjalan tiap dua langkah berhenti untuk menghela nafas, perutnya membuncit karena busung, kedua kakinya telah membengkak akibat dari jantung yang lemah, urat-urat nadi di lututnya telah membesar dan wajahnya menyiratkan rasa sakit dan penderitaan, Anda tidak akan mampu menyaksikannya.

Ketika melihatnya seperti itu, saya merasa khawatir, dan lebih ngeri lagi saat saya memeriksa catatan kesehatannya, maka saya ingatkan dr. Muhsin agar tidak memasukkannya di dalam daftar orang-orang yang akan menjalani operasi. Karena berdasarkan perkiraanku, operasi tidak akan memberikan banyak manfaat untuknya, ditambah lagi bahwa kondisinya sangat mengkhawatirkan. Dalam hal ini saya berkewajiban untuk menyeleksi orang-orang yang mungkin mendapatkan manfaat dari proyek ini.

Ternyata orang tersebut mengerti apa yang saya katakan kepada dr. Muhsin, maka ia segera menyahut, "Ingat apa yang dikatakan oleh Tuhan-ku, bukankah Dia telah berfirman,

"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku." (QS. As-Syuara': 80).

Dalam hal ini saya sangat yakin bahwa dengan izin Allah saya akan sembuh. Wahai dokter, Anda hanya perantara saja atas kesembuhan saya ini, maka operasilah saya, karena sesungguhnya Allah-lah yang akan menyembuhkan saya."

Saya mencoba memberikan penjelasan dengan lemah lembut kepadanya, akan tetapi ia tetap bersikeras minta untuk dioperasi. Maka akhirnya saya katakan kepadanya, "Insya allah, tidak akan terjadi kecuali yang terbaik."

Tak lama kemudian saya melihatnya bertayammum lalu mendirikan shalat zhuhur, saya bertanya kepadanya,

"Kenapa tidak berwudhu?" Ia menjawab, "Saya tidak bisa, bahkan untuk melaksnakan shalat sambil berdiri pun saya tidak mampu."

Mendengar penjelasan itu, saya hampir berubah pendirian untuk mengoperasinya, akan tetapi kemudian saya ingat, bahwa kedatanganku ke sini dengan perbekalan yang minim dan harus disalurkan kepada mereka-mereka yang diperkirakan akan mendapatkan hasil dari operasi ini dengan izin Allah.

Ketika saya mulai melakukan operasi kepada para pasien, orang itu dua kali datang kembali, akan tetapi ia ditolak oleh dr. Muhsin.

Pada minggu terakhir dari masa tugasku dr. Dzafir al Khudhairi, ahli Anestesi -pembiusan-, harus meninggalkanku untuk urusan yang penting, yang mana kami berdua telah sepakat sebelumnya bahwa operasi untuk kondisi seperti orang ini tidak mungkin untuk dilaksanakan di sini. Dan beliau telah menolak untuk melaksanakan anestesi -pembiusan- terhadap seseorang yang kondisinya lebih bagus daripada orang ini.

Setelah dr. Dzafir pergi, pada minggu terakhir ini posisi anestesi digantikan oleh dr. Musthafa al Sabit, beliau adalah seorang dokter yang cukup terkenal dan berjiwa militer.

Pada minggu ini pula dr. Muhsin harus beristirahat dua hari karena sakit. Orang tersebut datang ke rumah sakit lagi dan kemudian dr. Ilmi yang tidak tahu duduk permasalahannya memasukkan orang tersebut ke dalam daftar tunggu pasien operasi.

Biasanya saya memeriksa pasien yang akan menjalani operasi pada malam hari sebelum tiba hari pelaksanaan operasi, tepat pada malam hari di mana besok paginya orang tersebut mendapatkan giliran operasi, saya diundang untuk makan malam di kota al Ribath yang memakan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan dengan mobil dari al Dar al Abhyadh, sehingga saya pulang larut malam dan malas untuk pergi memeriksa pasien yang akan dioperasi esok hari, aku berkata kepada diri sendiri, "Insya Allah, besok aku akan berangkat pagi-pagi untuk memeriksa pasien yang akan dioperasi."

Akan tetapi apa yang terjadi? Allah takdirkan saya bangun kesiangan, pada jam setengah sembilan, maka dengan tergesa-gesa saya berangkat ke rumah sakit. Sesampainya di sana ternyata pasien telah siap, sekilas saya memeriksa laporan dan tidak menelitinya dengan cermat. Pada saat itu saya hanya konsentrasi pada hal-hal yang perlu dilaksanakan terhadap pasien, yakni membenahi tiga titik katup.

Operasi telah saya mulai dan berjalan sesuai dengan rencana sedangkan pasiennya dalam kondisi yang sangat stabil dan tenang.

Saya menuju ke ruang staff bagian jantung, lalu pergi beberapa saat untuk memenuhi beberapa keperluan dan kembali ke rumah sakit untuk melihat pasien-pasien yang telah dioperasi hari ini, dilanjutkan dengan memeriksa pasien-pasien yang akan menjalani operasi esok hari.

Tiba-tiba dr. Muhsin mengajakku menuju ke bangsal pemulihan sambil berkata, "Mari, kita lihat salah seorang pasien." Di sana saya mendapati orang yang kondisinya sangat mengkhawatirkan itu tengah duduk di atas bangsal pemulihan dalam keadaan yang sangat stabil tanpa alat bantu pernafasan karena telah dilepaskan darinya.

Sesaat setelah melihatku, ia segera membaca firman Allah,

"Dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang Menyembuhkan aku." (QS. As Syuara': 80).
Lalu berkata, "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu wahai dokter, sesungguhnya Tuhan-ku akan menyembuhkanku, sedangkan Anda tidak lain hanyalah perantara."

Saya bertanya kepada dr. Muhsin, "Bagaimana pasien ini bisa masuk?" Maka beliau mengkisahkan jalan ceritanya yang memang tidak saya ketahui sebelumnya, dr. Muhsin berkata, "Ketika saya absen karena sakit kemarin, orang ini mendatangi dr. Ilmi, maka beliau memasukkannya ke dalam daftar pasien yang menjalani operasi hari ini, karena beliau mengira Anda telah menyetujui orang ini untuk masuk ke ruang operasi.

Dan pagi ini ketika saya tiba di ruang operasi saya dikejutkan oleh keberadaan pasien ini di sana, maka saya jelaskan kepada dr. Mushthafa al Sabit -ahli anestesi- bahwa Anda tidak bersedia untuk melakukan operasi atas pasien ini berdasarkan pertimbangan resikonya.

Orang ini menangis dan memohon kepada dr. Mushthafa, ia terus merengek hingga akhirnya dr. Mushthafa menyerah dan melakukan pembiusan terhadap pasien ini.

Beliau diingatkan kembali bahwa Anda -dr. Khalid penulis buku ini- tidak bersedia melakukan operasi apapun terhadap orang ini, akan tetapi dr. Mushthafa bersikeras bahwa beliau yang bertanggung jawab dan beliau akan menjelaskannya kepada Anda, begitulah kisahnya."

Seminggu kemudian pasien tersebut telah keluar dari rumah sakit dan tiga bulan kemudian kembali melakukan aktifitasnya yang telah ia tinggalkan sejak dua tahun yang lalu.

Saudara saudariku sekalian, sesungguhnya orang ini telah menyerahkan dirinya dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah, maka Allah Ta'ala memberinya kesabaran dan keyakinan akan datangnya kesembuhan, karena itu ia memaksakan diri untuk menjalani operasi dengan penuh keyakinan bahwa Allah Yang Maha Pemberi dan Maha Mulia akan menyembuhkannya, Allah Ta'ala berfirman,

"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (QS. Ath Thalaq: 2-3).

Kejadian ini merupakan bukti nyata bahwa, jika Allah Ta'ala mentakdirkan sesuatu, maka Allah Ta'ala akan memudahkan jalan untuk ke sana, memberikan sarana pendukungnya dan hal itu harus dan pasti terjadi. Allah Ta'ala berfirman,

"Sesungguh-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia." (QS. Yasin: 82).

Dalam kejadian di atas Allah Ta'ala menyingkirkan semua dokter yang menjadi penghalang terjadinya proses operasi, Mahasuci Allah.

[OBAT YANG TERLUPAKAN 2]
===========================
Salah seorang pasien wanita yang terakhir saya tangani di Maroko saat saya sedang mengikuti proyek pengobatan gratis atas dukungan yang terhormat Amir Sulthan Abdul Aziz hafizhahullah, ia dalam kondisi yang sangat kritis sebelum menjalani operasi saat itu, dengan bertawakal kepada Allah Ta'ala kami melakukan proses operasi dengan penuh susah payah.

Setelah operasi dilakukan, tekanan darahnya turun dengan drastis, tekanan maksimalnya berkisar antara empat puluh hingga lima puluh, saluran kencingnya berhenti, sehingga kondisinya menjadi sangat mengkhawatirkan, hingga kami memprediksikan bahwa harapan sembuhnya sangat kecil sekali. Setelah mengupayakan pertolongan selama kurang lebih dua jam, kondisinya tidak juga membaik bahkan semakin memburuk.

Setelah didera oleh kepenatan sekian lama, saya teringat sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam,

"Barang siapa menjenguk seorang yang sedang menderita sakit yang ajalnya belum tiba, lalu ia membaca doa 'saya memohon kepada Allah Yang Maha Besar, Penguasa Arsy Yang Agung agar Dia menyembuhkanmu' sebanyak tujuh kali kecuali pasti Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut." (HR. Abu Dawud (3/3106), Tirmidzi (4/410) (2038) dan dishahihkan oleh Al Albani (6388)).

Segera saya berdoa kepada Allah untuk kesembuhannya.

Tiba-tiba sekitar dua menit, saya melihat keadaannya mulai membaik, demikian pula tekanan darahnya mulai membaik juga, dan kencingnya berjalan dengan lancar.

Setelah dua hari berada di ruang pemulihan, ia diperbolehkan untuk keluar, dan seminggu kemudian ia pulang ke rumahnya. Bagi Allah-lah segala puji dan syukur.

[PERSONAL VIEW]
=================
Amat disayangkan, sebagian orang ketika sakit, maka yang diingat pertama kali adalah dokter. Harusnya yang diingat pertama kali adalah Allah, karena Dia-lah Yang Menyembuhkan dan dokter hanyalah perantara saja. Keyakinan ini tidak boleh terlupa dan tidak boleh dilupakan oleh kaum muslimin, karena termasuk dalam perkara tauhid. Agar ketika kita sakit, kita langsung ingat bahwa yang menyembuhkan hanyalah Allah Jalla wa 'Ala. Alangkah bagusnya perkataan penulis buku tersebut pada halaman 60:

"Ketika orang yang sakit mempunyai hubungan yang kuat dengan Tuhan yang menguasai segala penyakit beserta obatnya, maka saat itu ia telah memiliki obat yang lebih bagus dari obat-obatan apapun."

Keyakinan ini harus ada pada hati kaum muslimin, berdasarkan ayat al Qur'an:
"Dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang Menyembuhkan aku." (QS. As Syuara': 80).

Demikian semoga ringkasan ini memberi manfaat bagi kaum muslimin.

Ringkasan buku ini dibuat oleh Abu Isa Hasan Cilandak
Bulan Januari tanggal 21, 2010 Jam 11.22 WIB
Semoga Allah menjaga kedua orang tuanya

Hilyah Tholibil Ilmi


http://suaraquran.com/audio-lanjutan-kitab-hilyah-tholibil-ilmi-ust-abdullah-taslim-ma-majelis-38-40/#more-1628

AUDIO Lanjutan Kitab Hilyah Tholibil Ilmi

Ust Abdullah Taslim MA (Majelis 38-40)


 
Kajian ini adalah lanjutan dari pembahasan Kitab Hilyah Tholib al Ilmi karya Syaikh Bakr Abu Zaid-Rahimahullah. Petikan kajian rutin di Radio Suaraquran setiap hari  jumat jam 05.00 pagi Dalam rangkaian ini dibahas tentang beberapa adab dalam menuntut ilmu diantaranya pentingnya tafaqquh(memahami) agama, amanah ilmiah dalam ilmu, tawwakal dalam menuntut ilmu dan kejujuran dalam ilmu.
Berkata Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri -rahimahullah-: “Mereka dulu tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk mencari ilmu hingga mereka belajar adab dan dididik ibadah hingga 20 tahun”. (Hilyatul-Aulia Abu Nuaim 6/361)

Berkatalah Abdullah bin Mubarak -rahimahullah-: “Aku mempelajari adab 30 tahun dan belajar ilmu 20 tahun, dan mereka dulu mempelajari adab terlebih dahulu baru kemudian mempelajari ilmu”. (Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro 1/446)
Berkata Abu Zakariya Yaha bin Muhammad Al-Anbari -rahimahullah-: “Ilmu tanpa adab seperti api tanda kayu bakar sedangkan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh”. (Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80)

Silahkan Simak Dalam Kajian Berikut

Kuliah Sambil Mengaji

www.rumaysho.com

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Kegiatan kuliah terasa amat menyibukkan. Sibuk dengan berbagai tugas, harus buat presentasi, menyusun laporan praktikum dan lebih sibuk lagi jika sudah menginjak semester-semester akhir. Apakah mungkin kesibukan ini bisa dibarengi dengan menuntut ilmu agama? Jawabannya, mungkin sekali. Segala kemudahan itu datang dari Allah. Maka bisa saja seorang engineer menjadi pakar fiqih. Bisa jadi pula seorang ekonom menjadi pakar hadits. Atau seorang ahli biologi menjadi hafizh Al Qur’an. Semua itu bisa terwujud karena anugerah dan kemudahan dari Allah.
Realitas, Lebih Banyak Menyia-nyiakan Waktu
Mahasiswa sebenarnya punya banyak waktu senggang. Cuma sebagian mahasiswa saja yang benar-benar menyia-nyiakan waktunya. Tidak setiap saat ia mesti mendapatkan tugas. Tidak setiap hari mesti kerjakan laporan praktikum. Mahasiswa yang tidak pintar membagi waktu saja yang selalu “sok sibuk”.
Sebagian mahasiswa masih bisa menyisihkan waktu untuk renang dengan shohib dekatnya. Ia masih sempat juga untuk fitness meskipun di kala laporan praktikum menumpuk. Ia juga masih sempat berpetualang menjelajah berbagai gunung meskipun minggu depan ada ujian mid. Ia masih bisa begadang semalam suntuk untuk menanti pertandingan Liga Champions meskipun katanya ada banyak tugas yang mesti diselesaikan. Sebagiannya pula bisa menyisihkan waktu untuk update status setiap jam di FB (Facebook), twitter dan semacamnya. Mau tidur, mau makan, mau renang, bahkan mau ke WC sekali pun bisa ada statusnya di jejaring sosial tadi. Namun soal ngaji (istilah untuk mendalami ilmu agama) bisa menjadi nomor sekian baginya. Padahal aneh kan, hal-hal tadi bisa ia lakukan. Sedangkan berkaitan dengan urusan akhiratnya di mana ia wajib mempelajari Islam karena ibadah-ibadah tertentu akan ia lewati setiap harinya. Setiap muslim tentu mesti mengetahui bagaimanakah ia harus berwudhu yang benar sehingga shalatnya pun bisa sah. Ia pun  harus tahu apa saja yang termasuk pembatal-pembatal shalat, sehingga shalatnya tidak jadi sia-sia. Ia pun harus tahu bagaimana mandi wajib.
Lihatlah mereka bisa menyisihkan waktu untuk hal-hal dunia yang kadang sia-sia. Namun untuk hal yang menyangkut akhirat mereka, di mana tentu ini lebih urgent, mereka tidak bisa membagi waktu dengan baik. Benarlah firman Allah Ta’ala,
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7).
Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi hafizhohullah menjelaskan, “Mereka mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah saja seperti mengetahui bagaimana cara mengais rizki dari pertanian, perindustrian dan perdagangan. Di saat itu, mereka benar-benar lalai dari akhirat. Mereka sungguh lalai terhadap hal yang wajib mereka tunaikan dan harus mereka hindari, di mana penunaian ini akan mengantarkan mereka selamat dari siksa neraka dan akan menetapi surga Ar Rahman.” (Aysarut Tafasir, 4/124-125)
Beberapa Sampel
Beberapa orang bisa membuktikan bahwa mereka di samping kuliah di pagi hari, sore harinya masih bisa “ngaji” (menuntut ilmu agama). Bahkan ada di antara mahasiswa yang bisa menjadi hafizh Al Quran dengan sempurna di masa kuliahnya. Ada pula yang bisa menguasai ilmu aqidah dengan baik padahal ia seorang dokter. Setelah kuliah pun ia bisa menyusun beberapa buku berkaitan dengan masalah aqidah dari hasil ia belajar di saat-saat kuliah dulu (paginya kuliah, sorenya ia duduk di majelis ilmu). Ada pula yang amat pakar dalam bahasa Arab dan menjadi seorang ustadz yang mumpuni dalam hal aqidah serta ilmu lainnya, padahal ia adalah sarjana biologi. Yang lainnya lagi adalah seorang dosen (lulus S3), namun tidak diragukan ia sangat mumpuni dalam ilmu hadits hasil dari belajar dulu  bersama beberapa ustadz di saat-saat ia kuliah. Bahkan di Arab Saudi sendiri ada seorang ulama yang dulunya adalah seorang yang belajar ilmu Teknik Kimia. Dan saat ini, beliau menjadi imam dan ulama yang jadi rujukan. Ia pun memiliki situs yang berisi berbagai fatwa yang sering dikunjungi dari berbagai negara. Ada lagi ulama yang dahulunya belajar ilmu teknik mesin. Saat lulus ia mendalami ilmu hadits dan menjadi hafizh al quran. Karya-karya beliau dalam tulisan pun amat banyak. Dua ulama yang kami sebutkan di sini adalah Syaikh Sholeh Al Munajjid dan Syaikh Musthofa Al Adawi hafizhohumallah.
Itu sekedar beberapa contoh riil yang kami ketahui. Kami yakin masih banyak contoh-contoh lainnya yang mungkin para pembaca sendiri mengetahuinya. Ini pertanda bahwa orang yang belajar ilmu umum (ilmu teknik, ekonomi, IT, dll) sebenarnya tidak terhalang untuk belajar agama bahkan bisa menjadi ulama atau pun ustadz karena kerajinannya di luar jam kuliah untuk mengkaji Islam. Itulah karunia Allah untuk mereka-mereka tadi.
Mulai Belajar Islam
Kalau sudah tahu demikian, Anda selaku mahasiswa seharusnya tidak usah ragu lagi untuk menaruh perhatian pada ilmu diin (ilmu agama). Cobalah mulai dengan mempelajari Islam mulai dari dasar. Terutama pelajarilah hal-hal yang wajib yang jika Anda tidak mengetahuinya maka bisa terjerumus dalam dosa atau bisa meninggalkan kewajiban. Inilah ilmu yang wajib dipelajari.
Selaku mahasiswa wajib punya ilmu aqidah dan tauhid yang benar sesuai dengan pemahaman generasi terbaik Islam (salafush sholeh). Cobalah mempelajari beberapa tulisan karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab seperti Qowa’idul Arba’ (empat kaedah memahami syirik), Tsalatsatul Ushul (tiga landasan dalam mengenal Allah, Islam dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan Kitab Tauhid (pelajaran tauhid dan syirik secara lebih detail). Kitab-kitab aqidah pun ada yang mudah dipelajari seperti Al ‘Aqidah Al Wasithiyah karya Ibnu Taimiyah dan Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah karya Abu Ja’far Ath Thohawiy.
Anda pun wajib mempelajari fiqih secara bertahap terutama pelajaran bagaimana cara wudhu yang benar, bagaimana cara mandi wajib, dan bagaimana shalat yang benar serta berbagai hal yang berkaitan dengan hal-hal tadi. Amat mudah jika Anda menguasai dari fiqh madzhab sebagaimana anjuran para ulama. Karena di negeri ini menganut madzhab Syafi’i, Anda bisa belajar dari berbagai kitab fiqh Syafi’iyah. Pelajari dari matan-matan yang ringkas seperti kitab Al Ghoyah wat Taqrib karya Abu Syuja’ dan Minhajuth Tholibin karya Imam An Nawawi. Inilah kitab dasar yang bisa Anda kuasai. Setelah itu bisa melanjutkan dengan kitab fiqih yang lebih advance dengan mendalami dalil-dalil lebih jauh. Baru setelah itu bisa menelaah berbagai pendapat ulama dan perselisihan mereka dalam hal fiqih sehingga akhirnya kita tidak fanatik pada satu madzhab atau satu imam. Anda pun bisa menguasai fiqih melalui berbagai buku hadits seperti dari kitab ‘Umdatul Ahkam karya ‘Abdul Ghoni Al Maqdisi dan kitab Bulughul Marom karya Ibnu Hajar Al Asqolani. Untuk memahami kitab-kitab fiqih ini, Anda bisa memiliki berbagai kitab syarh (penjelasan) dari masing-masing kitab.
Buku-buku yang kami sebutkan di atas sudah cukup mudah ditemukan saat ini di berbagai toko buku Islam bahkan sudah banyak yang diterjemahkan. Sehingga tidak ada alasan bagi yang belum menguasai bahasa Arab untuk terus belajar. Namun jika Anda sambil menguasai bahasa Arab terutama menguasai grammar-nya dalam ilmu Nahwu dan Sharaf itu lebih baik. Karena menguasai bahasa tersebut bisa membuat Anda meneliti lebih jauh kitab-kitab ulama secara lebih mandiri.
Selain mempelajari hal-hal di atas, tambahkan pula dengan mempelajari berbagai kitab akhlaq dan tazkiyatun nufus (manajemen hati). Juga janganlah sampai tinggalkan hafalan Al Qur’an. Karena orang yang menghafal Al Qur’an sungguh memiliki banyak keutamaan dan faedah di tengah-tengah umat. Lebih-lebih di akhirat hafalan Al Qur’an ini membuat dia lebih ditinggikan derajat di surga. Lalu para ulama pun menganjurkan untuk menghafal berbagai matan atau berbagai kitab ringkas seperti menghafalkan kitab kecil yang berisi 42 hadits yaitu Al Arba’in An Nawawiyah. Menghafal seperti ini memudahkan kita menguasai ilmu Islam dengan lebih mudah.
Sabar dalam Belajar
Kalau dilihat, terasa begitu banyak yang harus dipelajari. Sebenarnya tidak juga karena mempelajari berbagai buku di atas itu bertingkat-tingkat. Ada yang lebih dasar, baru setelah itu beranjak pada yang lebih lanjut. Jadi belajar yang baik adalah secara bertahap. Sehingga di sini butuh kesabaran dalam belajar dan belajar butuh waktu yang lama. Yang terbaik pula adalah belajar di majelis ilmu lewat guru. Lihatlah sya’ir Imam Asy Syafi’i,
أَخِي لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إلَّا بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيكَ عَنْ تَفْصِيلِهَا بِبَيَانِ

ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَبُلْغَةٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُولُ زَمَانٍ
Saudaraku … ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya : (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) sungguh-sungguh, (4) berkecukupan, (5) bersahabat (belajar) dengan ustadz, (6) membutuhkan waktu yang lama.
Pintar Bagi Waktu
Modal yang penting “nyambi” belajar Islam adalah pintar membagi waktu. Cobalah membagi waktu mulai dari Shubuh hari sudah bisa menghafal Al Qur’an. Butuh satu jam untuk menyisihkan waktu kala itu. Setelah itu sediakan waktu untuk persiapan kuliah di pagi hari. Pukul 7 atau 8 sudah bisa berangkat ke kampus. Di waktu-waktu shalat atau waktu senggang saat di kampus bisa digunakan untuk muroja’ah Al Qur’an atau mengerjakan tugas-tugas kampus sehingga tidak menumpuk keesokan harinya. Pulang kampus di siang atau sore hari bisa istirahat sejenak untuk menghilangkan rasa capek. Di sore hari sehabis ‘Ashar bisa digunakan untuk mengikuti berbagai majelis ilmu sampai dengan waktu ‘Isya. Di waktu malam bisa digunakan untuk mengerjakan tugas kuliah. Sebelum tidur bisa digunakan menghafal berbagai matan, mengulang hafalan Al Qur’an atau mengulang pelajaran yang ikuti di kajian.
Jadi cuma kepintaran saja membagi waktu, niscaya kita bisa kuliah sambil “ngaji”. Dan jangan lupakan minta pertolongan Allah agar dimudahkan mempelajari agama di samping kuliah. Doa ini amat menolong. Jika kita memohon kemudahan pada Allah, pasti segala urusan tadi akan begitu mudah. Berbeda halnya jika kita bergantung pada diri sendiri yang begitu lemah.
Semoga Allah mudahkan kita selaku mahasiswa untuk dapat meraih keduanya, bahkan bisa menjadi pakar pula dalam ilmu agama dan bisa turut membantu dakwah agar tersebar seantero negeri kita ini.
Wallahu waliyyut taufiq.
Panggang-Gunung Kidul, 24 Jumadal Ula 1432 H (27/04/2011)
www.rumaysho.com

Kisahku Di India

http://muslim.or.id/jejak-islam/kisahku-di-india.html

Sudah dua bulan saya di India, tapi belum sempat juga menulis untuk Qiblati. Saya sudah sampaikan ke ustadz Agus Hasan Bashori, Lc,,M.Ag bahwa insyaAllah saya akan segera menulis. Hanya saja kesulitan beradaptasi dengan lingkungan mungkin menjadi salah satu kendala. Saya masih sibuk dengan pengenalan budaya masyarakat di sini dan kuliah. Sampai kemudian sore ini, ketika membuka email, ustadz kembali menanyakan, mana tulisan kami. Saya pun berusaha untuk segera menulis.

Berangkat Ke India

Setelah meninggalkan Indonesia, muncul perasaan sedih yang luar biasa. Saya harus meninggalkan keluarga. Kepada Allah semata kami berserah dan memohon perlindungan. Apalagi setelah tiba di Bandara Internasional New Delhi pada malam tanggal 7 Juli 2010, saya langsung merasa sangat asing dengan negeri ini. Untuk keluar dari bandara saja, membutuhkan waktu antri lebih dari 2 jam karena harus melapor ke bagian imigrasi terlebih dahulu. Antriannya begitu panjang, sayang tidak sedikit mereka yang memotong antrian saya. Tidak ada garis, tidak ada satpam atau apapun yang mengatur barisan. Hanya etika saja yang coba saya jaga.

Setelah keluar dari bandara kemacetan di sana sini dan suara klakson mobil yang saling bersahutan memekakkan telinga. Saya langsung berfikir, inikah India?. Kesan kurang baik pun muncul, Alhamdulillah akhirnya pada pukul 00.00 waktu Delhi (jam 01.30 WIB) saya diantar ke hostel oleh sopir dari perwakilan pemerintah India.

Awalnya saya membayangkan begitu nikmat akan tinggal di hostel karena sudah menempuh perjalanan panjang, Sejak jam 8.00 pagi tadi saya sudah berada di bandara Juanda, kemudian menunggu hampir 4 jam di bandara Kuala Lumpur. Waktunya untuk istirahat. Ternyata, hostel yang dimaksud adalah tempat yang tidak lebih dari barak. Di satu ruangan yang luas, saya lihat ada banyak orang yang tidur. Tempat tidurnya bertingkat seperti di pondok pesantren. Barang-barang berhamburan dan baju bergelantungan di mana-mana, bahkan di atas Air Condition (AC) sekali pun. Air pun menggenang di beberapa bagian lantai.

Saya masuk dan membiarkan penghuni sebelum saya tetap terlelap. Tapi saya berfikir keras, bagaimana caranya untuk segera meninggalkan tempat ini. Saya tidak bisa lama-lama di sini. Bersyukur keesokan paginya setelah sholat subuh saya bisa menghubungi mahasiswa Indonesia yang ada di New Delhi dan minta untuk segera dijemput.

Satu hal yang terjadi ketika waktu sholat membuat saya heran. Meskipun banyak orang, para calon-calon penuntut ilmu dari berbagai Negara tadi sholat sendiri-sendiri. Selain itu, banyak yang hanya sholat pakai singlet dan sehabis sholat juga menggerak-gerakkan tangannya. Saya tidak tahu, itu apakah bagian dari doa mereka atau apa.

Bersyukur ada 2 orang yang mau saya ajak sholat berjama’ah. Dan itulah yang membuka keakraban kami untuk saling menyapa. Saya baru tahu, ternyata kebanyakan dari mereka berasal dari Afghanistan dan Negara-negara Asia Tengah seperti Tajikistan dan Kirgiztan. Mereka adalah beberapa mahasiswa asing yang juga mendapatkan beasiswa pemerintah India tetapi belum mendapatkan tempat tinggal.

Dari pembicaraan dengan anak-anak Aghanistan saya tahu bahwa ternyata Amerika sudah sedemikian rupa mempengaruhi negara itu. Dari pembicaraannya, mereka begitu bangga dengan Amerika. Mereka bilang Amerika adalah negara yang hebat dan perlu ditiru, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bahkan dengan gurauan, salah seorang di antara mereka bertanya kepada saya. “Bagaimana dengan jenggot Anda, apa Anda juga tergabung dalam Al-Qaedah?”, ujar mereka.

Saya pura-pura tidak paham dengan Al-Qaedah sambil saya tanya, “Bukankah Al-Qaedah dan Thaliban ingin menerapkan syariat islam di Afghanistan?” Langsung saja mereka bicara panjang, yang intinya menunjukkan bagaimana lemahnya pemahaman Al-Qaedah dan Thaliban terhadap konteks kehidupan masa kini. Demokrasi ala Amerika adalah sesuatu yang harus ditiru Afghanistan dan tentu saja Negara muslim lainnya. Begitu kata mereka.

Saya bergumam dalam hati, “Ternyata orang-orang Afghanistan tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya”. Mereka ternyata tidak begitu membela islam, dan dari mahasiswa yang saya temui, tidak seorang pun yang bisa berbahasa arab walau sedikit saja. Kalau bahasa inggris jangan ditanya. Fasihnya luar biasa. Ternyata mereka belajar dari pasukan Amerika yang menyerbu negara Aghanistan tahun 2001 lalu dan masih bertahan di sana sampai sekarang.

Berkenalan dengan India

Setelah dijemput oleh seorang teman dari Indonesia yang juga kuliah di kampus yang sama, saya tinggal di kampung muslim, tidak jauh dari kampus. Beberapa kali kalau ke kampus saya jalan kaki, tapi lebih sering naik rekshaw (sejenis becak yang ditarik dengan sepeda ontel, sopirnya di depan, bukan di belakang seperti di Indonesia). Saya sengaja tinggal di sini karena dekat dengan masjid Jami’.

1. Islam di kampung muslim

Di masjid ini, awalnya saya begitu kaget. Setiap waktu sholat ribuan jama’ah berbondong-bondong menuju masjid. Orang-orang tua, meskipun mereka tidak lagi sanggup sholat sambil berdiri, mereka tetap berjama’ah lima waktu di sana. Apalagi kalau hari jumat dan bulan ramadhon, 5 lantai masjid yang besar ini penuh sesak dengan jama’ah.

Hanya saja ternyata ada beberapa perbedaan dari cara sholat di sini yang tidak umum di Indonesia. Mereka kalau tidak salah menggunakan mazhab Hanafi. Pada waktu qomat misalnya, semua dibaca dua kali seperti adzan. Setelah membaca Al Fatihah, makmum tidak menjahrkan bacaan Amin. Mereka juga tidak mengangkat tangan ketika takbir dan i’tidal.

Tapi kalau bulan ramadhan, hanya dalam waktu 26 malam, semua Al-quran dibaca khattam waktu shalat tarawih. Setiap malam, lebih dari satu juz. Shalat tarawih dilaksanakan 23 rakaat.

Adapun wanita, di sini tidak pernah ke Masjid. Mereka kebanyakan menggunakan cadar, hanya saja menurut saya tidak seperti di Indonesia. Banyak mereka yang bercadar tetapi tidak menutup hijab lebih rendah dari dadanya, bahkan ada beberapa yang bercadar tapi menggunakan celana jeans. Saya tidak tahu, mungkin mereka melakukan itu bukan karena pemahaman agama, tapi terpengaruh juga dengan alam India yang begitu berdebu di musim panas.

Udara di sini pada bulan Mei, Juni dan Juli begitu panas, suhu selalu di atas 45 derajat celcius, bahkan mencapai 50 derajat celcius. Bisa dibayangkan kalau keluar rumah, keringat selalu bercucuran. Bahkan di dalam kamar pun kipas angin harus selalu dihidupkan. Sayang, di sini listrik sering mati.

Saking panasnya, saya sempat berfikir, kok ada orang yang mau tinggal di India. Bahkan muncul keraguan untuk terus disini, sanggupkah saya menghadapi udara yang seperti ini? Belum lagi budaya masyarakat India yang begitu keras. Saya pernah melihat mereka seperti sedang bertengkar, tetapi ternyata tidak lama setelah itu mereka sama-sama tertawa.

Hanya saja, ketika saya melihat ada banyak bayi-bayi kecil, saya merasa kasihan sebenarnya, tapi muncul pertanyaan, bayi kecil saja bisa bertahan di India, kenapa saya tidak? Melihat teman-teman yang sudah bertahun-tahun di India, bahkan beberapa sudah menyelesaikan S-3 mereka, saya juga berusaha menguatkan tekat. Inilah mungkin perjuangan untuk melatih kesabaran. Bukankah azab di akhirat jauh lebih panas dari ini. Satu pelajaran yang kembali mengingatkan saya dengan arti kehidupan. Apalagi saya dikasih tahu teman, insyaAllah nanti bulan November sampai dengan Februari sudah musim dingin (terkadang sampai dibawah 3 derajat celcius)

Hampir setiap habis sholat Shubuh dan Ashar juga diadakan pengajian. Sayang, bahasa urdu yang dipakai, jadi saya tidak paham, kecuali menebak-nebak isi ceramah dari dalil Al-quran dan hadits yang disampaikan. Sempat saya berfikir, kapan di Indonesia bisa juga seperti ini.

Beberapa kali saya juga bertemu dengan orang-orang dari Yaman, Malaysia, bahkan Indonesia yang datang ke sini. Ternyata, Jama’ah Tabligh1 yang markaz-nya di Nizamuddin, tidak lebih 5 km dari tempat saya tinggal, mengirim jama’ah-jama’ahnya hampir ke semua masjid di India. Pernah saya mendengar isi ceramah dari ustadz mereka dari Yaman, dan saya tahu bahwa yang mereka sampaikan begitu sederhana. Mengajak orang shalat ke masjid, bertaqwa dan berda’wah. Hal-hal sangat umum saja tentang islam, tidak mendalam.

2. Budaya Masyarakat di kampung Muslim

Ketika bicara tentang islam di India, tidak berarti kebiasaan pemeluk agama lain lebih baik. Hanya saja ini murni sebagai pengalaman dan renungan saya tentang kondisi umat islam. Saya ingin ada koreksi bahwa seringkali sesuatu kita anggap sebagai islam, tapi ternyata sudah tercampur dengan lingkungan di sekitar kita. Ada beberapa hal yang bukan dari Al-Quran dan sunnah yang dianggap sebagai bagian dari islam.

Lebih dari 80 persen umat islam di India adalah orang yang menjadi mu’alaf dari agama Hindu, terutama mereka yang berasal dari kalangan bawah. Mereka tidak bisa bertahan dengan konsep kasta yang begitu mengikat. Hanya saja ternyata, hal itu memberikan beberapa pengaruh terhadap islam di India, misalnya:

  1. Sistem kasta tetap ada di kalangan islam meskipun sedikit lebih longgar. Misalnya, seorang muslim yang berasal dari kasta rendah, jangan pernah berharap bisa menikah dengan mereka yang berasal dari kasta yang tinggi.
  2. Budaya mereka sebagai masyarakat kelas bawah tetap melekat, misalnya dalam hal cara bicara yang keras dan kasar.

Pernah suatu hari, sepulang dari sholat maghrib saya melihat orang begitu rame berkumpul di luar masjid yang otomatis membuat jalan di sebelah masjid menjadi macet. Ada dua orang yang sedang berdebat dengan suara keras seperti orang sedang berkelahi.

Saya mendekati seorang pemuda yang menurut saya dari wajahnya seperti seorang mahasiswa. Saya langsung tanya apakah dia berbahasa inggris atau tidak. Ketika dia menjawab, ya, barulah saya tahu tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ternyata dua orang tadi, sedang berdebat tentang ajaran islam, yaitu mengenai masalah keutamaan sholat sunnah di masjid atau rumah.

Urusan lain yang menurut saya juga sangat penting adalah budaya menjaga kebersihan lingkungan. India menurut saya sama sekali tidak bersih, apalagi di musim penghujan. Sebentar saja hujan, banjir akan terjadi di mana-mana. Di sini soalnya tidak ada selokan, kecuali ada lobang di bawah jalan, itu pun lebih sering tersumbat.

Masyarakat di sini juga punya kebiasaan membuang limbah di jalan. Sehingga di mana-mana pada musim tertentu kita bisa menemukan ribuan lalat yang beterbangan. Dan mereka pun membiarkannya begitu saja. Saya awalnya kaget, setelah mencari informasi, ternyata hal itu dikarenakan meskipun mereka muslim tetapi tetap terpengaruh dengan budaya orang hindu yang tidak membolehkan membunuh binatang.

Selain masalah budaya, hal ini tentu saja dipengaruhi oleh jumlah penduduk India yang sangat banyak, sekitar 1,2 milliar. Delapan puluh persen dari penduduk India hanya berpenghasilan kurang dari $20 per hari. Sebagian besar orang islam juga termasuk kelompok menengah ke bawah. Adapun jika ada pertumbuhan ekonomi India yang pesat, itu dikuasi oleh segelintir orang yang disebut tuan tanah.

