Masjid yang menanti Anda ...

PEMBANGUNAN MASJID & PESANTREN

Masjid dan pesantren 2010 Masjid di Jurang jero, Sadan, Kebumen, Jawa Tengah Masjid diKemalang, Klaten, Jawa Tengah Masjid di Jurug, Pan...

Knowledge is Better than Money

Alee رضي الله عنه said:
Sahabat Ali Radiyallohu 'anhu berkata :

اَلْعِلْمُخَيْرٌمِنَ المَالِ
Knowledge is better than money,
Ilmu itu lebih baik daripada harta

لأَنَّ المَالُ تحْرِسُهُ وَ الْعِلْمُ يَحْرِسُكَ
since you have to protect money, while knowledge protects you.
Karena Anda yang harus menjaga harta,sedangkan ilmu itu akan menjaga Anda

وَ المَالُ تُفْنِيهِ اَلنَّفَقَةُ وَ الْعِلْمُ يَزْكُو عَلَى الإِنْفَاقِ
And money is depleted from spending, while knowledge grows when you spend it.
Dan harta akan berkurang karena dibelanjakan, sedangkan ilmu akan berkembang ketika diamalkan/ diajarkan

وَ الْعِلْمُ حَاكِمُ وَ المَالُ مَحْكُمُ عَلَيْهِ
And knowledge makes rulings, while money is ruled over.
Dan ilmu adalah hakim/ penentu hukum, sedangkan harta yang dihukumi/ dijatuhi hukuman

مَاتَ خُزَّانُ المَالِ وَ هُمْ أَحْيَاءٌ وَ الْعُلَمَاءُ بَاقُونَ مَا بَقِيَ الدَّهْرُ
People who hoard money have died while they are still living, while the scholars live on through the ages. . .
Penyimpan harta itu telah mati kendatipun sebenarnya masih hidup, sedangkan para ulama/ pemilik ilmu akan terus abadi sepanjang jaman

أَعْيَانُهُمْ مَفْقُودَةٌ وَ آثَارُهُمْ فِي الْقُلُوْبِ مَوْجُودَةٌ
Their souls may have passed away, but their effects remain present in the hearts of people.
Meskipun mereka telah tiada, namun keteladanan-keteladanan mereka tetap bersemayam dalam hati manusia


(جَامِعُ ْبَيَانِ الْعِلْم وَ فَضْله #٢٨٤ وَ إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ)
Jami'ul bayan al ilmu wa fadhluhu # 284 dan isnadnya lemah

KEPADA SAUDARAKU YANG SEDANG SAKIT


http://an-naba.com
Wahai saudaraku sesama muslim yang sedang sakit…
Wahai saudaraku yang terbaring lemas di atas ranjang putih karena terpaksa…
Wahai saudaraku yang sedang kehilangan kesehatan serta diharamkan menikmati rasanya afi’at…
Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuhu
Waba’du….
Salah satu bentuk nikmat yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah nikmat keselamatan, afiat dan kesehatan. Nikmat tersebut laksana mahkota raja di atas kepalanya, yang tidak dapat dirasakan kecuali oleh mereka yang sedang sakit yang terbaring lemas, merana dan merintih di atas ranjang-ranjang putih. Mereka merasakan kepedihan hati (karena sakit) siang dan malam. Mereka semua berada di bawah naungan kasih sayang Allah. Kemudian juga dalam pengawasan para perawat serta dokter. Mereka tidak memiliki kekuatan ataupun siasat cerdik untuk keluar dari kondisi tersebut, kecuali dengan kemurahan dan rahmat Allah.
Dari itulah, saya merasa berkewajiban menulis surat ini, kepada saudara-saudaraku yang sedang sakit, semoga itu menjadi semacam penghibur serta bukti ikut merasakan penderitaan mereka. Dan semoga kata-kata yang ada di dalamnya mampu berfungsi sebagai peringan rasa sakit yang mereka derita. Lebih dari itu, semoga menjadi peringatan bagi kita semua dengan anugerah Allah dan rahmat-Nya. Dengan memohon pertolongan hanya kepada-Nya saya katakan:
Wahai saudaraku, yang engkau mengetahui, bahwa tiada sesuatupun yang menimpamu kecuali merupakan takdir Allah…
Berbaik sangkalah kepada-Nya sehingga rasa sakit yang menimpamu terasa ringan adanya. Sesungguhnya Allah Mahasayang terhadap hamba-hamba-Nya. Ingatlah selalu firman Allah yang terdapat dalam Hadist Qudsi, “Aku tergantung persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Jika baik, maka baiklah adanya. Dan jika buruk, maka buruklah adanya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani dan Ibnu Hibban).
Ketahuilah, jika engkau berbaik sangka kepada Allah, engkau akan merasa ridha dan rasa sakitmu menjadi ringan, sebab engkau yakin sepenuhnya bahwa Allah tidak menakdirkan kecuali kebaikan. Engkau juga sepenuhnya meyakini bahwa Dzat yang menimpakan sakit kepadamu tiada lain kecuali sang Maha Pengasih di antara mereka yang mengasihi, yang mana Dia lebih bersifat kasih sayang kepada makhluk-Nya ketimbang seorang ibu terhadap sang anak.
Wahai engkau yang sedang diuji kesehatan dan ‘afiatmu…
Panjatkanlah pujian kepada Allah Ta’ala, bahwa penyakit serta bala yang menimpamu tidak ditimpakan dalam agamamu. Sebab musibah dalam agama merupakan kerugian besar lagi nyata. Dan hindarilah -semoga Allah memaafkanmu- sikap selalu mengeluh, tidak terima, serta perasaan dongkol atas takdir Allah. Sebab hal itu merupakan perilaku yang tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang muslim. Salah seorang ulama salaf pernah berkata, “Tidak satupun musibah yang menimpaku, kecuali aku memuji Allah atasnya, karena empat hal: Pertama, Allah tidak menjadikan musibah tersebut dalam agamaku; Kedua, Dia menganugerahiku sikap sabar terhadapnya; Ketiga, Dia tidak menjadikanya lebih besar; Keempat, Dia menganugerahiku sikap kembali kepada-Nya saat musibah itu ada.”
Wahai, saudaraku… yang engkau mengharap rahmat dan anugerah-Nya…
Janganlah engkau lupa, bahwa sakit menjadi penghapus dosa-dosa dan kesalahan -dengan izin Allah-. Rasulullah pernah bersabda, “Tiadalah kepayahan, penyakit, kesusahan, kepedihan dan kesedihan yang menimpa seorang muslim hingga duri di jalan yang mengenainya, kecuali Allah menghapus dengannya kesalahan-kesalahannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Maka bergembiralah, wahai saudaraku yang sedang sakit… karena kasih sayang serta rahmat Allah yang masih dikaruniakan kepadamu. Dan ketahuilah -semoga engkau lekas sembuh- bahwa musibah yang menimpamu lebih ringan jika dibanding dengan musibah yang menimpa selainmu. Di luar sana banyak orang yang ditimpa penyakit lebih parah dan lebih serius dari yang menimpamu. Salah seorang penyair pernah berkata, “Dalam setiap rumah pasti ada ujian dan cobaan. Bisa jadi yang menimpa rumahmu adalah jenis cobaan paling ringan (jika engkau mampu mensyukurinya).
Wahai orang yang sedang dilingkupi dan diliputi pelbagai rasa sakit…
Ikhlaskanlah seluruh bentuk penyakit yang menimpamu karena Allah. Sebab kemungkinan besar hal itu telah ditakdirkan Allah sebagai sarana pengangkat derajatmu di akhirat kelak. Tentu jika engkau mampu bersabar dan benar-benar mengharap balasan Allah karenanya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan atasnya, maka Dia akan menguji dan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari). Pun hal itu bisa jadi merupakan ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang mukmin pasti akan diuji oleh Allah. Sebagaimana firman-Nya, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang orang yang sabar”. (QS. Al Baqarah: 155 ). Juga karena Rasul Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala (balasan) sangat ditentukan oleh besarnya cobaan. Dan sekiranya Allah mencintai suatau kaum, Dia menguji dan memberikan cobaan kepada mereka.” (HR. Imam At-Tirmidzi, Ath-Thayalisi dan Al-Baihaqi).
Keharusanmu –wahai saudaraku yang ditimpa sakit– adalah bersabar dan mengharap pahala atas apa yang menimpamu. Engkau hendaknya ridha sebagai bentuk aplikasi dari sabda Rasul Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, “Barangsiapa ridha atas cobaanya, maka dia berhak mendapat ridla Allah. Barangsiapa marah (atas cobaan yang menimpanya) maka murka Allah akan selalu menyertainya.” (HR. Imam At-Tirmidzi, dihasankan olehnya).
Salah seorang penyair pernah berkata:
Jika takdir diberlakukan padamu sebagai suatu perkara
Terimalah dengan jiwa lapang, apa yang dilakukan takdir
Setiap suatu yang berat pasti ada jalan keluarnya
Dan setiap cobaan pasti ada batas akhirnya
Berlindunglah kepada Allah, Dia akan menghindarkanmu dari segala keburukan
Sesungguhnya Allah melakukan segala apa yang dikehendaki-Nya
Wahai engkau yang berupaya mencari kesembuhan dan mengejar afiat…
Tidak syak, bahwa engkau mencari segala jenis obat yang mungkin bisa mengobati dan menyembuhkan seluruh penyakit yang menjangkitimu. Hal tersebut memang disyari’atkan dan diperintahkan oleh agama, dengan catatan obat tersebut bukan sesuatu yang haram atau yang dilarang menurut syari’at. Sebab Rasul Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan penyakit berikut obatnya, maka berobatlah. Dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Ath-Thabrani)
Jika cara penyembuhan serta obat yang dipakai adalah sesuatu yang diperbolehkan oleh syari’at, maka hal itu boleh menurut kaca mata syari’at. Akan tetapi bila yang terjadi sebaliknya, misalnya dengan jalan sihir, perantara dukun, mantra-mantra dan sejenisnya yang diharamkan Allah, maka hal itu sama sekali tidak boleh. Sebab di dalamnya terkandung unsur penipuan, kedustaan, tipu daya, keburukan, kerusakan dan memakan harta manusia dengan cara batil, di samping hal itu juga merusak akidah seorang muslim. Kita berlindung kepada Allah, agar terbebas darinya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, kemudian ia membenarkan ucapanya, maka ia telah kafir kepada apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.” (HR. Imam Ahmad dan Al Hakim dari shahabat Abu Hurairah)
Wahai saudaraku yang sedang kehilangan rasa sehat…
Janganlah memperbanyak ratapan, rintihan dan keluh kesah. Sebab para salafus salih memakruhkan dan tidak menyukai sikap seperti itu. Sebab hal itu menunjukkan sifat lemah dan tidak sabar. Hendaknya engkau memperbanyak dzikir, tasbih, takbir dan tahlil. Berupayalah selalu -semoga Allah menyembuhkanmu- melakukan istighfar dan taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab itu merupakan jalan keluar bagi hamba dari penyakit serta kesedihan yang sedang menimpanya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Barangsiapa membiasakan Istighfar, Allah akan memberikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitanya, menganugerahinya jalan penyelesaian atas kesedihanya dan akan memberinya rezeki dari arah yang ia tidak sangka-sangka.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma).
Saudaraku sesama muslim yang sedang sakit…
Perbanyaklah doa yang tulus serta permintaan kesembuhan yang tiada henti. Sebab Allah menyukai permintaan-permintaan hamba-Nya. Dan manakala Dia melihat adanya kesungguhan, keikhlasan serta kejujuran hamba-Nya, niscaya Dia mengabulkan permintaanya dan mewujudkan harapan harapannya juga akan menghilangkan segala yang ia derita dengan sifat qudrah-Nya, Ke-Maha Keperkasaan-Nya, dan Ke Mahasucian-Nya.
Wahai engkau yang sedang sedih dan rasa sakitmu selalu bertambah…
Jauhilah olehmu terjebak dalam perangkap dan tipu daya setan, sebagaimana yang ia lakukan kepada sebagian orang yang sedang sakit. Yang mana mereka mengira bahwa jalan menuju ringanya rasa sakit, melupakan penyakit yang sedang diderita serta menghibur diri darinya adalah dengan jalan mendengar musik, menikmati lagu-lagu yang diharamkan, menyibukkan diri dengan acara-acara TV yang tidak bermoral atau dengan menyaksikan film-film yang tidak mendidik, yang pada hakikatnya hal itu merupakan jenis penyakit yang serius lagi membahayakan. Hendaknya engkau -semoga Allah memberkahimu- memperbanyak tilawah dan telaah Al-Qur`an, memperbanyak dan menyibukkan diri dengan membaca dan menelaah buku-buku yang bermanfaat. Jika hal itu tidak mampu Anda lakukan, maka di sana tersedia berbagai kaset Islami yang Anda bisa dengarkan dan simak. Terdapat bacaan-bacaan Al-Qur`an, ceramah-ceramah bermanfaat, khutbah-khutbah bermutu serta pelajaran pelajaran berharga yang bisa menghabiskan dan mengisi waktu longgarmu sehingga dapat memperingan dan melupakan rasa sakit yang menimpamu. Di samping hal itu sangat bermanfaat juga mendatangkan banyak pahala bagimu -Insya Allah-.
Wahai saudaraku yang bersabar atas sakit yang menimpamu serta mengikhlaskanya karena mengharap pahala dari Allah…
Ketahuilah, bahwa penyakit yang menimpamu adalah lebih baik bagimu -Insya Allah-. Sebab hal itu mengandung pahala besar serta balasan yang agung. Diriwayatkan dari Shuhaib Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik. Hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang beriman. Jika dianugerahi perkara yang membahagiakan ia bersyukur, dan itu lebih baik baginya. Jika ditimpa perkara yang merugikannya (kesulitan ataupun lainya) ia bersabar, dan itu lebih baik baginya”. (HR. Muslim)
Tidak hanya itu. Bahkan termasuk kemurahan Allah terhadapmu, Dia memberikan pahala dan balasan atas amal-amal shalih (yang selama sakit engkau tidak dapat melakukanya) akan tetapi engkau selalu melakukanya sebelum sakit. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Jika salah seorang kalian sakit atau bepergian, Allah menulis baginya pahala sebagaimana ketika ia melakukan amal tersebut di saat sebelum sakit atau ketika mukim.” (HR. Imam Al-Bukhari dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)
Wahai orang yang sedang diuji Allah dengan penderitaan yang tiada seorangpun mampu menghilangkanya kecuali Dia yang Maha Suci….
Jauhilah olehmu sikap putus asa dan pesimisme terhadap rahmat Allah. Sebab hal itu berlawanan dengan petunjuk Islam. Janganlah sekali-kali berharap ajal segera tiba,  tatkala penyakitmu bertambah berat dan bertambah keras atau engkau tidak segera sembuh. Sungguh hal itu tidak boleh, sebab Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Janganlah sekali-kali seorang dari kalian berharap mati karena kesempitan atau kemalangan yang menimpanya. Jika dengan terpaksa ia berharap, maka hendaklah ia mengucap, ‘Ya Allah, hidupkanlah aku sekiranya hal itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku, sekiranya hal itu lebih baik bagiku’.” (HR. Imam Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu)
Jangan engkau mengira -semoga Allah memberimu kesembuhan- bahwa dalam kematian, engkau menemukan ketenangan dan bebas dari rasa sakit. Sebab penyakit, bisa jadi menjadi sebab bertambahnya kebaikan dan berlipatgandanya pahala sementara engkau tidak mengetahuinya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian mengharap kematian, jika ia orang baik bisa jadi kebaikanya akan bertambah (karena sakit), atau jika ia orang jahat, bisa jadi ia akan diampuni.” (HR. Imam Ahmad, Al-Bukhari dan Imam An-Nasa’i dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu’ Anhu)
Wahai orang yang terhalangi dari bepergian menuju rumah-rumah Allah di muka bumi karena sakit…
Janganlah sekali-kali engkau meninggalkan ataupun meremehkan shalat di saat engkau sakit sehingga melaksanakannya tidak tepat pada waktunya. Sebab hal itu adalah dosa besar serta perkara serius dan membahayakan. Sengaja meninggalkan shalat adalah prilaku kekafiran -Kita berlindung kepada Allah darinya- sebagaimana hal itu difatwakan oleh para ulama. Di samping bahwa sikap menyepelekan dan meremehkan penunaian shalat merupakan dosa besar, pelakunya berada di jurang bahaya besar. Maka hendaknya -semoga Allah menguatkan kita bersama- menjaga pelaksanaan shalat tepat pada waktunya, baik shalat dengan cara duduk, berdiri, berbaring miring, berbaring terlentang dengan wajah ke atas atau sesuai kemampuanmu.
Tidak cukup ini saja, bahkan hendaknya engkau juga memperingatkan orang-orang sakit di sekitarmu tentang keagungan dan pentingnya shalat juga urgensitas penunaianya tepat pada waktunya. Terlebih mereka yang sakit adalah lebih menghajatkan kepada jenis ibadah ini (shalat) dalam kondisi yang seperti itu.

