Masjid yang menanti Anda ...

PEMBANGUNAN MASJID & PESANTREN

Masjid dan pesantren 2010 Masjid di Jurang jero, Sadan, Kebumen, Jawa Tengah Masjid diKemalang, Klaten, Jawa Tengah Masjid di Jurug, Pan...

Langkah Kuliah Teknik di KSU Riyadh

Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Rumaysho.Com


King_Saud_University_KSUSiapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya”, inilah nasehat indah dari Imam Asy Syafi’i.

Setiap pemuda yang telah merasakan nikmatnya menimba ilmu agama, sangat ingin belajar ke jenjang lebih tinggi dengan langsung duduk di majelis para ulama. Betapa rindunya mereka untuk menginjakkan kaki di tanah Arab karena di negeri inilah gudangnya ilmu diin. Sampai pun dia adalah seorang engineer, juga pasti menginginkannya.

Untuk berbagai tips kuliah di tanah Arab (Saudi Arabia) khususnya di kota Riyadh, para pembaca bisa menempuh langkah sebagaimana yang kami jalani. Nyambi belajar engineer, saudara bisa merasakan pula duduk di majelis ilmu para ulama di sore harinya. Pagi harinya sibuk kuliah, sore harinya duduk di majelis kibar ulama. Ulama di kota Riyadh sudah ma’ruf amatlah banyak. Lihat saja, mulai dari ulama Al Lajnah Ad Daimah, seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan dan ulama yang ditunjuk dalam kumpulan ulama besar (Hay-ah Kibar Ulama) bermukim di kota Riyadh. Bahkan Anda bisa berangkat ke majelis ulama (seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan) dengan tanpa biaya, langsung dijemput oleh bus dari Sakan (asrama mahasiswa). Setiap shubuh, Anda bisa menyetorkan hafalan Al Qur’an layaknya orang yang belajar di pondok pesantren. Walaupun seorang Engineer, moga bisa juga menjadi Hafizh Al Qur’an dengan izin Allah, serta bisa memiliki ilmu agama yang mumpuni sebagai modal dakwah. Di kota Riyadh pun, Anda bisa memperoleh buku-buku agama gratis dari berbagai yayasan, bahkan sampai diberi 6 kardus seperti yang biasa diberi Al Lajnah Ad Daimah.

Sebagai motivasi, lihatlah nasehat ulama berikut tentang lezatnya menimba ilmu agama di samping kesibukan Anda sehari-hari menggeluti ilmu dunia dan aktivitas dunia.

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata,

تَعَلَّمْ الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لَكَ حَسَنَةٌ ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ ، وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ ، وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ ، وَتَعْلِيمَهُ مَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ .

“Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).”

‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata,

الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ ، الْعِلْمُ يَحْرُسُك وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ ، وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ ، وَالْعِلْمُ يَزْكُو بِالْإِنْفَاقِ

“Ilmu (agama) itu lebih baik dari harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta mesti engkau menjaganya. Harta akan berkurang ketika dinafkahkan, namun ilmu malah bertambah ketika diinfakkan.”

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

مَجْلِسُ فِقْهٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً

“Majelis ilmu lebih baik dari ibadah 60 tahun lamanya.”

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,

مَنْ لَا يُحِبُّ الْعِلْمَ لَا خَيْرَ فِيهِ

“Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya.”

Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga mengatakan,

طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ

“Menuntut ilmu itu lebih utama dari shalat sunnah.”

Dalam perkataan lainnya, Imam Asy Syafi’i berkata,

لَيْسَ بَعْدَ الْفَرَائِضِ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ

“Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib yang lebih utama dari menuntut ilmu.”

Imam Asy Syafi’i berkata pula,

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

“Siapa yang ingin dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Siapa yang ingin akherat, wajib baginya pula memiliki ilmu.” Maksudnya adalah ilmu sangat dibutuhkan untuk memperoleh dunia dan akherat.

KSU_Gedung_Pusat

Langkah-langkah untuk diterima di Jami’ah Malik Su’ud (King Saud University) cukup sederhana. Modal utama sebenarnya adalah tawakkal, banyak doa dan mengeluarkan effort yang kuat untuk bisa diterima. Masuk ke sini tanpa tes. Cukup dengan IP di atas 3.00 (untuk IP skala 4.00), lalu bermodal bahasa Inggris yang lumayan (TOEFL di atas 500) dan menguasai bahasa Arab untuk modal percakapan sehari-hari, maka itu sudah jadi modal besar Anda bisa masuk Jami’ah Malik Su’ud. Sebagai tambahan, alangkah bagusnya bisa mendapatkan tazkiyah (rekomendasi) dari dosen di jenjang S1 dahulu. Untuk submit application, silakan klik link berikut:

https://dgs.ksu.edu.sa/DGS1/Login.aspx.

Lalu setelah itu kirim copy-an persyaratan yang ada via email ke departemen yang dituju (through Chairman, Graduate Academic Chair, etc). Contohnya bagi yang tertarik masuk jurusan Teknik Kimia KSU, silakan membuka link berikut:

http://colleges.ksu.edu.sa/Engineering/faculty-research/our-faculty/department/chemical-engineering.htm

Jurusan-jurusan lainnya, silakan lihat link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Pages/default.aspx.

Persyaratan yang diajukan ke ketua jurusan atau dosen di jurusan yang dituju, ini wajib agar berkasnya bisa diurus lebih lanjut dari jurusan sampai ke tingkat universitas.

Berikut persyaratan untuk jenjang Master:

1. Application form for admission should be filled with all required data

2. ID card or passport for non-Saudis

3. The graduate certificate of last degree held by applicant

4. The academic degree transcript

5. Academic recommendations (at least two)

6. Curriculum Vitae

7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee

Untuk program PhD:

1. Application form for admission should be filled with all required data

2. ID card or passport for non-Saudis

3. The graduate certificate of last degree held by applicant

4. The academic degree transcript

5. Academic recommendations (at least two)

6. Curriculum Vitae

7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee

8. TOEFL (500 pt)

9. GRE, Analytical part, (700 pt)

Benefit yang akan Anda rasakan jika memilih kuliah di KSU:

  • Free tuition fee
  • Monthly reward
  • Individual housing allowance
  • Three times daily-subsidised meals
  • Health Insurance
  • Annual ticket round trip
  • Funded research and sophisticated equipments
  • Free international subscribed journal
  • Comprehensive library
  • High speed free internet access
  • Hajj and Umroh opportunity

Coba jika Anda kuliah di Eropa, Amerika, atau di Jepang, pernahkah merasakan benefit di atas. Kuliah sudah gratis, dapat uang saku sekitar 2,5 juta rupiah (belum lagi jika Anda diterima sebagai researcher yang dapat gaji total sekitar 5 juta rupiah). Mudah berhaji dan umroh. Makanan pun mudah dicari yang halal, bahkan mahasiswa mendapat subsidi dari kampus ketika makan di kantin. Beda jika Anda menaruh pilihan kuliah di negeri non muslim, yang kuliah kadang harus cari utangan. Untuk makan dan shalat saja sulit. Di sini pun Anda akan mendapatkan tiket liburan gratis (round way) sekali setiap tahunnya. Sekali lagi, coba bandingkan dengan kuliah di Eropa.

Riyadh_City

Kesulitan-kesulitan yang kami hadapi selama ini sebelum diterima di KSU atau ketika menjalani kuliah:

1. Birokrasi yang sering telat dan rumit. Oleh karena itu, ketika apply harus bersabar. Birokrasi makin bertambah ribet jika Anda tidak punya modal bahasa Arab sehingga sulit untuk komunikasi dengan pegawai yg rata-rata belum bisa berbahasa Inggris. Sudah kami tekankan di atas, agar tidak menyesal jika diterima di sini, kuasailah Bahasa Arab sebelum ber'azam ke tanah Arab. Tetapi tidak perlu khawatir, jika kita berkomunikasi dengan dosen atau dengan pegawai rumah sakit, atau di instansi-instansi tertentu, mereka sudah punya kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni. Yang jadi masalah adalah dengan pegawai administrasi, terutama pegawai Arab.

2. Pegawai Arab kurang bisa tepati janji, jadi kita harus terus menagih janji mereka. Seandainya ada yang ajukan apply, lalu dosen atau pegawainya katakan diterima 100%, maka jangan dulu mudah percaya. Jadi harus ditagih terus dan cross check ulang.

3. Penerimaan gaji untuk awal tahun pelajaran biasanya telat 1-2 bulan. Namun untuk 2 bulan berikut biasa sudah dirapel gaji untuk beberapa bulan sekaligus. Jadi harus punya modal uang selama beberapa bulan awal di sini, mungkin sekitar 2000 riyal (5 juta rupiah). Tetapi insya Allah, nantinya akan dapat ganti yang lebih baik.

4. Jika mengajukan apply ke dosen atau via website, kadang kurang mendapatkan respon. Oleh karena itu, ikuti saran kami:

a. Kontak dahulu mahasiswa Indonesia yang kuliah di KSU sesuai jurusan yang Anda tuju.

b. Mahasiswa tersebut yang akan hubungkan Anda dengan dosen yang berminat mencari mahasiswa.

c. Setelah itu, akan lebih mudah untuk pengurusan apply selanjutnya karena akan diberitahukan cara apply oleh dosen atau mahasiswa tadi.

Anda tertarik? Silakan hubungi kami via email. Lihat profil kami di sini. Setelah mengontak via email, kami akan memberitahu kelanjutan infonya. Juga kami akan beritahu kontak teman Indonesia yang kuliah di KSU yang bisa membantu nantinya sesuai dengan jurusan yang Anda tuju. Dan jika yang mengontak sama-sama dari jurusan Teknik Kimia, kami akan sangat membantu sekali untuk mengurus apply-nya.

Moga info ini bermanfaat dan silakan disebar pada rekan-rekan lainnya yang tertarik untuk melanjutkan S2 atau S3. Masih banyak jalan menuju tanah Arab untuk menimba ilmu agama, namun yang kami sampaikan di atas adalah salah satu dari seribu cara yang ada.

Tiga modal untuk bisa melangkahkan kaki kuliah di KSU: (1) Tawakkal, menyandarkan hati pada Allah, (2) Banyak berdo'a, jangan pernah putus asa, (3) Butuh great effort, tidak bisa hanya separuh-paruh.

Untuk melihat keadaan di kampus teknik KSU, silakan kunjungi link di sini.

Semoga Allah memberi berbagai kemudahan bagi kita dalam berilmu, beramal dan berdakwah serta diberi keistiqomahan hingga akhir hayat.