Oleh karena itu, tidak heran jika kita bisa menyaksikan sangat banyak pengemis dengan berbagai kondisi yang memperihatinkan. Ada yang tidak punya kaki, ada yang tidak punya tangan, ada yang berbadan kurus kering, dst. Terkadang, muncul perasaan kasihan terhadap mereka, tetapi mana kala saya melihat mereka tidak pernah sholat, paling tidak setiap waktu sholat mereka tetap duduk pada tempatnya menunggu belas kasihan dari orang lain, saya menjadi sedikit kehilangan simpati. Wallahu a’lam, saya takut jika hati ini menjadi tidak lagi tersentuh melihat orang-orang susah karena sudah menjadi pemandangan harian.

Selain itu, ketika saya mempertanyakan berbagai kondisi tersebut kepada seorang teman dari Kashmir, ia mengatakan bahwa pelayanan pemerintah yang tidak maksimal dan kurang adil terhadap umat islam merupakan sumber berbagai masalah tadi. Konflik Kashmir pun menurut dia, bukanlah urusan sumber daya alam yang selama ini sering diberitakan. Persoalannya, adalah bahwa 100% masyarakat Kashmir, kecuali pejabat-pejabat mereka, ingin bergabung dengan Pakistan sebagai Negara Islam. India yang merasa sakit hati atas pemisahan Pakistan 1947 dari India menjadikan ini sebagai sarana membalas sakit hatinya kepada Pakistan.

Inilah Islam India yang sebenarnya merupakan mayoritas kedua di dunia dengan jumlah tidak kurang 150 juta jiwa, tetapi mereka menjadi minoritas di negerinya sendiri.

Terus Apa yang menarik di India?

Secara sederhana menurut saya yang menarik dari India adalah masalah pendidikannya. Biaya pendidikan di India sangat murah. Untuk level S2 rata-rata hanya 700 ribu rupiah saja per-tahun untuk mahasiswa lokal dan 5 juta rupiah per tahun untuk mahasiswa asing. Bahkan di Aligarh Muslim University, 5 juta rupiah sudah termasuk semua biaya kuliah S3 sampai tamat, bisa 3 s/d 5 tahun. Tidak heran, beberapa teman yang saya kenal, ia masih berusia 24 tahun, sudah akan selesai S3 tahun ini.

Meskipun murah, kualitasnya tidak diragukan. Semua dosen yang mengajar di India minimal sudah lulus S3. Mereka begitu mudah ditemui dan berpenampilan sangat sederhana. Ada yang ke kampus pakai kopiah, ada juga yang hanya pakai sepeda ontel, padahal mereka adalah professor. Jadi di India, nilai kesederhanaan sangat terlihat.

Mahasiswa S2 sering disampaikan oleh dosen “you are just student (Anda hanya seorang siswa), alias seperti belum punya ilmu. Padahal secara teori mereka sudah sangat mumpuni. Sayang memang secara aplikasi masih kurang.

Jika ujian, selama 3 jam, mahasiswa diminta untuk mengerjakan 5 soal dari 7 soal yang diberikan sebanyak 30-an lembar. Jadi 1 jawaban soal minimal 6 halaman. Fasilitas yang ada pun juga serba terbatas, tetapi mereka benar-benar memanfaatkannya secara maksimal.

Oleh karena itu, budaya mahasiswa di sini sangat berbeda dengan kebanyakan mahasiswa di Indonesia. Kalau tidak segera pulang dan belajar di rumah, biasanya mereka akan segera ke perpustakaan. Jangankah waktu aktif kuliah, masa liburan saja, ruang baca perpustakaan tetap penuh.

Itulah India, negara yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan akan pernah mengunjunginya, apalagi untuk sekolah. Hanya saja Allah maha tahu mana tempat yang terbaik bagi saya.

Atas saran ustadz Agus untuk kuliah di kampus Islam, saya mulai merasakannya manfaatnya. Minimal ibadah sholat di masjid terjaga dan tidak kesulitan dengan masalah makanan, termasuk masalah lingkungan yang jauh dari maksiat. Wallahu a’lam bishowab

****

India, 9 September 2010

Memasuki bulan syawal 1431

Penulis: Muhammad Rusyid

Artikel Majalah Qiblati, dikirim oleh penulis kepada redaksi www.muslim.or.id

1 Mengenai kelompok Jama’ah Tabligh ada beberapa ajaran mereka yang mendasar yang jauh dari ajaran Islam. Seperti seringnya merujuk pada kitab Fadhailul A’mal yang tidak sedikit berisi hadits dha’if. Dan kebanyakan mereka pun berdakwah namun jauh dari ilmu

Penerimaan Siswa Baru

http://www.sdityaabunayya.com/

Penerimaan Siswa Baru SDIT Yaa Bunayya 
Pendaftaran Siswa Baru SDIT Yaa Bunayya
Tahun Ajaran 2011-2012
Rintisan SDIT Unggulan, “Meraih Kesempurnaan Islam Sejak Belia”
Jl. Laksda Adisucipto, Ambarukmo R-146, Yogyakarta (Sebelah TK.Imam Syafi’i)
Persyaratan:
  1. Telah mencapai usia 6 tahun pada Juli 2011
  2. Membayar uang pendaftaran sebesar Rp100.000
  3. Mengisi formulir pendaftaran (pendaftaran online klik disini)
  4. Menyerahkan
  • Fotocopy akta kelahiran 1 lembar
  • Fotocopy KTP orang tua (ayah dan ibu)/wali 1 lembar
  • Fotocopy kartu keluarga 1 lembar
  • Fotocopy ijazah TPA/TPQ/TK 1 lembar
  • Pas Photo (2×3), (3×4), (4×6) @3 lembar
Program Unggulan
A. Fullday School
  1. Pendidikan agama islam berdasarkan Al-qur’an dan As-sunnah sesuai pemahaman salafush shalih
  2. Menghafal Al-qur’an 5 juz
  3. Menghafal hadist Arba’in An-nawawi
  4. Bahasa Arab Dasar
B. Ekstrakurikuler
Outbond, Sepakbola/Futsal, Renang, Arabic Club, English Club, Baksos, Pemeriksaan Kesehatan Umum dan Gigi Secara Rutin
Pendaftaran
Gelombang I : 28 Maret-17 April 2011
Gelombang II : 20 April – 29 Mei 2011
Orientasi Siswa Baru : 26-30 Juni 2011
Awal Belajar : 2 Juli 2011


Tempat Pendaftaran
  • TK Imam Syafi’i (belakang apotik K-24 Ambarukmo), CP: 0813 2882 6611 (Ahmad Maftuh)
  • TK Zanjabila (Jl Candi Gebang No 217 Condongcatur), CP; 0852 8248 7975 (Ginanjar, S.T)
  • TK Amal Kartini (Komplek Masjid Pogung Raya Utara Fak Teknik UGM), CP: 0857 4229 9312 (Ganda W, S.Si)
Kontak Person
(0274) 9287000
0816 1383 162
Email: sdityaabunayya@gmail.com
YM: sdityaabunayya

Ma’had Jamilurrahman As-Salafy

Penerimaan Santri Baru Ma’had Jamilurrahman As-Salafy Tahun 1432 H



Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Ma'had Jamilurrahman As-Salafy yang berkedudukan di Dusun Sawo Glondong, Wirokerten, Banguntapan, Bantul menerima pendaftaran santri baru tahun ini.  Program yang ditawarkan adalah I’dad Ad-Du’at (Putra dan Putri) dan Tahfidz Al-Qur`an (Putra dan Putri) ditempuh selama 3 tahun.

Profil Ma'had Jamilurrahman As-Salafy bisa di lihat di sini.
 SYARAT PENDAFTARAN:
  1. Menyerahkan foto copi ijazah terakhir yang dilegalisasi, minimal SMP/sederajat
  2. Dapat membaca Al-Qur’an dengan lancer
  3. Menyertakan surat pernyataan dari penanggung jawab biaya
  4. Menyerahkan SKCK atau tazkiyah (rekomendasi) dari ustadz-ustadz yang dikenal oleh pihak ma’had
  5. Mendapat surat izin tertulis dari orang tua
  6. Sehat jasmani dan rohani
  7. Menandatangani surat pernyataan taat peraturan
  8. Bagi calon santri putri harus diantar oleh mahromnya dan memasukkan seluruh syarat-syarat di atas ke dalam sebuah amplop tertutup (setelah terlebih dahulu diperiksa oleh panitia pendaftaran santri putri)
  9. Bagi santri pindahan dari ma’had lain harus menyertakan surat pindah dari pesantren asal
  10. Siap ditugaskan di tempat yang ditentukan yayasan
  11. Lulus tes wawancara.

KETENTUAN PEMBIAYAAN
  1. Membayar uang pendaftaran sebesar Rp 50.000,-
  2. Membayar uang pangkal sebesar Rp 300.000,-
  3. Uang SPP per bulan Rp 250.000,- (makan 3 x).
PROGRAM GRATIS
Dibuka program bea siswa untuk program I’dad Du’at dengan ketentuan sebagai berikut:
  1. Waktu belajar 3 tahun (bebas SPP bulanan)
  2. Lolos seleksi dan tes wawancara
  3. Bisa membaca Al-Qur’an
  4. Diutamakan memiliki kemampuan Bahasa Arab dasar
  5. Sanggup menyelesaikan masa belajar selama 3 tahun dan siap ditugaskan sesuai ketentuan Yayasan.
 
PENDAFTARAN
Silahkan menghubungi :
kantor 0274-8552147 (untuk jam 07:30 sampai 11:30 kecuali hari jum'at)
Waktu pendaftaran mulai 1 mei - 14 Juli 2011
email : pondokjamil@gmail.comAlamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
 www.pondokjamil.com

Silahkan download brosur di sini

Alamat :
Pondok Pesantren Syaikh Jamilurrahman As-Salafy (Pondok Sawo)
Dusun Glondong RT 04, Desa Wirokerten, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, DIY

telp : 0274-8552147
(untuk jam 07:30 sampai 11:30 kecuali hari jum'at)
Contact Person :
Ustadz Zaid                : 0813 2739 4768
Ustadz Said                : 0813 9277 1606 (untuk Putri)
Ustadz Muslam           : 0818 0419 0266 (untuk putra)
Email : pondokjamil@yahoo.comAlamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

Petunjuk Rute:
Dari terminal Giwagan Yogya + 1 kilometer ke arah Pondok (selatan) naik ojek/ becak/ jalan kaki.



Kajian Rutin Masjid Al Hasanah- Yogyakarta

Hadirilah Kajian Rutin Masjid Al Hasanah (utara Mirota Kampus UGM) Yogyakarta

Tema 1:
“TAZKIYATUN NUFUS”
Pemateri: Ustadz Amir As Soronji, B.A.
Setiap Senin, ba’da Isya’ – 20.30 WIB (mulai 25 April 2011)

Tema 2:
“JIBRIL BERTANYA, RASULULLAH MENJAWAB”
Pemateri: Ustadz Afifi Abdul Wadud
Setiap Rabu, ba’da Isya’ – 20.30 WIB (mulai 27 April 2011)
Ikuti juga kajian rutin yang diselenggarakan di Masjid Al Hasanah lainnya.

Tema 3:
“BAHJATUN NADZIRIN”
(Kajian Hadits, Syarh Riyadhus Shalihin)
Pemateri: Ustadz Zaid Susanto, Lc.
Setiap Ahad, ba’da Maghrib – Isya’

Tema 4:
“TAISIRUL ‘ALAM”
(Kajian Fiqih, Syarh ‘Umdatul Ahkam)
Pemateri: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.A.
Setiap Selasa, ba’da Maghrib – selesai

Gratis, terbuka untuk Umum
Kajian dapat didengarkan juga di
www.radiomuslim.com

Penyelenggara:
Takmir Masjid Al Hasanah (utara Mirota Kampus UGM) Yogyakarta


Lalai untuk Belajar Islam

http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/lalai-untuk-belajar-islam.html

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Tuntunan zaman dan semakin canggihnya teknologi menuntut generasi muda untuk bisa melek akan hal itu. Sehingga orang tua pun berlomba-lomba bagaimana bisa menjadikan anaknya pintar komputer dan lancar bercuap-cuap ngomong English. Namun sayangnya karena porsi yang berlebih terhadap ilmu dunia sampai-sampai karena mesti anak belajar di tempat les sore hari, kegiatan belajar Al Qur’an pun dilalaikan. Lihatlah tidak sedikit dari generasi muda saat ini yang tidak bisa baca Qur’an, bahkan ada yang sampai buku Iqro’ pun tidak tahu.

Merenungkan Ayat

Ayat ini yang patut jadi renungan yaitu firman Allah Ta’ala,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7)

Ath Thobari rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang menerangkan mengenai maksud ayat di atas. Yang dimaksud dalam ayat itu adalah orang-orang kafir. Mereka benar-benar mengetahui berbagai seluk beluk dunia. Namun terhadap urusan agama, mereka benar-benar jahil (bodoh). (Tafsir Ath Thobari, 18/462)

Fakhruddin Ar Rozi rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas, “Ilmu mereka hanyalah terbatas pada dunia saja. Namun mereka tidak mengetahui dunia dengan sebenarnya. Mereka hanya mengetahui dunia secara lahiriyah saja yaitu mengetahui kesenangan dan permainannya yang ada. Mereka tidak mengetahui dunia secara batin, yaitu mereka tidak tahu bahaya dunia dan tidak tahu kalau dunia itu terlaknat. Mereka memang hanya mengetahui dunia secara lahir, namun tidak mengetahui kalau dunia itu akan fana.” (Mafatihul Ghoib, 12/206)

Penulis Al Jalalain rahimahumallah menafsirkan, “Mereka mengetahui yang zhohir (yang nampak saja dari kehidupan dunia), yaitu mereka mengetahui bagaimana mencari penghidupan mereka melalui perdagangan, pertanian, pembangunan, bercocok tanam, dan selain itu. Sedangkan mereka terhadap akhirat benar-benar lalai.” (Tafsir Al Jalalain, hal. 416)

Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi hafizhohullah menjelaskan ayat di atas, “Mereka mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah saja seperti mengetahui bagaimana cara mengais rizki dari pertanian, perindustrian dan perdagangan. Di saat itu, mereka benar-benar lalai dari akhirat. Mereka sungguh lalai terhadap hal yang wajib mereka tunaikan dan harus mereka hindari, di mana penunaian ini akan mengantarkan mereka selamat dari siksa neraka dan akan menetapi surga Ar Rahman.” (Aysarut Tafasir, 4/124-125)

Lalu Syaikh Abu Bakr Al Jazairi mengambil faedah dari ayat tersebut, “Kebanyakan manusia tidak mengetahui hal-hal yang akan membahagiakan mereka di akhirat. Mereka pun tidak mengetahui aqidah yang benar, syari’at yang membawa rahmat. Padahal Islam seseorang tidak akan sempurna dan tidak akan mencapai bahagia kecuali dengan mengetahui hal-hal tersebut. Kebanyakan manusia mengetahui dunia secara lahiriyah seperti mencari penghidupan dari bercocok tanam, industri dan perdagangan. Namun bagaimanakah pengetahuan mereka terhadap dunia yang batin atau tidak tampak, mereka tidak mengetahui. Sebagaimana pula mereka benar-benar lalai dari kehidupan akhirat. Mereka tidak membahas apa saja yang dapat membahagiakan dan mencelakakan mereka kelak di akhirat. Kita berlindung pada Allah dari kelalaian semacam ini yang membuat kita lupa akan negeri yang kekal abadi di mana di sana ditentukan siapakah yang bahagia dan akan sengsara.” (Aysarut Tafasir, 4/125)

Itulah gambaran dalam ayat yang awalnya menerangkan mengenai kondisi orang kafir. Namun keadaan semacam ini pun menjangkiti kaum muslimin. Mereka lebih memberi porsi besar pada ilmu dunia, sedangkan kewajiban menuntut ilmu agama menjadi yang terbelakang. Lihatlah kenyataan di sekitar kita, orang tua lebih senang anaknya pintar komputer daripada pandai membaca Iqro’ dan Al Qur’an. Sebagian anak ada yang tidak tahu wudhu dan shalat karena terlalu diberi porsi lebih pada ilmu dunia sehingga lalai akan agamanya. Sungguh keadaan yang menyedihkan.

Bahaya Jahil akan Ilmu Agama

Kalau seorang dokter salah memberi obat karena kebodohannya, maka tentu saja akan membawa bahaya bagi pasiennya. Begitu pula jika seseorang jahil atau tidak paham akan ilmu agama, tentu itu akan berdampak pada dirinya sendiri dan orang lain yang mencontoh dirinya.

Allah telah memerintahkan kepada kita untuk mengawali amalan dengan mengetahui ilmunya terlebih dahulu. Ingin melaksanakan shalat, harus dengan ilmu. Ingin puasa, harus dengan ilmu. Ingin terjun dalam dunia bisnis, harus tahu betul seluk beluk hukum dagang. Begitu pula jika ingin beraqidah yang benar harus dengan ilmu. Allah Ta’ala berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19). Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.

Sufyan bin ‘Uyainah berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah ketika menjelaskan biografi Sufyan dari jalur Ar Robi’ bin Nafi’ darinya, bahwa Sufyan membaca ayat ini, lalu mengatakan, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan ‘ilmuilah’, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?” (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 1/108)

Al Muhallab rahimahullah mengatakan, “Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang di dalamnya tidak terdapat niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan merasa telah berbuat ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena tidak didahului dengan ilmu, pen). Sesungguhnya yang dilakukan hanyalah seperti amalannya orang gila yang pena diangkat dari dirinya.“ (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 1/144)

Gara-gara tidak memiliki ilmu, jadinya seseorang akan membuat-buat ibadah tanpa tuntunan atau amalannya jadi tidak sah. Jika seseorang tidak paham shalat, lalu ia mengarang-ngarang tata cara ibadahnya, tentu ibadahnya jadi sia-sia. Begitu pula mengarang-ngarang bahwa di malam Jumat Kliwon dianjurkan baca surat Yasin, padahal nyatanya tidak ada dasar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amalan tersebut juga sia-sia belaka. Begitu pula jika seseorang berdagang tanpa mau mempelajari fiqih berdagang terlebih dahulu. Ia pun mengutangkan kepada pembeli lalu utangan tersebut diminta diganti lebih (alias ada bunga). Karena kejahilan dirinya dan malas belajar agama, ia tidak tahu kalau telah terjerumus dalam transaksi riba. Maka berilmulah terlebih dahulu sebelum beramal. Mu’adz bin Jabal berkata,

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ

Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)

Beramal tanpa ilmu membawa akibat amalan tersebut jauh dari tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, akhirnya amalan itu jadi sia-sia dan tertolak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Kerusakanlah yang ujung-ujungnya terjadi bukan maslahat yang akan dihasilkan. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” (Al Amru bil Ma’ruf, hal. 15)

Beri Porsi yang Adil

Bukan berarti kita tidak boleh mempelajari ilmu dunia. Dalam satu kondisi mempelajari ilmu dunia bisa menjadi wajib jika memang belum mencukupi orang yang capable dalam ilmu tersebut. Misalnya di suatu desa belum ada dokter padahal sangat urgent sehingga masyarakat bisa mudah berobat. Maka masih ada kewajiban bagi sebagian orang di desa tersebut untuk mempelajari ilmu kedokteran sehingga terpenuhilah kebutuhan masyarakat.