Sebagai penutup…
Saya memohon kepada Allah agar melimpahkan kesehatan dan ‘afiat kepada saya juga kalian semua umumnya. Dan semoga Dia menganugerahi kita semua kesehatan dan keselamatan dari berbagai jenis penyakit baik jenis lahir ataupun batin. Di samping itu saya juga memohon kepada Allah agar kita semua digolongkan menjadi orang yang jika diberi nikmat mampu mensyukuri, jika diuji dapat bersabar, dan jika berbuat dosa dan kesalahan segera meminta ampunan. Sebagaimana saya juga memohon kepada-Nya bagi mereka yang sedang diuji semoga diberikan kesembuhan dan yang sakit semoga segera sehat dan semoga Dia merahmati si mayit dari kalangan kaum muslimin. Sesungguhnya Dialah yang Mahakuasa atas itu semua, dan shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Rasul Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam keluarga beserta para shahabatnya…
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuhu
VN:F [1.8.8_1072]

SAWAH DI YOGYAKARTA

SAWAH DI YOGYAKARTA

Saudaraku .. Kembalilah!!

Monday, May 24th, 2010 | Author: Abu Zubair Hawaary 
http://abuzubair.net/saudaraku-kembalilah/
Saudaraku ...
Tulisan ini kutujukan kepadamu, ya .. kepadamu yang mengharapkan Ridho Allah dan kenikmatan yang kekal di sisiNya, serta takut kepada siksa dan azab yang Allah Ta’ala siapkan untuk orang-orang yang bermaksiat dan kafir.
Kepadamu saudaraku, yang pernah merasakan manisnya keimanan dan nikmatnya berjalan di atas jalan yang lurus serta indahnya mendekatkan diri kepada Allah.

Kepadamu saudaraku, yang dulu bersemangat dan berpacu menuntut ilmu serta mengajak kepada kebaikan.
Kepadamu saudaraku yang dulu sering kulihat berzikir, membaca dan menghapalkan Al Qur’an.
Apa yang terjadi pada dirimu? Kenapa engkau kini mulai menjauh dari teman-temanmu yang rajin sholat berjama’ah, cinta kepada ilmu agama, gemar mempelajari Al Qur’an dan Hadits serta membaca buku-buku yang bermanfaat?
Kenapa aku melihat semangatmu memudar, penampilanmu juga berobah ..tidak lagi seperti dulu yang berusaha mengikuti sunnah-sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama?
ingatkah engkau, ketika itu engkau berhenti dari tempatmu bekerja, kenapa?!
Ketika itu engkau mengatakan, karena tidak bisa sholat berjama’ah ke mesjid!
Karena engkau takut fitnah syahwat yang slalu menggoda!
Karena engkau ingin meninggalkan nyanyian dan menggantikannya dengan mendengarkan Al Qur’an!
Karena engkau ingin menjaga ‘iffah dirimu!
Karena engkau ingin menjaga Dinmu!!
Saudaraku .. kenapa aku lihat syahwat mulai mengalahkanmu, hasrat pun membelenggumu..wajahmu tidak pernah lagi kulihat di majelis-majelis ilmu!
Apakah engkau telah menyimpulkan bahwa iltizam dan keistiqomahanmu serta keta’atanmu kepada Robbmu selama ini sebuah kesalahan, lalu engkau memilih jalan lain; jalan yang menyimpang, maksiat dan kelalaian – agar engkau bisa sampai ke surga Firdaus?!
Ataukah engkau mengira jalan yang telah engkau tempuh selama ini terasa terlalu panjang dan berat, lalu engkau tidak sabar dan memilih jalan orang-orang lali dan lengah yang diperbudak hawa nafsu mereka, yang keinginan mereka hanyalah sebatas diri mereka sendiri, tidak peduli kepada Dinullah dan Dakwah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama.
Ataukah engkau telah melupakan kematian dan sakarat-nya …
Melupakan kuburan dan kegelapannya …
Hari kiamat dan kedahsyatanya …
Neraka dan keras azabnya …
Semoga Allah melindungimu dari itu semua
Dan semoga Allah tidak menjadikanmu termasuk orang-orang yang dikatakanNya,
واتل عليهم نبأ الذي آتيناه آيتنا فانسلخ منها فأتبعه الشيطان فكان من الغاويين
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah Dia Termasuk orang-orang yang sesat.” (Al A’rof : 175)
Kuharap dadamu lapang dan maafkan aku karena kerasnya kata-kataku kepadamu. Akan tetapi kecintaanku kepadamu yang kusimpan di dalam dadaku, dan kekhawatiran su-ul khotimah atas dirimu .. hal itulah yang telah membakar hatiku. Setiap kali aku melihat kondisimu yang membuat gembira musuhmu (Syetan beserta pengikutnya) serta membuat sedih teman-teman dan orang-orang yang mencintaimu.
Saudaraku, akankah engkau kembali sebelum kematian mendatangi?. Kapankah engkau kembali kepada taman keta’atan dan telaga taubat serta istiqomah yang penuh rahmah dan berkah dari Allah??
والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم ذكروا الله فاستغفروا لذنوبهم ومن يغفر الذنوب إلا الله ولم يصروا على ما فعلوا وهم يعلمون
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”.(Ali Imron : 135)
Tumbuhkanlah harapanmu, bangunlah asamu, sesungguhnya engkau memiliki Robb yang maha luas ampunanNya, membentangkan TanganNya siang dan malam untuk mengampuni orang-orang yang berdosa.
Mohonlah hidayah kepada Allah Ta’ala dengan tulus dari hatimu. Lihatlah Nabimu yang engkau cintai shollallahu ‘alaihi wa sallama meminta hidayah kepada Robbnya, beliau berdo’a,
اللهم إني أسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى
“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu petunjuk, ketakwaan, kesucian dan kekayaan”. (HR. Muslim, At-Tirmidzi dan Al Baihaqy dari Ibnu Mas’ud, dan sanadnya shohih, lihat, Shohih Al Jami’ no. 1275)
Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallama mengajarkan itu sebagaimana beliau mengajarkan cucunya Al Hasan bin Ali rodhiyallahu ‘anhuma agar di dalam qunut mengucapkan,  “Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang engkau tunjuki”. (HR. Abu Dawud, An Nasa-I dan lain-lainnya, dari Abul Hawro’, dan sanadnya shohih, lihat : Misykatul Mashobiih no. 1273)
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama juga berlindung kepada Allah dari kesesatan setelah petunjuk,
اللهم إني أعوذ بعزتك أن تضلني لا إله إلا أنت
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaanMu dari Engkau sesatkan, tidak ada Ilah yang diibadati dengan hak melainkan Engkau”. (Muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu Abbas)
Dalam do’a safar beliau mengucapkan,
وأعوذ بك من الحور بعد الكور
“Dan aku berlindung kepadaMu dari Al Haur setelah Al Kaur ”. (HR. Muslim)
Maksud Al Haur setelah Al Kaur yaitu; kerusakan setelah kebaikan, kesesatan setelah petunjuk.
Akuilah dosamu ..  tangisilah kesalahan dan kelalaianmu. Mintalah kepada Allah, agar Ia tidak menghinakanmu di hari pembalasan, serta agar Ia memutihkan wajahmu ketika dihitamkan wajah-wajah pelaku maksiat dan orang-orang kafir.
Mulailah lembaran baru yang putih bersama Allah Ta’ala dengan keta’atan dan taubat nashuhah.
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al Kahfi : 28)
Palingkanlah wajahmu dari teman-teman yang tidak baik, dari orang-orang yang tidak peduli apakah engkau nanti di sorga atau di neraka. Bahkan lebih dari itu, kelak mereka di hari kiamat meminta kepada Allah Ta’ala supaya Allah menambahkan azab yang berlipat untuk  teman-teman mereka.
قالوا ربنا من قدم لنا هذا فزده عذابا ضعفا في النار
“mereka berkata (lagi): “Ya Tuhan kami; barang siapa yang menjerumuskan Kami ke dalam azab ini Maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka”.
(Shod : 61)
Bersihkan dari dirimu debu-debu dosa dan kelengahan. Bergabunglah dengan kafilah yang berjalan menuju Allah Ta’ala.
Kembalilah saudaraku ..kepada Allah Ta’ala, agar engkau kembali menjadi telaga kebaikan yang selalu mengalirkan manfaat untuk umatmu.
Saudaraku, berikut ini sebagian kiat dan asbab yang akan membantumu untuk tetap teguh dan istiqomah dengan izin Allah Ta’ala :
  1. Do’a yang tulus, berdo’alah,
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
“Hai Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas din-Mu”.
  1. Carilah teman yang baik dan sholeh, yang akan membantumu untuk ta’at kepada Allah.
  2. Jauhkan dirimu dari teman-teman yang tidak baik.
  3. Jagalah Kitabullah, dengan membaca, menghapal dan mempelajari makna-makna serta hokum-hukumnya, ketahuilah Al Qur’an adalah obat hati yang sakit.
  4. Jagalah ibadah-ibadah fardhu dan ibadah-ibadah nafilah yang mengiringinya.
  5. Menuntut ilmu sya’ri dan menghadiri majelis-majelis ilmu.
  6. Takut kepada dosa dan akibatnya, karena dosa adalah penyebab su-ul khotimah.
  7. Membaca buku-buku yang bermanfa’at, mengikuti daurah-daurah ilmiyah dan dakwiyah.
  8. Ghoddul Bashor, percayalah dengan ghoddul bashor hatimu akan lebih tenang dan terasa manisnya keimanan.
10.  Ingatlah permusuhan syetan terhadapmu dalam setiap detik. Dan bahwasanya ia senantiasa mengintai kelengahanmu serta menggunakannya untuk menyeretmu menjadi temannya di neraka kelak.

Terakhir saudaraku, kalimat-kalimat ini mungkin keras dan tajam, akan tetapi ia memancar dari cinta yang tulus, hatiku lebih dahulu mengatakannya sebelum penaku menorehkannya, karena kasihan kepadamu saudaraku tercinta. Tidak ada yang kuinginkan melainkan kebaikan untukmu. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmatNya untuk kita …
Dan sampai bertemu di atas jalan kebaikan dengan izin Allah Ta’ala, semoga Allah menjagamu saudaraku.
VN:F [1.8.5_1061]

DESIGN EKSTERIOR

CONTOH DESIGN EKSTERIOR
 (edirumah2008@gmail.com)

CANOPI  DAN TAMPAK DEPAN

LANDS. TAMAN

PLAY GROUND


EKSTERIOR GEDUNG

JADILAH SEPERTI MEREKA

February 11th, 2009 | Author: Abu Zubair Hawaary
http://abuzubair.net 
MEMBALAS KE BURUKAN DENGAN KEBAIKAN
Membaca kehidupan orang-orang sholeh sungguh menakjubkan. Terlebih lagi jika mereka adalah generasi terbaik umat ini. Kehidupan mereka bertabur mutiara hikmah dan pelajaran berharga bagi kehidupan generasi sesudahnya.
Kitab-kitab sejarah dan sunnah telah menorehkan lembaran-lembaran emas kehidupan mereka. Beruntunglah orang-orang yang meneladani mereka dengan baik.

( وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ) (التوبة:100)
   Artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.
   Pertemuan kali ini, kita bersama sebuah kisah menakjubkan yang dinukilkan kepada kita oleh “kutubussunnah”. Kisah yang terjadi antara dua orang sahabat mulia; Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu. Manusia paling afdhol setelah para rasul dan nabi. Kholifah Ar-Rosyid yang pertama semoga Allah meridhoinya. Dan khodim Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Yang pernah memintanya untuk menemaninya di surga. Lantas Nabi berkata kepadanya, “Kalau begitu aku akan mendo’akanmu, tetapi bantulah aku atas dirimu dengan memperbanyak sujud”. Dialah Robi’ah bin Ka’ab Al-Aslamy rodhiyallahu ‘anhu.
   Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim di Mustadroknya, ia berkata, “Ini adalah hadits shohih menurut syarat Muslim dan keduanya tidak mengeluarkannya”. Dari Robi’ah bin Ka’ab Al-Aslamy rodhiyallahu ‘anhu ia menuturkan, Rasulullah shollahu ‘alaihi wasallama memberiku sebidang tanah, dan ia juga memberi Abu Bakar sebidang tanah. Lalu kami berselisih pada sepokok kurma. Ia (Robi’ah) berkata, “Maka datanglah dunia”. Maka Abu Bakar berkata, “Ini termasuk dalam batas tanahku”. Aku pun menyanggah, “Tidak .. akan tetapi ini termasuk dalam batas tanahku”. Lantas Abu Bakar melontarkan kepadaku kata-kata yang tidak aku sukai. Dan dia menyesali kata-katanya itu. Maka ia berkata kepadaku, “Hai Robi’ah, ucapkanlah kepadaku seperti apa yang telah aku katakana kepadamu sehingga menjadi qishosh”. Aku menjawab, “Tidak, demi Allah aku tidak akan mengatakan kepadamu kecuali yang baik”. Abu Bakar kembali berkata, “Demi Allah, engkau harus mengucapkan kepadaku seperti ucapanku kepadamu sehingga menjadi qishosh atau aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama”.
  Aku berkata, “Tidak, aku tidak akan mengatakan kepadamu kecuali yang baik”.
Maka Abu Bakar tidak menerima pembagian tanah tersebut, dan ia mendatangi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Sementara aku (Robi’ah) mengikuti di belakangnya.
Sekelompok orang dari suku Aslam (suku Robi’ah) berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Dia yang telah melontarkan kata-kata itu kepadamu, kenapa dia yang mengadukanmu kepada Rasulullah?”.
  Aku berkata, “Tahukah kalian siapa ini? Ini adalah Abu Bakar .. teman Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama di dalam gua. Orang yang dituakan oleh kaum muslimin. Jangan sampai ia menoleh dan melihat kalian membelaku, sehingga dia marah lantas Rasulullah ikut marah karena kemarahanya, maka Allah akan marah pula karena kemarahan keduanya. Jika sampai itu terjadi celakalah Robi’ah. Pulanglah kalian!!”. Robi’ah bergegas menyusul Abu Bakar.
  Sesampai Abu Bakar di hadapan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama, ia menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Robi’ah. Rasulullah berkata kepada Robi’ah, “Hai Robi’ah, ada apa antara kamu dengan Ash-Shiddiq?”.Robi’ah menceritakan apa yang terjadi dan apa yang diucapkan oleh Abu Bakar kepadanya. Dan keengganannya membalas Abu Bakar dengan ucapan yang sama. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata kepadanya, “Baiklah, jangan katakan kepadanya seperti yang dikatakannya kepadamu, akan tetapi katakanlah ‘Semoga Allah mengampunimu hai Abu Bakar”.
Maka Abu Bakar pergi meninggalkan majelis tersebut sambil menangis …[1]
Subhanallah!