KSU, Riyadh-KSA, 16th Rajab 1432 H (18/06/2011)

www.rumaysho.com

Oh Enaknya Kalau Tahu Ilmunya (1)

http://kangaswad.wordpress.com/2011/06/08/oh-enaknya-kalau-tahu-ilmunya-1/


Bandingkanlah Fulan dan Alan. Mereka berdua shalat isya’ berjama’ah di barisan pertama dan ketika itu ada lebih dari satu shaf jama’ah shalat. Qaddarallah, mereka terpaksa buang angin di tengah-tengah shalat.
Si Fulan, ia tahu shalatnya telah batal. Namun ia bingung setengah mati harus bagaimana. Shalat baru lewat satu raka’at, apakah ia mesti keluar dari barisan atau terus ikut sampai selesai baru mengulang shalat, pikirnya. “Kalau aku keluar barisan, harus lewat di depan orang-orang shalat, seingatku itu terlarang. Tapi kalau aku lanjutkan tiga rakaat lagi, padahal aku sudah batal, boleh tidak ya?“, gumamnya dalam hati. Jelasnya hatinya resah memikirkan hal ini. “Kalau berjalan melewati barisan orang-orang yang sedang shalat, apa kata orang nanti setelah shalat, aku pasti dikira tidak sopan. Lagipula nanti orang-orang tahu kalau aku kentut, wah malu dong. Kalau begitu aku lanjut saja ah sampai selesai, toh mereka tidak tahu kalau aku sudah batal“, akhirnya ia memutuskan. Sambil melanjutkan tiga rakaat tersisa dalam keadaan berhadats, ia pun tetap resah karena masih ragu tentang apa yang ia putuskan. Jangankan mendengarkan atau menyimak bacaan imam, ia bahkan benaknya sibuk berharap imam segera menyelesaikan shalatnya agar ia bisa keluar dan mengulang shalat hingga masalahnya selesai. Peluh keringat pun bercucuran karena galaunya. Akhirnya shalat pun selesai, ia berpura-pura komat-kamit berdzikir sebentar agar orang tidak curiga, barulah setelah itu ia keluar barisan, mengambil wudhu lalu mengulangi shalat empat rakaat. Sambil shalat pun ia masih galau akan kejadian tadi sambil bergumam dalam hati “Duh, ada jangan-jangan ada yang curiga kepadaku, karena aku shalat empat rakaat setelah shalat isya’. Duh, nanti ada yang tahu kalau tadi aku kentut. Duuh..duh…“. Bagaimana bisa khusyuk kalau resah begitu.
Adapun Alan, ia tahu bahwa terlarang shalat dalam keadaan berhadats. Kebetulan, ia teringat hadits pendek:
لا يقبل الله صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ
Allah tidak menerima shalat seseorang jika ia berhadats, sampai ia berwudhu” (HR. Bukhari-Muslim)
Ia pun sadar ia harus keluar dari barisan untuk berwudhu lalu kembali ke barisan lagi melanjutkan shalat sebagai masbuq. Ia tidak ragu melewati barisan orang yang shalat karena ia tahu hal ini dibolehkan. Ia ingat ketika belajar fiqih shalat, ada hadits Bukhari-Muslim yang menceritakan bahwa sahabat Ibnu Abbas radhiallahu’ahu pernah berjalan melewati barisan makmum namun tidak ada yang mengingkarinya. Ia pun menyempurnakan wudhunya lalu kembali ke barisan sebagai makmum masbuq, lalu menyempurnakan shalatnya. Ia jalani shalatnya dengan khusyuk sampai selesai.
Memang enak ya kalau tahu ilmunya…
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar: 9)

Kisah Nyata : Perjalanan Menuntut Ilmu di Zaman Ini

Sebuah renungan agar kita semangat menuntut ilmu

Sebuah renungan agar kita bersemangat menuntut ilmu
Bismillaahirrahmaanirrahiim……..
Cerita ini saya (penulis) tulis adalah untuk memberikan ibrah kepada kita semua khususnya saya sendiri, bahwa penderitaan dan kesusahahpayahan kita dalam menempuh jalan yang haq ini tidaklah seberapa, bahkan jika kita bandingkan dengan para salafush shalih. Cerita yang saya ambil ini adalah kisah manusia di masa ini, di mana sangat langka dan sulit ditemui orang-orang yang memiliki ghirah yang sama sepertinya dalam menuntut ilmu agama. Saya menuliskan cerita ini adalah berdasarkan sebuah kisah nyata, di mana kisah tersebut saya dengar sendiri oleh salah satu sumber terpercaya yang mengetahui kisah tersebut… Wallahu a’lam. Semoga kisah ini dapat memotivasi dan menginspirasi kita untuk lebih dapat bersemangat dalam menuntut ilmu syar’i…Barakallahu fikum.
Di suatu daerah terpencil, terdapat sepasang suami istri yang sangat zuhud…. Mereka belum dikaruniai seorang putra, karena masih dikategorikan pengantin yang masih baru. Perlu diketahui, sang suami adalah seorang yang sangat rajin menuntut ilmu, ia adalah seseorang yang memiliki semangat yang sangat luar biasa untuk memperoleh ilmu. Bahkan, dahulu ketika ia ingin menikah, ia tidak mempunyai sepeser uang yang cukup untuk meminang seorang akhawat, dan akhirnya ia menghadap kepada salah seorang ustadz di ma’had yang saat itu ia belajar di sana, hanya untuk meminta nasihat bagaimana ia dapat menikah. Ia sangat sadar bahwa dirinya tak tampan dan tidak mapan dalam pekerjaan, karena hampir masa mudanya dihabiskan di ma’had. Sang ustadz pun menghargai tekadnya dan pada akhirnya membiayai pernikahan lelaki tersebut.
Sang suami di masa mudanya adalah salah seorang murid yang diakui kepandaiannya di ma’hadnya. Beberapa rekan dan ustadz memujinya dalam hal keilmuannya. Suatu hari sang suami berniat ingin mendatangi suatu daurah di luar kota. Karena ia belum memiliki pekerjaan yang tetap (masih serabutan -pen.), maka ia dan istrinya memikirkan bagaimana caranya agar sang suami dapat pergi untuk mendatangi daurah tersebut walau ekonomi mereka sangat pas-pasan. Jarak yang harus ditempuh sangatlah jauh, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sedangkan penghasilan mereka untuk makan sehari-hari saja masih belum cukup. Sang suami bukanlah seorang yang malas dalam mencari nafkah, namun qadarallah…. Allah telah menetapkan rezekinya hanya sedemikian. Walau demikian, ia tetap bersemangat dalam menjalani hidupnya.
Suatu hari, istrinya yang walhamdulillah sangat qana’ah dan juga zuhud, berinisiatif membongkar tabungan yang beberapa bulan ia kumpulkan di kotak penyimpanannya. Qaddarallah…..uang yang terkumpul hanya Rp 10.000,-. Bayangkan wahai pembaca -bahkan, mata ini ingin menangis ketika saya mengetik kisah ini- dalam sehari, kita bisa memegang uang puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan mungkin hingga ada yang mencapai nominal jutaan. Dengan keistiqamahan dan kezuhudan, sang istri tidak pernah mengeluh untuk mengumpulkan 100 perak (Rp 100,-) setiap keuntungan yang diperoleh suaminya yang tidak setiap hari ia dapatkan.
Sang istri segera mengumpulkan uang tersebut dan berinisiatif untuk membuatkan bekal arem-arem (bahasa Jawa), yaitu sejenis nasi kepal yang dibungkus daun pisang untuk bekal perjalanan suaminya. Hanya itu yang dapat sang istri berikan kepada suaminya sebagai wujud cinta dan kasih sayangnya. Sang suami pun kemudian berangkat dengan membawa bekal dan doa dari istrinya untuk menuntut ilmu. Ia pergi dengan berjalan kaki!! Yah, hanya berjalan kaki untuk menepuh jarak puluhan kilometer!!! (Wallahua’lam). Karena, ia tak membawa uang sepeserpun untuk bepergian, hanya beberapa buah arem-arem dan pakaian yang melekat di badannya yang ia bawa ke luar kota. Subhanallah…..
Perjalanan ia tempuh tiga hari tiga malam dengan kedua kakinya tanpa kendaraan satupun. Akhirnya, ia pun sampai di tempat daurah dilaksanakan, hanya dengan berjalan kaki dan berteduh di tempat seadanya selama perjalanan.
Dauroh akhirnya dimulai. Selama daurah, ia sangat antusias untuk mengambil ilmu yang diterimanya, ia mengambil shaf paling depan dan dekat dengan ustadz pemateri. Namun beberapa saat kemudian, ia mendapat teguran oleh seseorang di sampingnya, karena setiap beberapa menit ia selalu meluruskan kakinya ketika materi berlangsung. Hal itu tidak ia lakukan sekali-dua kali, namun hingga beberapa kali, hingga akhirnya orang di sampingnya pun menegurnya karena menganggapnya tidak sopan. Hal itu ia lakukan (meluruskan kaki ke depan -ed.),
karena kakinya terasa pegal (sebab -ed.) selama tiga hari tiga malam berjalan kaki. Masya Allah!
Saat istirahat pun tiba. Ia berkumpul dengan ikhwan-ikhwan lain di dapur untuk membantu berbenah. Ia pun akhirnya menceritakan kisah tiga hari tiga malamnya itu kepada salah seorang ikhwan di tempat tersebut dan seketika membuat tercengang orang-orang yang mendengarnya. Akhirnya, cerita itu sampai ke telinga ustadz pemateri daurah…Ustadz pun tercengang dengan kisah itu! Akhirnya, ustadz beserta ikhwan-ikhwan mengumpulkan dana sukarela untuk memberikan sumbangan kepadanya dan terkumpulah uang Rp 300.000,- sebagai dana bantuan
untuk kepulangannya.
Subhanallah, sebuah kisah yang mungkin sempat kita ragukan kebenarannya, tapi Insya Allah ini kisah nyata. Semoga kita dapat mengambil ibrah (pelajaran -ed.) dari kisah ini. Terakhir, mari kita simak hadits berikut ini, “Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu agama, pasti Allah membuat mudah baginya jalan menuju surga.” (H.R. Muslim).
Yahya bin Abi Katsir rahimahullahu ta’ala berkata, “Ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan (dengan santai/tidak bersungguh-sungguh).” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi I/385, no. 554)
Semoga cerita ini dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua terkhususnya saya sebagai penulis. Wallahu a’lam bishawab….

NB: Jika ada kekurangan penulisan maupun kekurangtepatan alur cerita dalam kisah ini, semua kesalahan dari penulis semata dan mohon untuk dimaklumi karena keterbatasan ingatan dan lain sebagaianya, karena kebenaran semuanya dari Allah ‘Azza wa Jalla semata.
Barakallahu fikum

(Menuntut Ilmu Dien (Syar’ie)’s blog)
Yogyakarta, 9 Juni 2011
Sumber: Sebuah kisah nyata yang dikirimkan kepada redaksi.
Artikel www.salafiyunpad.wordpress.com dengan sedikit penyuntingan bahasa oleh redaksi

"Tuhan, Jika Engkau Ada, Sembuhkan Putri Saya"