Namun yang perlu diperhatikan di sini bahwa sebagian orang tua hanya memperhatikan sisi dunia saja apalagi jika melihat anaknya memiliki kecerdasan dan kejeniusan. Orang tua lebih senang menyekolahkan anaknya sampai jenjang S2 dan S3, menjadi pakar polimer, dokter, dan bidan, namun sisi agama anaknya tidak ortu perhatikan. Mereka lebih pakar menghitung, namun bagaimanakah mengerti masalah ibadah yang akan mereka jalani sehari-hari, mereka tidak paham. Untuk mengerti bahwa menggantungkan jimat dalam rangka melariskan dagangan atau menghindarkan rumah dari bahaya, mereka tidak tahu kalau itu syirik. Inilah yang sangat disayangkan. Ada porsi wajib yang harus seorang anak tahu karena jika ia tidak mengetahuinya, ia bisa meninggalkan kewajiban atau melakukan yang haram. Inilah yang dinamakan dengan ilmu wajib yang harus dipelajari setiap muslim. Walaupun anak itu menjadi seorang dokter atau seorang insinyur, ia harus paham bagaimanakah mentauhidkan Allah, bagaimana tata cara wudhu, tata cara shalat yang mesti ia jalani dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mesti setiap anak kelak menjadi ustadz. Jika memang anak itu cerdas dan tertarik mempelajari seluk beluk fiqih Islam, sangat baik baik sekali jika ortu mengerahkan si anak ke sana. Karena mempelajari Islam juga butuh orang-orang yang ber-IQ tinggi dan cerdas sebagaimana keadaan ulama dahulu seperti Imam Asy Syafi’i sehingga tidak salah dalam mengeluarkan fatwa untuk umat. Namun jika memang si anak cenderung pada ilmu dunia, jangan sampai ia tidak diajarkan ilmu agama yang wajib ia pelajari.

Dengan paham agama inilah seseorang akan dianugerahi Allah kebaikan, terserah dia adalah dokter, engineer, pakar IT dan lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Ingatlah pula bahwa yang diwarisi oleh para Nabi bukanlah harta, namun ilmu diin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.” (HR Abu Dawud no. 3641 dan Tirmidzi no. 2682, Shahih)

Semoga tulisan ini semakin mendorong diri kita untuk tidak melalaikan ilmu agama. Begitu pula pada anak-anak kita, jangan lupa didikan ilmu agama yang wajib mereka pahami untuk bekal amalan keseharian mereka. Wallahu waiyyut taufiq. (*)

Riyadh-KSA, 14 Rabi’uts Tsani 1432 H (19/03/2011)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

Istriku, Aku mencintaimu...

http://akhwat.thaybah.or.id/nasehat/istriku-aku-mencintaimu.html

Istriku, Aku mencintaimu…

Kendati dirinya telah mengelilingi dunia, bahkan hampir tidak ada Negara baru di dalam peta, dan terlalu sering naik pesawat terbang sehingga seperti naik mobil biasa, namun istrinya belum pernah naik pesawat terbang kecuali pada malam itu. Hal ini terjadi setelah 20 tahun pernikahan mereka. Dari mana? Dan ke mana? Dari Dahran ke Riyadh. Dengan siapa? Dengan adiknya yang orang desa dan bersahaja yang merasa dirinya harus menyenangkan hati kakaknya dengan sempurna. Ia membawa wanita itu dengan mobil bututnya dari Riyadh menuju Dammam. Pada waktu pulang, wanita itu berharap kepadanya agar ia naik pesawat terbang. Wanita itu ingin naik pesawat terbang sebelum meninggal dunia. Ia ingin menaiki pesawat terbang yang selalu dinaiki Khalid, suaminya, dan yang ia lihat di langit dan di televisi.

Sang adik mengabulkan mengabulkan keinginnya dan membeli tiket untuknya. Ia menyertakan putranya sebagai mahramnya. Sementara ia pulang sendirian sambil diguncang olah perasaan dan mobilnya.

Malam itu Sarah tidak tidur, melainkan bercerita kepada suaminya, Khalid, selama satu jam tentang pesawat terbang. Ia bercerita tentang pintu masuknya, tempat duduknya, penerangannya, kemegahannya, hidangannya, dan bagaimana pesawat itu terbang di udara. Terbang !! Ia bercerita sambil tercengang. Seolah-olah ia baru datang dari planet lain. Tercengang, terkesima dan berbinar-binar. Sementara suaminya memandanginya dengan perasaan heran. Begitu selesai bercerita tentang pesawat terbang, ia langsung bercerita tentang kota Dammam dan perjalanan kesana dari awal samapai akhir. Juga tentang laut yang baru pertama kali dilihatnya sepanjang hidupnya. Dan juga tentang jalan yang panjang dan indah antara Riyadh dan Dammam saat ia berangkat. Sedangkan saat Pulang ia naik pesawat terrbang. Pesawat terbang yang tidak akan pernah ia lupakan untuk selama-lamanya.

Ia duduk berlutut seperti bocah kecil yang melihat kota-kota hiburan terbesar untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ia mulai bercerita kepada suaminya dengan mata berbinar penuh ketakjuban dan kebahagiaan. Ia melihat jalan raya, pusat perbelanjaan, manusia, batu, pasir, dan restoran. Juga bagaimana laut berombak dan berbuih bagaikan onta yang berjalan. Dan bagaimana ia meletakkan kedua tangannya di air laut dan ia pun mencicipinya. Ternyata asin… asin. Pun, ia bercerita tentang laut yang tampak hitam siang hari dan tampak biru di malam hari. “Aku melihat ikan, Khalid! Aku melihatnya dengan mata kepalaku. Aku mendekat ke pantai. Adikku menangkap seekor ikan untukku, tapi aku kasihan padanya dan kulepas lagi ke air.

Ikan itu kecil dan lemah. Aku kasihan pada ibunya dan juga padanya. Seandainya aku tidak malu, Khalid, pasti aku membangun rumah-rumahan di tepi laut itu. Aku melihat anak-anak membangun rumah-rumahan disana. Oh ya, aku lupa, Khalid! Ia langsung bangkit, lalu mengambil tasnya dan membukanya. Ia mengeluarkan sebotol parfum dan memberikannya kepada sang suami. Ia merasa seolah-olah sedang meberikan dunia. Ia berkata, “Ini hadiah untukmu dariku. Aku juga membawakanmu sandal untuk kau pakai di kamar mandi.” Air mata hamper menetes dari mata Khalid untuk pertama kali. Untuk pertama kalinya dalam hubungannya dengan Sarah dan perkawinannya dengan sang istri. Ia sudah naik sebagian besar maskapai penerbangan dunia, tapi tidak pernah sekalipun mengajak sang istri pergi bersamanya. Karena, ia mengira bahwa wanita itu bodoh dan buta huruf. Apa perlunya melihat dunia dan bepergian? Mengapa ia harus mengajaknya pergi bersama?

Ia lupa bahwa wanita itu adalah manusia. Manusia dari awal sampai akhir. Dan kemanusiaannya sekarang tengah bersinar di hadapannya dan bergejolak di dalam hatinya. Ia melihat istrinya membawakan hadiah untuknya dan tidak melupakannya. Betapa besarnya perbedaan antara uang yang ia berikan kepada istrinya saat ia berangkat bepergian atau pulang dengan hadiah yang diberikan sang istri kepadanya dalam perjalanan satu-satunya dan yatim yang dilakukan sang istri. Bagi Khalid, sandal yang diberikan sang istri setara dengan semua uang yang telah dia berikan kepadanya. Karena uang dari suami adalah kewajiban, sedangkan hadiah adalah sesuatu yang lain. Ia merasakan kesedihan tengah meremas-remas hatinya sambil melihat wanita penyabar itu. Wanita yang selalu mencuci bajunya, menyiapkan piringnya, melahirkan anak-anaknya, mendampingi hidupnya, dan tidak tidur saat dia sakit. Wanita itu soeolah-olah baru pertama kali melihat dunia. Tidak pernah terlintas dibenak wanita itu untuk mengatakan kepadanya, “Mengapa dia tidak pernah bepergian?” Karena ia adalah wanita miskin yang melihat suaminya di atas, karena pendidikannya, wawasannya, dan kedermawanannya. Tapi ternyata bagi Khalid, senua itu kini menjadi hampa, tanpa rasa dan tanpa hati. Ia merasa bahwa dirinya telah memenjara seorang wanita yang tidak berdosa selama 20 tahun yang hari-harinya berjalan monoton.

Kemudian, Khalid mengangkat tangannya ke matanya untuk menutupi air matanya yang nyaris tak tertahan. Dan dia mengucapkan satu kata kepada istrinya. Satu kata yang diucapkan untuk pertama kalinya dalam hidupnya dan tidak pernah terbayang dalam dalam benaknyabahwa ia akan mengatakannya sampai kapan pun. Ia berkata kepada istrinya, “Aku mencintaimu.” Ia mengucapakan dari lubuk hatinya.

Kedua tangan sang istri berhenti membolak-balik tas itu. Mulutnya pun berhenti bercerita. Ia merasa bahwa dirinya telah masuk ke dalam perjalanan lain yang lebih menakjubkan dan lebih nikmat dari kota Dammam, laut dan pesawat terbang. Yaitu, perjalanan cinta yang baru dimulai setelah 20 tahun menikah. Perjalanan yang dimulai dengan satu kata. Satu kata yang jujur. Ia pun menangis tersedu-sedu.

Hikmah Yang dapat diambil dari kisah di atas:

  • Sesungguhnya tabiat manusia adalah menyukai keindahan, dan sesuatu yang indah lagi menjadikan hati gembira di dunia. Bahkan sebagian mereka terlena dengan keindahan yang mereka dapatkan sehingga melupakan kebahagiaan terbesar yang disiapkan oleh Allah kelak di akhirat.
  • Islam adalah agama yang Indah, agama yang adil, menjadikan laki-laki dan wanita memiliki perannya masing-masing. Dijadikan laki-laki sebagai pemimpin bagi wanita, karena kelebihan yang diberikan oleh Allah.
  • Salah satu kewajiban suami adalah memberikan nafkah kepada istrinya, nafkah lahiriyah dan bathiniyyah. Termasuk di dalamnya adalah saling berusaha mengajak mendekatkan diri kepada Allah, bisa berupa banyak hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan menambah kecintaan, misalnya mengikuti kajian bersama, saling membangunkan diwaktu malam untuk sholat qiyamul lail, melakukan diskusi ilmiyah, dll.
  • Sungguh merupakan kebahagiaan terbesar bagi seorang laki-laki yang mendapatkan pendamping yang sholihah, demikian pula sebaliknya. Sebagaimana dijelaskan bahwa sesungguhnya dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah.
  • Kaum wanita adalah manusia biasa yang tidak sempurna, mengalami kebosanan, ketidaknyamanan. Untuk itulah wahai para suami, bahagiakanlah dia (istrimu), orang yang telah membahagiakan hidupmu, yang selalu menantikan kepulanganmu dikala engkau bepergian, yang menjaga rumahmu dikala sepi, yang memasak masakan special untukmu, yang melahirkan dan mendidik anak-anakmu menemanimu dikala sedih maupun senang, yang menjadi teman dekatmu disetiap waktu, yang menyempurnakan agamamu. Jika ia melakukan kesalahan, maka ia adalah manusia biasa, bukan seorang bidadari yang penuh dengan kesempurnaan, luruskanlah dengan lembut, bukankah ia berasal dari tulang rusuk yang paling bengkok, jika diperlakukan dengan keras pasti akan patah, dan jika dibiarkan dia akan tetap bengkok. Sesungguhnya Rasulullah –shalallahu ‘alihi wasallam-, teladan kita semua adalah orang yang paling berkasih sayang kepada semua manusia terutama kepada istri dan keluarga beliau.
  • Adalah sifat manusia, merasa kagum atau heran dengan sesuatu keindahan atau keburukan yang belum pernah ia lihat sama-sekali. Dalam cerita di atas kebahagiaan seorang wanita yang melihat keindahan dunia dengan penuh kekaguman. Bagaimana jika ditampakkan surga kepada kita kelak. Bukankah surga merupakan kenikmatan yang belum pernah mata memandang, belum pernah telinga mendengar, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia. Tentunnya kita akan lebih terkagum-kagum ketika disurga dengan tambahannya yang disediakan untuk orang-orang yang beriman dan beramal sholih. Kita memohon kepada Allah surga tertinggi. Wallahul musta’an
  • Diantara yang menyebabkan kecintaan adalah saling memberi hadiah, oleh sebab itu rosululllah pernah bersabda: “Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.”
  • Menangis merupakan salah satu bentuk ekspresi yang merupakan gambaran perasaan dan isi hati seseorang. Ibnul Qoyim membagi tangisan menjadi beberapa bagian, diantaranya sebagai berikut:
  1. Tangisan kasih sayang dan kelembutan,
  2. Tangisan karena takut,
  3. Tangisan cinta dan rindu,
  4. Tangisan kebahagiaan dan kegembiraan,
  5. Tangisan kekhawatiran karena suatu hal yang menyakitkan dan tidak adanya kekuatan untuk menanggungnya
  6. Tangisan kesedihan,
  7. Tangisan ketidakberdayaan dan kelemahan,
  8. Tangisan kemunafikan,
  9. Tangisan pinjaman dan sewaan,
  10. Tangisan kesepakatan.
  • Sesungguhnya hati ini berada di bawah kekuasaan Allah, Allah berkuasa untuk membolak-balikkan hati manusia, memberinya hidayah dengan cahaya atau menyesatkannya. Kita berdoa agar ditetapkan hati kita untuk berada di atas Agama Allah – subhanahu wa ta’alaa -.Wallahu a’lam, jika ada kesalahan, mohon disampaikan. Jika ada tambahan, mohon diutarakan.

Surabaya, 18 Oktober 2010

Abu al-Hasan al-Kadiry

-artikel akhwat.thaybah.or.id

Referensi Kisah: (Buku “Malam Pertama, Setelah itu Air mata” oleh Ahmad Salim Baduwailan)

Referensi lain: (Buku “Menangislah sebagaimana rosulullah dan para sahabat menangis” )

Jejak Islam Benua Amerika


Penjelajah Muslim

(Berita SuaraMedia) - Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai 'The New World' ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492.

Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah 'Dunia Baru'. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun peradaban di Amerika.

Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus.

Secara historis umat Islam telah memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua Amerika.

''Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,'' tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba.

Jika Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.

Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam.

Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.

Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.

Berbicara tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.

Yang membuatnya sangat luar biasa adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.

Nama-nama suku Indian dan kepala sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak hanya ditemukan pada suku Cherokee (Shar-kee), tapi juga Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni.

Bahkan, beberapa kepala suku Indian juga mengenakan tutp kepala khas orang Islam. Mereka adalah Kepala Suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Hal ini ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.

Secara umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya.

Seperti penuturan seorang Kepala Suku Ohiyesa : ”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. Bukankah Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah pada Allah

Bagaimana bisa Kepala suku Indian Cheeroke itu muslim?

Sejarahnya panjang, Semangat orang-orang Islam dan Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet (tentunya saat itu nama planet belum terdengar) tempat tinggalnya selain untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah Islam mendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.

Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng Ho dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan hanya tercatat pada buku-buku akademis.

Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369).

Menurut catatan ahli sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi.

Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.

Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.

Dr. Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III (tahun 929-961) dari dinasti Umayah, tercatat adanya orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan membawa barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing.

Beliau juga menuliskan menurut catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009) seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary).

Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada bulan Mei 999.

Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 – 1307) raja keenam dalam dinasti Marinid.

Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam.

Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama.

Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu.

Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 – 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.

Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab.

Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517. Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.

Pengaruh Islam di Benua Amerika

Sekali-kali cobalah Anda membuka peta Amerika. Telitilah nama tempat yang ada di Negeri Paman Sam itu. Sebagai umat Islam, pastilah Anda akan dibuat terkejut. Apa pasal? Ternyata begitu banyak nama tempat dan kota yang menggunakan kata-kata yang berakar dan berasal dari bahasa umat Islam, yakni bahasa Arab.

Tak percaya? Cobalah wilayah Los Angeles. Di daerah itu ternyata terdapat nama-nama kawasan yang berasal dari pengaruh umat Islam. Sebut saja, ada kawasan bernama Alhambra. Bukankah Alhambra adalah nama istana yang dibangun peradaban Islam di Cordoba?

Selain itu juga ada nama teluk yang dinamai El Morro serta Alamitos. Tak cuma itu, ada pula nama tempat seperti; Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra.

Setelah itu, mari kita bergeser ke bagian tengah Amerika. Mulai dari selatan hingga Illinois juga terdapat nama-nama kota yang bernuansa Islami seperti; Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. Malah, di negara bagian Washington terdapat nama kota Salem.

Pengaruh Islam lainnya pada penamaan tempat atau wilayah di Amerika juga sangat kental terasa pada penamaan Karibia (berasal dari bahasa Arab). Di kawasan Amerika Tengah, misalnya, terdapat nama wilayah Jamaika dan Kuba. Muncul pertanyaan, apakah nama Kuba itu berawal dan berakar dari kata Quba - masjid pertama yang dibangun Rasulullah adalah Masjid Quba. Negara Kuba beribu kota La Habana (Havana).

Di benua Amerika pun terdapat sederet nama pula yang berakar dari bahasa Peradaban Islam seperti pulau Grenada, Barbados, Bahama, serta Nassau. Di kawasan Amerika Selatan terdapat nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Ada pula nama pegunungan Absarooka yang terletak di pantai barat.

Menurut Dr A Zahoor, nama negara bagian seperti Alabama berasal dari kata Allah bamya. Sedangkan Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah. Sedangkan Tennesse dari kata Tanasuh. Selain itu, ada pula nama tempat di Amerika yang menggunakan nama-nama kota suci Islam, seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, serta Medina di Texas. Begitulah peradaban Islam turut mewarnai di benua Amerika.

Fakta Eksistensi Islam di Amerika

Tahun 999 M: Sejarawan Muslim Abu Bakar Ibnu Umar Al-Guttiya mengisahkan pada masa kekuasaan Khalifah Muslm Spanyol bernama Hisham II (976 M -1009 M), seorang navigator Muslim bernama Ibnu Farrukh telah berlayar dari Kadesh pada bulan Februari 999 M menuju Atlantik. Dia berlabuh di Gando atau Kepulauan Canary Raya. Ibnu Farrukh mengunjungi Raja Guanariga. Sang penjelajah Muslim itu memberi nama dua pulau yakni Capraria dan Pluitana. Ibnu Farrukh kembali ke Spanyol pada Mei 999 M.