  Kisah menakjubkan yang dinukilkah oleh kutubussunah kepada kita. Di dalamnya terkandung butir-butir pelajaran berharga bagi setiap muslim yang ingin meneladani generasi emas umat ini.
  Entah dari mana kita mulai memetik pelajaran kisah ini. Apakah dari Rasulullah shollallahu yang adil dan bijaksana; bagaimana beliau mendengarkan masalah ini dari kedua belah pihak. Dan bagaimana beliau akhirnya membuat keduanya melewati polemik ini dengan baik.
Ataukah kita mulai dari jiwa besar Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu. Ataukah kita akan membicarakan akhlak Robi’ah dan penghormatannya terhadap Ash-Shiddiq??
  Akar kisah ini adalah apa yang terjadi  di antara dua orang sahabat yang mulia ini, dan pandangan mereka yang berbeda tentang sebatang korma yang menjadi pemicu perselisihan kecil antara keduanya. Dalam kisah ini, Robi’ah menuturkan penyebab terjadinya perselisihan ini, ia mengatakan   (Dan datanglah dunia …) maksudnya sebab utama adalah karena perhatian kepada dunia dan perhiasannya. Seolah-olah Robi’ah rodhiyallahu ‘anhu mengatakan kepada kita bahwa dunia dan perhiasaannya adalah penyebab banyak perselisihan di antara sesama muslim. Seolah-olah ia mengatakan kepada kita, kenapa harus berselisih, bertengkar, dan saling memutus hubungan persaudaraan hanya karena harta, tanah atau warisan dan urusan dunia lainnya?? Sampai kapan dunia ini menyibukkan kita dari tujuan dan cita-cita yang  mulia?
   Dengarkan firman Robb kita Subhanahu wa Ta’ala,
(وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيماً تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِراً)
Artinya,
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Al-Kahfi : 45)
 
    Kemudian cobalah ulang lagi membaca dan merenungi penuturan Robi’ah (Lantas Abu Bakar melontarkan kepadaku kata-kata yang tidak aku sukai. Dan dia menyesali kata-katanya itu). Tidak diceritakan apa kalimat yang telah dilontarkan Abu Bakar kepada Robi’ah. Kita yakin tentu kalimat tersebut tak lebih dari sekedar ketidak sengajaan yang segara di sadari Abu Bakar dengan penyesalannya atas apa yang telah ia ucapkan. Ini merupakan ‘ibroh yang luar biasa. Seorang yang berjiwa besar  sekalipun ia dihormati jika keliru segera kembali kepada yang benar. Kemudian tidak adanya nukilan ucapan Abu Bakar tersebut mengisyaratkan kepada kita bahwasanya Robi’ah sama sekali tidak memendam dendam. Ia ingin ucapan Abu Bakar tersebut dilupakan dan tidak diingat …
   Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu meminta Robi’ah rodhiyallahu ‘anhu membalas ucapannya sebagai qishosh atas perbuatannya. Kedudukannya di sisi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama tidak membuatnya menghinakan dan merendahkan seseorangpun dari kaum muslimin bahkan dia tidak ingin menyakiti seseorangpun sekalipun itu hanya dengan ucapan sepele.
Dengan sikap yang mulia ini Ash-Shiddiq mengajarkan kepada kita sifat adil, tawadhu dan tidak sombong.
   Di sisi lain juga tergambar jiwa besar  Robi’ah. Ia tidak ingin membalas kalimat yang tidak disukainya dengan kalimat yang semisal. Bahkan ia menegaskan (Tidak ..demi Allah aku tidak akan katakan kepadamu kecuali yang baik). Ini peringatan bagi kita agar kita tidak membalas keburukan dengan kebaikan. Jangan biarkan syetan mendapatkan celah untuk merusak mu’amalahmu bersama saudara-saudara dan sahabat-sahabatmu. Jangan ucapkan dengan lisanmu kecuali yang ucapan yang baik.
“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan”. (Al-Mukminun : 96)

   Ini juga menjadi ‘ibroh yang berharga bagi orang-orang yang menjadikan lisannya laksana pedang untuk mencaci-maki, mencela, mengolok-olok, memakan  bangkai saudaranya (ghibah), atau berdusta.
Jangan .. jangan lakukan itu saudaraku!!
   Kemudian ia memberikan kepada kita pelajaran lain yaitu ’sabar’. Ia tidak membalas ucapan Abu Bakar .. sama sekali tidak.
   Bukankah ini pelajaran bagi kita semua, agar kita mengendalikan nafsu dan emosi kita. Sangat disayangkan sebagian orang membalas satu kata dengan dua kali lipat atau bahkan berlebih-lebihan. Masalah sepele saja memantik emosinya, sehingga menggelegak lalu mencela, memaki dan melaknat. Lupakah ia wasiat Qudwah-nya shollallahu ‘alaihi wa sallama ketika mewasiatkan salah seorang sahabatnya, “Jangan marah”.[2]
Kemudian Abu  Bakar yang menyesali perkataannya, ketika Robi’ah tidak mau membalasnya ia pergi menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama untuk meminta petunjuk dalam masalahnya itu. Ini mengandung faedah yang agung yaitu meminta bantuan orang yang lain yang bisa dipercaya dan amanah untuk menjadi penengah dan membantu mendamaikan.
Ketika Robi’ah mengikutinya. Di jalan beberapa orang kaum Robi’ah berusaha menghalanginya mengikuti Abu Bakar. Seolah-olah mereka mengatakan kepadanya (bukankah Abu Bakar yang salah kepadamu, dan engkau yang benar? Kenapa engkau mengikutinya?) dengarkan jawaban yang sangat dalam maknanya dari Robi’ah (Tahukah kalian siapa ini? Ini adalah Abu Bakar, ini adalah teman (Rasulullah) di dalam gua .. orang yang dituakan oleh kaum muslimin!! Jangan sampai ia melihat kalian membelaku, lalu dia marah, lantas Rasulullah marah karena kemarahannya maka Allah pun marah karena kemarahan keduanya sehingga binasalah Robi’ah).
   Sungguh akhlak yang tinggi baik perkataan maupun perbuatannya. Budi pekerti nan luhur dalam bermu’amalah, menghormati dan memuliakan.
Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua bagaimana memposisikan orang lain sesuai dengan kedudukannya. Semoga Allah meridhoimu hai Robi’ah ketika engkau mengetahui keutamaan orang yang memiliki kedudukan. Semoga Allah meridhoimu ketika engkau menghormati Abu Bakar dan memuliakannya. Semoga Allah meridoimu ketika engkau menimbang permasalahaan dengan timbangan syara’.
Lihatlah …Robi’ah mengetahui kedudukan Abu Bakar di sisi Rasulullah, maka dia takut kemarahannya karena dia khawatir itu akan menyebabkan Rasulullah marah lalu menyebabkan Allah juga marah.  Ini yang tidak terpikirkan oleh kaumnya yang menimbang masalah itu dengan emosi mereka semata. Dalam masalah ini pelajaran berharga bagi umat, bahwasanya emosi dan perasaan yang tidak dikontrol dengan batasan-batasan syara’ menyebabkan hasil-hasil yang tidak terpuji.
   Lihatlah wahai saudaraku ..apa yang terjadi ditengah umat islam. Munculnya pemikiran-pemikiran dan perbuatan-perbuatan yang digerakkan oleh emosi  dan semangat yang  tidak mengikuti rambu-rambu syara’ ..sehingga menimbulkan kerusakan di muka bumi ..meledakkan, menghancurkan dan mengkafirkan.
   Saudaraku kaum muslimin … ilmu syar’I yang dibangun di atas pondasi yang shohih adalah satu-satunya jalan menggapai keselamatan umat dan kemenangannya. Kita adalah umat  yang memiliki manhaj dan azas yang jelas. Pilar-pilarnya jelas ..takkan ada yang menggoyahkan baik hawa yang diikuti atau emosi yg tak terkendali atau semangat yg kosong dari ilmu syar’I, selama kita berpegang teguh dengan dasar-dasar yang shohih tadi.
Inilah yang terjadi di antara dua orang sahabat sebelum keduanya sampai kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Adapun yang terjadi dihadapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Keduanya bertemu dihadapan Rasulullah. Dan beliau mendengarkan dari keduanya dengan seksama. Beginilah Rasulullah dengan para  sahabatnya rodhiyallahu anhum; mendengarkan mereka, duduk bersama mereka. Mereka meminta pendapatnya lalu beliau memberikan petunjuk dan saran. Mereka bertanya beliau menjawab.
Dalam kisah ini, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama mendengarkan penuturan keduanya. Dia tidak hanya mendengarkan sepihak. Ini bentuk keadilan beliau. Setelah beliau mendengar keduanya dan setelah jelas semua permasalahan, ia menunjukkan kepada Robi’ah yang lebih baik dari membalas ucapan Abu Bakar, dan beliau mendukungnya untuk tidak membalas bahkan beliau berkata kepadanya, “Katakan kepadanya (semoga Allah mengampunimu hai Abu Bakar)”.
   Robi’ah pun mengucapkannya ..namun jiwa besar Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu yang takut kepada Allah tidak sanggup menerimanya sehingga air matanya mendahului kata-katanya. Dan ia pun pergi dengan menangis semoga Allah meridhoinya.
   Ya Allah .. Alangkah indah dan mengagumkannya kisah ini, penuh dengan akhlak yang mulia, budi pekerti nan tinggi, saling memaafkan dan berlapang dada. Allah Ta’ala berfirman,
فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ (الشورى: من الآية 40
Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”.

   Semoga Allah memberikan kekuatan dan keteguhan kepada kita untuk meneladani Salafush Sholeh .. Amin.

[1] Kisah ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad (4/58-59) dan Ath-Thobroni di Al-Mu’jamul Kabir (5/52-530 dan Ibnu Asakir di At-Tarikh (9/583) dan isnadnya dihasankan oleh Syeikh Al-Albany di As-Silsilah Ash-Shohihah (no. 3145).
[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu

ALAM DESA

MAGELANG, JAWA TENGAH




Info Kajian: Safari Dakwah

(Safari Dakwah Majalah Al-Furqon)

http://moslemsunnah.wordpress.com

 

MENYUCIKAN HATI

Obat Stres (Tekanan Jiwa)
Dikarenakan siapa pun dapat terkena tekanan jiwa, yang berdampak pada
timbulnya masalah atau penyakit, sudah seharusnya diberikan terapi
penyembuhan dan pengobatan yang dapat mencegah atau membatasi agar
tidak menjangkit pada diri. Di antara penyembuhan dan terapinya:
1- Bertakwa kepada Allah  dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan
amal saleh. Firman-Nya :
"Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan
baginya jalan keluar." (QS. At-Thalaq: 2 )
Dan firman-Nya :

"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan
baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. At-Thalaq: 4)
Kisah tiga orang yang terjebak di dalam goa tidak asing bagi kita. Allah 
telah mengeluarkan mereka dari keterjebakan ketika setiap mereka
menyebutkan amalan saleh yang dikerjakan ikhlas karena Allah .
Dengan amal mereka itulah mereka bertawasul kepada Allah .

2. Menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong. Karena dua hal ini
dapat menguatkan dalam menghadapi berbagai problema dan tanggung
jawab sehingga dapat tegar dan sukses menghadapinya. Hal ini
sebagaimana firman Allah :

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-
Baqarah: 153 )
Seorang sahabat Nabi, Hudzaifah  berkata, "Jika Nabi  menghadapi
perkara pelik, beliau melaksanakan shalat." [HR.Ahmad]

3. Husnuzon (berbaik sangka) kepada Allah . Sadarilah bahwa Allah
sematalah yang mengangkat kesulitan manusia. Sesungguhnya kesulitan
meskipun berlangsung berlarut-larut senantiasa Allah iringkan dengan
solusi dan kemudahan. Allah  berfirman melalui lisan Nabi Ya'kub :

"...Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada
berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir." (QS. Yusuf: 87)
Nabi  bersabda dalam hadits Qudsi:

"Sesungguhnya Allah  berfirman: "Aku sebagaimana prasangka hambaku
kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku."
[HR.Turmudzi]
Benarlah perkataan seorang penyair:
Begitu pelik, tapi ketika aku kembalikan kepada Penciptaannya
Ia teratasi, padahal aku sangka tidak akan teratasi

4. Berzikir kepada Allah (mengingat Allah) dengan keyakinan, ucapan
dan amal merupakan sebab untuk dapat keluar dari kemelut, memberi
ketegaran jiwa dan ketenangan. Sebagaimana firman Allah :

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati
menjadi tenteram." (QS.Ar-Ro'd:28)

5. Kontinu senantiasa beristigfar (meminta ampun kepada Allah).
Sesungguhnya hal ini adalah salah satu dari sebab kebahagiaan dan
ketenangan; sebagaimana ia dapat pula mengeluarkan dari bencana,
Menghilangkan kegalauan dan kegelisahan. Sebagaimana sabda
Rasulullah ,

"Siapa yang kontinu beristigfar, Allah akan jadikan pada setiap
kegalauannya solusi dan dari setiap kesulitan jalan keluar serta akan diberi
rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkan."
[HR.Abu Dawud, Ahmad dan Hakim]

6. Kembali kepada Allah dengan berdoa, karena doa dapat
menghilangkan kegelisahan dan mengeluarkan dari kesusahan. Hal ini
sebagaimana hadits Abu Sa'id al-Khudri :
"Pada suatu hari Rasulullah  masuk masjid. Beliau mendapati seorang
lelaki Anshar, yang dipanggil Abu Umamah. Beliau berkata,
"Wahai Abu Umamah, aku tidak melihatmu duduk di masjid
melainkan sedang shalat."
"Kegelisahan dan hutang melilitku, wahai Rasulullah." Jawabnya.
"Maukah aku ajarkan suatu kalimat, jika engkau katakan Allah
akan menghilangkan kegelisahanmu dan melunaskan hutangmu?!"
Tawar Rasulullah.
"Tentu wahai Rasulullah!" Jawab lelaki itu.
"Bacalah ketika pagi dan petang:

[ Allahumma Inni A'ûdzubika minalhammi walhazan wa a'ûdzubika minal'ajzi walkasal, wa a'ûdzubika minaljubni walbukhl, wa a'ûdzubika min ghalabatiddaini wa qohril rijal ]
Artinya:
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kegelisahan
dan kesedihan. Aku berlindung kepadamu dari kelemahan dan
kemalasan. Aku berlindung kepadamu dari kepengecutan dan
kebakhilan. Aku berlindung kepadamu dari dari lilitan hutang dan
penindasan orang."
[HR.Abu Dawud]
 Di antara doa Nabi Musa  kepada Allah agar dilapangkan dadanya,
dimudahkan urusannya, dihilangkan kegelisahan dan kesedihannya,
sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah  melalui lisan Nabinya:

"Musa berkata: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku dan
mudahkanlah untukku urusanku."
(QS.Thâhâ:25-26)

7. Mengerjakan sebab-sebab yang dapat membantunya sukses dalam
kehidupan lalu bertawakal kepada Allah . Meminta kepada-Nya agar
dapat mencapai dan memperoleh hasil yang terbaik. Amal dan tawakal
adalah dua hal yang saling berkaitan untuk menangkal tekanan jiwa dan
efek negatif yang ditimbulkannya. Allah  berfirman,

"Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan)nya." (QS. At-Thalaq: 3 )
Siapa yang mencukupkan diri dengan Allah, tidak akan tersesat dan tidak
akan celaka selamanya.

8. Tidak mengapa meminta bantuan para ahli dari dokter ahli jiwa
atau selain mereka. Terkadang keadaan seseorang terasa begitu
menghimpit, ia dikuasai rasa gundah, gelisah, sedih dan merana yang
mengakibatkan tekanan pada dirinya. Jika berkonsultasi kepada yang
lain, itu akan membantunya membuka pintu penting yang membuka
cercahan cahaya dengan izin Allah.
Ringkas pembicaraan:
Bahwa tekanan jiwa pada akhirnya adalah buatan dan buah amal
tangannya sendiri.