Musim dingin 1990, putri kedua Laurence Brown lahir. Tapi putrinya mengalami gangguan kesehatan yang serius, terjadi penyempitan di lengkungan pembuluh darah aortanya, sehingga peredaran darah bayinya tidak lancar. Brown menyaksikan bagaimana tubuh puteri mungilnya membiru dari bagian dada sampai ujung kaki dan harus dirawat di ruang perawatan intensif untuk bayi yang baru lahir. Sebagai seorang dokter bedah, Brown sangat paham tindakan medis apa yang akan dilakukan dokter terhadap putrinya. Tak ada jalan lain selain melakukan pembedahan darurat di bagian dada, meski tindakan medis itu tidak memberikan peluang besar bagi puterinya untuk bertahan hidup.
Ketika konsultan ahli bedah kardio-toraks yang akan menangani putrinya datang, perasaan Brown campur aduk antara sedih dan takut. "Tidak ada teman kecuali rasa takut, dan tidak tempat untuk berbagi kesedihan sementara saya menunggu hasil pemeriksaan konsultan itu. Saya lalu pergi ke ruangan tempat berdoa di rumah sakit dan duduk bersimpuh," ujar Brown menceritakan kekalutan hatinya saat itu.
Ia mengakui, itulah kali pertama dalam hidupnya ia berdoa dengan tulus dan sungguh-sungguh. "Sebagai seorang atheis, saat itulah pertama kalinya saya, dengan setengah hati, mengakui Tuhan. Saya katakan setengah hati, bahkan dalam situasi panik itu, saya tidak sepenuhnya meyakini Tuhan. Saya cuma berdoa dengan sikap skeptis. Tuhan, jika Tuhan itu memang ada, Tuhan akan menyelamatkan putri saya, saya berjanji akan mencari dan mengikuti agama yang paling menyenangkan hati-Nya," tutur Brown.
Sekitar 10 sampai 15 menit kemudian, Brown kembali ke ruang perawatan intensif putrinya dan sangat kaget mendengar penjelasan konsultan bedah yang mengatakan bahwa putrinya akan baik-baik saja. Perkataan konsultan itu terbukti, dalam waktu dua hari, kondisi bayi perempuan Brown menunjukkan kemajuan tanpa harus diberi obat-obatan dan menjalani pembedahan. Bayi perempuan Brown yang diberi nama Hannah itu selanjutnya tumbuh dengan normal seperti anak-anak lainnya.
Setelah putrinya dinyatakan sehat, sekarang giliran Brown yang harus memenuhi janjinya di depan Tuhan, saat ia berdoa memohon keselamatan Hannah. Ia mengatakan, sebagai seorang atheis, mudah bagi Brown untuk membangun kembali ketidakpercayaannya akan eksistensi Tuhan, dan menyerahkan pemulihan putrinya pada dokter dan bukan pada Tuhan. Tapi Brown tidak melakukan itu. "Dalam perjanjian itu, Tuhan sudah menunjukkan kebaikannya, dan saya merasa juga harus melakukan hal yang sama. Tuhan sudah mengabulkan doa saya," tukas Brown.
Selama beberapa tahun Brown berusaha memenuhi "perjanjian"nya dengan Tuhan. Tapi ia merasa gagal menemukan agama ingin ia peluk. Brown mempelajari Yudaisme, beragam aliran Kristen, tapi tidak pernah merasa bahwa ia telah menemukan kebenaran. "Selama beberapa waktu, saya mendatangi berbagai gereja aliran Kristen. Yang paling lama, saya ikut jamaah gereja Katolik Roma, tapi saya tidak pernah secara resmi memeluk agama itu," tutur Brown.
Ia mengaku tidak pernah bisa memilih agama Kristen karena alasan sederhana; ia tidak bisa menemukan kesesesuaian ajaran alkitab tentang Yesus dengan ajaran dari berbagai sekte Kristen lainnya. Karena tak menemukan agama yang sesuai dengan hatinya, Brown akhirnya memilih berdiam diri di rumah dan banyak membaca. Di masa-masa itulah, Brown mengenal Al-Quran dan buku biografi Nabi Muhammad Shalallohu'alaihi wassalam. yang ditulis oleh Martin Lings, berjudul "Muhammad, His Life Based on Earliest Sources".
Dari Al-Quran yang dibacanya, Brown menemukan bahwa kitab suci umat Islam itu mengajarkan bahwa Tuhan itu hanya satu, dan nabi-nabi seperti Nabi Musa dan Yesus (Nabi Isa) juga mengajarkan tentang keesaan Tuhan. Sebuah konsep berbeda yang pernah ia tahu dalam ajaran agama Yudaisme dan Kristen yang pernah dipelajarinya bertahun-tahun. Setelah membaca buku biografi Nabi Muhammad Saw. Brown juga mulai meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir.
"Tiba-tiba saja semuanya seperti masuk akal, seiring dengan keyakinan yang tumbuh itu. Kontinuitas rantai kenabian, turunnya wahyu, hanya satu Tuhan yang Mahabesar, dan lengkapnya wahyu-wahyu Allah dalam Al-Quran, tiba-tiba menimbulkan rasa yang sempurna. Inilah yang membuat saya kemudian menjadi seorang Muslim," papar Brown.
Sampai sekarang, sudah 10 tahun Laurence Brown menjadi seorang muslim. Selama itu, ia belajar satu hal, bahwa "Di luar sana banyak orang yang lebih cerdas dan pandai dibandingkan dirinya, tapi orang-orang itu tidak mampu mengetahui kebenaran Islam," ujar Brown.
"Yang terpenting bukan seberapa pintar seseorang, tapi sebuah pencerahan seperti yang ditegaskan Allah bahwa mereka yang percaya agama Allah, tetap akan tidak percaya, meski jika diberi peringatan akan dosa jika menolak keberadaan Allah. Jika demikian, Allah juga akan mengabaikan mereka dan menjauhkan mereka dari kebenaran-Nya ..."
"Karenanya, saya bersyukur pada Allah yang telah memberi petunjuk, dan saya memperkuat petunjuk itu dengan satu formula yang sederhana; mengakui adanya Tuhan, menyembah hanya Allah semata, dengan sungguh-sungguh berjanji untuk mencari dan mengikuti kebenaran ajaran-Nya, lalu menerima hidayah-Nya," tandas Brown. (ln/oi)
Sumber : 
http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/tuhan-jika-engkau-ada-sembuhkan-putri-saya.htm

Tips Membiasakan Anak Memakai Jilbab


http://toko-muslim.com/blog/tips-membiasakan-anak-memakai-jilbab.html


Berikut beberapa tips yang bisa digunakan agar balita Anda berkenan memakai jilbab dan menikmatinya:
  1. Jangan biasakan anak untuk tidak berpakaian atau berpakaian seadanya, bahkan sejak masih bayi, hanya karena alas an panas. Hal itu bisa kita siasati dengan sering mengganti pakaian atau popoknya.
  2. Pada awalnya, biasakan anak yang berusia dibawah empat bulan mengenakan topi ketika keluar Rumah, walaupun hanya berjalan-jalan di depan Rumah.
  3. Setelah ia berusia empat bulan, mulailah mencoba untuk memakaikan kerudung kecil padanya.
  4. Pilihlah kerudung yang nyaman dipakai, seperti menggunakan kerudung dari bahan kaos atau yang menyerap keringat, sehingga dapat mengurangi gatal da panas saat beraktivitas.
  5. Pilihlah kerudung dengan warna yang menarik dan motif yang indah. Pilihkan jilbab yang modelnya lucu dan pakaian dengan warna favorit anak, sehingga ia suka memakainya. Pastikan pakaian itu menutup aurat dan tidak mengurangi ruang geraknya.
  6. Sediakan kerudung dengan jumlah yan tidak terlalu sedikit, sehingga dapat memberi kesempatan kepada anak untuk memilih kerudung yang hendak dipakainya.
  7. Biasakan memakai kerudung ketika keluar rumah.
  8. Beritahu anak mana pakaian yang pantas atau cocok untuk di dalam umah, dan mana pakaian yang bisa dipakai untuk keluar Rumah. Misalnya anak boleh mengenakan pakaian tanpa lengan da tidak berjilbab apabila di dalam rumah saja.
  9. Pujilah anak ketika mengenakan kerudung agar hatinya merasa senang. Orang tua bisa memujinya dengan pujian yang sederhana, seperti, “Duh, pinternya anakku kalau pakai jilbab! Masyaallah.. ”
  10. Bila anak sudah mampu berbicara dengan baik, terangkan kepadanya tentan perintah berjilbab dan keutamaannya.
  11. Bila anak akan memasuki usia baligh, terangkanlah tentang jilbab dalam pandangan syar’i, dan ajaklah untuk menyesuaikan pakaian yang dikenakannya sesuai dengan kaidah syar’i
***
Disalin dengan sedikit pengeditan dari:
Mendidik Balita Mengenal Agama
Asadullah Al Faruq
Kiswah Media

Khaula’s Story with the Hijab – Inspirational Read !!

Khaula’s Story with the Hijab – Inspirational Read !! 
 
A View through Hijab – By Sister Khaula From Japan 10/25/1993 [57]

“A view through Hijaab” is an informative account of life in Hijaab. Written by Khaula Nakata, it is the experience of Hijaab as seen through the eyes of a Japanese woman who embraced Islam.
My Story To Islam :
As most of the Japanese, I’d followed no religion before I embraced Islam in France. I was majoring in French Literature at the university. My favorite thinkers were Sartre, Nietchze and Camas, whose thinking is atheistic. At the same time, however, I was very interested in religion, not because of my inner necessity but of my love for the truth. What was waiting for me after death did not interest me at all; how to live was my concern(58). For a long time I had a sort of impression that I was not doing what I should do and I was wasting my time. Whether God existed or not was the same to me; I just wanted to know the truth and choose my way of life-to live with God or without God.
I started to read books on different religions except Islam. I had never thought that Islam was a religion worth studying. It was for me, at that time, a sort of primitive idolatry of the simple mind (how ignorant I was!). I made friends with Christians, with whom I studied the Bible, to come to realize a few years later the existence of God. But then I had to face a dilemma because I could not “feel” God at all, in spite of my conviction that he should exist. I tried to pray in church, but in vain. I felt nothing but the absence of God.
I then studied Buddhism, hoping I would be able to feel God through Zen or Yoga. I found as many things in Buddhism that seemed to be true as I had in Christianity, yet there were many things I could not understand or accept. In my opinion, If God exists, He should be for everyone(59) and the truth should simple and clear to everyone. I could not understand why people should abandon ordinary life to devote themselves to God.
I was really at a loss for what to do to reach the end of my desperate quest for God. It was then that I met an Algerian Muslim. Born and raised in France, he didn’t even know how to pray and his life was quite far from the ideal of a Muslim; nevertheless, he had very strong faith in God. However, his belief without knowledge irritated me and made me decide to study Islam. To start with, I bought a French translation of the Qur’an, but I could not read more than two pages. It seemed so strange and boring. I gave up my effort to understand it alone and went to the mosque in Paris to ask someone to help me. It was a Sunday and there was a lecture for women. The sisters welcomed me warmly. It was my first encounter with practicing Muslim women. To my surprise, I felt myself very much at ease with them, although I’d always felt myself a stranger in the company of Christians. I started to attend the lecture every weekend and to read a book given to me by one of the Muslim women. Every minute of the lecture and every page of the book were, for me, a revelation, giving me great spiritual satisfaction I’ve never known before. I had an excited feeling that I was being initiated into the truth. What was wonderful, Subhaanallah (Praise be to Allaah), was my feeling the presence of God very close to me while in the posture of Sajdah (prostration).
__________
(57) Sister Khaula visited the Women’s Office of The Islamic Guidance Center in Buraidah, Al-Qassim, Saudi Arabia on 10/25/1993. She shared this information with other Muslim Sisters in the Office. 1 found it important to share with our Muslim brothers and sisters the Story of Khaula’s coming to Islam followed by her experience and advice concerning the Hijab.
(58) This is the concern of so many people in the World and especially in the West or in countries dominated by Western culture. People become “workaholic” to keep up with more and more of what they want to have. The secondary things of today are the necessities of tomorrow! The Medium way described by the Creator, Allah, is ignored except by the few.(Dr.S. As-Saleh)
(59) Allah is the God of everyone. This thought translates that God must be one. There is no nationalistic belonging to God! Being the God of everyone, He does not command some people to worship Him alone while at the same time makes it permissible for others to set up rivals with Him in worship. This means that His worship must be one and that it is not up to us to define this type of worship. The way of worship belongs to the One and Only One True God, Allah. This constitutes His religion and He had named this way: Islam.
Khula’s Story with the Hijab :
“Two years ago when I embraced Islam in France, the polemic around the wearing of the hijab at school was very hot. The majority of people thought it was against the principle of the public school which should keep its neutrality towards the religion. I, who was not yet Muslim then, could hardly understand why they were worried over such a tiny thing as a small scarf put on the head of Muslim students…but, apparently, French people who had faced the serious problem of the increasing non-employment rate and the insecurity in big cities became nervous over the immigration of workers from Arab countries. They felt aggrieved by the sight of the hijab in their town and in their school.