Tahun 1178 M: Sebuah dokumen Cina yang bernama Dokumen Sung mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah bernama Mu-Lan-Pi (Amerika). Tahun 1310 M: Abu Bakari seorang raja Muslim dari Kerajaan Mali melakukan serangkaian perjalanan ke negara baru. Tahun 1312 M: Seorang Muslim dari Afrika (Mandiga) tiba di Teluk Meksiko untuk mengeksplorasi Amerika menggunakan Sungai Mississipi sebagai jalur utama perjalanannya.

Tahun 1530 M: Budak dari Afrika tiba di Amerika. Selama masa perbudakan lebih dari 10 juta orang Afrika dijual ke Amerika. Kebanyakan budak itu berasal dari Fulas, Fula Jallon, Fula Toro, dan Massiona - kawasan Asia Barat. 30 persen dari jumlah budak dari Afrika itu beragama Islam.

Tahun 1539 M: Estevanico of Azamor, seorang Muslim dari Maroko, mendarat di tanah Florida. Tak kurang dari dua negara bagian yakni Arizona dan New Mexico berutang pada Muslim dari Maroko ini. Tahun 1732 M: Ayyub bin Sulaiman Jallon, seorang budak Muslim di Maryland, dibebaskan oleh James Oglethorpe, pendiri Georgia. Tahun 1790 M: Bangsa Moor dari Spanyol dilaporkan sudah tinggal di South Carolina dan Florida.

Sequoyah, also known as George Gist Bukti lainnya adalah, Columbus sendiri mengetahui bahwa orang-orang Carib (Karibia) adalah pengikut Nabi Muhammad. Dia faham bahwa orang-orang Islam telah berada di sana terutama orang-orang dari Pantai Barat Afrika.

Mereka mendiami Karibia, Amerika Utara dan Selatan. Namun tidak seperti Columbus yang ingin menguasai dan memperbudak rakyat Amerika. Orang-Orang Islam datang untuk berdagang dan bahkan beberapa menikahi orang-orang pribumi.

Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in Early America, Van Sertima, menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.

Van Sertima juga menuturkan, saat menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. "Columbus juga tahun bahwa Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara," papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.

Menurut Van Sertima, Columbus pun mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba. Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada. Itulah bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh sebelum Barat tiba.

Lebih lanjut Columbus mengakui pada 21 Oktober 1492 dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba melihat sebuah masjid (berdiri di atas bukit dengan indahnya menurut sumber tulisan lain). Sampai saat ini sisa-sisa reruntuhan masjid telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.

Dan tahukah anda? 2 orang nahkoda kapal yang dipimpin oleh Columbus kapten kapal Pinta dan Nina adalah orang-orang muslim yaitu dua bersaudara Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362). [THACHER,JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950]
. (ar/rpk/amf) www.suaramedia.com

Kesaksian Seorang Dokter

http://buku-islam.blogspot.com/2010/01/kesaksian-seorang-dokter.html

Judul : Kesaksian Seorang Dokter
Penulis : dr. Khalid bin Abdul Aziz al Jubair, SpJP
Penerbit: Darus Sunnah
Cetakan : Kesebelas, Januari 2009
Halaman : 176

Buku yang sudah mencapai cetakan ke-11 ini berisi kisah-kisah yang dialami oleh penulisnya sendiri yang merupakan seorang dokter spesialis bedah dan jantung di sebuah rumah sakit di Riyadh, Saudi Arabia. Ada puluhan kisah-kisah nyata yang sarat dengan pelajaran, nasehat dan hikmah yang bisa kita ambil. Kisah-kisahnya membuat kita merenung dan berintrospeksi terhadap diri kita, agar semakin dekat dengan Allah Jalla wa 'Ala.

Pada ringkasan ini saya kutipkan dua kisah yang menarik diantara yang menarik dari buku tersebut. Yang pertama adalah tentang keyakinan bahwa Allah-lah Yang Menyembuhkan. Yang kedua adalah tentang pengobatan yang banyak dilupakan orang. Semoga kutipan ini bermanfaat bagi kaum muslimin.

[KESABARAN DAN KEYAKINAN]
=========================
Saya berkunjung ke negara Maroko untuk mengadakan pengobatan -operasi jantung- secara cuma-cuma khusus untuk kalangan fakir miskin dengan dana sukarela dari seseorang di Saudi Arabia.

Kunjungan itu saya awali dengan melakukan inspeksi (pemeriksaan dengan teliti yang dilakukan oleh pihak terkait) untuk mengetahui gambaran umum kondisi kesehatan di negara itu. Dalam acara ini saya ditemani oleh dr. Muhsin Ubaidillah yang bertindak sebagai asisten dan penterjemah, karena beliau adalah penduduk asli negara ini. Beliau juga melakukan banyak tugas dan pekerjaan dalam rangka menyukseskan acara saya ini. Semoga Allah membalas semua kebaikannya.

Diantara pasien yang datang, ada seorang pasien yang telah berusia empat puluh tahun, ketika melihat keadaannya saya sangat khawatir, ia berjalan tiap dua langkah berhenti untuk menghela nafas, perutnya membuncit karena busung, kedua kakinya telah membengkak akibat dari jantung yang lemah, urat-urat nadi di lututnya telah membesar dan wajahnya menyiratkan rasa sakit dan penderitaan, Anda tidak akan mampu menyaksikannya.

Ketika melihatnya seperti itu, saya merasa khawatir, dan lebih ngeri lagi saat saya memeriksa catatan kesehatannya, maka saya ingatkan dr. Muhsin agar tidak memasukkannya di dalam daftar orang-orang yang akan menjalani operasi. Karena berdasarkan perkiraanku, operasi tidak akan memberikan banyak manfaat untuknya, ditambah lagi bahwa kondisinya sangat mengkhawatirkan. Dalam hal ini saya berkewajiban untuk menyeleksi orang-orang yang mungkin mendapatkan manfaat dari proyek ini.

Ternyata orang tersebut mengerti apa yang saya katakan kepada dr. Muhsin, maka ia segera menyahut, "Ingat apa yang dikatakan oleh Tuhan-ku, bukankah Dia telah berfirman,

"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku." (QS. As-Syuara': 80).

Dalam hal ini saya sangat yakin bahwa dengan izin Allah saya akan sembuh. Wahai dokter, Anda hanya perantara saja atas kesembuhan saya ini, maka operasilah saya, karena sesungguhnya Allah-lah yang akan menyembuhkan saya."

Saya mencoba memberikan penjelasan dengan lemah lembut kepadanya, akan tetapi ia tetap bersikeras minta untuk dioperasi. Maka akhirnya saya katakan kepadanya, "Insya allah, tidak akan terjadi kecuali yang terbaik."

Tak lama kemudian saya melihatnya bertayammum lalu mendirikan shalat zhuhur, saya bertanya kepadanya,

"Kenapa tidak berwudhu?" Ia menjawab, "Saya tidak bisa, bahkan untuk melaksnakan shalat sambil berdiri pun saya tidak mampu."

Mendengar penjelasan itu, saya hampir berubah pendirian untuk mengoperasinya, akan tetapi kemudian saya ingat, bahwa kedatanganku ke sini dengan perbekalan yang minim dan harus disalurkan kepada mereka-mereka yang diperkirakan akan mendapatkan hasil dari operasi ini dengan izin Allah.

Ketika saya mulai melakukan operasi kepada para pasien, orang itu dua kali datang kembali, akan tetapi ia ditolak oleh dr. Muhsin.

Pada minggu terakhir dari masa tugasku dr. Dzafir al Khudhairi, ahli Anestesi -pembiusan-, harus meninggalkanku untuk urusan yang penting, yang mana kami berdua telah sepakat sebelumnya bahwa operasi untuk kondisi seperti orang ini tidak mungkin untuk dilaksanakan di sini. Dan beliau telah menolak untuk melaksanakan anestesi -pembiusan- terhadap seseorang yang kondisinya lebih bagus daripada orang ini.

Setelah dr. Dzafir pergi, pada minggu terakhir ini posisi anestesi digantikan oleh dr. Musthafa al Sabit, beliau adalah seorang dokter yang cukup terkenal dan berjiwa militer.

Pada minggu ini pula dr. Muhsin harus beristirahat dua hari karena sakit. Orang tersebut datang ke rumah sakit lagi dan kemudian dr. Ilmi yang tidak tahu duduk permasalahannya memasukkan orang tersebut ke dalam daftar tunggu pasien operasi.

Biasanya saya memeriksa pasien yang akan menjalani operasi pada malam hari sebelum tiba hari pelaksanaan operasi, tepat pada malam hari di mana besok paginya orang tersebut mendapatkan giliran operasi, saya diundang untuk makan malam di kota al Ribath yang memakan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan dengan mobil dari al Dar al Abhyadh, sehingga saya pulang larut malam dan malas untuk pergi memeriksa pasien yang akan dioperasi esok hari, aku berkata kepada diri sendiri, "Insya Allah, besok aku akan berangkat pagi-pagi untuk memeriksa pasien yang akan dioperasi."

Akan tetapi apa yang terjadi? Allah takdirkan saya bangun kesiangan, pada jam setengah sembilan, maka dengan tergesa-gesa saya berangkat ke rumah sakit. Sesampainya di sana ternyata pasien telah siap, sekilas saya memeriksa laporan dan tidak menelitinya dengan cermat. Pada saat itu saya hanya konsentrasi pada hal-hal yang perlu dilaksanakan terhadap pasien, yakni membenahi tiga titik katup.

Operasi telah saya mulai dan berjalan sesuai dengan rencana sedangkan pasiennya dalam kondisi yang sangat stabil dan tenang.

Saya menuju ke ruang staff bagian jantung, lalu pergi beberapa saat untuk memenuhi beberapa keperluan dan kembali ke rumah sakit untuk melihat pasien-pasien yang telah dioperasi hari ini, dilanjutkan dengan memeriksa pasien-pasien yang akan menjalani operasi esok hari.

Tiba-tiba dr. Muhsin mengajakku menuju ke bangsal pemulihan sambil berkata, "Mari, kita lihat salah seorang pasien." Di sana saya mendapati orang yang kondisinya sangat mengkhawatirkan itu tengah duduk di atas bangsal pemulihan dalam keadaan yang sangat stabil tanpa alat bantu pernafasan karena telah dilepaskan darinya.

Sesaat setelah melihatku, ia segera membaca firman Allah,

"Dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang Menyembuhkan aku." (QS. As Syuara': 80).
Lalu berkata, "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu wahai dokter, sesungguhnya Tuhan-ku akan menyembuhkanku, sedangkan Anda tidak lain hanyalah perantara."

Saya bertanya kepada dr. Muhsin, "Bagaimana pasien ini bisa masuk?" Maka beliau mengkisahkan jalan ceritanya yang memang tidak saya ketahui sebelumnya, dr. Muhsin berkata, "Ketika saya absen karena sakit kemarin, orang ini mendatangi dr. Ilmi, maka beliau memasukkannya ke dalam daftar pasien yang menjalani operasi hari ini, karena beliau mengira Anda telah menyetujui orang ini untuk masuk ke ruang operasi.

Dan pagi ini ketika saya tiba di ruang operasi saya dikejutkan oleh keberadaan pasien ini di sana, maka saya jelaskan kepada dr. Mushthafa al Sabit -ahli anestesi- bahwa Anda tidak bersedia untuk melakukan operasi atas pasien ini berdasarkan pertimbangan resikonya.

Orang ini menangis dan memohon kepada dr. Mushthafa, ia terus merengek hingga akhirnya dr. Mushthafa menyerah dan melakukan pembiusan terhadap pasien ini.

Beliau diingatkan kembali bahwa Anda -dr. Khalid penulis buku ini- tidak bersedia melakukan operasi apapun terhadap orang ini, akan tetapi dr. Mushthafa bersikeras bahwa beliau yang bertanggung jawab dan beliau akan menjelaskannya kepada Anda, begitulah kisahnya."

Seminggu kemudian pasien tersebut telah keluar dari rumah sakit dan tiga bulan kemudian kembali melakukan aktifitasnya yang telah ia tinggalkan sejak dua tahun yang lalu.

Saudara saudariku sekalian, sesungguhnya orang ini telah menyerahkan dirinya dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah, maka Allah Ta'ala memberinya kesabaran dan keyakinan akan datangnya kesembuhan, karena itu ia memaksakan diri untuk menjalani operasi dengan penuh keyakinan bahwa Allah Yang Maha Pemberi dan Maha Mulia akan menyembuhkannya, Allah Ta'ala berfirman,

"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (QS. Ath Thalaq: 2-3).

Kejadian ini merupakan bukti nyata bahwa, jika Allah Ta'ala mentakdirkan sesuatu, maka Allah Ta'ala akan memudahkan jalan untuk ke sana, memberikan sarana pendukungnya dan hal itu harus dan pasti terjadi. Allah Ta'ala berfirman,

"Sesungguh-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia." (QS. Yasin: 82).

Dalam kejadian di atas Allah Ta'ala menyingkirkan semua dokter yang menjadi penghalang terjadinya proses operasi, Mahasuci Allah.

[OBAT YANG TERLUPAKAN 2]
===========================
Salah seorang pasien wanita yang terakhir saya tangani di Maroko saat saya sedang mengikuti proyek pengobatan gratis atas dukungan yang terhormat Amir Sulthan Abdul Aziz hafizhahullah, ia dalam kondisi yang sangat kritis sebelum menjalani operasi saat itu, dengan bertawakal kepada Allah Ta'ala kami melakukan proses operasi dengan penuh susah payah.

Setelah operasi dilakukan, tekanan darahnya turun dengan drastis, tekanan maksimalnya berkisar antara empat puluh hingga lima puluh, saluran kencingnya berhenti, sehingga kondisinya menjadi sangat mengkhawatirkan, hingga kami memprediksikan bahwa harapan sembuhnya sangat kecil sekali. Setelah mengupayakan pertolongan selama kurang lebih dua jam, kondisinya tidak juga membaik bahkan semakin memburuk.

Setelah didera oleh kepenatan sekian lama, saya teringat sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam,

"Barang siapa menjenguk seorang yang sedang menderita sakit yang ajalnya belum tiba, lalu ia membaca doa 'saya memohon kepada Allah Yang Maha Besar, Penguasa Arsy Yang Agung agar Dia menyembuhkanmu' sebanyak tujuh kali kecuali pasti Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut." (HR. Abu Dawud (3/3106), Tirmidzi (4/410) (2038) dan dishahihkan oleh Al Albani (6388)).

Segera saya berdoa kepada Allah untuk kesembuhannya.

Tiba-tiba sekitar dua menit, saya melihat keadaannya mulai membaik, demikian pula tekanan darahnya mulai membaik juga, dan kencingnya berjalan dengan lancar.

Setelah dua hari berada di ruang pemulihan, ia diperbolehkan untuk keluar, dan seminggu kemudian ia pulang ke rumahnya. Bagi Allah-lah segala puji dan syukur.

[PERSONAL VIEW]
=================
Amat disayangkan, sebagian orang ketika sakit, maka yang diingat pertama kali adalah dokter. Harusnya yang diingat pertama kali adalah Allah, karena Dia-lah Yang Menyembuhkan dan dokter hanyalah perantara saja. Keyakinan ini tidak boleh terlupa dan tidak boleh dilupakan oleh kaum muslimin, karena termasuk dalam perkara tauhid. Agar ketika kita sakit, kita langsung ingat bahwa yang menyembuhkan hanyalah Allah Jalla wa 'Ala. Alangkah bagusnya perkataan penulis buku tersebut pada halaman 60:

"Ketika orang yang sakit mempunyai hubungan yang kuat dengan Tuhan yang menguasai segala penyakit beserta obatnya, maka saat itu ia telah memiliki obat yang lebih bagus dari obat-obatan apapun."

Keyakinan ini harus ada pada hati kaum muslimin, berdasarkan ayat al Qur'an:
"Dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang Menyembuhkan aku." (QS. As Syuara': 80).

Demikian semoga ringkasan ini memberi manfaat bagi kaum muslimin.

Ringkasan buku ini dibuat oleh Abu Isa Hasan Cilandak
Bulan Januari tanggal 21, 2010 Jam 11.22 WIB
Semoga Allah menjaga kedua orang tuanya

Hilyah Tholibil Ilmi


http://suaraquran.com/audio-lanjutan-kitab-hilyah-tholibil-ilmi-ust-abdullah-taslim-ma-majelis-38-40/#more-1628

AUDIO Lanjutan Kitab Hilyah Tholibil Ilmi

Ust Abdullah Taslim MA (Majelis 38-40)


 
Kajian ini adalah lanjutan dari pembahasan Kitab Hilyah Tholib al Ilmi karya Syaikh Bakr Abu Zaid-Rahimahullah. Petikan kajian rutin di Radio Suaraquran setiap hari  jumat jam 05.00 pagi Dalam rangkaian ini dibahas tentang beberapa adab dalam menuntut ilmu diantaranya pentingnya tafaqquh(memahami) agama, amanah ilmiah dalam ilmu, tawwakal dalam menuntut ilmu dan kejujuran dalam ilmu.
Berkata Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri -rahimahullah-: “Mereka dulu tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk mencari ilmu hingga mereka belajar adab dan dididik ibadah hingga 20 tahun”. (Hilyatul-Aulia Abu Nuaim 6/361)

Berkatalah Abdullah bin Mubarak -rahimahullah-: “Aku mempelajari adab 30 tahun dan belajar ilmu 20 tahun, dan mereka dulu mempelajari adab terlebih dahulu baru kemudian mempelajari ilmu”. (Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro 1/446)
Berkata Abu Zakariya Yaha bin Muhammad Al-Anbari -rahimahullah-: “Ilmu tanpa adab seperti api tanda kayu bakar sedangkan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh”. (Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80)