"(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri,
dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak Menganiaya hamba-hamba-Nya."
(QS. Ali Imrah: 182 )
Karena timbulnya tekanan jiwa ini merupakan akibat dari kesalahan masa
lalu yang bertumpuk dan membesar pada penderitanya. Dia tidak dapat
mengolahnya dengan jalan yang benar hingga sampai pada puncaknya.
Terasa begitu hebat di dalam diri dan memorak-porandakan harapan serta
angan-angannya.
Setiap orang dapat mengalahkan tekanan ini dan menghindari pengaruh
negatif yang timbul karenanya ketika sejak semula ia telah siap
menghadapi berbagai tantangan yang dihadapinya. Hal itu diperoleh dari
pendidikan imaniah (pendidikan keimanan) yang benar bagi generasi putra
dan putri di rumah, masjid, sekolah, lembaga-lembaga bimbingan dan
pusat-pusat pendidikan.
Karena seorang hamba ketika bergantung kepada Allah  dan dapat
merasakan keagungan serta penguasaan-Nya atas sesuatu pada satu sisi,
juga merasakan akan kelembutan dan rahmat-Nya terhadap hamba-Nya
dari sisi yang lain, dia tidak akan merasa khawatir akan kesulitan dan
tantangan, bahkan menjalani dan menghadapinya dengan ketegaran dan
kesuksesan.
DISADUR DARI  :
http://www.islamhouse.com/p/291703

UNIVERSITAS ISLAM - SAUDI









Terperdaya Oleh Nikmat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang yang lima: [1] Masa mudamu sebelum masa tuamu, [2] masa sehatmu sebelum sakitmu, [3] masa kayamu sebelum miskinmu, [4] waktu luangmu sebelum sibukmu, dan [5] hidupmu sebelum matimu.” (HR. al-Hakim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, lihat Fath al-Bari [11/264], hadits ini disahihkan al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 486)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah sekedar kesenangan sementara, dan sesungguhnya akherat itulah negeri tempat tinggal yang sebenarnya.” (QS. Ghafir: 39)
Ada seorang yang bertanya kepada Muhammad bin Wasi’, “Bagaimana keadaanmu pagi ini?”. Maka beliau menjawab, “Bagaimanakah menurutmu mengenai seorang yang melampaui tahapan perjalanan setiap harinya menuju alam akherat?”. al-Hasan berkata, “Sesungguhnya dirimu adalah kumpulan perjalanan hari. Setiap kali hari berlalu, maka lenyaplah sebagian dari dirimu.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 482)
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/terperdata-oleh-nikmat.html

design taman

CONTOH DESIGN TAMAN
(edirumah2008@gmail.com) 
 



The Future is for Islam

Shaykh al-Albani [1] , Source: Silsilatul-Ahaadeet hus-Saheehah (pp.6-8),
 Al-Istiqaamah Magazine , Issue No.2 - Safar 1417H / July 1996

"Allaah - the Mighty and Majestic - said:
"It is He who has sent His Messenger with guidance and the religion of truth, that He may make it prevail over all other religions, no matter how much the disbelievers detest it." [Soorah as-Saff 61:9].
We are given the good tidings in this verse that the future is for Islaam, which will gain dominance, ascendancy and rule over all other religions. Some people may think that this was fulfilled in the time of the Prophet sallallaahu 'alayhi wa sallam and the Rightly Guided Khaleefahs (successors) and the righteous kings - but that is not the case. Rather, only a part of this true promise was fulfilled then - as the Prophet sallallaahu 'alayhi wa sallam indicated in his saying:
"Night and day will not pass away until al-Laat and al-'Uzzaa are worshipped." So 'Aaishah radiallaahu 'anhaa said: O Messenger of Allaah! I thought that when Allaah sent down:
"It is He who has sent His Messenger with guidance and the religion of truth, that He may make it prevail over all other religions, no matter how much the disbelievers detest it."
that it would be complete. He sallallaahu 'alayhi wa sallam said: "There will be of that what Allaah wishes." 2
There are other ahaadeeth which show how far Islaam will reach and dominate and how far it will spread, such that there is no doubt that the future is for Islaam, by the permission and favour of Allaah. So I will quote what I am able to from these ahaadeeth and hopefully they will strengthen the determination of the workers for Islaam; and be a proof against those who are indifferent and those who have despaired!
Firstly: "Indeed Allaah gathered up the earth for me so that I saw its east and its west; and indeed the dominion of my Ummah will reach what was gathered up for me from it." 3 And even clearer than it and more general is the hadeeth:
Secondly: "This affair will reach what is reached by the night and the day; and Allaah will not leave a dwelling of brick, nor fur, except that Allaah will cause this Deen to enter it - bringing honour or humiliation. Honour which Allaah gives to Islaam and humiliation which Allaah will give to disbelief." 4
The Future is for Islam by Shaykh al-Albânî
DOA MASUK PASAR, MALL DAN PUSAT-PUSAT KERAMAIAN LAINNYA

“Barangsiapa masuk pasar, lalu membaca:



لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.

“Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lahu, lahulmulku walahulhamdu, yuhyii wa yumiitu wa huwa hayyun laa yamuutu, biyadihil khoiir, wa huwa ‘ala kulli syai’in qodiir.”

Allah mencatat untuknya satu juta kebaikan, menghapus darinya satu juta keburukan dan meninggikan untuknya satu juta derajat.”


(HR. At-Tirmidzi 5/291, Al-Hakim 1/538 dan Ibnu Majah 2235. Al-Albani menyatakan, hadits tersebut hasan dalam Shahih Ibnu Majah 2/21 dan Shahih At-Tirmidzi 2/152.)

Arti doa tersebut:

(Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bag-iNya segala pujian. Dia-lah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Dia-lah Yang Hidup, tidak akan mati. Di tangan-Nya semua kebaikan. Dan Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Tempat yang paling baik adalah masjid. Sedangkan tempat yang paling buruk adalah pasar”. (HR Ibnu Hibban no 1599. Syeikh Syuaib al Arnauth mengatakan, “Hadits hasan”).

Keutamaannya besar dan dahsyat karena pasar, mall dan pusat-pusat keramaian biasanya melalaikan dan menjerumuskan, karena itu kalau kita ingat Allah dan berdzikir kepadaNya di tempat-tempat tersebut maka kita mendapat keutamaan yang besar dan dahsyat tersebut..

Selamat Mengamalkan dan Semoga Sukses, Amien.

Artikel: PengusahaMuslim. com

LOWONGAN

Lowongan Kerja Bagian Akuntansi

lowongan kerja
Yayasan Majelis At Turots Al Islamy  Yogyakarta mengajak ikhwah sekalian bergabung dalam tim keuangan yayasan, insyaAlloh dengan tim tersebut Yayasan Majelis At Turots Al Islamy dapat meningkatkan kinerja keuangannya.
Alhamdulillah saat ini Yayasan Majelis At Turots Al Islamy Yogyakarta telah memiliki beberapa program keagamaan, pendidikan, kesehatan dan sosial yang seluruhnya di tujukan bagi kaum muslimin.
Diantara program yang sudah berjalan adalah :
1. Pondok Pesantren Islamic Center Bin Baz
2. Pondok Pesantren Jamilurrohman
3. Rumah Sakit Islam At Turots Al Islamy
4. Lajnah Dakwah
5. Lajnah Pengembangan Sarana Phisik
6. Perumahan Islami
7. Toko Bangunan Berkah
8. Penerbitan Majalah
9. ICBB Mart, dll

Bagi Ikhwah yang berminat dan memenuhi syarat-syarat di bawah ini :
1. Pria berakhlak baik
2. Pendidikan D3 Akuntasi  (Pengalaman diutamakan)
3. Mampu mengoperasikan komputer minimal MS Word dan Excel
4.Pernah menggunakan program Akuntasi( Zahir, Myob, Accurate, dll)
5. Belum Menikah
6. Siap di tempatkan di unit kerja yang ada

Silahkan mengirimkan data lengkap ke email :
edirumah2008@gmail.com atau isnaini.ahmad@gmail.com

Demikian informasikan ini kami sampaikan, kami berharap ikhwah sekalian dapat menyebarkannya.
Penerimaan Santri Baru 



 Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Ma'had Jamilurrahman As-Salafy yang berkedudukan di Dusun Sawo Glondong, Wirokerten, Banguntapan, Bantul menerima pendaftaran santri baru tahun ajaran 2010/2011.  Program yang ditawarkan adalah I’dad Ad-Du’at (Putra dan Putri) dan Tahfidz Al-Qur`an (Putra dan Putri).
SYARAT PENDAFTARAN:
  1. Menyerahkan foto copi ijazah terakhir yang dilegalisasi, minimal SMP/sederajat
  2. Dapat membaca Al-Qur’an dengan lancer
  3. Menyertakan surat pernyataan dari penanggung jawab biaya
  4. Menyerahkan SKCK atau tazkiyah (rekomendasi) dari ustadz-ustadz yang dikenal oleh pihak ma’had
  5. Mendapat surat izin tertulis dari orang tua
  6. Sehat jasmani dan rohani
  7. Menandatangani surat pernyataan taat peraturan
  8. Bagi calon santri putrid harus diantar oleh mahromnya dan memasukkan seluruh syarat-syarat di atas ke dalam sebuah amplop tertutup (setelah terlebih dahulu diperiksa oleh panitia pendaftaran santri putri)
  9. Bagi santri pindahan dari ma’had lain harus menyertakan surat pindah dari pesantren asal
  10. Siap ditugaskan di tempat yang ditentukan yayasan
  11. Lulus tes wawancara.
KETENTUAN PEMBIAYAAN
  1. Membayar uang pendaftaran sebesar Rp 50.000,-
  2. Membayar uang pangkal sebesar Rp 300.000,-
  3. Uang SPP per bulan Rp 200.000,- (makan 3 x).
PROGRAM GRATIS
Dibuka program bea siswa untuk program I’dad Du’at dengan ketentuan sebagai berikut:
  1. Waktu belajar 2 tahun (bebas SPP bulanan)
  2. Lolos seleksi dan tes wawancara
  3. Bisa membaca Al-Qur’an
  4. Diutamakan memiliki kemampuan Bahasa Arab dasar
  5. Sanggup menyelesaikan masa belajar selama 2 tahun dan siap ditugaskan sesuai ketentuan Yayasan.

WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN
  1. Waktu Pendaftaran : Dibuka tanggal 24 Juni – 31 Juli 2010
  2. Tempat Pendaftaran : Sekretariat Pendaftaran Santri Baru Ma’had Jamilurrahman As-Salafy, Dusun Glondong RT 04, Desa Wirokerten, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, DIY
Keterangan lebih lanjut, hubungi:
  • Ustadz Zaid       : 0813 2739 4768
  • Ustadz Said       : 0813 9277 1606 (untuk Putri)
  • Ustadz Muslam : 0818 0419 0266 (untuk putra)
Petunjuk Rute:
Dari terminal Giwagan Yogya + 1 kilometer ke arah Pondok (selatan) naik ojek/becak/jalan kaki.. 

www.islamhouse.com


 Dari Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthany kepada Fadhilah Syekh Ahmad Al-Hawasy, Istrinya Ummu Ana dan Tasnim serta seluruh keluarga
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, wa ba'du :
          Saya mendengar berita tentang terbakarnya masjid, pustaka dan rumahmu, termasuk juga meninggalnya dua orang anakmu. Saya ikut berdukacita dengan kejadian tersebut. Saya juga telah menelpon dan mengunjungi Anda bersama beberapa orang. Tapi ungkapan belasungkawa yang saya tulis ini bersifat khusus.
          Ungkapan yang ingin saya sampaikan adalah Firman Allah Subhanahu Wata'ala :  
" Alif lam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta. QS. Al-Ankabut : 1- 3
Dan Firman-Nya :
Dan Sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. QS. Muhammad : 31
Dan Firman-Nya :
Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", Maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami adalah besertamu". bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia? QS. Al-Ankabut : 10 .
          Saya berdoa kepada Allah supaya Dia senantiasa memberikan kebaikan padamu, mengumpulkan anda dan kerabat anda yang telah meninggal di Sorga Firdaus yang tertinggi. Ketahuilah bahwa semua yang diambil Allah itu adalah kepunyaan-Nya, demikian juga segala yang diberikan-Nya, segala sesuatunya pasti ada ajalnya, maka bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah  [4]).
          Bergembiralah anda dengan apa yang dijanjikan oleh Allah untuk hamba-Nya yang beriman lagi bersabar, saya akan sebutkan beberapa janji Allah yang akan membuat tenang hati anda, mendinginkan musibah besar yang menimpa anda, akan melapangkan dada anda, menjauhkah rasa sedih dan mendung yang menyelimuti anda. Saya akan sampaikan semua itu dari Firman Allah yang Maha Mulia, Maha Bijaksana, Maha Penyantun lagi Maha Penyayang dimana sayang-Nya lebih baik dibandingkan dengan sayang orang tua kepada anaknya. Ungkapan ini juga saya ambil dari Sabda-sabda Nabi dan Panutan kita Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam:
1. Shalawat Allah, Rahmat dan Hidayah-Nya untuk orang yang sabar
 Allah berfirman :
Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk). ( QS. Al-Baqarah : 155-157 )

 وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ( dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar), maksudnya beritakan kepada mereka bahwasanya mereka akan diberikan pahala tanpa dihitung. Orang-orang yang sabar mendapatkan berita yang sangat besar, dan predikat yang sangat tinggi. Kemudian Allah menjelaskan siapa orang yang sabar itu dengan firmannya :
 الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah). Musibah itu adalah segala sesuatu yang menyedihkan hati atau menyakiti badan, atau kedua-duanya sekaligus sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat diatas, diantara : meninggalnya orang-orang yang dicintai, anak-anak, karib kerabat dan teman-teman, juga berbagai macam penyakit yang menimpa badan seseorang atau badan orang yang dicintainya, kemudian mereka berkata : Inna lillahi (kita semua milik Allah), segala aktifitas kita diatur oleh Allah. Kita tidak bisa memiliki diri, anak dan harta kita secara mutlak. Jadi kalau Allah menguji kita dengan sesuatu, maka sesungguhnya itu berarti Allah berbuat sesuatu terhadap apa yang dimiliki-Nya, tidak ada hak bagi kita untuk menantang.
          Termasuk kesempurnaan ubudiyah  seorang hamba ketika dia mengetahui bahwa cobaan yang datang dari Allah yang Maha Bijaksana – yang lebih sayang kepada hamba-Nya dari diri mereka sendiri ataupun ibu mereka -, kemudian pengetahuannya itu menyebabkan dia Ridha dengan keputusan Allah serta bersyukur dengan pengaturan-Nya, karena semua itu merupakan kebaikan untuk dirinya meskipun dia tidak menyadarinya.
          Karena kita merupakan kepunyaan Allah maka kepada-Nya jugalah kita akan kembali pada hari kiamat nanti. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amalannya, kalau kita sabar dan mengharapkan pahala dari-Nya maka pahala itu akan kita dapatkan secara utuh, namun kalau seandainya kita kecewa dan marah maka kita tidak akan mendapatkan kecuali kemurkaan dan pahala yang hilang. Oleh karena itu kalau kita menyadari bahwa kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya maka itu akan mendorong kita untuk bersabar
          Kemudian Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang sabar tadi akan mendapatkan Shalawat dari Allah, yaitu berupa pujian-Nya, dan akan mendapatkan Rahmat yang besar. Diantara rahmat itu adalah taufik dari Allah untuk bersabar sehingga dia bisa mendapatkan pahala secara sempurna.
          Kemudian Allah menjelaskan : وَأُولَـئِكَ هُمُ الْـمُهْتَدُونَ (mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk), orang-orang yang mengerti kebenaran, dimana mereka menyadari bahwa mereka adalah milik Allah, akan kembali kepada-Nya dan beramal (bersabar) karena-Nya  [6]).
           Amirul mukminin Umar Radiyallahu 'Anhu berkata :
((نعم العدلان ونعمة العلاوة ]أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ [، فهذان العدلان، ]وَأُولَـئِكَ هُمُ الْـمُهْتَدُونَ [، فهذه العلاوة )) [7])
" Ada 'Idlan [8]) dan 'alawah [9]) yang sangat nikmat, adapun 'idlan" adalah firman Allahأُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ  (Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka ), sementara 'alawah adalah firman-Nya : وَأُولَـئِكَ هُمُ الْـمُهْتَدُونَ (dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ) . karena orang yang mendapat musibah itu diberikan pahala yang berlebih.
2.    Minta tolong kepada Allah dengan Sabar,  karena kesabaran adalah salah satu sumber kebahagiaan. Allah berfirman:
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu" QS. Al-Baqarah : 45 .
3.       Cinta Allah untuk orang-orang yang sabar, sebagaimana Firman-Nya:
"Allah mencintai orang-orang yang sabar"   QS. Ali Imran : 146.
4.       Allah bersama orang-orang yang sabar, sebagaimana Firman-Nya:
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar"  QS. Al-Baqarah : 153.
5. Orang yang sabar berhak masuk sorga, sebagaimana Allah berfirman :
" Mereka Itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang Tinggi (dalam syurga) Karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan Ucapan selamat di dalamnya"  QS. Al-Furqan : 75
6. Orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas (jumlahnya), tidak ditimbang dan tidak di takar  [15]. Sebagaimana Firman Allah:
" Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas"   QS. Az-Zumar : 10.
7.       Semua musibah tertulis di lauh mahfuzh, sebelum Allah  menciptakan semua makhluk-Nya, ini adalah permasalahan yang sangat besar yang tidak bisa dicerna dengan akal semata, yang membuat para ilmuwan terpana, tapi semua itu bagi Allah adalah sangat ringan  [16]). Allah berfirman :
" Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri"  QS. Al-Hadiid : 22-23
  Musibah yang menimpa jiwa, harta, anak dan orang-orang yang dicintai, semuanya terjadi sesuai dengan Qadha dan Qadar Allah. Sesuai dengan Ilmu-Nya (Pengetahuan Allah), sesuai dengan apa yang telah dituliskan-Nya, kehendak dan hikmah-Nya. Apabila seorang hamba beriman dan meyakini bahwa semuanya dari Allah kemudian dia ridha, menyerahkan semuanya kepada Allah, maka dia akan mendapatkan pahala yang melimpah di dunia dan akhirat, Allah akan menunjuki hatinya sehingga dia menjadi tentram dan tidak gelisah ketika terjadi musibah, Allah akan memberikannya ketetapan hati dan kesabaran, sehingga dia akan mendapatkan pahala di dunia dan juga balasan yang setimpal di akhirat [18])
Allah berfirman :
" Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu"  QS. At-Taghabun : 11.
'Ilqimah meriwayatkan dari Abdullah tentang:  ومن يؤمن بالله يهدي قلبه  (dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya) dia mengatakan : dia itu adalah orang yang apabila ditimpa musibah dia ridha dan yakin bahwa semua itu dari Allah [20]).
          Sungguh sangat indah apa yang diungkapkan oleh Ibnu Nashiruddin ad-dimasyqi – rahimahullah – dalam syairnya :
Mahasuci Allah yang menguji manusia yang dicinta-Nya
Ujian tersebut merupakan pemberian dari-Nya
Sabarlah menghadapi ujian dan ridhalah
Karena itu merupakan obatnya
Serahkan kepada Allah semua yang sudah ditaqdirkan-Nya
Allah akan melakukan apa yang dikehendaki-Nya [21]).
9.    Allah akan membalas orang-orang yang sabar dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan. 
Allah berfirman :
" Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. dan Sesungguhnya kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan" .
Dalam ayat ini Allah bersumpah bahwa Dia akan membalas orang-orang yang sabar dengan ganjaran yang lebih baik dari apa yang mereka lakukan, setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat dan bahkan lebih, karena sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan orang-orang yang baik pekerjaan mereka dan akan menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka [22]).
Sungguh sangat indah apa yang dikatakan oleh Abu Ya'la al-Moushily dalam syairnya:
Sungguh saya melihat dan merasakan dalam keseharian
Kesabaran itu ada bekas dan hasilnya sangat baik
Orang yang berjuang dengan keras menggapai keinginannya
Dibarengi dengan kesabaran pasti akan berakhir dengan keberhasilan [23])
10.  Doa yang diucapkan ketika mendapat musibah dan pahala yang dijanjikan untuk doa-doa tersebut.
       Hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Ummu Salamah Radiyallahu 'Anha, beliau berkata : Saya mendengar Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa aalihi Wasallam – bersabda :
((ما من عبدٍ تُصيبه مصيبةٌ فيقول: إنَّا لله، وإنَّا إليه راجعون، اللهم أْجُرني في مصيبتي، واخلف لي خيرًا منها، إلا أجره الله في مصيبته ، وأخلف له خيرًا منها )) قالت أم سلمة، فلما توفي أبو سلمة t قلت كما أمرني رسول الله r، فأخلف الله لي خيرًا منه رسولَ الله r، وفي لفظ: ((ما من مسلم تصيبه مصيبة فيقول ما أمره الله: ((إنَّا لله وإنَّا إليه راجعون ، اللهم أجُرْني في مصيبتي واخلِفْ لي خيرًا منها...)) الحديث))
" Tidak ada seorang hambapun yang apabila ditimpa musibah kemudian dia mengucapkan - Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Ya Allah berikanlah pahala bagiku karena musibah ini dan berikanlah saya ganti yang lebih baik -, niscaya Allah akan memberikan pahala karena musibah itu dan memberikan ganti yang lebih baik. Kemudian Ummu Salamah mengatakan : ketika Abu Salamah meninggal maka akupun mengucapkan doa yang diperintahkan oleh Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa aalihi Wasallam – maka Allah pun memberikan yang lebih baik kepadaku yaitu Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa aalihi Wasallam. Dalam Riwayat lain disebutkan : "Tidak ada seorang muslimpun yang ditimpa musibah kemudian dia mengucapkan apa yang diperintahkan oleh Allah : Inna lillahi wa inna ilahi raji'uun, Ya Allah berikanlah pahala kepada ku dalam musibah ini dan ganti yang lebih baik…..[24])
       Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah do'anya berbunyi :
((إنَّا لله وإنَّا إليه راجعون، اللهم عندك أحتسب مصيبتي، فأجُرْني فيها، وعوِّضني خيرًا منها  ))
" Innah lillahi wa inna ilaihi raji'uun, Ya Allah saya mengharapkan pahala dari-Mu dalam musibah ini, maka berikanlah kepadaku pahala tersebut, dan berikan ganti yang lebih baik bagiku dari musibah ini" [25]).
Dari Abu Musa al-Asy'ari Radiyallahu 'Anhu dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda : Apabila anak seorang hamba meninggal, maka Allah berfirman kepada para malaikat : Apakah kalian mengambil anak hamba-Ku ?, Merekapun menjawab : Benar. Kemudian Allah berfirman : Kalian telah mengambil buah hatinya ?, Mereka menjawab: Benar. Allah berfirman lagi : Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku itu?, Mereka menjawab : dia ( hamba tersebut ) memuji Engkau dan Istirja' (mengucapakan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un), maka Allah pun berfirman: Buatkan untuk hamba-Ku rumah di sorga dan beri nama dengan RUMAH AL-HAMD (Rumah Pujian) [26]).
Ibnu Nashiruddin – rahimahullahu- mengatakan dalam syairnya :
Taqdir Allah pasti akan terjadi, di dalamnya ada kebaikan
Bagi orang mukmin yang yakin, tidak untuk orang yang lalai
Apabila datang kepadanya kegembiran atau kesusahan
Dalam setiap kesempatan itu dia mengucapkan Alhamdulillah [27])
11.  Pahala yang Besar dan sorga bagi orang yang meninggal kerabat yang dicintainya kemudian dia bersabar mengharapkan pahala dari Allah.
          Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa aalihi Wasallam – bersabda: Allah ta'ala berfirman :      
((ما لعبدي المؤمن عندي جزاءٌ إذا قبضت صفيَّه من أهل الدنيا ثم احتسبه إلا الجنة ))
" Tidak ada balasan bagi seorang mukmin disisi-Ku apabila Aku ambil Shafiyyahu (orang yang disayanginya) didunia ini kemudian dia ihtisab (mengharap pahala dari-Ku) melainkan Sorga " [28]).  
Yang dimaksud dengan Shafiyyahu  (orang yang disayangi) di sini adalah anak, saudara dan setiap orang yang dicintai.
Dan yang dimaksud dengan ihtisab adalah bersabar dengan kehilangan orang  yang dicintai dengan mengharapkan pahala dan ganjaran dari Allah semata.
Sudut pengambilan dalil dari hadits diatas adalah : bahwasanya kata-kata Shafiyyahu  (orang yang disayangi) lebih umum dari sekedar anak atau yang lainnya, dan dijanjikan pahala dan sorga bagi orang yang ditinggal oleh orang-orang yang dicintainya dan dia ridha [29]).
          Saya pernah mendengar dari guru saya Syaikh bin Baz –rahimahullahu- mengatakan : maksud Shaffiyuhu  disini adalah orang-orang yang dicintainya seperti : anak, bapak, ibu, atau istri [30]).
12.  Orang yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang terbaik setelah mereka, berdasarkan hadits Mush'ab bin sa'ad: 
عن مصعب بن سعد عن أبيه t قال: قلت: يا رسول الله أيُّ الناس أشدُّ بلاءً؟ قال: ((الأنبياء، ثم الأمثل فالأمثل: يُبتلى الرجل على حسب دينه، فإن كان في دينه صُلبًا اشتدَّ بلاؤه، وإن كان في دينه رقةً ابتُلِيَ على قدر دينه ، فما يبرح البلاء بالعبد حتى يتركه يمشي على الأرض وما عليه خطيئة))
" Dari Mush'ab bin sa'ad,  dari bapaknya, dia berkata : saya bertanya kepada Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa aalihi Wasallam -, siapakah yang paling berat cobaannya ? Berliau bersabda : para nabi, kemudian orang-orang terbaik dan seterusnya, seseorang akan diuji sesuai dengan keimanannya, kalau seandainya imannya kuat maka semakin berat ujiannya, kalau seandainya imannya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan kadar keimanannya itu, ujian akan senantiasa menimpa seorang hamba sampai dia tidak punya dosa lagi di dunia ini [31]).
          Orang yang paling besar cobaannya adalah para nabi, karena kalau mereka tidak mendapat cobaan (musibah ), mungkin orang akan mengira mereka itu Tuhan. Juga dengan beratnya cobaan yang mereka terima tentu ummatnya akan bisa lebih bersabar dengan cobaan yang menimpa mereka. Orang yang berat cobaannya akan semakin merendahkan diri dan berserah diri kepada Allah.
          Dalam hadits lain dijelaskan :
عن أبي هريرة t يرفعه: ((إن الرجل ليكون له عند الله المنزلة فما يبلغها بعمل، فما يزال الله يبتليه بما يكره حتى يبلِّغه إياها.
" Dari Abu Hurairah Radiyallahu 'Anhu : Seseorang hamba telah disiapkan baginya disisi Allah sebuah kedudukan, dia tidak bisa sampai kepadanya dengan amalannya semata, maka Allah akan senantiasa memberikan cobaan kepadanya dengan yang tidak disukainya, sehingga akhirnya dia bisa mencapai kedudukan tersebut [32]).
13.  Orang yang besar cobaannya maka pahala dan ganjarannya akan semakin besar dan lebih sempurna. Ini berdasarkan hadits :
عن أنس t عن النبي r قال: ((إن عِظم الجزاء مع عظم البلاء، وإن الله إذا أحب قومًا ابتلاهم، فمن رضي فله الرضا، ومن سخط فله السخط ))
" Dari Anas Radiyallahu 'Anhu dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda: Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan, sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya, siapa saja yang ridha dengan ujian tersebut maka Allah pun akan ridha kepadanya, dan siapa saja yang benci dengan ujian tersebut maka diapun akan mendapatkan kebencian (dari Allah) " [33]).
          Maksud hadits ini adalah untuk mendorong kita bersabar menghadapi ujian dan cobaan ketika telah terjadi, bukan maksudnya meminta-minta supaya diuji oleh Allah karena itu dilarang. Siapa saja yang ridha dengan ujian yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan mendapatkan pahala yang melimpah dan keridhaan dari Allah. Adapun orang yang tidak suka dan benci dengan ujian yang diberikan Allah, maka diapun akan mendapatkan kebencian dan siksa yang pedih dari Allah, karena orang yang melakukan kejahatan akan diberikan ganjaran  ganjaran yang setimpal [34]).
          Dan tidak diragukan lagi bahwasanya kesabaran itu merupakan cahaya sebagaimana disebutkan dalam hadits :
قال النبي r: ((والصبر ضياء ))
" Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : Kesabaran itu adalah cahaya" [35]).  (HR. Muslim no : 223 )
          Yang dimaksud dengan ضياء  ( cahaya ) adalah : cahaya yang dihasilkan oleh sinar yang mempunyai kekuatan untuk membakar, seperti cahaya matahari, beda halnya dengan bulan, karena cahayanya hanya berupa penerang saja, tidak punya kekuatan untuk membakar. Jadi ketika sabar itu sangat berat dirasakan oleh jiwa manusia, maka dibutuhkan usaha keras untuk mengontrol diri dan menjaganya hawa nafsu, maka disitulah kesabaran itu berfungsi sebagai cahaya pembakar [36]). Oleh karena itu – wallahu a'lam – makanya orang-orang yang sabar itu akan diberikan pahala tanpa dihitung-hitung lagi.
14.  Ujian akan senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah sehingga ketika dia berjumpa dengan Allah maka dia tidak punya kesalahan lagi, karena kesalahan-kesalahannya sudah dihapuskan oleh ujian-ujian tersebut [37]), ini berdasarkan hadits Abu Hurairah.
عن أبي هريرة t قال: قال رسول الله r: ((ما يزال البلاء بالمؤمن والمؤمنة: في نفسه، وماله، وولده، حتى يلقى الله وما عليه خطيئة ))
" Dari Abu Hurairah Radiyallahu 'Anhu dia berkata, Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda : Ujian ( cobaan ) akan senantiasa menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, harta, dan anaknya sehingga ketika dia bertemu dengan Allah dia tidak punya kesalahan lagi "[38]).
15.  Keutamaan orang yang meninggal anaknya dan dia ihtisab ( sabar )
       Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda :
عن أنس بن مالك t قال: قال رسول الله r: ((ما من الناس مسلم يموت له ثلاثة من الولد لم يبلغوا الحنث إلا أدخله الله الجنة بفضل رحمته إياهم  ))
Dari Anas bin Malik Radiyallahu 'Anhu dia berkata : Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda : tidak ada seorang muslimpun apabila meninggal tiga orang anaknya yang belum baligh melainkan Allah akan memasukkannya ke dalam sorga dengan keutamaan-Nya kepada mereka " [39]) .
          Anak yang dimaksud di sini mencakup anak laki-laki dan perempuan. Dalam hadist lain disebutkan :
عن عبد الله بن مسعود t قال: قال رسول الله r: ((ما تعدُّون الرّقوب فيكم ))؟ قال: قلنا: الذي لا يُولد له. قال: ((ليس ذاك بالرّقوب، ولكنه الرجل الذي لم يقدِّم من ولده شيئًا  ))
" Dari Abdullah bin Mas'ud Radiyallahu 'Anhu dia berkata; Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda: apakah yang dimaksud dengan Ar-Raquub menurut kalian ?, kamipun menjawab : dia adalah orang yang tidak punya anak. Beliau pun bersabda : bukan itu yang dimaksud dengan Ar-raquub, tetapi dia adalah orang yang tidak ada meninggal satupun anaknya ( ketika dia masih hidup ) " [40]).
16.  Siapa saja yang meninggal tiga orang anaknya – ketika dia masih hidup – maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka dan dia akan dimasukkan ke sorga.
          Ini berdasarkan hadits berikut :
((من مات له ثلاثة من الولد لم يبلغوا الحنث كان له حجابًا من النار أو دخل الجنة ))
" Dari Abu Hurairah - Radiyallahu 'Anhu – dari Nabi - Shalallahu 'Alaihi Wasallam – siapa saja yang meninggal tiga orang anaknya yang belum baligh maka mereka akan menghalanginya dari api neraka atau dia akan masuk ke dalam sorga" [41]).
Dalam shahih Muslim disebutkan :
أن النبي  قال لامرأة مات لها ثلاثة من الولد: ((لقد احتظرت بحظار شديد من النار ))
       " Bahwasanya Nabi - Shalallahu 'Alaihi Wasallam – berkata kepada seorang wanita yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya : sungguh kamu telah berbenteng dengan benteng yang kokoh dari api neraka") HR. Muslim : 2636 .
Dan juga dalam hadits lain disebutkan :
عن عتبة بن عبدٍ t قال: سمعت رسول الله r يقول: ((ما من مسلم يموت له ثلاثة من الولد، لم يبلغوا الحنث إلا تلقَّوْه من أبواب الجنة الثمانية من أيها شاء دخل  ))
" Dari Utbah bin Abdin - Radiyallahu 'Anhu -, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda: tidak ada seorang muslimpun yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya yang belum baligh kecuali mereka akan menyambut mereka di delapan pintu sorga, dia bisa memasukinya dari pintu manapun yang dia sukai"[43]).