In Arab countries, on the other hand, a great wave of coming back of the hijab was being observed especially among the young generation, against the expectation, shared by some Arab people and the most of Western people, of its passing away from the scene as Westenerization took root.
The Islamic revival symbolized by the current resurgence of the hijab is often considered as an attempt of Arab Muslims to restore their pride and identity which have been repeatedly undermined by colonization and economic retardation. For Japanese people, the actual adherence of Arab people to Islam may seem a kind of conservative traditionalism or antiwesternism, which (the) Japanese knew themselves in the Meiji era at the first contact with the Western culture, and because of which they reacted against the Western life-style and the Western way of dressing. Man has always had a conservative tendency and reacts against which is new and unfamiliar without realizing whether it is good or bad for him. Some people still think the Muslim women insist on wearing hijab which is the “very symbol of the oppressed situation because they are enslaved by the tradition and are not sufficiently aware of their lamentable situation. If only, they probably think, the movement of the women’s liberation and independence awakes those women’s mind, they will take away the hijab.”
Such a naive point of view is shared by the people who have little knowledge of Islam. They, who are so accustomed to the secularism and the religious eclecticism, are simply unable to understand that the teaching of Islam is universal and eternal. Anyway, there are more and more women, beyond the Arab Nationality, all over the world embracing Islam as the true religion and covering the hair. I am but an example of these women. The hijab is surely a strange object for non-Muslim people. For them, the Hijab does not cover the woman’s hair but also hides something to which they have no access, and it’s why they feel uneasy. From the outside, effectively, they can never see what is behind the Hijab. I have kept the hijab since I became Muslim in Paris two years ago…In France, soon after my conversion, I put a scarf, matched in color to the dress, lightly on the head, which people might think a sort of fashion(60). Now in Saudi Arabia, I cover in black all my body from the top of my head till the tip of my toes including my eyes…At the time I decided to embrace Islam, I did not think seriously about whether I would be able to make the five prayers a day or put the hijab. May be I was afraid that I might find the negative answer, and that would affect my decisions to be Muslim. I had lived in a world which had nothing to do with Islam until I visited, for the first time, the Mosque of Paris. Neither the prayer nor the hijab were yet very familiar to me. I could hardly imagine myself making the prayer and wearing the hijab. But my desire to be a Muslim was too strong to worry about what was waiting for me after my conversion. Indeed, it was a miracle that I embraced Islam, Allah Akbar.
In hijab I felt myself different. I felt myself purified and protected. I felt the company of Allah. As a foreigner, I felt sometimes uneasy in a public place, stared by men. With hijab, I was not seen. I found that the hijab sheltered me from such impolite stares. I was also very happy and proud in hijab which is not only the sign of my obedience to Allah but also the manifestation of my faith…besides, the hijab helps us to recognize each other and to share the feeling of sisterhoods. The hijab has also the advantage of reminding the people around me that God exists and reminding me of being with God(61). It tells me: “be careful. You should conduct yourself as a Muslim” As a policeman becomes more conscious of his profession in his uniform, I had a stronger feeling of being Muslim with hijab.
Soon, I started to put the hijab before my going out from the house whenever I went to the Mosque. It was a spontaneous and voluntary act and no body forced me to do so. Two weeks after my conversion, I went back to Japan to attend the wedding ceremony of one of my sisters, and decided not to go back to France, Now that I became a Muslim and found that I’d been looking for, the French literature did not interest me any more. I had rather an increasing passion for learning the Arabic(62).
For me…it was a trial to live in a small town in Japan, isolated completely from Muslims, But such isolation helped me to intensify my consciousness of being a Muslim. As Islam prohibits the women to disclose the body and to wear clothes which accentuate the body line, I had to abandon many of my clothes such as mini-skirts and half-sleeve blouses. Besides, the Western style fashion does not match with the hijab. I decided, therefore, to make a dress by myself. I asked a friend of mine who knew dress-making to help me, and in two weeks I made a dress with a “pantaloon” after the model of a “Pakistani dress”. I did not mind people looking at my strange “fashion”.
Six months had past since I went back to Japan, when my desire to study the Arabic and Islam in a Muslim country grew so intense that I decided to realize it. I went to Cairo where I knew only one person.
I was at a loss to find none of my host family spoke English. To my great surprise, furthermore, the lady who took my hand to lead me into the house covered herself all in black from top to toe including the face. Such a “fashion” is now familiar to me and I adopt it for myself in Riyadh, but at that time, I was quite surprised at the sight.
I attended once in France a big conference for Muslims, and in that occasion I saw for the first time a woman in black dress with a face-cover. Her presence among the women in colorful dress and scarf was very strange and I said myself: ” there she is, a woman enslaved by the Arabic tradition without knowing the real teaching of Islam”, because I knew few things of Islam at that time and thought the covering of the face was but an ethnical tradition not founded in Islam.
The thought which came to me at the sight of a face-covered woman in Cairo was not very far from that. She’s exaggerating. Its unnatural…Her attempts to try to avoid any contact with men seemed also abnormal.
The sister in black dress told me that my self-made dress was not suitable to go out with. I was not content with her because I thought my dress satisfied the conditions of a Muslima’s dress…I bought a black cloth and made a long dress and a long veil called “Khimar” which covers the loins and the whole of the arms. I was even ready to cover the face because it seemed good “to avoid the dust”, but the sister said there was no need. I should not put the cover-face for such a reason while these sisters put it because they believed it a religious duty. Although most of sisters whom I got acquainted with covered the face, they constituted but a small minority in the whole city of Cairo, and some people apparently got shocked and embarrassed at the sight of black Khimar. Indeed the ordinary more or less westernized young Egyptians tried to keep a distance from those women in Khimar, calling them “the sisters”. The men also treated them with a certain respect and a special politeness on the street or in a bus. Those women shared a sisterhood and exchanged the salaam (the Islamic greeting) on the street even without knowing each other… Before my conversion I preferred an active pants-style to a feminine skirt, but the long dress I started to wear in Cairo got to please me very soon. It makes me feel very elegant as if I had become a princess. I feel more relaxed in long dress than in a pantaloon …
My sisters were really beautiful and bright in their Khimar, and a kind of saintliness appeared on their faces…Every Muslim devotes his life to God. I wonder why people who say nothing about the “veil” of the “Catholic Sisters” criticize the veil of the Muslima, considering it as a symbol of “terrorism” or “oppression”.
I gave a negative answer when the Egyptian sister told me to wear like this even after my return to Japan….If I show myself in such a long black dress on the street in Japan, people might think me crazy(63). Shocked by my dress, they would not like to listen to me, whatever I say. they would reject Islam because of my appearance, without trying to know its teaching(64). Thus I argued with her.
Sixth months later, however, I got accustomed to my long dress and started to think I may wear it even in Japan. So, just before my return to Japan, I made some dresses with light colors and white Khimars, thinking they would be less shocking than the black one.
The reaction of the Japanese to my white Khimar was rather good and I met no rejection or mockery at all. They seemed to be able to guess my belonging to a religion without knowing which it is. I heard a young girl behind me whispering to her friend that I was a “Buddhist nun”…
Once on a train I sat beside an elderly man who asked me why I was in such a “strange fashion”. I explained him that I was a Muslim and in Islam women are commanded to cover the body and their charm so as not to trouble men who are weak to resist this kind of temptation. He seemed very impressed by my explanation, may be because he did not welcome today’s young girls’ provocative fashion. He left the train thanking me and saying he would have liked to have more time to talk with me on Islam.
My father was sorry that I went out even on the hottest day in summer with a long sleeve and a head-cover, but I found the hijab convenient for avoiding the direct sunlight on the head and the neck… I felt rather uneasy in looking at the white thigh of my younger sister who wore short pants. I’ve often been embarrassed even before my conversion by the sight of a woman’s busts and hips traced by the shape of her tight thin clothes. I felt as if I had seen something not to be seen. If such a sight embraces me who is of the same sex, it is not difficult to imagine what effect it would give to men.
Why hide the body in its natural state?, you may ask. But think it was considered vulgar fifty years ago in Japan to swim in a swimming suit. Now we swim in a bikini without shame. If you swim, however, with a topless, people would say you are shameless, but go to a South-France’s beach, where many women, young and old, take a sun-bath in a topless. If you go to a certain beach on the west coast in America, the nudists take a sun-bath as naked as when they are born. On the other side, at the medieval times, a knight trembled at a brief sight of a shoe of his adoring lady. It shows the definition of women’s “secret part” can be changed. How you can answer to a nudist if she asks you why you hide yours busts and hips although they are as natural as your hands and face? It is the same for the hijab of a Muslima. We consider all our body except hands and face as private parts because Allah defined it like this(65). Its why we hide them from male strangers. If you keep something secret, it increases in value. Keeping woman’s body secret increases its charm. Even for the eye of the same sex, the nape of a sister’s neck is surprisingly beautiful because it is normally covered. If a man loses the feeling of shame and starts to walk naked and excrete and “make love” in the presence of other people, he would then become no different than an animal. I think the culture of men started when men knew the sense of shame.
Some Japanese wives (put their) make up only when they go out, never minding at home how they look. But in Islam a wife tries to be beautiful especially for her husband and a husband also tries to have a nice look to please his wife. They have shame even between themselves and towards each other. You may say why we are “over-sensitive” to hide the body except the face and the hands so as not to excite men’s desire, as if a man looks always at a woman with a sexual appetite.
But the problem of sexual harassment so much talked about recently shows how men are weak to resist to this kind of attraction. We could not expect prevention of sex harassment only by appealing men’s high morality and self-control…As a short skirt might be interpreted by men to say: ” if you want me, you may take me”, a hijab means clearly, “I am forbidden for you. “
Three months after coming back from Cairo, I left Japan to Saudi Arabia, and this time with my husband. I had prepared a small black cloth to cover the face with…Arriving at Riyadh, I found out that not all the women covered the face. The non- Muslim foreigners of course put only a black gown nonchalantly without covering the head, but the Muslim foreigners also uncovered the face(66). As for the Saudi women, all of them seemed to cover perfectly from top to toe. On my first going out, I put the niqab and found out (that) it (was) quite nice. Once accustomed to it, there is no inconvenience. Rather, I felt quite fine as if I became a noble and special person. I felt like the owner of a stolen masterpiece who enjoyed the secret pleasure: I have a treasure that you don’t know and which you are not allowed to see. A foreigner might see a couple of a fat man and a woman all covered in black who follows him in the street in Riyadh as a caricature of the oppressing-oppressed relationship or the possessing-possessed relationship, but the fact is that the women feel as if they were queens guarded and lead by servants.
During the first several months in Riyadh, I covered only the part beneath the eyes. But when I made a winter cloth, I made on the same occasion a thin eye-cover. My armament then became perfect and my comfort also. Even in a crowd of men, I felt no more uneasiness. I felt as if I had become transparent before the eyes of men. When I displayed the eyes, I felt sometines uneasy when my eyes met a man’s eye accidentally, especially because the Arab people have very keen eyes. The eye-cover prevents, like black sun-glasses, the visual intrusion of strangers.
Khaula further says that the Muslim woman “covers herself for her own dignity. She refuses to be possessed by the eyes of a stranger and to be his object. She feels pity for western women who display their private parts as objects f or male strangers. If one observes the hijab from outside, one will never see what is hidden in it. Observing the hijab from the outside and living it from inside are two completely different things. We see different things. This gap explains the gap of understanding Islam. From the outside, Islam looks like a ‘prison’ without any liberty. But living inside of it, we feel at peace and freedom and joy that we’ve never known before…We chose Islam against the so-called freedom and pleasure. If it is true that Islam is a religion that oppresses the women, why are there so many young women in Europe, in America, and in Japan who abandon their liberty and independence to embrace Islam? I want people to reflect on it. A person blinded because of his prejudice may not see it, but a woman with the hijab is so brightly beautiful as an angel or a saint with self-confidence, calmness, and dignity. Not a slight touch of shade nor trace of oppression is on her face. ‘They are blind and cannot see’, says the Qur’an about those who deny the sign of Allah, but by what else can we explain this gap on the understanding of Islam between us and those people.” (3/1993)

Note: Khula’s article was sent (late 1993) to the Women’s Office of the Islamic Guidance Center, Buraidah, Al- Qassim, KSA.