Silahkan Simak Dalam Kajian Berikut

Kuliah Sambil Mengaji

www.rumaysho.com

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Kegiatan kuliah terasa amat menyibukkan. Sibuk dengan berbagai tugas, harus buat presentasi, menyusun laporan praktikum dan lebih sibuk lagi jika sudah menginjak semester-semester akhir. Apakah mungkin kesibukan ini bisa dibarengi dengan menuntut ilmu agama? Jawabannya, mungkin sekali. Segala kemudahan itu datang dari Allah. Maka bisa saja seorang engineer menjadi pakar fiqih. Bisa jadi pula seorang ekonom menjadi pakar hadits. Atau seorang ahli biologi menjadi hafizh Al Qur’an. Semua itu bisa terwujud karena anugerah dan kemudahan dari Allah.
Realitas, Lebih Banyak Menyia-nyiakan Waktu
Mahasiswa sebenarnya punya banyak waktu senggang. Cuma sebagian mahasiswa saja yang benar-benar menyia-nyiakan waktunya. Tidak setiap saat ia mesti mendapatkan tugas. Tidak setiap hari mesti kerjakan laporan praktikum. Mahasiswa yang tidak pintar membagi waktu saja yang selalu “sok sibuk”.
Sebagian mahasiswa masih bisa menyisihkan waktu untuk renang dengan shohib dekatnya. Ia masih sempat juga untuk fitness meskipun di kala laporan praktikum menumpuk. Ia juga masih sempat berpetualang menjelajah berbagai gunung meskipun minggu depan ada ujian mid. Ia masih bisa begadang semalam suntuk untuk menanti pertandingan Liga Champions meskipun katanya ada banyak tugas yang mesti diselesaikan. Sebagiannya pula bisa menyisihkan waktu untuk update status setiap jam di FB (Facebook), twitter dan semacamnya. Mau tidur, mau makan, mau renang, bahkan mau ke WC sekali pun bisa ada statusnya di jejaring sosial tadi. Namun soal ngaji (istilah untuk mendalami ilmu agama) bisa menjadi nomor sekian baginya. Padahal aneh kan, hal-hal tadi bisa ia lakukan. Sedangkan berkaitan dengan urusan akhiratnya di mana ia wajib mempelajari Islam karena ibadah-ibadah tertentu akan ia lewati setiap harinya. Setiap muslim tentu mesti mengetahui bagaimanakah ia harus berwudhu yang benar sehingga shalatnya pun bisa sah. Ia pun  harus tahu apa saja yang termasuk pembatal-pembatal shalat, sehingga shalatnya tidak jadi sia-sia. Ia pun harus tahu bagaimana mandi wajib.
Lihatlah mereka bisa menyisihkan waktu untuk hal-hal dunia yang kadang sia-sia. Namun untuk hal yang menyangkut akhirat mereka, di mana tentu ini lebih urgent, mereka tidak bisa membagi waktu dengan baik. Benarlah firman Allah Ta’ala,
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7).
Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi hafizhohullah menjelaskan, “Mereka mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah saja seperti mengetahui bagaimana cara mengais rizki dari pertanian, perindustrian dan perdagangan. Di saat itu, mereka benar-benar lalai dari akhirat. Mereka sungguh lalai terhadap hal yang wajib mereka tunaikan dan harus mereka hindari, di mana penunaian ini akan mengantarkan mereka selamat dari siksa neraka dan akan menetapi surga Ar Rahman.” (Aysarut Tafasir, 4/124-125)
Beberapa Sampel
Beberapa orang bisa membuktikan bahwa mereka di samping kuliah di pagi hari, sore harinya masih bisa “ngaji” (menuntut ilmu agama). Bahkan ada di antara mahasiswa yang bisa menjadi hafizh Al Quran dengan sempurna di masa kuliahnya. Ada pula yang bisa menguasai ilmu aqidah dengan baik padahal ia seorang dokter. Setelah kuliah pun ia bisa menyusun beberapa buku berkaitan dengan masalah aqidah dari hasil ia belajar di saat-saat kuliah dulu (paginya kuliah, sorenya ia duduk di majelis ilmu). Ada pula yang amat pakar dalam bahasa Arab dan menjadi seorang ustadz yang mumpuni dalam hal aqidah serta ilmu lainnya, padahal ia adalah sarjana biologi. Yang lainnya lagi adalah seorang dosen (lulus S3), namun tidak diragukan ia sangat mumpuni dalam ilmu hadits hasil dari belajar dulu  bersama beberapa ustadz di saat-saat ia kuliah. Bahkan di Arab Saudi sendiri ada seorang ulama yang dulunya adalah seorang yang belajar ilmu Teknik Kimia. Dan saat ini, beliau menjadi imam dan ulama yang jadi rujukan. Ia pun memiliki situs yang berisi berbagai fatwa yang sering dikunjungi dari berbagai negara. Ada lagi ulama yang dahulunya belajar ilmu teknik mesin. Saat lulus ia mendalami ilmu hadits dan menjadi hafizh al quran. Karya-karya beliau dalam tulisan pun amat banyak. Dua ulama yang kami sebutkan di sini adalah Syaikh Sholeh Al Munajjid dan Syaikh Musthofa Al Adawi hafizhohumallah.
Itu sekedar beberapa contoh riil yang kami ketahui. Kami yakin masih banyak contoh-contoh lainnya yang mungkin para pembaca sendiri mengetahuinya. Ini pertanda bahwa orang yang belajar ilmu umum (ilmu teknik, ekonomi, IT, dll) sebenarnya tidak terhalang untuk belajar agama bahkan bisa menjadi ulama atau pun ustadz karena kerajinannya di luar jam kuliah untuk mengkaji Islam. Itulah karunia Allah untuk mereka-mereka tadi.
Mulai Belajar Islam
Kalau sudah tahu demikian, Anda selaku mahasiswa seharusnya tidak usah ragu lagi untuk menaruh perhatian pada ilmu diin (ilmu agama). Cobalah mulai dengan mempelajari Islam mulai dari dasar. Terutama pelajarilah hal-hal yang wajib yang jika Anda tidak mengetahuinya maka bisa terjerumus dalam dosa atau bisa meninggalkan kewajiban. Inilah ilmu yang wajib dipelajari.
Selaku mahasiswa wajib punya ilmu aqidah dan tauhid yang benar sesuai dengan pemahaman generasi terbaik Islam (salafush sholeh). Cobalah mempelajari beberapa tulisan karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab seperti Qowa’idul Arba’ (empat kaedah memahami syirik), Tsalatsatul Ushul (tiga landasan dalam mengenal Allah, Islam dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan Kitab Tauhid (pelajaran tauhid dan syirik secara lebih detail). Kitab-kitab aqidah pun ada yang mudah dipelajari seperti Al ‘Aqidah Al Wasithiyah karya Ibnu Taimiyah dan Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah karya Abu Ja’far Ath Thohawiy.
Anda pun wajib mempelajari fiqih secara bertahap terutama pelajaran bagaimana cara wudhu yang benar, bagaimana cara mandi wajib, dan bagaimana shalat yang benar serta berbagai hal yang berkaitan dengan hal-hal tadi. Amat mudah jika Anda menguasai dari fiqh madzhab sebagaimana anjuran para ulama. Karena di negeri ini menganut madzhab Syafi’i, Anda bisa belajar dari berbagai kitab fiqh Syafi’iyah. Pelajari dari matan-matan yang ringkas seperti kitab Al Ghoyah wat Taqrib karya Abu Syuja’ dan Minhajuth Tholibin karya Imam An Nawawi. Inilah kitab dasar yang bisa Anda kuasai. Setelah itu bisa melanjutkan dengan kitab fiqih yang lebih advance dengan mendalami dalil-dalil lebih jauh. Baru setelah itu bisa menelaah berbagai pendapat ulama dan perselisihan mereka dalam hal fiqih sehingga akhirnya kita tidak fanatik pada satu madzhab atau satu imam. Anda pun bisa menguasai fiqih melalui berbagai buku hadits seperti dari kitab ‘Umdatul Ahkam karya ‘Abdul Ghoni Al Maqdisi dan kitab Bulughul Marom karya Ibnu Hajar Al Asqolani. Untuk memahami kitab-kitab fiqih ini, Anda bisa memiliki berbagai kitab syarh (penjelasan) dari masing-masing kitab.
Buku-buku yang kami sebutkan di atas sudah cukup mudah ditemukan saat ini di berbagai toko buku Islam bahkan sudah banyak yang diterjemahkan. Sehingga tidak ada alasan bagi yang belum menguasai bahasa Arab untuk terus belajar. Namun jika Anda sambil menguasai bahasa Arab terutama menguasai grammar-nya dalam ilmu Nahwu dan Sharaf itu lebih baik. Karena menguasai bahasa tersebut bisa membuat Anda meneliti lebih jauh kitab-kitab ulama secara lebih mandiri.
Selain mempelajari hal-hal di atas, tambahkan pula dengan mempelajari berbagai kitab akhlaq dan tazkiyatun nufus (manajemen hati). Juga janganlah sampai tinggalkan hafalan Al Qur’an. Karena orang yang menghafal Al Qur’an sungguh memiliki banyak keutamaan dan faedah di tengah-tengah umat. Lebih-lebih di akhirat hafalan Al Qur’an ini membuat dia lebih ditinggikan derajat di surga. Lalu para ulama pun menganjurkan untuk menghafal berbagai matan atau berbagai kitab ringkas seperti menghafalkan kitab kecil yang berisi 42 hadits yaitu Al Arba’in An Nawawiyah. Menghafal seperti ini memudahkan kita menguasai ilmu Islam dengan lebih mudah.
Sabar dalam Belajar
Kalau dilihat, terasa begitu banyak yang harus dipelajari. Sebenarnya tidak juga karena mempelajari berbagai buku di atas itu bertingkat-tingkat. Ada yang lebih dasar, baru setelah itu beranjak pada yang lebih lanjut. Jadi belajar yang baik adalah secara bertahap. Sehingga di sini butuh kesabaran dalam belajar dan belajar butuh waktu yang lama. Yang terbaik pula adalah belajar di majelis ilmu lewat guru. Lihatlah sya’ir Imam Asy Syafi’i,
أَخِي لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إلَّا بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيكَ عَنْ تَفْصِيلِهَا بِبَيَانِ

ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَبُلْغَةٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُولُ زَمَانٍ
Saudaraku … ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya : (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) sungguh-sungguh, (4) berkecukupan, (5) bersahabat (belajar) dengan ustadz, (6) membutuhkan waktu yang lama.
Pintar Bagi Waktu
Modal yang penting “nyambi” belajar Islam adalah pintar membagi waktu. Cobalah membagi waktu mulai dari Shubuh hari sudah bisa menghafal Al Qur’an. Butuh satu jam untuk menyisihkan waktu kala itu. Setelah itu sediakan waktu untuk persiapan kuliah di pagi hari. Pukul 7 atau 8 sudah bisa berangkat ke kampus. Di waktu-waktu shalat atau waktu senggang saat di kampus bisa digunakan untuk muroja’ah Al Qur’an atau mengerjakan tugas-tugas kampus sehingga tidak menumpuk keesokan harinya. Pulang kampus di siang atau sore hari bisa istirahat sejenak untuk menghilangkan rasa capek. Di sore hari sehabis ‘Ashar bisa digunakan untuk mengikuti berbagai majelis ilmu sampai dengan waktu ‘Isya. Di waktu malam bisa digunakan untuk mengerjakan tugas kuliah. Sebelum tidur bisa digunakan menghafal berbagai matan, mengulang hafalan Al Qur’an atau mengulang pelajaran yang ikuti di kajian.
Jadi cuma kepintaran saja membagi waktu, niscaya kita bisa kuliah sambil “ngaji”. Dan jangan lupakan minta pertolongan Allah agar dimudahkan mempelajari agama di samping kuliah. Doa ini amat menolong. Jika kita memohon kemudahan pada Allah, pasti segala urusan tadi akan begitu mudah. Berbeda halnya jika kita bergantung pada diri sendiri yang begitu lemah.
Semoga Allah mudahkan kita selaku mahasiswa untuk dapat meraih keduanya, bahkan bisa menjadi pakar pula dalam ilmu agama dan bisa turut membantu dakwah agar tersebar seantero negeri kita ini.
Wallahu waliyyut taufiq.
Panggang-Gunung Kidul, 24 Jumadal Ula 1432 H (27/04/2011)
www.rumaysho.com

Kisahku Di India

http://muslim.or.id/jejak-islam/kisahku-di-india.html

Sudah dua bulan saya di India, tapi belum sempat juga menulis untuk Qiblati. Saya sudah sampaikan ke ustadz Agus Hasan Bashori, Lc,,M.Ag bahwa insyaAllah saya akan segera menulis. Hanya saja kesulitan beradaptasi dengan lingkungan mungkin menjadi salah satu kendala. Saya masih sibuk dengan pengenalan budaya masyarakat di sini dan kuliah. Sampai kemudian sore ini, ketika membuka email, ustadz kembali menanyakan, mana tulisan kami. Saya pun berusaha untuk segera menulis.

Berangkat Ke India

Setelah meninggalkan Indonesia, muncul perasaan sedih yang luar biasa. Saya harus meninggalkan keluarga. Kepada Allah semata kami berserah dan memohon perlindungan. Apalagi setelah tiba di Bandara Internasional New Delhi pada malam tanggal 7 Juli 2010, saya langsung merasa sangat asing dengan negeri ini. Untuk keluar dari bandara saja, membutuhkan waktu antri lebih dari 2 jam karena harus melapor ke bagian imigrasi terlebih dahulu. Antriannya begitu panjang, sayang tidak sedikit mereka yang memotong antrian saya. Tidak ada garis, tidak ada satpam atau apapun yang mengatur barisan. Hanya etika saja yang coba saya jaga.

Setelah keluar dari bandara kemacetan di sana sini dan suara klakson mobil yang saling bersahutan memekakkan telinga. Saya langsung berfikir, inikah India?. Kesan kurang baik pun muncul, Alhamdulillah akhirnya pada pukul 00.00 waktu Delhi (jam 01.30 WIB) saya diantar ke hostel oleh sopir dari perwakilan pemerintah India.

Awalnya saya membayangkan begitu nikmat akan tinggal di hostel karena sudah menempuh perjalanan panjang, Sejak jam 8.00 pagi tadi saya sudah berada di bandara Juanda, kemudian menunggu hampir 4 jam di bandara Kuala Lumpur. Waktunya untuk istirahat. Ternyata, hostel yang dimaksud adalah tempat yang tidak lebih dari barak. Di satu ruangan yang luas, saya lihat ada banyak orang yang tidur. Tempat tidurnya bertingkat seperti di pondok pesantren. Barang-barang berhamburan dan baju bergelantungan di mana-mana, bahkan di atas Air Condition (AC) sekali pun. Air pun menggenang di beberapa bagian lantai.

Saya masuk dan membiarkan penghuni sebelum saya tetap terlelap. Tapi saya berfikir keras, bagaimana caranya untuk segera meninggalkan tempat ini. Saya tidak bisa lama-lama di sini. Bersyukur keesokan paginya setelah sholat subuh saya bisa menghubungi mahasiswa Indonesia yang ada di New Delhi dan minta untuk segera dijemput.

Satu hal yang terjadi ketika waktu sholat membuat saya heran. Meskipun banyak orang, para calon-calon penuntut ilmu dari berbagai Negara tadi sholat sendiri-sendiri. Selain itu, banyak yang hanya sholat pakai singlet dan sehabis sholat juga menggerak-gerakkan tangannya. Saya tidak tahu, itu apakah bagian dari doa mereka atau apa.

Bersyukur ada 2 orang yang mau saya ajak sholat berjama’ah. Dan itulah yang membuka keakraban kami untuk saling menyapa. Saya baru tahu, ternyata kebanyakan dari mereka berasal dari Afghanistan dan Negara-negara Asia Tengah seperti Tajikistan dan Kirgiztan. Mereka adalah beberapa mahasiswa asing yang juga mendapatkan beasiswa pemerintah India tetapi belum mendapatkan tempat tinggal.

Dari pembicaraan dengan anak-anak Aghanistan saya tahu bahwa ternyata Amerika sudah sedemikian rupa mempengaruhi negara itu. Dari pembicaraannya, mereka begitu bangga dengan Amerika. Mereka bilang Amerika adalah negara yang hebat dan perlu ditiru, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bahkan dengan gurauan, salah seorang di antara mereka bertanya kepada saya. “Bagaimana dengan jenggot Anda, apa Anda juga tergabung dalam Al-Qaedah?”, ujar mereka.

Saya pura-pura tidak paham dengan Al-Qaedah sambil saya tanya, “Bukankah Al-Qaedah dan Thaliban ingin menerapkan syariat islam di Afghanistan?” Langsung saja mereka bicara panjang, yang intinya menunjukkan bagaimana lemahnya pemahaman Al-Qaedah dan Thaliban terhadap konteks kehidupan masa kini. Demokrasi ala Amerika adalah sesuatu yang harus ditiru Afghanistan dan tentu saja Negara muslim lainnya. Begitu kata mereka.

Saya bergumam dalam hati, “Ternyata orang-orang Afghanistan tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya”. Mereka ternyata tidak begitu membela islam, dan dari mahasiswa yang saya temui, tidak seorang pun yang bisa berbahasa arab walau sedikit saja. Kalau bahasa inggris jangan ditanya. Fasihnya luar biasa. Ternyata mereka belajar dari pasukan Amerika yang menyerbu negara Aghanistan tahun 2001 lalu dan masih bertahan di sana sampai sekarang.

Berkenalan dengan India

Setelah dijemput oleh seorang teman dari Indonesia yang juga kuliah di kampus yang sama, saya tinggal di kampung muslim, tidak jauh dari kampus. Beberapa kali kalau ke kampus saya jalan kaki, tapi lebih sering naik rekshaw (sejenis becak yang ditarik dengan sepeda ontel, sopirnya di depan, bukan di belakang seperti di Indonesia). Saya sengaja tinggal di sini karena dekat dengan masjid Jami’.

1. Islam di kampung muslim

Di masjid ini, awalnya saya begitu kaget. Setiap waktu sholat ribuan jama’ah berbondong-bondong menuju masjid. Orang-orang tua, meskipun mereka tidak lagi sanggup sholat sambil berdiri, mereka tetap berjama’ah lima waktu di sana. Apalagi kalau hari jumat dan bulan ramadhon, 5 lantai masjid yang besar ini penuh sesak dengan jama’ah.

Hanya saja ternyata ada beberapa perbedaan dari cara sholat di sini yang tidak umum di Indonesia. Mereka kalau tidak salah menggunakan mazhab Hanafi. Pada waktu qomat misalnya, semua dibaca dua kali seperti adzan. Setelah membaca Al Fatihah, makmum tidak menjahrkan bacaan Amin. Mereka juga tidak mengangkat tangan ketika takbir dan i’tidal.

Tapi kalau bulan ramadhan, hanya dalam waktu 26 malam, semua Al-quran dibaca khattam waktu shalat tarawih. Setiap malam, lebih dari satu juz. Shalat tarawih dilaksanakan 23 rakaat.

Adapun wanita, di sini tidak pernah ke Masjid. Mereka kebanyakan menggunakan cadar, hanya saja menurut saya tidak seperti di Indonesia. Banyak mereka yang bercadar tetapi tidak menutup hijab lebih rendah dari dadanya, bahkan ada beberapa yang bercadar tapi menggunakan celana jeans. Saya tidak tahu, mungkin mereka melakukan itu bukan karena pemahaman agama, tapi terpengaruh juga dengan alam India yang begitu berdebu di musim panas.

Udara di sini pada bulan Mei, Juni dan Juli begitu panas, suhu selalu di atas 45 derajat celcius, bahkan mencapai 50 derajat celcius. Bisa dibayangkan kalau keluar rumah, keringat selalu bercucuran. Bahkan di dalam kamar pun kipas angin harus selalu dihidupkan. Sayang, di sini listrik sering mati.

Saking panasnya, saya sempat berfikir, kok ada orang yang mau tinggal di India. Bahkan muncul keraguan untuk terus disini, sanggupkah saya menghadapi udara yang seperti ini? Belum lagi budaya masyarakat India yang begitu keras. Saya pernah melihat mereka seperti sedang bertengkar, tetapi ternyata tidak lama setelah itu mereka sama-sama tertawa.