[4]) lihat Shahih Muslim Kitab Janaiz, hadits no : 923
[6]) lihat Tafsir Taisir Karimurrahman karya Syekh As-Sa'di hal : 76 dan Tafsir Ibnu Katsir hal : 135
[7]) lih. Tafsir ibnu Katsir : 135, Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari Bab Ash-Shabru 'inda ash-shadmah al-ula, hadist no :1302
[8]) 'idlan adalah barang yang diletakkan dikedua sisi unta atau hewan tunggangan lainnya. pent
[9]) 'alawah adalah barang tambahan yang diletakkan diatas unta atau hewan tunggangan lainnya. pent
[14]) Tafsir Ibnu Katsir : 1511 dan Tafsar As-Sa'di : 721
[16]) Tafsir Ibnu Katsir : 1313 dan Tafsar As-Sa'di : 842
[18]) Tafsir As-Sa'di : 867
[20]) HR. Bukhari no : 4907
[21]) Lihat buku : Bardu al-Akbad 'inda faqdi al-aulaad karangan Ibnu Nashir ad-Dimasyqy : 12
[22]) Tafsir Ibnu Katsir : 753 dan Tafsir As-Sa'di : 449
[23]) Lihat buku : Ash-Shabru Al-jamil karangan Salim Al-Hilaly : 15-16
[24]) HR. Muslim no : 918
[25]) HR. Ibnu Majah no : 1098, dan disahihkan oleh Albani dalam Shahih Ibnu Majah : 1/267
[26]) HR. Tirmizi no : 1021
[27]) Lihat kitab : Bardu Al-Akbaad 'inda Faqdi al-Aulaad : 17
[28]) HR. Bukhari no : 6424
[29]) Fathul Bari : 11/242-243
[30]) Saya mendengarkannya ketika beliau menjelaskan Shahih Bukhari hadist no : 6424, pada hari Ahad tanggal 14/10/1419 di Jami' Al-Kabir – Riyadh.
[31]) HR. Tirmizi no : 2398, Tirmizi mengatakan Hadist ini Hasan Shahih. Ibnu Majah no : 4023, dihasankah oleh Albani dalam Shahih Tirmizi : 2/565, dan Shahih Ibnu Majah : 2/371, dan juga dalam Silsilah Hadits Shahih no : 143
[32]) HR. Abu Ya'la dan Ibnu Hibban, disahihkan oleh Albani dalam Silsilah Hadits Shahihah no : 1599
[33]) HR. Tirmizi no : 2396, dan Ibnu Majah no : 4031, dihasankan oleh AlBani dalam Shahih Sunan Tirmizi : 2/564, dan Shahih Ibnu Majah : 2/373, serta dalam Silsilah Hadits Shahihah no : 146
[34]) Tuhfatul Ahwazi karangan Almubarakfuri : 7/77
[35]) HR. Muslim : 223
[36]) Jami'ul 'Ulum wal Hikam karangan Ibnu Rajab : 2/ 24, 25
[37]) Tuhfatul Ahwazi karangan Almubarakfuri : 7/80
[38]) HR. Tirmizi no : 2399, dihasankan oleh Albani dalam Shahih Tirmizi : 2/565 dan dalam Silsilah Hadits Shahihah no : 2280
[39]) HR. Bukhari no : 1381
[40]) HR. Muslim : 2806
[41]) HR. Bukhari no : 1381
[43]) HR. Ibnu Majah no : 1603, dan dihasankan oleh Albani dalam Shahih Ibnu Majah : 2/46

Knowledge is Better than Money

Alee رضي الله عنه said:
Sahabat Ali Radiyallohu 'anhu berkata :

اَلْعِلْمُخَيْرٌمِنَ المَالِ
Knowledge is better than money,
Ilmu itu lebih baik daripada harta

لأَنَّ المَالُ تحْرِسُهُ وَ الْعِلْمُ يَحْرِسُكَ
since you have to protect money, while knowledge protects you.
Karena Anda yang harus menjaga harta,sedangkan ilmu itu akan menjaga Anda

وَ المَالُ تُفْنِيهِ اَلنَّفَقَةُ وَ الْعِلْمُ يَزْكُو عَلَى الإِنْفَاقِ
And money is depleted from spending, while knowledge grows when you spend it.
Dan harta akan berkurang karena dibelanjakan, sedangkan ilmu akan berkembang ketika diamalkan/ diajarkan

وَ الْعِلْمُ حَاكِمُ وَ المَالُ مَحْكُمُ عَلَيْهِ
And knowledge makes rulings, while money is ruled over.
Dan ilmu adalah hakim/ penentu hukum, sedangkan harta yang dihukumi/ dijatuhi hukuman

مَاتَ خُزَّانُ المَالِ وَ هُمْ أَحْيَاءٌ وَ الْعُلَمَاءُ بَاقُونَ مَا بَقِيَ الدَّهْرُ
People who hoard money have died while they are still living, while the scholars live on through the ages. . .
Penyimpan harta itu telah mati kendatipun sebenarnya masih hidup, sedangkan para ulama/ pemilik ilmu akan terus abadi sepanjang jaman

أَعْيَانُهُمْ مَفْقُودَةٌ وَ آثَارُهُمْ فِي الْقُلُوْبِ مَوْجُودَةٌ
Their souls may have passed away, but their effects remain present in the hearts of people.
Meskipun mereka telah tiada, namun keteladanan-keteladanan mereka tetap bersemayam dalam hati manusia


(جَامِعُ ْبَيَانِ الْعِلْم وَ فَضْله #٢٨٤ وَ إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ)
Jami'ul bayan al ilmu wa fadhluhu # 284 dan isnadnya lemah

KEPADA SAUDARAKU YANG SEDANG SAKIT


http://an-naba.com
Wahai saudaraku sesama muslim yang sedang sakit…
Wahai saudaraku yang terbaring lemas di atas ranjang putih karena terpaksa…
Wahai saudaraku yang sedang kehilangan kesehatan serta diharamkan menikmati rasanya afi’at…
Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuhu
Waba’du….
Salah satu bentuk nikmat yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah nikmat keselamatan, afiat dan kesehatan. Nikmat tersebut laksana mahkota raja di atas kepalanya, yang tidak dapat dirasakan kecuali oleh mereka yang sedang sakit yang terbaring lemas, merana dan merintih di atas ranjang-ranjang putih. Mereka merasakan kepedihan hati (karena sakit) siang dan malam. Mereka semua berada di bawah naungan kasih sayang Allah. Kemudian juga dalam pengawasan para perawat serta dokter. Mereka tidak memiliki kekuatan ataupun siasat cerdik untuk keluar dari kondisi tersebut, kecuali dengan kemurahan dan rahmat Allah.
Dari itulah, saya merasa berkewajiban menulis surat ini, kepada saudara-saudaraku yang sedang sakit, semoga itu menjadi semacam penghibur serta bukti ikut merasakan penderitaan mereka. Dan semoga kata-kata yang ada di dalamnya mampu berfungsi sebagai peringan rasa sakit yang mereka derita. Lebih dari itu, semoga menjadi peringatan bagi kita semua dengan anugerah Allah dan rahmat-Nya. Dengan memohon pertolongan hanya kepada-Nya saya katakan:
Wahai saudaraku, yang engkau mengetahui, bahwa tiada sesuatupun yang menimpamu kecuali merupakan takdir Allah…
Berbaik sangkalah kepada-Nya sehingga rasa sakit yang menimpamu terasa ringan adanya. Sesungguhnya Allah Mahasayang terhadap hamba-hamba-Nya. Ingatlah selalu firman Allah yang terdapat dalam Hadist Qudsi, “Aku tergantung persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Jika baik, maka baiklah adanya. Dan jika buruk, maka buruklah adanya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani dan Ibnu Hibban).
Ketahuilah, jika engkau berbaik sangka kepada Allah, engkau akan merasa ridha dan rasa sakitmu menjadi ringan, sebab engkau yakin sepenuhnya bahwa Allah tidak menakdirkan kecuali kebaikan. Engkau juga sepenuhnya meyakini bahwa Dzat yang menimpakan sakit kepadamu tiada lain kecuali sang Maha Pengasih di antara mereka yang mengasihi, yang mana Dia lebih bersifat kasih sayang kepada makhluk-Nya ketimbang seorang ibu terhadap sang anak.
Wahai engkau yang sedang diuji kesehatan dan ‘afiatmu…
Panjatkanlah pujian kepada Allah Ta’ala, bahwa penyakit serta bala yang menimpamu tidak ditimpakan dalam agamamu. Sebab musibah dalam agama merupakan kerugian besar lagi nyata. Dan hindarilah -semoga Allah memaafkanmu- sikap selalu mengeluh, tidak terima, serta perasaan dongkol atas takdir Allah. Sebab hal itu merupakan perilaku yang tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang muslim. Salah seorang ulama salaf pernah berkata, “Tidak satupun musibah yang menimpaku, kecuali aku memuji Allah atasnya, karena empat hal: Pertama, Allah tidak menjadikan musibah tersebut dalam agamaku; Kedua, Dia menganugerahiku sikap sabar terhadapnya; Ketiga, Dia tidak menjadikanya lebih besar; Keempat, Dia menganugerahiku sikap kembali kepada-Nya saat musibah itu ada.”
Wahai, saudaraku… yang engkau mengharap rahmat dan anugerah-Nya…
Janganlah engkau lupa, bahwa sakit menjadi penghapus dosa-dosa dan kesalahan -dengan izin Allah-. Rasulullah pernah bersabda, “Tiadalah kepayahan, penyakit, kesusahan, kepedihan dan kesedihan yang menimpa seorang muslim hingga duri di jalan yang mengenainya, kecuali Allah menghapus dengannya kesalahan-kesalahannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Maka bergembiralah, wahai saudaraku yang sedang sakit… karena kasih sayang serta rahmat Allah yang masih dikaruniakan kepadamu. Dan ketahuilah -semoga engkau lekas sembuh- bahwa musibah yang menimpamu lebih ringan jika dibanding dengan musibah yang menimpa selainmu. Di luar sana banyak orang yang ditimpa penyakit lebih parah dan lebih serius dari yang menimpamu. Salah seorang penyair pernah berkata, “Dalam setiap rumah pasti ada ujian dan cobaan. Bisa jadi yang menimpa rumahmu adalah jenis cobaan paling ringan (jika engkau mampu mensyukurinya).
Wahai orang yang sedang dilingkupi dan diliputi pelbagai rasa sakit…
Ikhlaskanlah seluruh bentuk penyakit yang menimpamu karena Allah. Sebab kemungkinan besar hal itu telah ditakdirkan Allah sebagai sarana pengangkat derajatmu di akhirat kelak. Tentu jika engkau mampu bersabar dan benar-benar mengharap balasan Allah karenanya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan atasnya, maka Dia akan menguji dan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari). Pun hal itu bisa jadi merupakan ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang mukmin pasti akan diuji oleh Allah. Sebagaimana firman-Nya, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang orang yang sabar”. (QS. Al Baqarah: 155 ). Juga karena Rasul Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala (balasan) sangat ditentukan oleh besarnya cobaan. Dan sekiranya Allah mencintai suatau kaum, Dia menguji dan memberikan cobaan kepada mereka.” (HR. Imam At-Tirmidzi, Ath-Thayalisi dan Al-Baihaqi).
Keharusanmu –wahai saudaraku yang ditimpa sakit– adalah bersabar dan mengharap pahala atas apa yang menimpamu. Engkau hendaknya ridha sebagai bentuk aplikasi dari sabda Rasul Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, “Barangsiapa ridha atas cobaanya, maka dia berhak mendapat ridla Allah. Barangsiapa marah (atas cobaan yang menimpanya) maka murka Allah akan selalu menyertainya.” (HR. Imam At-Tirmidzi, dihasankan olehnya).
Salah seorang penyair pernah berkata:
Jika takdir diberlakukan padamu sebagai suatu perkara
Terimalah dengan jiwa lapang, apa yang dilakukan takdir
Setiap suatu yang berat pasti ada jalan keluarnya
Dan setiap cobaan pasti ada batas akhirnya
Berlindunglah kepada Allah, Dia akan menghindarkanmu dari segala keburukan
Sesungguhnya Allah melakukan segala apa yang dikehendaki-Nya
Wahai engkau yang berupaya mencari kesembuhan dan mengejar afiat…
Tidak syak, bahwa engkau mencari segala jenis obat yang mungkin bisa mengobati dan menyembuhkan seluruh penyakit yang menjangkitimu. Hal tersebut memang disyari’atkan dan diperintahkan oleh agama, dengan catatan obat tersebut bukan sesuatu yang haram atau yang dilarang menurut syari’at. Sebab Rasul Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan penyakit berikut obatnya, maka berobatlah. Dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Ath-Thabrani)
Jika cara penyembuhan serta obat yang dipakai adalah sesuatu yang diperbolehkan oleh syari’at, maka hal itu boleh menurut kaca mata syari’at. Akan tetapi bila yang terjadi sebaliknya, misalnya dengan jalan sihir, perantara dukun, mantra-mantra dan sejenisnya yang diharamkan Allah, maka hal itu sama sekali tidak boleh. Sebab di dalamnya terkandung unsur penipuan, kedustaan, tipu daya, keburukan, kerusakan dan memakan harta manusia dengan cara batil, di samping hal itu juga merusak akidah seorang muslim. Kita berlindung kepada Allah, agar terbebas darinya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, kemudian ia membenarkan ucapanya, maka ia telah kafir kepada apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.” (HR. Imam Ahmad dan Al Hakim dari shahabat Abu Hurairah)
Wahai saudaraku yang sedang kehilangan rasa sehat…
Janganlah memperbanyak ratapan, rintihan dan keluh kesah. Sebab para salafus salih memakruhkan dan tidak menyukai sikap seperti itu. Sebab hal itu menunjukkan sifat lemah dan tidak sabar. Hendaknya engkau memperbanyak dzikir, tasbih, takbir dan tahlil. Berupayalah selalu -semoga Allah menyembuhkanmu- melakukan istighfar dan taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab itu merupakan jalan keluar bagi hamba dari penyakit serta kesedihan yang sedang menimpanya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Barangsiapa membiasakan Istighfar, Allah akan memberikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitanya, menganugerahinya jalan penyelesaian atas kesedihanya dan akan memberinya rezeki dari arah yang ia tidak sangka-sangka.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma).
Saudaraku sesama muslim yang sedang sakit…
Perbanyaklah doa yang tulus serta permintaan kesembuhan yang tiada henti. Sebab Allah menyukai permintaan-permintaan hamba-Nya. Dan manakala Dia melihat adanya kesungguhan, keikhlasan serta kejujuran hamba-Nya, niscaya Dia mengabulkan permintaanya dan mewujudkan harapan harapannya juga akan menghilangkan segala yang ia derita dengan sifat qudrah-Nya, Ke-Maha Keperkasaan-Nya, dan Ke Mahasucian-Nya.
Wahai engkau yang sedang sedih dan rasa sakitmu selalu bertambah…
Jauhilah olehmu terjebak dalam perangkap dan tipu daya setan, sebagaimana yang ia lakukan kepada sebagian orang yang sedang sakit. Yang mana mereka mengira bahwa jalan menuju ringanya rasa sakit, melupakan penyakit yang sedang diderita serta menghibur diri darinya adalah dengan jalan mendengar musik, menikmati lagu-lagu yang diharamkan, menyibukkan diri dengan acara-acara TV yang tidak bermoral atau dengan menyaksikan film-film yang tidak mendidik, yang pada hakikatnya hal itu merupakan jenis penyakit yang serius lagi membahayakan. Hendaknya engkau -semoga Allah memberkahimu- memperbanyak tilawah dan telaah Al-Qur`an, memperbanyak dan menyibukkan diri dengan membaca dan menelaah buku-buku yang bermanfaat. Jika hal itu tidak mampu Anda lakukan, maka di sana tersedia berbagai kaset Islami yang Anda bisa dengarkan dan simak. Terdapat bacaan-bacaan Al-Qur`an, ceramah-ceramah bermanfaat, khutbah-khutbah bermutu serta pelajaran pelajaran berharga yang bisa menghabiskan dan mengisi waktu longgarmu sehingga dapat memperingan dan melupakan rasa sakit yang menimpamu. Di samping hal itu sangat bermanfaat juga mendatangkan banyak pahala bagimu -Insya Allah-.
Wahai saudaraku yang bersabar atas sakit yang menimpamu serta mengikhlaskanya karena mengharap pahala dari Allah…
Ketahuilah, bahwa penyakit yang menimpamu adalah lebih baik bagimu -Insya Allah-. Sebab hal itu mengandung pahala besar serta balasan yang agung. Diriwayatkan dari Shuhaib Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik. Hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang beriman. Jika dianugerahi perkara yang membahagiakan ia bersyukur, dan itu lebih baik baginya. Jika ditimpa perkara yang merugikannya (kesulitan ataupun lainya) ia bersabar, dan itu lebih baik baginya”. (HR. Muslim)
Tidak hanya itu. Bahkan termasuk kemurahan Allah terhadapmu, Dia memberikan pahala dan balasan atas amal-amal shalih (yang selama sakit engkau tidak dapat melakukanya) akan tetapi engkau selalu melakukanya sebelum sakit. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Jika salah seorang kalian sakit atau bepergian, Allah menulis baginya pahala sebagaimana ketika ia melakukan amal tersebut di saat sebelum sakit atau ketika mukim.” (HR. Imam Al-Bukhari dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)
Wahai orang yang sedang diuji Allah dengan penderitaan yang tiada seorangpun mampu menghilangkanya kecuali Dia yang Maha Suci….
Jauhilah olehmu sikap putus asa dan pesimisme terhadap rahmat Allah. Sebab hal itu berlawanan dengan petunjuk Islam. Janganlah sekali-kali berharap ajal segera tiba,  tatkala penyakitmu bertambah berat dan bertambah keras atau engkau tidak segera sembuh. Sungguh hal itu tidak boleh, sebab Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Janganlah sekali-kali seorang dari kalian berharap mati karena kesempitan atau kemalangan yang menimpanya. Jika dengan terpaksa ia berharap, maka hendaklah ia mengucap, ‘Ya Allah, hidupkanlah aku sekiranya hal itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku, sekiranya hal itu lebih baik bagiku’.” (HR. Imam Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu)
Jangan engkau mengira -semoga Allah memberimu kesembuhan- bahwa dalam kematian, engkau menemukan ketenangan dan bebas dari rasa sakit. Sebab penyakit, bisa jadi menjadi sebab bertambahnya kebaikan dan berlipatgandanya pahala sementara engkau tidak mengetahuinya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian mengharap kematian, jika ia orang baik bisa jadi kebaikanya akan bertambah (karena sakit), atau jika ia orang jahat, bisa jadi ia akan diampuni.” (HR. Imam Ahmad, Al-Bukhari dan Imam An-Nasa’i dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu’ Anhu)
Wahai orang yang terhalangi dari bepergian menuju rumah-rumah Allah di muka bumi karena sakit…
Janganlah sekali-kali engkau meninggalkan ataupun meremehkan shalat di saat engkau sakit sehingga melaksanakannya tidak tepat pada waktunya. Sebab hal itu adalah dosa besar serta perkara serius dan membahayakan. Sengaja meninggalkan shalat adalah prilaku kekafiran -Kita berlindung kepada Allah darinya- sebagaimana hal itu difatwakan oleh para ulama. Di samping bahwa sikap menyepelekan dan meremehkan penunaian shalat merupakan dosa besar, pelakunya berada di jurang bahaya besar. Maka hendaknya -semoga Allah menguatkan kita bersama- menjaga pelaksanaan shalat tepat pada waktunya, baik shalat dengan cara duduk, berdiri, berbaring miring, berbaring terlentang dengan wajah ke atas atau sesuai kemampuanmu.
Tidak cukup ini saja, bahkan hendaknya engkau juga memperingatkan orang-orang sakit di sekitarmu tentang keagungan dan pentingnya shalat juga urgensitas penunaianya tepat pada waktunya. Terlebih mereka yang sakit adalah lebih menghajatkan kepada jenis ibadah ini (shalat) dalam kondisi yang seperti itu.