Source : http://abdurrahman.org/women/The_Hijab_Why.pdf  (pg 43-55) – by Dr. Saleh As-Saleh (rahimahullah)

Langkah Kuliah Teknik di KSU Riyadh

Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Rumaysho.Com


King_Saud_University_KSUSiapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya”, inilah nasehat indah dari Imam Asy Syafi’i.

Setiap pemuda yang telah merasakan nikmatnya menimba ilmu agama, sangat ingin belajar ke jenjang lebih tinggi dengan langsung duduk di majelis para ulama. Betapa rindunya mereka untuk menginjakkan kaki di tanah Arab karena di negeri inilah gudangnya ilmu diin. Sampai pun dia adalah seorang engineer, juga pasti menginginkannya.

Untuk berbagai tips kuliah di tanah Arab (Saudi Arabia) khususnya di kota Riyadh, para pembaca bisa menempuh langkah sebagaimana yang kami jalani. Nyambi belajar engineer, saudara bisa merasakan pula duduk di majelis ilmu para ulama di sore harinya. Pagi harinya sibuk kuliah, sore harinya duduk di majelis kibar ulama. Ulama di kota Riyadh sudah ma’ruf amatlah banyak. Lihat saja, mulai dari ulama Al Lajnah Ad Daimah, seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan dan ulama yang ditunjuk dalam kumpulan ulama besar (Hay-ah Kibar Ulama) bermukim di kota Riyadh. Bahkan Anda bisa berangkat ke majelis ulama (seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan) dengan tanpa biaya, langsung dijemput oleh bus dari Sakan (asrama mahasiswa). Setiap shubuh, Anda bisa menyetorkan hafalan Al Qur’an layaknya orang yang belajar di pondok pesantren. Walaupun seorang Engineer, moga bisa juga menjadi Hafizh Al Qur’an dengan izin Allah, serta bisa memiliki ilmu agama yang mumpuni sebagai modal dakwah. Di kota Riyadh pun, Anda bisa memperoleh buku-buku agama gratis dari berbagai yayasan, bahkan sampai diberi 6 kardus seperti yang biasa diberi Al Lajnah Ad Daimah.

Sebagai motivasi, lihatlah nasehat ulama berikut tentang lezatnya menimba ilmu agama di samping kesibukan Anda sehari-hari menggeluti ilmu dunia dan aktivitas dunia.

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata,

تَعَلَّمْ الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لَكَ حَسَنَةٌ ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ ، وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ ، وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ ، وَتَعْلِيمَهُ مَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ .

“Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).”

‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata,

الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ ، الْعِلْمُ يَحْرُسُك وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ ، وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ ، وَالْعِلْمُ يَزْكُو بِالْإِنْفَاقِ

“Ilmu (agama) itu lebih baik dari harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta mesti engkau menjaganya. Harta akan berkurang ketika dinafkahkan, namun ilmu malah bertambah ketika diinfakkan.”

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

مَجْلِسُ فِقْهٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً

“Majelis ilmu lebih baik dari ibadah 60 tahun lamanya.”

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,

مَنْ لَا يُحِبُّ الْعِلْمَ لَا خَيْرَ فِيهِ

“Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya.”

Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga mengatakan,

طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ

“Menuntut ilmu itu lebih utama dari shalat sunnah.”

Dalam perkataan lainnya, Imam Asy Syafi’i berkata,

لَيْسَ بَعْدَ الْفَرَائِضِ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ

“Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib yang lebih utama dari menuntut ilmu.”

Imam Asy Syafi’i berkata pula,

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

“Siapa yang ingin dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Siapa yang ingin akherat, wajib baginya pula memiliki ilmu.” Maksudnya adalah ilmu sangat dibutuhkan untuk memperoleh dunia dan akherat.

KSU_Gedung_Pusat

Langkah-langkah untuk diterima di Jami’ah Malik Su’ud (King Saud University) cukup sederhana. Modal utama sebenarnya adalah tawakkal, banyak doa dan mengeluarkan effort yang kuat untuk bisa diterima. Masuk ke sini tanpa tes. Cukup dengan IP di atas 3.00 (untuk IP skala 4.00), lalu bermodal bahasa Inggris yang lumayan (TOEFL di atas 500) dan menguasai bahasa Arab untuk modal percakapan sehari-hari, maka itu sudah jadi modal besar Anda bisa masuk Jami’ah Malik Su’ud. Sebagai tambahan, alangkah bagusnya bisa mendapatkan tazkiyah (rekomendasi) dari dosen di jenjang S1 dahulu. Untuk submit application, silakan klik link berikut:

https://dgs.ksu.edu.sa/DGS1/Login.aspx.

Lalu setelah itu kirim copy-an persyaratan yang ada via email ke departemen yang dituju (through Chairman, Graduate Academic Chair, etc). Contohnya bagi yang tertarik masuk jurusan Teknik Kimia KSU, silakan membuka link berikut:

http://colleges.ksu.edu.sa/Engineering/faculty-research/our-faculty/department/chemical-engineering.htm

Jurusan-jurusan lainnya, silakan lihat link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Pages/default.aspx.

Persyaratan yang diajukan ke ketua jurusan atau dosen di jurusan yang dituju, ini wajib agar berkasnya bisa diurus lebih lanjut dari jurusan sampai ke tingkat universitas.

Berikut persyaratan untuk jenjang Master:

1. Application form for admission should be filled with all required data

2. ID card or passport for non-Saudis

3. The graduate certificate of last degree held by applicant

4. The academic degree transcript

5. Academic recommendations (at least two)

6. Curriculum Vitae

7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee

Untuk program PhD:

1. Application form for admission should be filled with all required data

2. ID card or passport for non-Saudis

3. The graduate certificate of last degree held by applicant

4. The academic degree transcript

5. Academic recommendations (at least two)

6. Curriculum Vitae

7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee

8. TOEFL (500 pt)

9. GRE, Analytical part, (700 pt)

Benefit yang akan Anda rasakan jika memilih kuliah di KSU:

  • Free tuition fee
  • Monthly reward
  • Individual housing allowance
  • Three times daily-subsidised meals
  • Health Insurance
  • Annual ticket round trip
  • Funded research and sophisticated equipments
  • Free international subscribed journal
  • Comprehensive library
  • High speed free internet access
  • Hajj and Umroh opportunity

Coba jika Anda kuliah di Eropa, Amerika, atau di Jepang, pernahkah merasakan benefit di atas. Kuliah sudah gratis, dapat uang saku sekitar 2,5 juta rupiah (belum lagi jika Anda diterima sebagai researcher yang dapat gaji total sekitar 5 juta rupiah). Mudah berhaji dan umroh. Makanan pun mudah dicari yang halal, bahkan mahasiswa mendapat subsidi dari kampus ketika makan di kantin. Beda jika Anda menaruh pilihan kuliah di negeri non muslim, yang kuliah kadang harus cari utangan. Untuk makan dan shalat saja sulit. Di sini pun Anda akan mendapatkan tiket liburan gratis (round way) sekali setiap tahunnya. Sekali lagi, coba bandingkan dengan kuliah di Eropa.

Riyadh_City

Kesulitan-kesulitan yang kami hadapi selama ini sebelum diterima di KSU atau ketika menjalani kuliah:

1. Birokrasi yang sering telat dan rumit. Oleh karena itu, ketika apply harus bersabar. Birokrasi makin bertambah ribet jika Anda tidak punya modal bahasa Arab sehingga sulit untuk komunikasi dengan pegawai yg rata-rata belum bisa berbahasa Inggris. Sudah kami tekankan di atas, agar tidak menyesal jika diterima di sini, kuasailah Bahasa Arab sebelum ber'azam ke tanah Arab. Tetapi tidak perlu khawatir, jika kita berkomunikasi dengan dosen atau dengan pegawai rumah sakit, atau di instansi-instansi tertentu, mereka sudah punya kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni. Yang jadi masalah adalah dengan pegawai administrasi, terutama pegawai Arab.

2. Pegawai Arab kurang bisa tepati janji, jadi kita harus terus menagih janji mereka. Seandainya ada yang ajukan apply, lalu dosen atau pegawainya katakan diterima 100%, maka jangan dulu mudah percaya. Jadi harus ditagih terus dan cross check ulang.

3. Penerimaan gaji untuk awal tahun pelajaran biasanya telat 1-2 bulan. Namun untuk 2 bulan berikut biasa sudah dirapel gaji untuk beberapa bulan sekaligus. Jadi harus punya modal uang selama beberapa bulan awal di sini, mungkin sekitar 2000 riyal (5 juta rupiah). Tetapi insya Allah, nantinya akan dapat ganti yang lebih baik.

4. Jika mengajukan apply ke dosen atau via website, kadang kurang mendapatkan respon. Oleh karena itu, ikuti saran kami:

a. Kontak dahulu mahasiswa Indonesia yang kuliah di KSU sesuai jurusan yang Anda tuju.

b. Mahasiswa tersebut yang akan hubungkan Anda dengan dosen yang berminat mencari mahasiswa.

c. Setelah itu, akan lebih mudah untuk pengurusan apply selanjutnya karena akan diberitahukan cara apply oleh dosen atau mahasiswa tadi.

Anda tertarik? Silakan hubungi kami via email. Lihat profil kami di sini. Setelah mengontak via email, kami akan memberitahu kelanjutan infonya. Juga kami akan beritahu kontak teman Indonesia yang kuliah di KSU yang bisa membantu nantinya sesuai dengan jurusan yang Anda tuju. Dan jika yang mengontak sama-sama dari jurusan Teknik Kimia, kami akan sangat membantu sekali untuk mengurus apply-nya.

Moga info ini bermanfaat dan silakan disebar pada rekan-rekan lainnya yang tertarik untuk melanjutkan S2 atau S3. Masih banyak jalan menuju tanah Arab untuk menimba ilmu agama, namun yang kami sampaikan di atas adalah salah satu dari seribu cara yang ada.

Tiga modal untuk bisa melangkahkan kaki kuliah di KSU: (1) Tawakkal, menyandarkan hati pada Allah, (2) Banyak berdo'a, jangan pernah putus asa, (3) Butuh great effort, tidak bisa hanya separuh-paruh.

Untuk melihat keadaan di kampus teknik KSU, silakan kunjungi link di sini.

Semoga Allah memberi berbagai kemudahan bagi kita dalam berilmu, beramal dan berdakwah serta diberi keistiqomahan hingga akhir hayat.