Hanya saja, ketika saya melihat ada banyak bayi-bayi kecil, saya merasa kasihan sebenarnya, tapi muncul pertanyaan, bayi kecil saja bisa bertahan di India, kenapa saya tidak? Melihat teman-teman yang sudah bertahun-tahun di India, bahkan beberapa sudah menyelesaikan S-3 mereka, saya juga berusaha menguatkan tekat. Inilah mungkin perjuangan untuk melatih kesabaran. Bukankah azab di akhirat jauh lebih panas dari ini. Satu pelajaran yang kembali mengingatkan saya dengan arti kehidupan. Apalagi saya dikasih tahu teman, insyaAllah nanti bulan November sampai dengan Februari sudah musim dingin (terkadang sampai dibawah 3 derajat celcius)

Hampir setiap habis sholat Shubuh dan Ashar juga diadakan pengajian. Sayang, bahasa urdu yang dipakai, jadi saya tidak paham, kecuali menebak-nebak isi ceramah dari dalil Al-quran dan hadits yang disampaikan. Sempat saya berfikir, kapan di Indonesia bisa juga seperti ini.

Beberapa kali saya juga bertemu dengan orang-orang dari Yaman, Malaysia, bahkan Indonesia yang datang ke sini. Ternyata, Jama’ah Tabligh1 yang markaz-nya di Nizamuddin, tidak lebih 5 km dari tempat saya tinggal, mengirim jama’ah-jama’ahnya hampir ke semua masjid di India. Pernah saya mendengar isi ceramah dari ustadz mereka dari Yaman, dan saya tahu bahwa yang mereka sampaikan begitu sederhana. Mengajak orang shalat ke masjid, bertaqwa dan berda’wah. Hal-hal sangat umum saja tentang islam, tidak mendalam.

2. Budaya Masyarakat di kampung Muslim

Ketika bicara tentang islam di India, tidak berarti kebiasaan pemeluk agama lain lebih baik. Hanya saja ini murni sebagai pengalaman dan renungan saya tentang kondisi umat islam. Saya ingin ada koreksi bahwa seringkali sesuatu kita anggap sebagai islam, tapi ternyata sudah tercampur dengan lingkungan di sekitar kita. Ada beberapa hal yang bukan dari Al-Quran dan sunnah yang dianggap sebagai bagian dari islam.

Lebih dari 80 persen umat islam di India adalah orang yang menjadi mu’alaf dari agama Hindu, terutama mereka yang berasal dari kalangan bawah. Mereka tidak bisa bertahan dengan konsep kasta yang begitu mengikat. Hanya saja ternyata, hal itu memberikan beberapa pengaruh terhadap islam di India, misalnya:

  1. Sistem kasta tetap ada di kalangan islam meskipun sedikit lebih longgar. Misalnya, seorang muslim yang berasal dari kasta rendah, jangan pernah berharap bisa menikah dengan mereka yang berasal dari kasta yang tinggi.
  2. Budaya mereka sebagai masyarakat kelas bawah tetap melekat, misalnya dalam hal cara bicara yang keras dan kasar.

Pernah suatu hari, sepulang dari sholat maghrib saya melihat orang begitu rame berkumpul di luar masjid yang otomatis membuat jalan di sebelah masjid menjadi macet. Ada dua orang yang sedang berdebat dengan suara keras seperti orang sedang berkelahi.

Saya mendekati seorang pemuda yang menurut saya dari wajahnya seperti seorang mahasiswa. Saya langsung tanya apakah dia berbahasa inggris atau tidak. Ketika dia menjawab, ya, barulah saya tahu tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ternyata dua orang tadi, sedang berdebat tentang ajaran islam, yaitu mengenai masalah keutamaan sholat sunnah di masjid atau rumah.

Urusan lain yang menurut saya juga sangat penting adalah budaya menjaga kebersihan lingkungan. India menurut saya sama sekali tidak bersih, apalagi di musim penghujan. Sebentar saja hujan, banjir akan terjadi di mana-mana. Di sini soalnya tidak ada selokan, kecuali ada lobang di bawah jalan, itu pun lebih sering tersumbat.

Masyarakat di sini juga punya kebiasaan membuang limbah di jalan. Sehingga di mana-mana pada musim tertentu kita bisa menemukan ribuan lalat yang beterbangan. Dan mereka pun membiarkannya begitu saja. Saya awalnya kaget, setelah mencari informasi, ternyata hal itu dikarenakan meskipun mereka muslim tetapi tetap terpengaruh dengan budaya orang hindu yang tidak membolehkan membunuh binatang.

Selain masalah budaya, hal ini tentu saja dipengaruhi oleh jumlah penduduk India yang sangat banyak, sekitar 1,2 milliar. Delapan puluh persen dari penduduk India hanya berpenghasilan kurang dari $20 per hari. Sebagian besar orang islam juga termasuk kelompok menengah ke bawah. Adapun jika ada pertumbuhan ekonomi India yang pesat, itu dikuasi oleh segelintir orang yang disebut tuan tanah.

Oleh karena itu, tidak heran jika kita bisa menyaksikan sangat banyak pengemis dengan berbagai kondisi yang memperihatinkan. Ada yang tidak punya kaki, ada yang tidak punya tangan, ada yang berbadan kurus kering, dst. Terkadang, muncul perasaan kasihan terhadap mereka, tetapi mana kala saya melihat mereka tidak pernah sholat, paling tidak setiap waktu sholat mereka tetap duduk pada tempatnya menunggu belas kasihan dari orang lain, saya menjadi sedikit kehilangan simpati. Wallahu a’lam, saya takut jika hati ini menjadi tidak lagi tersentuh melihat orang-orang susah karena sudah menjadi pemandangan harian.

Selain itu, ketika saya mempertanyakan berbagai kondisi tersebut kepada seorang teman dari Kashmir, ia mengatakan bahwa pelayanan pemerintah yang tidak maksimal dan kurang adil terhadap umat islam merupakan sumber berbagai masalah tadi. Konflik Kashmir pun menurut dia, bukanlah urusan sumber daya alam yang selama ini sering diberitakan. Persoalannya, adalah bahwa 100% masyarakat Kashmir, kecuali pejabat-pejabat mereka, ingin bergabung dengan Pakistan sebagai Negara Islam. India yang merasa sakit hati atas pemisahan Pakistan 1947 dari India menjadikan ini sebagai sarana membalas sakit hatinya kepada Pakistan.

Inilah Islam India yang sebenarnya merupakan mayoritas kedua di dunia dengan jumlah tidak kurang 150 juta jiwa, tetapi mereka menjadi minoritas di negerinya sendiri.

Terus Apa yang menarik di India?

Secara sederhana menurut saya yang menarik dari India adalah masalah pendidikannya. Biaya pendidikan di India sangat murah. Untuk level S2 rata-rata hanya 700 ribu rupiah saja per-tahun untuk mahasiswa lokal dan 5 juta rupiah per tahun untuk mahasiswa asing. Bahkan di Aligarh Muslim University, 5 juta rupiah sudah termasuk semua biaya kuliah S3 sampai tamat, bisa 3 s/d 5 tahun. Tidak heran, beberapa teman yang saya kenal, ia masih berusia 24 tahun, sudah akan selesai S3 tahun ini.

Meskipun murah, kualitasnya tidak diragukan. Semua dosen yang mengajar di India minimal sudah lulus S3. Mereka begitu mudah ditemui dan berpenampilan sangat sederhana. Ada yang ke kampus pakai kopiah, ada juga yang hanya pakai sepeda ontel, padahal mereka adalah professor. Jadi di India, nilai kesederhanaan sangat terlihat.

Mahasiswa S2 sering disampaikan oleh dosen “you are just student (Anda hanya seorang siswa), alias seperti belum punya ilmu. Padahal secara teori mereka sudah sangat mumpuni. Sayang memang secara aplikasi masih kurang.

Jika ujian, selama 3 jam, mahasiswa diminta untuk mengerjakan 5 soal dari 7 soal yang diberikan sebanyak 30-an lembar. Jadi 1 jawaban soal minimal 6 halaman. Fasilitas yang ada pun juga serba terbatas, tetapi mereka benar-benar memanfaatkannya secara maksimal.

Oleh karena itu, budaya mahasiswa di sini sangat berbeda dengan kebanyakan mahasiswa di Indonesia. Kalau tidak segera pulang dan belajar di rumah, biasanya mereka akan segera ke perpustakaan. Jangankah waktu aktif kuliah, masa liburan saja, ruang baca perpustakaan tetap penuh.

Itulah India, negara yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan akan pernah mengunjunginya, apalagi untuk sekolah. Hanya saja Allah maha tahu mana tempat yang terbaik bagi saya.

Atas saran ustadz Agus untuk kuliah di kampus Islam, saya mulai merasakannya manfaatnya. Minimal ibadah sholat di masjid terjaga dan tidak kesulitan dengan masalah makanan, termasuk masalah lingkungan yang jauh dari maksiat. Wallahu a’lam bishowab

****

India, 9 September 2010

Memasuki bulan syawal 1431

Penulis: Muhammad Rusyid

Artikel Majalah Qiblati, dikirim oleh penulis kepada redaksi www.muslim.or.id

1 Mengenai kelompok Jama’ah Tabligh ada beberapa ajaran mereka yang mendasar yang jauh dari ajaran Islam. Seperti seringnya merujuk pada kitab Fadhailul A’mal yang tidak sedikit berisi hadits dha’if. Dan kebanyakan mereka pun berdakwah namun jauh dari ilmu

Penerimaan Siswa Baru

http://www.sdityaabunayya.com/

Penerimaan Siswa Baru SDIT Yaa Bunayya 
Pendaftaran Siswa Baru SDIT Yaa Bunayya
Tahun Ajaran 2011-2012
Rintisan SDIT Unggulan, “Meraih Kesempurnaan Islam Sejak Belia”
Jl. Laksda Adisucipto, Ambarukmo R-146, Yogyakarta (Sebelah TK.Imam Syafi’i)
Persyaratan:
  1. Telah mencapai usia 6 tahun pada Juli 2011
  2. Membayar uang pendaftaran sebesar Rp100.000
  3. Mengisi formulir pendaftaran (pendaftaran online klik disini)
  4. Menyerahkan
  • Fotocopy akta kelahiran 1 lembar
  • Fotocopy KTP orang tua (ayah dan ibu)/wali 1 lembar
  • Fotocopy kartu keluarga 1 lembar
  • Fotocopy ijazah TPA/TPQ/TK 1 lembar
  • Pas Photo (2×3), (3×4), (4×6) @3 lembar
Program Unggulan
A. Fullday School
  1. Pendidikan agama islam berdasarkan Al-qur’an dan As-sunnah sesuai pemahaman salafush shalih
  2. Menghafal Al-qur’an 5 juz
  3. Menghafal hadist Arba’in An-nawawi
  4. Bahasa Arab Dasar
B. Ekstrakurikuler
Outbond, Sepakbola/Futsal, Renang, Arabic Club, English Club, Baksos, Pemeriksaan Kesehatan Umum dan Gigi Secara Rutin
Pendaftaran
Gelombang I : 28 Maret-17 April 2011
Gelombang II : 20 April – 29 Mei 2011
Orientasi Siswa Baru : 26-30 Juni 2011
Awal Belajar : 2 Juli 2011


Tempat Pendaftaran
  • TK Imam Syafi’i (belakang apotik K-24 Ambarukmo), CP: 0813 2882 6611 (Ahmad Maftuh)
  • TK Zanjabila (Jl Candi Gebang No 217 Condongcatur), CP; 0852 8248 7975 (Ginanjar, S.T)
  • TK Amal Kartini (Komplek Masjid Pogung Raya Utara Fak Teknik UGM), CP: 0857 4229 9312 (Ganda W, S.Si)
Kontak Person
(0274) 9287000
0816 1383 162
Email: sdityaabunayya@gmail.com
YM: sdityaabunayya

Ma’had Jamilurrahman As-Salafy

Penerimaan Santri Baru Ma’had Jamilurrahman As-Salafy Tahun 1432 H



Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Ma'had Jamilurrahman As-Salafy yang berkedudukan di Dusun Sawo Glondong, Wirokerten, Banguntapan, Bantul menerima pendaftaran santri baru tahun ini.  Program yang ditawarkan adalah I’dad Ad-Du’at (Putra dan Putri) dan Tahfidz Al-Qur`an (Putra dan Putri) ditempuh selama 3 tahun.

Profil Ma'had Jamilurrahman As-Salafy bisa di lihat di sini.
 SYARAT PENDAFTARAN:
  1. Menyerahkan foto copi ijazah terakhir yang dilegalisasi, minimal SMP/sederajat
  2. Dapat membaca Al-Qur’an dengan lancer
  3. Menyertakan surat pernyataan dari penanggung jawab biaya
  4. Menyerahkan SKCK atau tazkiyah (rekomendasi) dari ustadz-ustadz yang dikenal oleh pihak ma’had
  5. Mendapat surat izin tertulis dari orang tua
  6. Sehat jasmani dan rohani
  7. Menandatangani surat pernyataan taat peraturan
  8. Bagi calon santri putri harus diantar oleh mahromnya dan memasukkan seluruh syarat-syarat di atas ke dalam sebuah amplop tertutup (setelah terlebih dahulu diperiksa oleh panitia pendaftaran santri putri)
  9. Bagi santri pindahan dari ma’had lain harus menyertakan surat pindah dari pesantren asal
  10. Siap ditugaskan di tempat yang ditentukan yayasan
  11. Lulus tes wawancara.

KETENTUAN PEMBIAYAAN
  1. Membayar uang pendaftaran sebesar Rp 50.000,-
  2. Membayar uang pangkal sebesar Rp 300.000,-
  3. Uang SPP per bulan Rp 250.000,- (makan 3 x).
PROGRAM GRATIS
Dibuka program bea siswa untuk program I’dad Du’at dengan ketentuan sebagai berikut:
  1. Waktu belajar 3 tahun (bebas SPP bulanan)
  2. Lolos seleksi dan tes wawancara
  3. Bisa membaca Al-Qur’an
  4. Diutamakan memiliki kemampuan Bahasa Arab dasar
  5. Sanggup menyelesaikan masa belajar selama 3 tahun dan siap ditugaskan sesuai ketentuan Yayasan.
 
PENDAFTARAN
Silahkan menghubungi :
kantor 0274-8552147 (untuk jam 07:30 sampai 11:30 kecuali hari jum'at)
Waktu pendaftaran mulai 1 mei - 14 Juli 2011
email : pondokjamil@gmail.comAlamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
 www.pondokjamil.com

Silahkan download brosur di sini

Alamat :
Pondok Pesantren Syaikh Jamilurrahman As-Salafy (Pondok Sawo)
Dusun Glondong RT 04, Desa Wirokerten, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, DIY

telp : 0274-8552147
(untuk jam 07:30 sampai 11:30 kecuali hari jum'at)
Contact Person :
Ustadz Zaid                : 0813 2739 4768
Ustadz Said                : 0813 9277 1606 (untuk Putri)
Ustadz Muslam           : 0818 0419 0266 (untuk putra)
Email : pondokjamil@yahoo.comAlamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

Petunjuk Rute:
Dari terminal Giwagan Yogya + 1 kilometer ke arah Pondok (selatan) naik ojek/ becak/ jalan kaki.



Kajian Rutin Masjid Al Hasanah- Yogyakarta

Hadirilah Kajian Rutin Masjid Al Hasanah (utara Mirota Kampus UGM) Yogyakarta

Tema 1:
“TAZKIYATUN NUFUS”
Pemateri: Ustadz Amir As Soronji, B.A.
Setiap Senin, ba’da Isya’ – 20.30 WIB (mulai 25 April 2011)

Tema 2:
“JIBRIL BERTANYA, RASULULLAH MENJAWAB”
Pemateri: Ustadz Afifi Abdul Wadud
Setiap Rabu, ba’da Isya’ – 20.30 WIB (mulai 27 April 2011)
Ikuti juga kajian rutin yang diselenggarakan di Masjid Al Hasanah lainnya.

Tema 3:
“BAHJATUN NADZIRIN”
(Kajian Hadits, Syarh Riyadhus Shalihin)
Pemateri: Ustadz Zaid Susanto, Lc.
Setiap Ahad, ba’da Maghrib – Isya’

Tema 4:
“TAISIRUL ‘ALAM”
(Kajian Fiqih, Syarh ‘Umdatul Ahkam)
Pemateri: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.A.
Setiap Selasa, ba’da Maghrib – selesai

Gratis, terbuka untuk Umum
Kajian dapat didengarkan juga di
www.radiomuslim.com

Penyelenggara:
Takmir Masjid Al Hasanah (utara Mirota Kampus UGM) Yogyakarta


Lalai untuk Belajar Islam

http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/lalai-untuk-belajar-islam.html

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Tuntunan zaman dan semakin canggihnya teknologi menuntut generasi muda untuk bisa melek akan hal itu. Sehingga orang tua pun berlomba-lomba bagaimana bisa menjadikan anaknya pintar komputer dan lancar bercuap-cuap ngomong English. Namun sayangnya karena porsi yang berlebih terhadap ilmu dunia sampai-sampai karena mesti anak belajar di tempat les sore hari, kegiatan belajar Al Qur’an pun dilalaikan. Lihatlah tidak sedikit dari generasi muda saat ini yang tidak bisa baca Qur’an, bahkan ada yang sampai buku Iqro’ pun tidak tahu.

Merenungkan Ayat

Ayat ini yang patut jadi renungan yaitu firman Allah Ta’ala,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7)

Ath Thobari rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang menerangkan mengenai maksud ayat di atas. Yang dimaksud dalam ayat itu adalah orang-orang kafir. Mereka benar-benar mengetahui berbagai seluk beluk dunia. Namun terhadap urusan agama, mereka benar-benar jahil (bodoh). (Tafsir Ath Thobari, 18/462)

Fakhruddin Ar Rozi rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas, “Ilmu mereka hanyalah terbatas pada dunia saja. Namun mereka tidak mengetahui dunia dengan sebenarnya. Mereka hanya mengetahui dunia secara lahiriyah saja yaitu mengetahui kesenangan dan permainannya yang ada. Mereka tidak mengetahui dunia secara batin, yaitu mereka tidak tahu bahaya dunia dan tidak tahu kalau dunia itu terlaknat. Mereka memang hanya mengetahui dunia secara lahir, namun tidak mengetahui kalau dunia itu akan fana.” (Mafatihul Ghoib, 12/206)

Penulis Al Jalalain rahimahumallah menafsirkan, “Mereka mengetahui yang zhohir (yang nampak saja dari kehidupan dunia), yaitu mereka mengetahui bagaimana mencari penghidupan mereka melalui perdagangan, pertanian, pembangunan, bercocok tanam, dan selain itu. Sedangkan mereka terhadap akhirat benar-benar lalai.” (Tafsir Al Jalalain, hal. 416)

Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi hafizhohullah menjelaskan ayat di atas, “Mereka mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah saja seperti mengetahui bagaimana cara mengais rizki dari pertanian, perindustrian dan perdagangan. Di saat itu, mereka benar-benar lalai dari akhirat. Mereka sungguh lalai terhadap hal yang wajib mereka tunaikan dan harus mereka hindari, di mana penunaian ini akan mengantarkan mereka selamat dari siksa neraka dan akan menetapi surga Ar Rahman.” (Aysarut Tafasir, 4/124-125)

Lalu Syaikh Abu Bakr Al Jazairi mengambil faedah dari ayat tersebut, “Kebanyakan manusia tidak mengetahui hal-hal yang akan membahagiakan mereka di akhirat. Mereka pun tidak mengetahui aqidah yang benar, syari’at yang membawa rahmat. Padahal Islam seseorang tidak akan sempurna dan tidak akan mencapai bahagia kecuali dengan mengetahui hal-hal tersebut. Kebanyakan manusia mengetahui dunia secara lahiriyah seperti mencari penghidupan dari bercocok tanam, industri dan perdagangan. Namun bagaimanakah pengetahuan mereka terhadap dunia yang batin atau tidak tampak, mereka tidak mengetahui. Sebagaimana pula mereka benar-benar lalai dari kehidupan akhirat. Mereka tidak membahas apa saja yang dapat membahagiakan dan mencelakakan mereka kelak di akhirat. Kita berlindung pada Allah dari kelalaian semacam ini yang membuat kita lupa akan negeri yang kekal abadi di mana di sana ditentukan siapakah yang bahagia dan akan sengsara.” (Aysarut Tafasir, 4/125)

Itulah gambaran dalam ayat yang awalnya menerangkan mengenai kondisi orang kafir. Namun keadaan semacam ini pun menjangkiti kaum muslimin. Mereka lebih memberi porsi besar pada ilmu dunia, sedangkan kewajiban menuntut ilmu agama menjadi yang terbelakang. Lihatlah kenyataan di sekitar kita, orang tua lebih senang anaknya pintar komputer daripada pandai membaca Iqro’ dan Al Qur’an. Sebagian anak ada yang tidak tahu wudhu dan shalat karena terlalu diberi porsi lebih pada ilmu dunia sehingga lalai akan agamanya. Sungguh keadaan yang menyedihkan.