Sebagai penutup…
Saya memohon kepada Allah agar melimpahkan kesehatan dan ‘afiat kepada saya juga kalian semua umumnya. Dan semoga Dia menganugerahi kita semua kesehatan dan keselamatan dari berbagai jenis penyakit baik jenis lahir ataupun batin. Di samping itu saya juga memohon kepada Allah agar kita semua digolongkan menjadi orang yang jika diberi nikmat mampu mensyukuri, jika diuji dapat bersabar, dan jika berbuat dosa dan kesalahan segera meminta ampunan. Sebagaimana saya juga memohon kepada-Nya bagi mereka yang sedang diuji semoga diberikan kesembuhan dan yang sakit semoga segera sehat dan semoga Dia merahmati si mayit dari kalangan kaum muslimin. Sesungguhnya Dialah yang Mahakuasa atas itu semua, dan shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Rasul Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam keluarga beserta para shahabatnya…
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuhu
VN:F [1.8.8_1072]

SAWAH DI YOGYAKARTA

SAWAH DI YOGYAKARTA

Saudaraku .. Kembalilah!!

Monday, May 24th, 2010 | Author: Abu Zubair Hawaary 
http://abuzubair.net/saudaraku-kembalilah/
Saudaraku ...
Tulisan ini kutujukan kepadamu, ya .. kepadamu yang mengharapkan Ridho Allah dan kenikmatan yang kekal di sisiNya, serta takut kepada siksa dan azab yang Allah Ta’ala siapkan untuk orang-orang yang bermaksiat dan kafir.
Kepadamu saudaraku, yang pernah merasakan manisnya keimanan dan nikmatnya berjalan di atas jalan yang lurus serta indahnya mendekatkan diri kepada Allah.

Kepadamu saudaraku, yang dulu bersemangat dan berpacu menuntut ilmu serta mengajak kepada kebaikan.
Kepadamu saudaraku yang dulu sering kulihat berzikir, membaca dan menghapalkan Al Qur’an.
Apa yang terjadi pada dirimu? Kenapa engkau kini mulai menjauh dari teman-temanmu yang rajin sholat berjama’ah, cinta kepada ilmu agama, gemar mempelajari Al Qur’an dan Hadits serta membaca buku-buku yang bermanfaat?
Kenapa aku melihat semangatmu memudar, penampilanmu juga berobah ..tidak lagi seperti dulu yang berusaha mengikuti sunnah-sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama?
ingatkah engkau, ketika itu engkau berhenti dari tempatmu bekerja, kenapa?!
Ketika itu engkau mengatakan, karena tidak bisa sholat berjama’ah ke mesjid!
Karena engkau takut fitnah syahwat yang slalu menggoda!
Karena engkau ingin meninggalkan nyanyian dan menggantikannya dengan mendengarkan Al Qur’an!
Karena engkau ingin menjaga ‘iffah dirimu!
Karena engkau ingin menjaga Dinmu!!
Saudaraku .. kenapa aku lihat syahwat mulai mengalahkanmu, hasrat pun membelenggumu..wajahmu tidak pernah lagi kulihat di majelis-majelis ilmu!
Apakah engkau telah menyimpulkan bahwa iltizam dan keistiqomahanmu serta keta’atanmu kepada Robbmu selama ini sebuah kesalahan, lalu engkau memilih jalan lain; jalan yang menyimpang, maksiat dan kelalaian – agar engkau bisa sampai ke surga Firdaus?!
Ataukah engkau mengira jalan yang telah engkau tempuh selama ini terasa terlalu panjang dan berat, lalu engkau tidak sabar dan memilih jalan orang-orang lali dan lengah yang diperbudak hawa nafsu mereka, yang keinginan mereka hanyalah sebatas diri mereka sendiri, tidak peduli kepada Dinullah dan Dakwah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama.
Ataukah engkau telah melupakan kematian dan sakarat-nya …
Melupakan kuburan dan kegelapannya …
Hari kiamat dan kedahsyatanya …
Neraka dan keras azabnya …
Semoga Allah melindungimu dari itu semua
Dan semoga Allah tidak menjadikanmu termasuk orang-orang yang dikatakanNya,
واتل عليهم نبأ الذي آتيناه آيتنا فانسلخ منها فأتبعه الشيطان فكان من الغاويين
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah Dia Termasuk orang-orang yang sesat.” (Al A’rof : 175)
Kuharap dadamu lapang dan maafkan aku karena kerasnya kata-kataku kepadamu. Akan tetapi kecintaanku kepadamu yang kusimpan di dalam dadaku, dan kekhawatiran su-ul khotimah atas dirimu .. hal itulah yang telah membakar hatiku. Setiap kali aku melihat kondisimu yang membuat gembira musuhmu (Syetan beserta pengikutnya) serta membuat sedih teman-teman dan orang-orang yang mencintaimu.
Saudaraku, akankah engkau kembali sebelum kematian mendatangi?. Kapankah engkau kembali kepada taman keta’atan dan telaga taubat serta istiqomah yang penuh rahmah dan berkah dari Allah??
والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم ذكروا الله فاستغفروا لذنوبهم ومن يغفر الذنوب إلا الله ولم يصروا على ما فعلوا وهم يعلمون
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”.(Ali Imron : 135)
Tumbuhkanlah harapanmu, bangunlah asamu, sesungguhnya engkau memiliki Robb yang maha luas ampunanNya, membentangkan TanganNya siang dan malam untuk mengampuni orang-orang yang berdosa.
Mohonlah hidayah kepada Allah Ta’ala dengan tulus dari hatimu. Lihatlah Nabimu yang engkau cintai shollallahu ‘alaihi wa sallama meminta hidayah kepada Robbnya, beliau berdo’a,
اللهم إني أسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى
“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu petunjuk, ketakwaan, kesucian dan kekayaan”. (HR. Muslim, At-Tirmidzi dan Al Baihaqy dari Ibnu Mas’ud, dan sanadnya shohih, lihat, Shohih Al Jami’ no. 1275)
Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallama mengajarkan itu sebagaimana beliau mengajarkan cucunya Al Hasan bin Ali rodhiyallahu ‘anhuma agar di dalam qunut mengucapkan,  “Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang engkau tunjuki”. (HR. Abu Dawud, An Nasa-I dan lain-lainnya, dari Abul Hawro’, dan sanadnya shohih, lihat : Misykatul Mashobiih no. 1273)
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama juga berlindung kepada Allah dari kesesatan setelah petunjuk,
اللهم إني أعوذ بعزتك أن تضلني لا إله إلا أنت
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaanMu dari Engkau sesatkan, tidak ada Ilah yang diibadati dengan hak melainkan Engkau”. (Muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu Abbas)
Dalam do’a safar beliau mengucapkan,
وأعوذ بك من الحور بعد الكور
“Dan aku berlindung kepadaMu dari Al Haur setelah Al Kaur ”. (HR. Muslim)
Maksud Al Haur setelah Al Kaur yaitu; kerusakan setelah kebaikan, kesesatan setelah petunjuk.
Akuilah dosamu ..  tangisilah kesalahan dan kelalaianmu. Mintalah kepada Allah, agar Ia tidak menghinakanmu di hari pembalasan, serta agar Ia memutihkan wajahmu ketika dihitamkan wajah-wajah pelaku maksiat dan orang-orang kafir.
Mulailah lembaran baru yang putih bersama Allah Ta’ala dengan keta’atan dan taubat nashuhah.
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al Kahfi : 28)
Palingkanlah wajahmu dari teman-teman yang tidak baik, dari orang-orang yang tidak peduli apakah engkau nanti di sorga atau di neraka. Bahkan lebih dari itu, kelak mereka di hari kiamat meminta kepada Allah Ta’ala supaya Allah menambahkan azab yang berlipat untuk  teman-teman mereka.
قالوا ربنا من قدم لنا هذا فزده عذابا ضعفا في النار
“mereka berkata (lagi): “Ya Tuhan kami; barang siapa yang menjerumuskan Kami ke dalam azab ini Maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka”.
(Shod : 61)
Bersihkan dari dirimu debu-debu dosa dan kelengahan. Bergabunglah dengan kafilah yang berjalan menuju Allah Ta’ala.
Kembalilah saudaraku ..kepada Allah Ta’ala, agar engkau kembali menjadi telaga kebaikan yang selalu mengalirkan manfaat untuk umatmu.
Saudaraku, berikut ini sebagian kiat dan asbab yang akan membantumu untuk tetap teguh dan istiqomah dengan izin Allah Ta’ala :
  1. Do’a yang tulus, berdo’alah,
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
“Hai Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas din-Mu”.
  1. Carilah teman yang baik dan sholeh, yang akan membantumu untuk ta’at kepada Allah.
  2. Jauhkan dirimu dari teman-teman yang tidak baik.
  3. Jagalah Kitabullah, dengan membaca, menghapal dan mempelajari makna-makna serta hokum-hukumnya, ketahuilah Al Qur’an adalah obat hati yang sakit.
  4. Jagalah ibadah-ibadah fardhu dan ibadah-ibadah nafilah yang mengiringinya.
  5. Menuntut ilmu sya’ri dan menghadiri majelis-majelis ilmu.
  6. Takut kepada dosa dan akibatnya, karena dosa adalah penyebab su-ul khotimah.
  7. Membaca buku-buku yang bermanfa’at, mengikuti daurah-daurah ilmiyah dan dakwiyah.
  8. Ghoddul Bashor, percayalah dengan ghoddul bashor hatimu akan lebih tenang dan terasa manisnya keimanan.
10.  Ingatlah permusuhan syetan terhadapmu dalam setiap detik. Dan bahwasanya ia senantiasa mengintai kelengahanmu serta menggunakannya untuk menyeretmu menjadi temannya di neraka kelak.

Terakhir saudaraku, kalimat-kalimat ini mungkin keras dan tajam, akan tetapi ia memancar dari cinta yang tulus, hatiku lebih dahulu mengatakannya sebelum penaku menorehkannya, karena kasihan kepadamu saudaraku tercinta. Tidak ada yang kuinginkan melainkan kebaikan untukmu. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmatNya untuk kita …
Dan sampai bertemu di atas jalan kebaikan dengan izin Allah Ta’ala, semoga Allah menjagamu saudaraku.
VN:F [1.8.5_1061]

DESIGN EKSTERIOR

CONTOH DESIGN EKSTERIOR
 (edirumah2008@gmail.com)

CANOPI  DAN TAMPAK DEPAN

LANDS. TAMAN

PLAY GROUND


EKSTERIOR GEDUNG

JADILAH SEPERTI MEREKA

February 11th, 2009 | Author: Abu Zubair Hawaary
http://abuzubair.net 
MEMBALAS KE BURUKAN DENGAN KEBAIKAN
Membaca kehidupan orang-orang sholeh sungguh menakjubkan. Terlebih lagi jika mereka adalah generasi terbaik umat ini. Kehidupan mereka bertabur mutiara hikmah dan pelajaran berharga bagi kehidupan generasi sesudahnya.
Kitab-kitab sejarah dan sunnah telah menorehkan lembaran-lembaran emas kehidupan mereka. Beruntunglah orang-orang yang meneladani mereka dengan baik.

( وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ) (التوبة:100)
   Artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.
   Pertemuan kali ini, kita bersama sebuah kisah menakjubkan yang dinukilkan kepada kita oleh “kutubussunnah”. Kisah yang terjadi antara dua orang sahabat mulia; Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu. Manusia paling afdhol setelah para rasul dan nabi. Kholifah Ar-Rosyid yang pertama semoga Allah meridhoinya. Dan khodim Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Yang pernah memintanya untuk menemaninya di surga. Lantas Nabi berkata kepadanya, “Kalau begitu aku akan mendo’akanmu, tetapi bantulah aku atas dirimu dengan memperbanyak sujud”. Dialah Robi’ah bin Ka’ab Al-Aslamy rodhiyallahu ‘anhu.
   Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim di Mustadroknya, ia berkata, “Ini adalah hadits shohih menurut syarat Muslim dan keduanya tidak mengeluarkannya”. Dari Robi’ah bin Ka’ab Al-Aslamy rodhiyallahu ‘anhu ia menuturkan, Rasulullah shollahu ‘alaihi wasallama memberiku sebidang tanah, dan ia juga memberi Abu Bakar sebidang tanah. Lalu kami berselisih pada sepokok kurma. Ia (Robi’ah) berkata, “Maka datanglah dunia”. Maka Abu Bakar berkata, “Ini termasuk dalam batas tanahku”. Aku pun menyanggah, “Tidak .. akan tetapi ini termasuk dalam batas tanahku”. Lantas Abu Bakar melontarkan kepadaku kata-kata yang tidak aku sukai. Dan dia menyesali kata-katanya itu. Maka ia berkata kepadaku, “Hai Robi’ah, ucapkanlah kepadaku seperti apa yang telah aku katakana kepadamu sehingga menjadi qishosh”. Aku menjawab, “Tidak, demi Allah aku tidak akan mengatakan kepadamu kecuali yang baik”. Abu Bakar kembali berkata, “Demi Allah, engkau harus mengucapkan kepadaku seperti ucapanku kepadamu sehingga menjadi qishosh atau aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama”.
  Aku berkata, “Tidak, aku tidak akan mengatakan kepadamu kecuali yang baik”.
Maka Abu Bakar tidak menerima pembagian tanah tersebut, dan ia mendatangi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Sementara aku (Robi’ah) mengikuti di belakangnya.
Sekelompok orang dari suku Aslam (suku Robi’ah) berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Dia yang telah melontarkan kata-kata itu kepadamu, kenapa dia yang mengadukanmu kepada Rasulullah?”.
  Aku berkata, “Tahukah kalian siapa ini? Ini adalah Abu Bakar .. teman Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama di dalam gua. Orang yang dituakan oleh kaum muslimin. Jangan sampai ia menoleh dan melihat kalian membelaku, sehingga dia marah lantas Rasulullah ikut marah karena kemarahanya, maka Allah akan marah pula karena kemarahan keduanya. Jika sampai itu terjadi celakalah Robi’ah. Pulanglah kalian!!”. Robi’ah bergegas menyusul Abu Bakar.
  Sesampai Abu Bakar di hadapan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama, ia menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Robi’ah. Rasulullah berkata kepada Robi’ah, “Hai Robi’ah, ada apa antara kamu dengan Ash-Shiddiq?”.Robi’ah menceritakan apa yang terjadi dan apa yang diucapkan oleh Abu Bakar kepadanya. Dan keengganannya membalas Abu Bakar dengan ucapan yang sama. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata kepadanya, “Baiklah, jangan katakan kepadanya seperti yang dikatakannya kepadamu, akan tetapi katakanlah ‘Semoga Allah mengampunimu hai Abu Bakar”.
Maka Abu Bakar pergi meninggalkan majelis tersebut sambil menangis …[1]
Subhanallah!