KSU, Riyadh-KSA, 16th Rajab 1432 H (18/06/2011)

www.rumaysho.com

Oh Enaknya Kalau Tahu Ilmunya (1)

http://kangaswad.wordpress.com/2011/06/08/oh-enaknya-kalau-tahu-ilmunya-1/


Bandingkanlah Fulan dan Alan. Mereka berdua shalat isya’ berjama’ah di barisan pertama dan ketika itu ada lebih dari satu shaf jama’ah shalat. Qaddarallah, mereka terpaksa buang angin di tengah-tengah shalat.
Si Fulan, ia tahu shalatnya telah batal. Namun ia bingung setengah mati harus bagaimana. Shalat baru lewat satu raka’at, apakah ia mesti keluar dari barisan atau terus ikut sampai selesai baru mengulang shalat, pikirnya. “Kalau aku keluar barisan, harus lewat di depan orang-orang shalat, seingatku itu terlarang. Tapi kalau aku lanjutkan tiga rakaat lagi, padahal aku sudah batal, boleh tidak ya?“, gumamnya dalam hati. Jelasnya hatinya resah memikirkan hal ini. “Kalau berjalan melewati barisan orang-orang yang sedang shalat, apa kata orang nanti setelah shalat, aku pasti dikira tidak sopan. Lagipula nanti orang-orang tahu kalau aku kentut, wah malu dong. Kalau begitu aku lanjut saja ah sampai selesai, toh mereka tidak tahu kalau aku sudah batal“, akhirnya ia memutuskan. Sambil melanjutkan tiga rakaat tersisa dalam keadaan berhadats, ia pun tetap resah karena masih ragu tentang apa yang ia putuskan. Jangankan mendengarkan atau menyimak bacaan imam, ia bahkan benaknya sibuk berharap imam segera menyelesaikan shalatnya agar ia bisa keluar dan mengulang shalat hingga masalahnya selesai. Peluh keringat pun bercucuran karena galaunya. Akhirnya shalat pun selesai, ia berpura-pura komat-kamit berdzikir sebentar agar orang tidak curiga, barulah setelah itu ia keluar barisan, mengambil wudhu lalu mengulangi shalat empat rakaat. Sambil shalat pun ia masih galau akan kejadian tadi sambil bergumam dalam hati “Duh, ada jangan-jangan ada yang curiga kepadaku, karena aku shalat empat rakaat setelah shalat isya’. Duh, nanti ada yang tahu kalau tadi aku kentut. Duuh..duh…“. Bagaimana bisa khusyuk kalau resah begitu.
Adapun Alan, ia tahu bahwa terlarang shalat dalam keadaan berhadats. Kebetulan, ia teringat hadits pendek:
لا يقبل الله صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ
Allah tidak menerima shalat seseorang jika ia berhadats, sampai ia berwudhu” (HR. Bukhari-Muslim)
Ia pun sadar ia harus keluar dari barisan untuk berwudhu lalu kembali ke barisan lagi melanjutkan shalat sebagai masbuq. Ia tidak ragu melewati barisan orang yang shalat karena ia tahu hal ini dibolehkan. Ia ingat ketika belajar fiqih shalat, ada hadits Bukhari-Muslim yang menceritakan bahwa sahabat Ibnu Abbas radhiallahu’ahu pernah berjalan melewati barisan makmum namun tidak ada yang mengingkarinya. Ia pun menyempurnakan wudhunya lalu kembali ke barisan sebagai makmum masbuq, lalu menyempurnakan shalatnya. Ia jalani shalatnya dengan khusyuk sampai selesai.
Memang enak ya kalau tahu ilmunya…
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar: 9)

Kisah Nyata : Perjalanan Menuntut Ilmu di Zaman Ini

Sebuah renungan agar kita semangat menuntut ilmu

Sebuah renungan agar kita bersemangat menuntut ilmu
Bismillaahirrahmaanirrahiim……..
Cerita ini saya (penulis) tulis adalah untuk memberikan ibrah kepada kita semua khususnya saya sendiri, bahwa penderitaan dan kesusahahpayahan kita dalam menempuh jalan yang haq ini tidaklah seberapa, bahkan jika kita bandingkan dengan para salafush shalih. Cerita yang saya ambil ini adalah kisah manusia di masa ini, di mana sangat langka dan sulit ditemui orang-orang yang memiliki ghirah yang sama sepertinya dalam menuntut ilmu agama. Saya menuliskan cerita ini adalah berdasarkan sebuah kisah nyata, di mana kisah tersebut saya dengar sendiri oleh salah satu sumber terpercaya yang mengetahui kisah tersebut… Wallahu a’lam. Semoga kisah ini dapat memotivasi dan menginspirasi kita untuk lebih dapat bersemangat dalam menuntut ilmu syar’i…Barakallahu fikum.
Di suatu daerah terpencil, terdapat sepasang suami istri yang sangat zuhud…. Mereka belum dikaruniai seorang putra, karena masih dikategorikan pengantin yang masih baru. Perlu diketahui, sang suami adalah seorang yang sangat rajin menuntut ilmu, ia adalah seseorang yang memiliki semangat yang sangat luar biasa untuk memperoleh ilmu. Bahkan, dahulu ketika ia ingin menikah, ia tidak mempunyai sepeser uang yang cukup untuk meminang seorang akhawat, dan akhirnya ia menghadap kepada salah seorang ustadz di ma’had yang saat itu ia belajar di sana, hanya untuk meminta nasihat bagaimana ia dapat menikah. Ia sangat sadar bahwa dirinya tak tampan dan tidak mapan dalam pekerjaan, karena hampir masa mudanya dihabiskan di ma’had. Sang ustadz pun menghargai tekadnya dan pada akhirnya membiayai pernikahan lelaki tersebut.
Sang suami di masa mudanya adalah salah seorang murid yang diakui kepandaiannya di ma’hadnya. Beberapa rekan dan ustadz memujinya dalam hal keilmuannya. Suatu hari sang suami berniat ingin mendatangi suatu daurah di luar kota. Karena ia belum memiliki pekerjaan yang tetap (masih serabutan -pen.), maka ia dan istrinya memikirkan bagaimana caranya agar sang suami dapat pergi untuk mendatangi daurah tersebut walau ekonomi mereka sangat pas-pasan. Jarak yang harus ditempuh sangatlah jauh, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sedangkan penghasilan mereka untuk makan sehari-hari saja masih belum cukup. Sang suami bukanlah seorang yang malas dalam mencari nafkah, namun qadarallah…. Allah telah menetapkan rezekinya hanya sedemikian. Walau demikian, ia tetap bersemangat dalam menjalani hidupnya.
Suatu hari, istrinya yang walhamdulillah sangat qana’ah dan juga zuhud, berinisiatif membongkar tabungan yang beberapa bulan ia kumpulkan di kotak penyimpanannya. Qaddarallah…..uang yang terkumpul hanya Rp 10.000,-. Bayangkan wahai pembaca -bahkan, mata ini ingin menangis ketika saya mengetik kisah ini- dalam sehari, kita bisa memegang uang puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan mungkin hingga ada yang mencapai nominal jutaan. Dengan keistiqamahan dan kezuhudan, sang istri tidak pernah mengeluh untuk mengumpulkan 100 perak (Rp 100,-) setiap keuntungan yang diperoleh suaminya yang tidak setiap hari ia dapatkan.
Sang istri segera mengumpulkan uang tersebut dan berinisiatif untuk membuatkan bekal arem-arem (bahasa Jawa), yaitu sejenis nasi kepal yang dibungkus daun pisang untuk bekal perjalanan suaminya. Hanya itu yang dapat sang istri berikan kepada suaminya sebagai wujud cinta dan kasih sayangnya. Sang suami pun kemudian berangkat dengan membawa bekal dan doa dari istrinya untuk menuntut ilmu. Ia pergi dengan berjalan kaki!! Yah, hanya berjalan kaki untuk menepuh jarak puluhan kilometer!!! (Wallahua’lam). Karena, ia tak membawa uang sepeserpun untuk bepergian, hanya beberapa buah arem-arem dan pakaian yang melekat di badannya yang ia bawa ke luar kota. Subhanallah…..
Perjalanan ia tempuh tiga hari tiga malam dengan kedua kakinya tanpa kendaraan satupun. Akhirnya, ia pun sampai di tempat daurah dilaksanakan, hanya dengan berjalan kaki dan berteduh di tempat seadanya selama perjalanan.
Dauroh akhirnya dimulai. Selama daurah, ia sangat antusias untuk mengambil ilmu yang diterimanya, ia mengambil shaf paling depan dan dekat dengan ustadz pemateri. Namun beberapa saat kemudian, ia mendapat teguran oleh seseorang di sampingnya, karena setiap beberapa menit ia selalu meluruskan kakinya ketika materi berlangsung. Hal itu tidak ia lakukan sekali-dua kali, namun hingga beberapa kali, hingga akhirnya orang di sampingnya pun menegurnya karena menganggapnya tidak sopan. Hal itu ia lakukan (meluruskan kaki ke depan -ed.),
karena kakinya terasa pegal (sebab -ed.) selama tiga hari tiga malam berjalan kaki. Masya Allah!
Saat istirahat pun tiba. Ia berkumpul dengan ikhwan-ikhwan lain di dapur untuk membantu berbenah. Ia pun akhirnya menceritakan kisah tiga hari tiga malamnya itu kepada salah seorang ikhwan di tempat tersebut dan seketika membuat tercengang orang-orang yang mendengarnya. Akhirnya, cerita itu sampai ke telinga ustadz pemateri daurah…Ustadz pun tercengang dengan kisah itu! Akhirnya, ustadz beserta ikhwan-ikhwan mengumpulkan dana sukarela untuk memberikan sumbangan kepadanya dan terkumpulah uang Rp 300.000,- sebagai dana bantuan
untuk kepulangannya.
Subhanallah, sebuah kisah yang mungkin sempat kita ragukan kebenarannya, tapi Insya Allah ini kisah nyata. Semoga kita dapat mengambil ibrah (pelajaran -ed.) dari kisah ini. Terakhir, mari kita simak hadits berikut ini, “Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu agama, pasti Allah membuat mudah baginya jalan menuju surga.” (H.R. Muslim).
Yahya bin Abi Katsir rahimahullahu ta’ala berkata, “Ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan (dengan santai/tidak bersungguh-sungguh).” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi I/385, no. 554)
Semoga cerita ini dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua terkhususnya saya sebagai penulis. Wallahu a’lam bishawab….

NB: Jika ada kekurangan penulisan maupun kekurangtepatan alur cerita dalam kisah ini, semua kesalahan dari penulis semata dan mohon untuk dimaklumi karena keterbatasan ingatan dan lain sebagaianya, karena kebenaran semuanya dari Allah ‘Azza wa Jalla semata.
Barakallahu fikum

(Menuntut Ilmu Dien (Syar’ie)’s blog)
Yogyakarta, 9 Juni 2011
Sumber: Sebuah kisah nyata yang dikirimkan kepada redaksi.
Artikel www.salafiyunpad.wordpress.com dengan sedikit penyuntingan bahasa oleh redaksi

"Tuhan, Jika Engkau Ada, Sembuhkan Putri Saya"