Bahaya Jahil akan Ilmu Agama

Kalau seorang dokter salah memberi obat karena kebodohannya, maka tentu saja akan membawa bahaya bagi pasiennya. Begitu pula jika seseorang jahil atau tidak paham akan ilmu agama, tentu itu akan berdampak pada dirinya sendiri dan orang lain yang mencontoh dirinya.

Allah telah memerintahkan kepada kita untuk mengawali amalan dengan mengetahui ilmunya terlebih dahulu. Ingin melaksanakan shalat, harus dengan ilmu. Ingin puasa, harus dengan ilmu. Ingin terjun dalam dunia bisnis, harus tahu betul seluk beluk hukum dagang. Begitu pula jika ingin beraqidah yang benar harus dengan ilmu. Allah Ta’ala berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19). Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.

Sufyan bin ‘Uyainah berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah ketika menjelaskan biografi Sufyan dari jalur Ar Robi’ bin Nafi’ darinya, bahwa Sufyan membaca ayat ini, lalu mengatakan, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan ‘ilmuilah’, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?” (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 1/108)

Al Muhallab rahimahullah mengatakan, “Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang di dalamnya tidak terdapat niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan merasa telah berbuat ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena tidak didahului dengan ilmu, pen). Sesungguhnya yang dilakukan hanyalah seperti amalannya orang gila yang pena diangkat dari dirinya.“ (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 1/144)

Gara-gara tidak memiliki ilmu, jadinya seseorang akan membuat-buat ibadah tanpa tuntunan atau amalannya jadi tidak sah. Jika seseorang tidak paham shalat, lalu ia mengarang-ngarang tata cara ibadahnya, tentu ibadahnya jadi sia-sia. Begitu pula mengarang-ngarang bahwa di malam Jumat Kliwon dianjurkan baca surat Yasin, padahal nyatanya tidak ada dasar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amalan tersebut juga sia-sia belaka. Begitu pula jika seseorang berdagang tanpa mau mempelajari fiqih berdagang terlebih dahulu. Ia pun mengutangkan kepada pembeli lalu utangan tersebut diminta diganti lebih (alias ada bunga). Karena kejahilan dirinya dan malas belajar agama, ia tidak tahu kalau telah terjerumus dalam transaksi riba. Maka berilmulah terlebih dahulu sebelum beramal. Mu’adz bin Jabal berkata,

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ

Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)

Beramal tanpa ilmu membawa akibat amalan tersebut jauh dari tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, akhirnya amalan itu jadi sia-sia dan tertolak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Kerusakanlah yang ujung-ujungnya terjadi bukan maslahat yang akan dihasilkan. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” (Al Amru bil Ma’ruf, hal. 15)

Beri Porsi yang Adil

Bukan berarti kita tidak boleh mempelajari ilmu dunia. Dalam satu kondisi mempelajari ilmu dunia bisa menjadi wajib jika memang belum mencukupi orang yang capable dalam ilmu tersebut. Misalnya di suatu desa belum ada dokter padahal sangat urgent sehingga masyarakat bisa mudah berobat. Maka masih ada kewajiban bagi sebagian orang di desa tersebut untuk mempelajari ilmu kedokteran sehingga terpenuhilah kebutuhan masyarakat.

Namun yang perlu diperhatikan di sini bahwa sebagian orang tua hanya memperhatikan sisi dunia saja apalagi jika melihat anaknya memiliki kecerdasan dan kejeniusan. Orang tua lebih senang menyekolahkan anaknya sampai jenjang S2 dan S3, menjadi pakar polimer, dokter, dan bidan, namun sisi agama anaknya tidak ortu perhatikan. Mereka lebih pakar menghitung, namun bagaimanakah mengerti masalah ibadah yang akan mereka jalani sehari-hari, mereka tidak paham. Untuk mengerti bahwa menggantungkan jimat dalam rangka melariskan dagangan atau menghindarkan rumah dari bahaya, mereka tidak tahu kalau itu syirik. Inilah yang sangat disayangkan. Ada porsi wajib yang harus seorang anak tahu karena jika ia tidak mengetahuinya, ia bisa meninggalkan kewajiban atau melakukan yang haram. Inilah yang dinamakan dengan ilmu wajib yang harus dipelajari setiap muslim. Walaupun anak itu menjadi seorang dokter atau seorang insinyur, ia harus paham bagaimanakah mentauhidkan Allah, bagaimana tata cara wudhu, tata cara shalat yang mesti ia jalani dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mesti setiap anak kelak menjadi ustadz. Jika memang anak itu cerdas dan tertarik mempelajari seluk beluk fiqih Islam, sangat baik baik sekali jika ortu mengerahkan si anak ke sana. Karena mempelajari Islam juga butuh orang-orang yang ber-IQ tinggi dan cerdas sebagaimana keadaan ulama dahulu seperti Imam Asy Syafi’i sehingga tidak salah dalam mengeluarkan fatwa untuk umat. Namun jika memang si anak cenderung pada ilmu dunia, jangan sampai ia tidak diajarkan ilmu agama yang wajib ia pelajari.

Dengan paham agama inilah seseorang akan dianugerahi Allah kebaikan, terserah dia adalah dokter, engineer, pakar IT dan lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Ingatlah pula bahwa yang diwarisi oleh para Nabi bukanlah harta, namun ilmu diin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.” (HR Abu Dawud no. 3641 dan Tirmidzi no. 2682, Shahih)

Semoga tulisan ini semakin mendorong diri kita untuk tidak melalaikan ilmu agama. Begitu pula pada anak-anak kita, jangan lupa didikan ilmu agama yang wajib mereka pahami untuk bekal amalan keseharian mereka. Wallahu waiyyut taufiq. (*)

Riyadh-KSA, 14 Rabi’uts Tsani 1432 H (19/03/2011)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

Istriku, Aku mencintaimu...

http://akhwat.thaybah.or.id/nasehat/istriku-aku-mencintaimu.html

Istriku, Aku mencintaimu…

Kendati dirinya telah mengelilingi dunia, bahkan hampir tidak ada Negara baru di dalam peta, dan terlalu sering naik pesawat terbang sehingga seperti naik mobil biasa, namun istrinya belum pernah naik pesawat terbang kecuali pada malam itu. Hal ini terjadi setelah 20 tahun pernikahan mereka. Dari mana? Dan ke mana? Dari Dahran ke Riyadh. Dengan siapa? Dengan adiknya yang orang desa dan bersahaja yang merasa dirinya harus menyenangkan hati kakaknya dengan sempurna. Ia membawa wanita itu dengan mobil bututnya dari Riyadh menuju Dammam. Pada waktu pulang, wanita itu berharap kepadanya agar ia naik pesawat terbang. Wanita itu ingin naik pesawat terbang sebelum meninggal dunia. Ia ingin menaiki pesawat terbang yang selalu dinaiki Khalid, suaminya, dan yang ia lihat di langit dan di televisi.

Sang adik mengabulkan mengabulkan keinginnya dan membeli tiket untuknya. Ia menyertakan putranya sebagai mahramnya. Sementara ia pulang sendirian sambil diguncang olah perasaan dan mobilnya.

Malam itu Sarah tidak tidur, melainkan bercerita kepada suaminya, Khalid, selama satu jam tentang pesawat terbang. Ia bercerita tentang pintu masuknya, tempat duduknya, penerangannya, kemegahannya, hidangannya, dan bagaimana pesawat itu terbang di udara. Terbang !! Ia bercerita sambil tercengang. Seolah-olah ia baru datang dari planet lain. Tercengang, terkesima dan berbinar-binar. Sementara suaminya memandanginya dengan perasaan heran. Begitu selesai bercerita tentang pesawat terbang, ia langsung bercerita tentang kota Dammam dan perjalanan kesana dari awal samapai akhir. Juga tentang laut yang baru pertama kali dilihatnya sepanjang hidupnya. Dan juga tentang jalan yang panjang dan indah antara Riyadh dan Dammam saat ia berangkat. Sedangkan saat Pulang ia naik pesawat terrbang. Pesawat terbang yang tidak akan pernah ia lupakan untuk selama-lamanya.

Ia duduk berlutut seperti bocah kecil yang melihat kota-kota hiburan terbesar untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ia mulai bercerita kepada suaminya dengan mata berbinar penuh ketakjuban dan kebahagiaan. Ia melihat jalan raya, pusat perbelanjaan, manusia, batu, pasir, dan restoran. Juga bagaimana laut berombak dan berbuih bagaikan onta yang berjalan. Dan bagaimana ia meletakkan kedua tangannya di air laut dan ia pun mencicipinya. Ternyata asin… asin. Pun, ia bercerita tentang laut yang tampak hitam siang hari dan tampak biru di malam hari. “Aku melihat ikan, Khalid! Aku melihatnya dengan mata kepalaku. Aku mendekat ke pantai. Adikku menangkap seekor ikan untukku, tapi aku kasihan padanya dan kulepas lagi ke air.

Ikan itu kecil dan lemah. Aku kasihan pada ibunya dan juga padanya. Seandainya aku tidak malu, Khalid, pasti aku membangun rumah-rumahan di tepi laut itu. Aku melihat anak-anak membangun rumah-rumahan disana. Oh ya, aku lupa, Khalid! Ia langsung bangkit, lalu mengambil tasnya dan membukanya. Ia mengeluarkan sebotol parfum dan memberikannya kepada sang suami. Ia merasa seolah-olah sedang meberikan dunia. Ia berkata, “Ini hadiah untukmu dariku. Aku juga membawakanmu sandal untuk kau pakai di kamar mandi.” Air mata hamper menetes dari mata Khalid untuk pertama kali. Untuk pertama kalinya dalam hubungannya dengan Sarah dan perkawinannya dengan sang istri. Ia sudah naik sebagian besar maskapai penerbangan dunia, tapi tidak pernah sekalipun mengajak sang istri pergi bersamanya. Karena, ia mengira bahwa wanita itu bodoh dan buta huruf. Apa perlunya melihat dunia dan bepergian? Mengapa ia harus mengajaknya pergi bersama?

Ia lupa bahwa wanita itu adalah manusia. Manusia dari awal sampai akhir. Dan kemanusiaannya sekarang tengah bersinar di hadapannya dan bergejolak di dalam hatinya. Ia melihat istrinya membawakan hadiah untuknya dan tidak melupakannya. Betapa besarnya perbedaan antara uang yang ia berikan kepada istrinya saat ia berangkat bepergian atau pulang dengan hadiah yang diberikan sang istri kepadanya dalam perjalanan satu-satunya dan yatim yang dilakukan sang istri. Bagi Khalid, sandal yang diberikan sang istri setara dengan semua uang yang telah dia berikan kepadanya. Karena uang dari suami adalah kewajiban, sedangkan hadiah adalah sesuatu yang lain. Ia merasakan kesedihan tengah meremas-remas hatinya sambil melihat wanita penyabar itu. Wanita yang selalu mencuci bajunya, menyiapkan piringnya, melahirkan anak-anaknya, mendampingi hidupnya, dan tidak tidur saat dia sakit. Wanita itu soeolah-olah baru pertama kali melihat dunia. Tidak pernah terlintas dibenak wanita itu untuk mengatakan kepadanya, “Mengapa dia tidak pernah bepergian?” Karena ia adalah wanita miskin yang melihat suaminya di atas, karena pendidikannya, wawasannya, dan kedermawanannya. Tapi ternyata bagi Khalid, senua itu kini menjadi hampa, tanpa rasa dan tanpa hati. Ia merasa bahwa dirinya telah memenjara seorang wanita yang tidak berdosa selama 20 tahun yang hari-harinya berjalan monoton.

Kemudian, Khalid mengangkat tangannya ke matanya untuk menutupi air matanya yang nyaris tak tertahan. Dan dia mengucapkan satu kata kepada istrinya. Satu kata yang diucapkan untuk pertama kalinya dalam hidupnya dan tidak pernah terbayang dalam dalam benaknyabahwa ia akan mengatakannya sampai kapan pun. Ia berkata kepada istrinya, “Aku mencintaimu.” Ia mengucapakan dari lubuk hatinya.

Kedua tangan sang istri berhenti membolak-balik tas itu. Mulutnya pun berhenti bercerita. Ia merasa bahwa dirinya telah masuk ke dalam perjalanan lain yang lebih menakjubkan dan lebih nikmat dari kota Dammam, laut dan pesawat terbang. Yaitu, perjalanan cinta yang baru dimulai setelah 20 tahun menikah. Perjalanan yang dimulai dengan satu kata. Satu kata yang jujur. Ia pun menangis tersedu-sedu.

Hikmah Yang dapat diambil dari kisah di atas:

  • Sesungguhnya tabiat manusia adalah menyukai keindahan, dan sesuatu yang indah lagi menjadikan hati gembira di dunia. Bahkan sebagian mereka terlena dengan keindahan yang mereka dapatkan sehingga melupakan kebahagiaan terbesar yang disiapkan oleh Allah kelak di akhirat.
  • Islam adalah agama yang Indah, agama yang adil, menjadikan laki-laki dan wanita memiliki perannya masing-masing. Dijadikan laki-laki sebagai pemimpin bagi wanita, karena kelebihan yang diberikan oleh Allah.
  • Salah satu kewajiban suami adalah memberikan nafkah kepada istrinya, nafkah lahiriyah dan bathiniyyah. Termasuk di dalamnya adalah saling berusaha mengajak mendekatkan diri kepada Allah, bisa berupa banyak hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan menambah kecintaan, misalnya mengikuti kajian bersama, saling membangunkan diwaktu malam untuk sholat qiyamul lail, melakukan diskusi ilmiyah, dll.
  • Sungguh merupakan kebahagiaan terbesar bagi seorang laki-laki yang mendapatkan pendamping yang sholihah, demikian pula sebaliknya. Sebagaimana dijelaskan bahwa sesungguhnya dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah.
  • Kaum wanita adalah manusia biasa yang tidak sempurna, mengalami kebosanan, ketidaknyamanan. Untuk itulah wahai para suami, bahagiakanlah dia (istrimu), orang yang telah membahagiakan hidupmu, yang selalu menantikan kepulanganmu dikala engkau bepergian, yang menjaga rumahmu dikala sepi, yang memasak masakan special untukmu, yang melahirkan dan mendidik anak-anakmu menemanimu dikala sedih maupun senang, yang menjadi teman dekatmu disetiap waktu, yang menyempurnakan agamamu. Jika ia melakukan kesalahan, maka ia adalah manusia biasa, bukan seorang bidadari yang penuh dengan kesempurnaan, luruskanlah dengan lembut, bukankah ia berasal dari tulang rusuk yang paling bengkok, jika diperlakukan dengan keras pasti akan patah, dan jika dibiarkan dia akan tetap bengkok. Sesungguhnya Rasulullah –shalallahu ‘alihi wasallam-, teladan kita semua adalah orang yang paling berkasih sayang kepada semua manusia terutama kepada istri dan keluarga beliau.
  • Adalah sifat manusia, merasa kagum atau heran dengan sesuatu keindahan atau keburukan yang belum pernah ia lihat sama-sekali. Dalam cerita di atas kebahagiaan seorang wanita yang melihat keindahan dunia dengan penuh kekaguman. Bagaimana jika ditampakkan surga kepada kita kelak. Bukankah surga merupakan kenikmatan yang belum pernah mata memandang, belum pernah telinga mendengar, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia. Tentunnya kita akan lebih terkagum-kagum ketika disurga dengan tambahannya yang disediakan untuk orang-orang yang beriman dan beramal sholih. Kita memohon kepada Allah surga tertinggi. Wallahul musta’an
  • Diantara yang menyebabkan kecintaan adalah saling memberi hadiah, oleh sebab itu rosululllah pernah bersabda: “Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.”
  • Menangis merupakan salah satu bentuk ekspresi yang merupakan gambaran perasaan dan isi hati seseorang. Ibnul Qoyim membagi tangisan menjadi beberapa bagian, diantaranya sebagai berikut:
  1. Tangisan kasih sayang dan kelembutan,
  2. Tangisan karena takut,
  3. Tangisan cinta dan rindu,
  4. Tangisan kebahagiaan dan kegembiraan,
  5. Tangisan kekhawatiran karena suatu hal yang menyakitkan dan tidak adanya kekuatan untuk menanggungnya
  6. Tangisan kesedihan,
  7. Tangisan ketidakberdayaan dan kelemahan,
  8. Tangisan kemunafikan,
  9. Tangisan pinjaman dan sewaan,
  10. Tangisan kesepakatan.
  • Sesungguhnya hati ini berada di bawah kekuasaan Allah, Allah berkuasa untuk membolak-balikkan hati manusia, memberinya hidayah dengan cahaya atau menyesatkannya. Kita berdoa agar ditetapkan hati kita untuk berada di atas Agama Allah – subhanahu wa ta’alaa -.Wallahu a’lam, jika ada kesalahan, mohon disampaikan. Jika ada tambahan, mohon diutarakan.

Surabaya, 18 Oktober 2010

Abu al-Hasan al-Kadiry

-artikel akhwat.thaybah.or.id

Referensi Kisah: (Buku “Malam Pertama, Setelah itu Air mata” oleh Ahmad Salim Baduwailan)

Referensi lain: (Buku “Menangislah sebagaimana rosulullah dan para sahabat menangis” )