Musim dingin 1990, putri kedua Laurence Brown lahir. Tapi putrinya mengalami gangguan kesehatan yang serius, terjadi penyempitan di lengkungan pembuluh darah aortanya, sehingga peredaran darah bayinya tidak lancar. Brown menyaksikan bagaimana tubuh puteri mungilnya membiru dari bagian dada sampai ujung kaki dan harus dirawat di ruang perawatan intensif untuk bayi yang baru lahir. Sebagai seorang dokter bedah, Brown sangat paham tindakan medis apa yang akan dilakukan dokter terhadap putrinya. Tak ada jalan lain selain melakukan pembedahan darurat di bagian dada, meski tindakan medis itu tidak memberikan peluang besar bagi puterinya untuk bertahan hidup.
Ketika konsultan ahli bedah kardio-toraks yang akan menangani putrinya datang, perasaan Brown campur aduk antara sedih dan takut. "Tidak ada teman kecuali rasa takut, dan tidak tempat untuk berbagi kesedihan sementara saya menunggu hasil pemeriksaan konsultan itu. Saya lalu pergi ke ruangan tempat berdoa di rumah sakit dan duduk bersimpuh," ujar Brown menceritakan kekalutan hatinya saat itu.
Ia mengakui, itulah kali pertama dalam hidupnya ia berdoa dengan tulus dan sungguh-sungguh. "Sebagai seorang atheis, saat itulah pertama kalinya saya, dengan setengah hati, mengakui Tuhan. Saya katakan setengah hati, bahkan dalam situasi panik itu, saya tidak sepenuhnya meyakini Tuhan. Saya cuma berdoa dengan sikap skeptis. Tuhan, jika Tuhan itu memang ada, Tuhan akan menyelamatkan putri saya, saya berjanji akan mencari dan mengikuti agama yang paling menyenangkan hati-Nya," tutur Brown.
Sekitar 10 sampai 15 menit kemudian, Brown kembali ke ruang perawatan intensif putrinya dan sangat kaget mendengar penjelasan konsultan bedah yang mengatakan bahwa putrinya akan baik-baik saja. Perkataan konsultan itu terbukti, dalam waktu dua hari, kondisi bayi perempuan Brown menunjukkan kemajuan tanpa harus diberi obat-obatan dan menjalani pembedahan. Bayi perempuan Brown yang diberi nama Hannah itu selanjutnya tumbuh dengan normal seperti anak-anak lainnya.
Setelah putrinya dinyatakan sehat, sekarang giliran Brown yang harus memenuhi janjinya di depan Tuhan, saat ia berdoa memohon keselamatan Hannah. Ia mengatakan, sebagai seorang atheis, mudah bagi Brown untuk membangun kembali ketidakpercayaannya akan eksistensi Tuhan, dan menyerahkan pemulihan putrinya pada dokter dan bukan pada Tuhan. Tapi Brown tidak melakukan itu. "Dalam perjanjian itu, Tuhan sudah menunjukkan kebaikannya, dan saya merasa juga harus melakukan hal yang sama. Tuhan sudah mengabulkan doa saya," tukas Brown.
Selama beberapa tahun Brown berusaha memenuhi "perjanjian"nya dengan Tuhan. Tapi ia merasa gagal menemukan agama ingin ia peluk. Brown mempelajari Yudaisme, beragam aliran Kristen, tapi tidak pernah merasa bahwa ia telah menemukan kebenaran. "Selama beberapa waktu, saya mendatangi berbagai gereja aliran Kristen. Yang paling lama, saya ikut jamaah gereja Katolik Roma, tapi saya tidak pernah secara resmi memeluk agama itu," tutur Brown.
Ia mengaku tidak pernah bisa memilih agama Kristen karena alasan sederhana; ia tidak bisa menemukan kesesesuaian ajaran alkitab tentang Yesus dengan ajaran dari berbagai sekte Kristen lainnya. Karena tak menemukan agama yang sesuai dengan hatinya, Brown akhirnya memilih berdiam diri di rumah dan banyak membaca. Di masa-masa itulah, Brown mengenal Al-Quran dan buku biografi Nabi Muhammad Shalallohu'alaihi wassalam. yang ditulis oleh Martin Lings, berjudul "Muhammad, His Life Based on Earliest Sources".
Dari Al-Quran yang dibacanya, Brown menemukan bahwa kitab suci umat Islam itu mengajarkan bahwa Tuhan itu hanya satu, dan nabi-nabi seperti Nabi Musa dan Yesus (Nabi Isa) juga mengajarkan tentang keesaan Tuhan. Sebuah konsep berbeda yang pernah ia tahu dalam ajaran agama Yudaisme dan Kristen yang pernah dipelajarinya bertahun-tahun. Setelah membaca buku biografi Nabi Muhammad Saw. Brown juga mulai meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir.
"Tiba-tiba saja semuanya seperti masuk akal, seiring dengan keyakinan yang tumbuh itu. Kontinuitas rantai kenabian, turunnya wahyu, hanya satu Tuhan yang Mahabesar, dan lengkapnya wahyu-wahyu Allah dalam Al-Quran, tiba-tiba menimbulkan rasa yang sempurna. Inilah yang membuat saya kemudian menjadi seorang Muslim," papar Brown.
Sampai sekarang, sudah 10 tahun Laurence Brown menjadi seorang muslim. Selama itu, ia belajar satu hal, bahwa "Di luar sana banyak orang yang lebih cerdas dan pandai dibandingkan dirinya, tapi orang-orang itu tidak mampu mengetahui kebenaran Islam," ujar Brown.
"Yang terpenting bukan seberapa pintar seseorang, tapi sebuah pencerahan seperti yang ditegaskan Allah bahwa mereka yang percaya agama Allah, tetap akan tidak percaya, meski jika diberi peringatan akan dosa jika menolak keberadaan Allah. Jika demikian, Allah juga akan mengabaikan mereka dan menjauhkan mereka dari kebenaran-Nya ..."
"Karenanya, saya bersyukur pada Allah yang telah memberi petunjuk, dan saya memperkuat petunjuk itu dengan satu formula yang sederhana; mengakui adanya Tuhan, menyembah hanya Allah semata, dengan sungguh-sungguh berjanji untuk mencari dan mengikuti kebenaran ajaran-Nya, lalu menerima hidayah-Nya," tandas Brown. (ln/oi)
Sumber : 
http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/tuhan-jika-engkau-ada-sembuhkan-putri-saya.htm

Tips Membiasakan Anak Memakai Jilbab


http://toko-muslim.com/blog/tips-membiasakan-anak-memakai-jilbab.html


Berikut beberapa tips yang bisa digunakan agar balita Anda berkenan memakai jilbab dan menikmatinya:
  1. Jangan biasakan anak untuk tidak berpakaian atau berpakaian seadanya, bahkan sejak masih bayi, hanya karena alas an panas. Hal itu bisa kita siasati dengan sering mengganti pakaian atau popoknya.
  2. Pada awalnya, biasakan anak yang berusia dibawah empat bulan mengenakan topi ketika keluar Rumah, walaupun hanya berjalan-jalan di depan Rumah.
  3. Setelah ia berusia empat bulan, mulailah mencoba untuk memakaikan kerudung kecil padanya.
  4. Pilihlah kerudung yang nyaman dipakai, seperti menggunakan kerudung dari bahan kaos atau yang menyerap keringat, sehingga dapat mengurangi gatal da panas saat beraktivitas.
  5. Pilihlah kerudung dengan warna yang menarik dan motif yang indah. Pilihkan jilbab yang modelnya lucu dan pakaian dengan warna favorit anak, sehingga ia suka memakainya. Pastikan pakaian itu menutup aurat dan tidak mengurangi ruang geraknya.
  6. Sediakan kerudung dengan jumlah yan tidak terlalu sedikit, sehingga dapat memberi kesempatan kepada anak untuk memilih kerudung yang hendak dipakainya.
  7. Biasakan memakai kerudung ketika keluar rumah.
  8. Beritahu anak mana pakaian yang pantas atau cocok untuk di dalam umah, dan mana pakaian yang bisa dipakai untuk keluar Rumah. Misalnya anak boleh mengenakan pakaian tanpa lengan da tidak berjilbab apabila di dalam rumah saja.
  9. Pujilah anak ketika mengenakan kerudung agar hatinya merasa senang. Orang tua bisa memujinya dengan pujian yang sederhana, seperti, “Duh, pinternya anakku kalau pakai jilbab! Masyaallah.. ”
  10. Bila anak sudah mampu berbicara dengan baik, terangkan kepadanya tentan perintah berjilbab dan keutamaannya.
  11. Bila anak akan memasuki usia baligh, terangkanlah tentang jilbab dalam pandangan syar’i, dan ajaklah untuk menyesuaikan pakaian yang dikenakannya sesuai dengan kaidah syar’i
***
Disalin dengan sedikit pengeditan dari:
Mendidik Balita Mengenal Agama
Asadullah Al Faruq
Kiswah Media

Khaula’s Story with the Hijab – Inspirational Read !!

Khaula’s Story with the Hijab – Inspirational Read !! 
 
A View through Hijab – By Sister Khaula From Japan 10/25/1993 [57]

“A view through Hijaab” is an informative account of life in Hijaab. Written by Khaula Nakata, it is the experience of Hijaab as seen through the eyes of a Japanese woman who embraced Islam.
My Story To Islam :
As most of the Japanese, I’d followed no religion before I embraced Islam in France. I was majoring in French Literature at the university. My favorite thinkers were Sartre, Nietchze and Camas, whose thinking is atheistic. At the same time, however, I was very interested in religion, not because of my inner necessity but of my love for the truth. What was waiting for me after death did not interest me at all; how to live was my concern(58). For a long time I had a sort of impression that I was not doing what I should do and I was wasting my time. Whether God existed or not was the same to me; I just wanted to know the truth and choose my way of life-to live with God or without God.
I started to read books on different religions except Islam. I had never thought that Islam was a religion worth studying. It was for me, at that time, a sort of primitive idolatry of the simple mind (how ignorant I was!). I made friends with Christians, with whom I studied the Bible, to come to realize a few years later the existence of God. But then I had to face a dilemma because I could not “feel” God at all, in spite of my conviction that he should exist. I tried to pray in church, but in vain. I felt nothing but the absence of God.
I then studied Buddhism, hoping I would be able to feel God through Zen or Yoga. I found as many things in Buddhism that seemed to be true as I had in Christianity, yet there were many things I could not understand or accept. In my opinion, If God exists, He should be for everyone(59) and the truth should simple and clear to everyone. I could not understand why people should abandon ordinary life to devote themselves to God.
I was really at a loss for what to do to reach the end of my desperate quest for God. It was then that I met an Algerian Muslim. Born and raised in France, he didn’t even know how to pray and his life was quite far from the ideal of a Muslim; nevertheless, he had very strong faith in God. However, his belief without knowledge irritated me and made me decide to study Islam. To start with, I bought a French translation of the Qur’an, but I could not read more than two pages. It seemed so strange and boring. I gave up my effort to understand it alone and went to the mosque in Paris to ask someone to help me. It was a Sunday and there was a lecture for women. The sisters welcomed me warmly. It was my first encounter with practicing Muslim women. To my surprise, I felt myself very much at ease with them, although I’d always felt myself a stranger in the company of Christians. I started to attend the lecture every weekend and to read a book given to me by one of the Muslim women. Every minute of the lecture and every page of the book were, for me, a revelation, giving me great spiritual satisfaction I’ve never known before. I had an excited feeling that I was being initiated into the truth. What was wonderful, Subhaanallah (Praise be to Allaah), was my feeling the presence of God very close to me while in the posture of Sajdah (prostration).
__________
(57) Sister Khaula visited the Women’s Office of The Islamic Guidance Center in Buraidah, Al-Qassim, Saudi Arabia on 10/25/1993. She shared this information with other Muslim Sisters in the Office. 1 found it important to share with our Muslim brothers and sisters the Story of Khaula’s coming to Islam followed by her experience and advice concerning the Hijab.
(58) This is the concern of so many people in the World and especially in the West or in countries dominated by Western culture. People become “workaholic” to keep up with more and more of what they want to have. The secondary things of today are the necessities of tomorrow! The Medium way described by the Creator, Allah, is ignored except by the few.(Dr.S. As-Saleh)
(59) Allah is the God of everyone. This thought translates that God must be one. There is no nationalistic belonging to God! Being the God of everyone, He does not command some people to worship Him alone while at the same time makes it permissible for others to set up rivals with Him in worship. This means that His worship must be one and that it is not up to us to define this type of worship. The way of worship belongs to the One and Only One True God, Allah. This constitutes His religion and He had named this way: Islam.
Khula’s Story with the Hijab :
“Two years ago when I embraced Islam in France, the polemic around the wearing of the hijab at school was very hot. The majority of people thought it was against the principle of the public school which should keep its neutrality towards the religion. I, who was not yet Muslim then, could hardly understand why they were worried over such a tiny thing as a small scarf put on the head of Muslim students…but, apparently, French people who had faced the serious problem of the increasing non-employment rate and the insecurity in big cities became nervous over the immigration of workers from Arab countries. They felt aggrieved by the sight of the hijab in their town and in their school.

In Arab countries, on the other hand, a great wave of coming back of the hijab was being observed especially among the young generation, against the expectation, shared by some Arab people and the most of Western people, of its passing away from the scene as Westenerization took root.
The Islamic revival symbolized by the current resurgence of the hijab is often considered as an attempt of Arab Muslims to restore their pride and identity which have been repeatedly undermined by colonization and economic retardation. For Japanese people, the actual adherence of Arab people to Islam may seem a kind of conservative traditionalism or antiwesternism, which (the) Japanese knew themselves in the Meiji era at the first contact with the Western culture, and because of which they reacted against the Western life-style and the Western way of dressing. Man has always had a conservative tendency and reacts against which is new and unfamiliar without realizing whether it is good or bad for him. Some people still think the Muslim women insist on wearing hijab which is the “very symbol of the oppressed situation because they are enslaved by the tradition and are not sufficiently aware of their lamentable situation. If only, they probably think, the movement of the women’s liberation and independence awakes those women’s mind, they will take away the hijab.”
Such a naive point of view is shared by the people who have little knowledge of Islam. They, who are so accustomed to the secularism and the religious eclecticism, are simply unable to understand that the teaching of Islam is universal and eternal. Anyway, there are more and more women, beyond the Arab Nationality, all over the world embracing Islam as the true religion and covering the hair. I am but an example of these women. The hijab is surely a strange object for non-Muslim people. For them, the Hijab does not cover the woman’s hair but also hides something to which they have no access, and it’s why they feel uneasy. From the outside, effectively, they can never see what is behind the Hijab. I have kept the hijab since I became Muslim in Paris two years ago…In France, soon after my conversion, I put a scarf, matched in color to the dress, lightly on the head, which people might think a sort of fashion(60). Now in Saudi Arabia, I cover in black all my body from the top of my head till the tip of my toes including my eyes…At the time I decided to embrace Islam, I did not think seriously about whether I would be able to make the five prayers a day or put the hijab. May be I was afraid that I might find the negative answer, and that would affect my decisions to be Muslim. I had lived in a world which had nothing to do with Islam until I visited, for the first time, the Mosque of Paris. Neither the prayer nor the hijab were yet very familiar to me. I could hardly imagine myself making the prayer and wearing the hijab. But my desire to be a Muslim was too strong to worry about what was waiting for me after my conversion. Indeed, it was a miracle that I embraced Islam, Allah Akbar.
In hijab I felt myself different. I felt myself purified and protected. I felt the company of Allah. As a foreigner, I felt sometimes uneasy in a public place, stared by men. With hijab, I was not seen. I found that the hijab sheltered me from such impolite stares. I was also very happy and proud in hijab which is not only the sign of my obedience to Allah but also the manifestation of my faith…besides, the hijab helps us to recognize each other and to share the feeling of sisterhoods. The hijab has also the advantage of reminding the people around me that God exists and reminding me of being with God(61). It tells me: “be careful. You should conduct yourself as a Muslim” As a policeman becomes more conscious of his profession in his uniform, I had a stronger feeling of being Muslim with hijab.
Soon, I started to put the hijab before my going out from the house whenever I went to the Mosque. It was a spontaneous and voluntary act and no body forced me to do so. Two weeks after my conversion, I went back to Japan to attend the wedding ceremony of one of my sisters, and decided not to go back to France, Now that I became a Muslim and found that I’d been looking for, the French literature did not interest me any more. I had rather an increasing passion for learning the Arabic(62).
For me…it was a trial to live in a small town in Japan, isolated completely from Muslims, But such isolation helped me to intensify my consciousness of being a Muslim. As Islam prohibits the women to disclose the body and to wear clothes which accentuate the body line, I had to abandon many of my clothes such as mini-skirts and half-sleeve blouses. Besides, the Western style fashion does not match with the hijab. I decided, therefore, to make a dress by myself. I asked a friend of mine who knew dress-making to help me, and in two weeks I made a dress with a “pantaloon” after the model of a “Pakistani dress”. I did not mind people looking at my strange “fashion”.
Six months had past since I went back to Japan, when my desire to study the Arabic and Islam in a Muslim country grew so intense that I decided to realize it. I went to Cairo where I knew only one person.
I was at a loss to find none of my host family spoke English. To my great surprise, furthermore, the lady who took my hand to lead me into the house covered herself all in black from top to toe including the face. Such a “fashion” is now familiar to me and I adopt it for myself in Riyadh, but at that time, I was quite surprised at the sight.
I attended once in France a big conference for Muslims, and in that occasion I saw for the first time a woman in black dress with a face-cover. Her presence among the women in colorful dress and scarf was very strange and I said myself: ” there she is, a woman enslaved by the Arabic tradition without knowing the real teaching of Islam”, because I knew few things of Islam at that time and thought the covering of the face was but an ethnical tradition not founded in Islam.
The thought which came to me at the sight of a face-covered woman in Cairo was not very far from that. She’s exaggerating. Its unnatural…Her attempts to try to avoid any contact with men seemed also abnormal.
The sister in black dress told me that my self-made dress was not suitable to go out with. I was not content with her because I thought my dress satisfied the conditions of a Muslima’s dress…I bought a black cloth and made a long dress and a long veil called “Khimar” which covers the loins and the whole of the arms. I was even ready to cover the face because it seemed good “to avoid the dust”, but the sister said there was no need. I should not put the cover-face for such a reason while these sisters put it because they believed it a religious duty. Although most of sisters whom I got acquainted with covered the face, they constituted but a small minority in the whole city of Cairo, and some people apparently got shocked and embarrassed at the sight of black Khimar. Indeed the ordinary more or less westernized young Egyptians tried to keep a distance from those women in Khimar, calling them “the sisters”. The men also treated them with a certain respect and a special politeness on the street or in a bus. Those women shared a sisterhood and exchanged the salaam (the Islamic greeting) on the street even without knowing each other… Before my conversion I preferred an active pants-style to a feminine skirt, but the long dress I started to wear in Cairo got to please me very soon. It makes me feel very elegant as if I had become a princess. I feel more relaxed in long dress than in a pantaloon …
My sisters were really beautiful and bright in their Khimar, and a kind of saintliness appeared on their faces…Every Muslim devotes his life to God. I wonder why people who say nothing about the “veil” of the “Catholic Sisters” criticize the veil of the Muslima, considering it as a symbol of “terrorism” or “oppression”.
I gave a negative answer when the Egyptian sister told me to wear like this even after my return to Japan….If I show myself in such a long black dress on the street in Japan, people might think me crazy(63). Shocked by my dress, they would not like to listen to me, whatever I say. they would reject Islam because of my appearance, without trying to know its teaching(64). Thus I argued with her.
Sixth months later, however, I got accustomed to my long dress and started to think I may wear it even in Japan. So, just before my return to Japan, I made some dresses with light colors and white Khimars, thinking they would be less shocking than the black one.
The reaction of the Japanese to my white Khimar was rather good and I met no rejection or mockery at all. They seemed to be able to guess my belonging to a religion without knowing which it is. I heard a young girl behind me whispering to her friend that I was a “Buddhist nun”…
Once on a train I sat beside an elderly man who asked me why I was in such a “strange fashion”. I explained him that I was a Muslim and in Islam women are commanded to cover the body and their charm so as not to trouble men who are weak to resist this kind of temptation. He seemed very impressed by my explanation, may be because he did not welcome today’s young girls’ provocative fashion. He left the train thanking me and saying he would have liked to have more time to talk with me on Islam.
My father was sorry that I went out even on the hottest day in summer with a long sleeve and a head-cover, but I found the hijab convenient for avoiding the direct sunlight on the head and the neck… I felt rather uneasy in looking at the white thigh of my younger sister who wore short pants. I’ve often been embarrassed even before my conversion by the sight of a woman’s busts and hips traced by the shape of her tight thin clothes. I felt as if I had seen something not to be seen. If such a sight embraces me who is of the same sex, it is not difficult to imagine what effect it would give to men.
Why hide the body in its natural state?, you may ask. But think it was considered vulgar fifty years ago in Japan to swim in a swimming suit. Now we swim in a bikini without shame. If you swim, however, with a topless, people would say you are shameless, but go to a South-France’s beach, where many women, young and old, take a sun-bath in a topless. If you go to a certain beach on the west coast in America, the nudists take a sun-bath as naked as when they are born. On the other side, at the medieval times, a knight trembled at a brief sight of a shoe of his adoring lady. It shows the definition of women’s “secret part” can be changed. How you can answer to a nudist if she asks you why you hide yours busts and hips although they are as natural as your hands and face? It is the same for the hijab of a Muslima. We consider all our body except hands and face as private parts because Allah defined it like this(65). Its why we hide them from male strangers. If you keep something secret, it increases in value. Keeping woman’s body secret increases its charm. Even for the eye of the same sex, the nape of a sister’s neck is surprisingly beautiful because it is normally covered. If a man loses the feeling of shame and starts to walk naked and excrete and “make love” in the presence of other people, he would then become no different than an animal. I think the culture of men started when men knew the sense of shame.
Some Japanese wives (put their) make up only when they go out, never minding at home how they look. But in Islam a wife tries to be beautiful especially for her husband and a husband also tries to have a nice look to please his wife. They have shame even between themselves and towards each other. You may say why we are “over-sensitive” to hide the body except the face and the hands so as not to excite men’s desire, as if a man looks always at a woman with a sexual appetite.
But the problem of sexual harassment so much talked about recently shows how men are weak to resist to this kind of attraction. We could not expect prevention of sex harassment only by appealing men’s high morality and self-control…As a short skirt might be interpreted by men to say: ” if you want me, you may take me”, a hijab means clearly, “I am forbidden for you. “
Three months after coming back from Cairo, I left Japan to Saudi Arabia, and this time with my husband. I had prepared a small black cloth to cover the face with…Arriving at Riyadh, I found out that not all the women covered the face. The non- Muslim foreigners of course put only a black gown nonchalantly without covering the head, but the Muslim foreigners also uncovered the face(66). As for the Saudi women, all of them seemed to cover perfectly from top to toe. On my first going out, I put the niqab and found out (that) it (was) quite nice. Once accustomed to it, there is no inconvenience. Rather, I felt quite fine as if I became a noble and special person. I felt like the owner of a stolen masterpiece who enjoyed the secret pleasure: I have a treasure that you don’t know and which you are not allowed to see. A foreigner might see a couple of a fat man and a woman all covered in black who follows him in the street in Riyadh as a caricature of the oppressing-oppressed relationship or the possessing-possessed relationship, but the fact is that the women feel as if they were queens guarded and lead by servants.
During the first several months in Riyadh, I covered only the part beneath the eyes. But when I made a winter cloth, I made on the same occasion a thin eye-cover. My armament then became perfect and my comfort also. Even in a crowd of men, I felt no more uneasiness. I felt as if I had become transparent before the eyes of men. When I displayed the eyes, I felt sometines uneasy when my eyes met a man’s eye accidentally, especially because the Arab people have very keen eyes. The eye-cover prevents, like black sun-glasses, the visual intrusion of strangers.
Khaula further says that the Muslim woman “covers herself for her own dignity. She refuses to be possessed by the eyes of a stranger and to be his object. She feels pity for western women who display their private parts as objects f or male strangers. If one observes the hijab from outside, one will never see what is hidden in it. Observing the hijab from the outside and living it from inside are two completely different things. We see different things. This gap explains the gap of understanding Islam. From the outside, Islam looks like a ‘prison’ without any liberty. But living inside of it, we feel at peace and freedom and joy that we’ve never known before…We chose Islam against the so-called freedom and pleasure. If it is true that Islam is a religion that oppresses the women, why are there so many young women in Europe, in America, and in Japan who abandon their liberty and independence to embrace Islam? I want people to reflect on it. A person blinded because of his prejudice may not see it, but a woman with the hijab is so brightly beautiful as an angel or a saint with self-confidence, calmness, and dignity. Not a slight touch of shade nor trace of oppression is on her face. ‘They are blind and cannot see’, says the Qur’an about those who deny the sign of Allah, but by what else can we explain this gap on the understanding of Islam between us and those people.” (3/1993)

Note: Khula’s article was sent (late 1993) to the Women’s Office of the Islamic Guidance Center, Buraidah, Al- Qassim, KSA.

Source : http://abdurrahman.org/women/The_Hijab_Why.pdf  (pg 43-55) – by Dr. Saleh As-Saleh (rahimahullah)