  Kisah menakjubkan yang dinukilkah oleh kutubussunah kepada kita. Di dalamnya terkandung butir-butir pelajaran berharga bagi setiap muslim yang ingin meneladani generasi emas umat ini.
  Entah dari mana kita mulai memetik pelajaran kisah ini. Apakah dari Rasulullah shollallahu yang adil dan bijaksana; bagaimana beliau mendengarkan masalah ini dari kedua belah pihak. Dan bagaimana beliau akhirnya membuat keduanya melewati polemik ini dengan baik.
Ataukah kita mulai dari jiwa besar Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu. Ataukah kita akan membicarakan akhlak Robi’ah dan penghormatannya terhadap Ash-Shiddiq??
  Akar kisah ini adalah apa yang terjadi  di antara dua orang sahabat yang mulia ini, dan pandangan mereka yang berbeda tentang sebatang korma yang menjadi pemicu perselisihan kecil antara keduanya. Dalam kisah ini, Robi’ah menuturkan penyebab terjadinya perselisihan ini, ia mengatakan   (Dan datanglah dunia …) maksudnya sebab utama adalah karena perhatian kepada dunia dan perhiasannya. Seolah-olah Robi’ah rodhiyallahu ‘anhu mengatakan kepada kita bahwa dunia dan perhiasaannya adalah penyebab banyak perselisihan di antara sesama muslim. Seolah-olah ia mengatakan kepada kita, kenapa harus berselisih, bertengkar, dan saling memutus hubungan persaudaraan hanya karena harta, tanah atau warisan dan urusan dunia lainnya?? Sampai kapan dunia ini menyibukkan kita dari tujuan dan cita-cita yang  mulia?
   Dengarkan firman Robb kita Subhanahu wa Ta’ala,
(وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيماً تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِراً)
Artinya,
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Al-Kahfi : 45)
 
    Kemudian cobalah ulang lagi membaca dan merenungi penuturan Robi’ah (Lantas Abu Bakar melontarkan kepadaku kata-kata yang tidak aku sukai. Dan dia menyesali kata-katanya itu). Tidak diceritakan apa kalimat yang telah dilontarkan Abu Bakar kepada Robi’ah. Kita yakin tentu kalimat tersebut tak lebih dari sekedar ketidak sengajaan yang segara di sadari Abu Bakar dengan penyesalannya atas apa yang telah ia ucapkan. Ini merupakan ‘ibroh yang luar biasa. Seorang yang berjiwa besar  sekalipun ia dihormati jika keliru segera kembali kepada yang benar. Kemudian tidak adanya nukilan ucapan Abu Bakar tersebut mengisyaratkan kepada kita bahwasanya Robi’ah sama sekali tidak memendam dendam. Ia ingin ucapan Abu Bakar tersebut dilupakan dan tidak diingat …
   Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu meminta Robi’ah rodhiyallahu ‘anhu membalas ucapannya sebagai qishosh atas perbuatannya. Kedudukannya di sisi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama tidak membuatnya menghinakan dan merendahkan seseorangpun dari kaum muslimin bahkan dia tidak ingin menyakiti seseorangpun sekalipun itu hanya dengan ucapan sepele.
Dengan sikap yang mulia ini Ash-Shiddiq mengajarkan kepada kita sifat adil, tawadhu dan tidak sombong.
   Di sisi lain juga tergambar jiwa besar  Robi’ah. Ia tidak ingin membalas kalimat yang tidak disukainya dengan kalimat yang semisal. Bahkan ia menegaskan (Tidak ..demi Allah aku tidak akan katakan kepadamu kecuali yang baik). Ini peringatan bagi kita agar kita tidak membalas keburukan dengan kebaikan. Jangan biarkan syetan mendapatkan celah untuk merusak mu’amalahmu bersama saudara-saudara dan sahabat-sahabatmu. Jangan ucapkan dengan lisanmu kecuali yang ucapan yang baik.
“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan”. (Al-Mukminun : 96)

   Ini juga menjadi ‘ibroh yang berharga bagi orang-orang yang menjadikan lisannya laksana pedang untuk mencaci-maki, mencela, mengolok-olok, memakan  bangkai saudaranya (ghibah), atau berdusta.
Jangan .. jangan lakukan itu saudaraku!!
   Kemudian ia memberikan kepada kita pelajaran lain yaitu ’sabar’. Ia tidak membalas ucapan Abu Bakar .. sama sekali tidak.
   Bukankah ini pelajaran bagi kita semua, agar kita mengendalikan nafsu dan emosi kita. Sangat disayangkan sebagian orang membalas satu kata dengan dua kali lipat atau bahkan berlebih-lebihan. Masalah sepele saja memantik emosinya, sehingga menggelegak lalu mencela, memaki dan melaknat. Lupakah ia wasiat Qudwah-nya shollallahu ‘alaihi wa sallama ketika mewasiatkan salah seorang sahabatnya, “Jangan marah”.[2]
Kemudian Abu  Bakar yang menyesali perkataannya, ketika Robi’ah tidak mau membalasnya ia pergi menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama untuk meminta petunjuk dalam masalahnya itu. Ini mengandung faedah yang agung yaitu meminta bantuan orang yang lain yang bisa dipercaya dan amanah untuk menjadi penengah dan membantu mendamaikan.
Ketika Robi’ah mengikutinya. Di jalan beberapa orang kaum Robi’ah berusaha menghalanginya mengikuti Abu Bakar. Seolah-olah mereka mengatakan kepadanya (bukankah Abu Bakar yang salah kepadamu, dan engkau yang benar? Kenapa engkau mengikutinya?) dengarkan jawaban yang sangat dalam maknanya dari Robi’ah (Tahukah kalian siapa ini? Ini adalah Abu Bakar, ini adalah teman (Rasulullah) di dalam gua .. orang yang dituakan oleh kaum muslimin!! Jangan sampai ia melihat kalian membelaku, lalu dia marah, lantas Rasulullah marah karena kemarahannya maka Allah pun marah karena kemarahan keduanya sehingga binasalah Robi’ah).
   Sungguh akhlak yang tinggi baik perkataan maupun perbuatannya. Budi pekerti nan luhur dalam bermu’amalah, menghormati dan memuliakan.
Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua bagaimana memposisikan orang lain sesuai dengan kedudukannya. Semoga Allah meridhoimu hai Robi’ah ketika engkau mengetahui keutamaan orang yang memiliki kedudukan. Semoga Allah meridhoimu ketika engkau menghormati Abu Bakar dan memuliakannya. Semoga Allah meridoimu ketika engkau menimbang permasalahaan dengan timbangan syara’.
Lihatlah …Robi’ah mengetahui kedudukan Abu Bakar di sisi Rasulullah, maka dia takut kemarahannya karena dia khawatir itu akan menyebabkan Rasulullah marah lalu menyebabkan Allah juga marah.  Ini yang tidak terpikirkan oleh kaumnya yang menimbang masalah itu dengan emosi mereka semata. Dalam masalah ini pelajaran berharga bagi umat, bahwasanya emosi dan perasaan yang tidak dikontrol dengan batasan-batasan syara’ menyebabkan hasil-hasil yang tidak terpuji.
   Lihatlah wahai saudaraku ..apa yang terjadi ditengah umat islam. Munculnya pemikiran-pemikiran dan perbuatan-perbuatan yang digerakkan oleh emosi  dan semangat yang  tidak mengikuti rambu-rambu syara’ ..sehingga menimbulkan kerusakan di muka bumi ..meledakkan, menghancurkan dan mengkafirkan.
   Saudaraku kaum muslimin … ilmu syar’I yang dibangun di atas pondasi yang shohih adalah satu-satunya jalan menggapai keselamatan umat dan kemenangannya. Kita adalah umat  yang memiliki manhaj dan azas yang jelas. Pilar-pilarnya jelas ..takkan ada yang menggoyahkan baik hawa yang diikuti atau emosi yg tak terkendali atau semangat yg kosong dari ilmu syar’I, selama kita berpegang teguh dengan dasar-dasar yang shohih tadi.
Inilah yang terjadi di antara dua orang sahabat sebelum keduanya sampai kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Adapun yang terjadi dihadapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Keduanya bertemu dihadapan Rasulullah. Dan beliau mendengarkan dari keduanya dengan seksama. Beginilah Rasulullah dengan para  sahabatnya rodhiyallahu anhum; mendengarkan mereka, duduk bersama mereka. Mereka meminta pendapatnya lalu beliau memberikan petunjuk dan saran. Mereka bertanya beliau menjawab.
Dalam kisah ini, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama mendengarkan penuturan keduanya. Dia tidak hanya mendengarkan sepihak. Ini bentuk keadilan beliau. Setelah beliau mendengar keduanya dan setelah jelas semua permasalahan, ia menunjukkan kepada Robi’ah yang lebih baik dari membalas ucapan Abu Bakar, dan beliau mendukungnya untuk tidak membalas bahkan beliau berkata kepadanya, “Katakan kepadanya (semoga Allah mengampunimu hai Abu Bakar)”.
   Robi’ah pun mengucapkannya ..namun jiwa besar Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu yang takut kepada Allah tidak sanggup menerimanya sehingga air matanya mendahului kata-katanya. Dan ia pun pergi dengan menangis semoga Allah meridhoinya.
   Ya Allah .. Alangkah indah dan mengagumkannya kisah ini, penuh dengan akhlak yang mulia, budi pekerti nan tinggi, saling memaafkan dan berlapang dada. Allah Ta’ala berfirman,
فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ (الشورى: من الآية 40
Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”.

   Semoga Allah memberikan kekuatan dan keteguhan kepada kita untuk meneladani Salafush Sholeh .. Amin.

[1] Kisah ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad (4/58-59) dan Ath-Thobroni di Al-Mu’jamul Kabir (5/52-530 dan Ibnu Asakir di At-Tarikh (9/583) dan isnadnya dihasankan oleh Syeikh Al-Albany di As-Silsilah Ash-Shohihah (no. 3145).
[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu

ALAM DESA

MAGELANG, JAWA TENGAH




Info Kajian: Safari Dakwah

(Safari Dakwah Majalah Al-Furqon)

http://moslemsunnah.wordpress.com

 

MENYUCIKAN HATI

Obat Stres (Tekanan Jiwa)
Dikarenakan siapa pun dapat terkena tekanan jiwa, yang berdampak pada
timbulnya masalah atau penyakit, sudah seharusnya diberikan terapi
penyembuhan dan pengobatan yang dapat mencegah atau membatasi agar
tidak menjangkit pada diri. Di antara penyembuhan dan terapinya:
1- Bertakwa kepada Allah  dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan
amal saleh. Firman-Nya :
"Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan
baginya jalan keluar." (QS. At-Thalaq: 2 )
Dan firman-Nya :

"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan
baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. At-Thalaq: 4)
Kisah tiga orang yang terjebak di dalam goa tidak asing bagi kita. Allah 
telah mengeluarkan mereka dari keterjebakan ketika setiap mereka
menyebutkan amalan saleh yang dikerjakan ikhlas karena Allah .
Dengan amal mereka itulah mereka bertawasul kepada Allah .

2. Menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong. Karena dua hal ini
dapat menguatkan dalam menghadapi berbagai problema dan tanggung
jawab sehingga dapat tegar dan sukses menghadapinya. Hal ini
sebagaimana firman Allah :

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-
Baqarah: 153 )
Seorang sahabat Nabi, Hudzaifah  berkata, "Jika Nabi  menghadapi
perkara pelik, beliau melaksanakan shalat." [HR.Ahmad]

3. Husnuzon (berbaik sangka) kepada Allah . Sadarilah bahwa Allah
sematalah yang mengangkat kesulitan manusia. Sesungguhnya kesulitan
meskipun berlangsung berlarut-larut senantiasa Allah iringkan dengan
solusi dan kemudahan. Allah  berfirman melalui lisan Nabi Ya'kub :

"...Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada
berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir." (QS. Yusuf: 87)
Nabi  bersabda dalam hadits Qudsi:

"Sesungguhnya Allah  berfirman: "Aku sebagaimana prasangka hambaku
kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku."
[HR.Turmudzi]
Benarlah perkataan seorang penyair:
Begitu pelik, tapi ketika aku kembalikan kepada Penciptaannya
Ia teratasi, padahal aku sangka tidak akan teratasi

4. Berzikir kepada Allah (mengingat Allah) dengan keyakinan, ucapan
dan amal merupakan sebab untuk dapat keluar dari kemelut, memberi
ketegaran jiwa dan ketenangan. Sebagaimana firman Allah :

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati
menjadi tenteram." (QS.Ar-Ro'd:28)

5. Kontinu senantiasa beristigfar (meminta ampun kepada Allah).
Sesungguhnya hal ini adalah salah satu dari sebab kebahagiaan dan
ketenangan; sebagaimana ia dapat pula mengeluarkan dari bencana,
Menghilangkan kegalauan dan kegelisahan. Sebagaimana sabda
Rasulullah ,

"Siapa yang kontinu beristigfar, Allah akan jadikan pada setiap
kegalauannya solusi dan dari setiap kesulitan jalan keluar serta akan diberi
rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkan."
[HR.Abu Dawud, Ahmad dan Hakim]

6. Kembali kepada Allah dengan berdoa, karena doa dapat
menghilangkan kegelisahan dan mengeluarkan dari kesusahan. Hal ini
sebagaimana hadits Abu Sa'id al-Khudri :
"Pada suatu hari Rasulullah  masuk masjid. Beliau mendapati seorang
lelaki Anshar, yang dipanggil Abu Umamah. Beliau berkata,
"Wahai Abu Umamah, aku tidak melihatmu duduk di masjid
melainkan sedang shalat."
"Kegelisahan dan hutang melilitku, wahai Rasulullah." Jawabnya.
"Maukah aku ajarkan suatu kalimat, jika engkau katakan Allah
akan menghilangkan kegelisahanmu dan melunaskan hutangmu?!"
Tawar Rasulullah.
"Tentu wahai Rasulullah!" Jawab lelaki itu.
"Bacalah ketika pagi dan petang:

[ Allahumma Inni A'ûdzubika minalhammi walhazan wa a'ûdzubika minal'ajzi walkasal, wa a'ûdzubika minaljubni walbukhl, wa a'ûdzubika min ghalabatiddaini wa qohril rijal ]
Artinya:
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kegelisahan
dan kesedihan. Aku berlindung kepadamu dari kelemahan dan
kemalasan. Aku berlindung kepadamu dari kepengecutan dan
kebakhilan. Aku berlindung kepadamu dari dari lilitan hutang dan
penindasan orang."
[HR.Abu Dawud]
 Di antara doa Nabi Musa  kepada Allah agar dilapangkan dadanya,
dimudahkan urusannya, dihilangkan kegelisahan dan kesedihannya,
sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah  melalui lisan Nabinya:

"Musa berkata: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku dan
mudahkanlah untukku urusanku."
(QS.Thâhâ:25-26)

7. Mengerjakan sebab-sebab yang dapat membantunya sukses dalam
kehidupan lalu bertawakal kepada Allah . Meminta kepada-Nya agar
dapat mencapai dan memperoleh hasil yang terbaik. Amal dan tawakal
adalah dua hal yang saling berkaitan untuk menangkal tekanan jiwa dan
efek negatif yang ditimbulkannya. Allah  berfirman,

"Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan)nya." (QS. At-Thalaq: 3 )
Siapa yang mencukupkan diri dengan Allah, tidak akan tersesat dan tidak
akan celaka selamanya.

8. Tidak mengapa meminta bantuan para ahli dari dokter ahli jiwa
atau selain mereka. Terkadang keadaan seseorang terasa begitu
menghimpit, ia dikuasai rasa gundah, gelisah, sedih dan merana yang
mengakibatkan tekanan pada dirinya. Jika berkonsultasi kepada yang
lain, itu akan membantunya membuka pintu penting yang membuka
cercahan cahaya dengan izin Allah.
Ringkas pembicaraan:
Bahwa tekanan jiwa pada akhirnya adalah buatan dan buah amal
tangannya sendiri.

"(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri,
dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak Menganiaya hamba-hamba-Nya."
(QS. Ali Imrah: 182 )
Karena timbulnya tekanan jiwa ini merupakan akibat dari kesalahan masa
lalu yang bertumpuk dan membesar pada penderitanya. Dia tidak dapat
mengolahnya dengan jalan yang benar hingga sampai pada puncaknya.
Terasa begitu hebat di dalam diri dan memorak-porandakan harapan serta
angan-angannya.
Setiap orang dapat mengalahkan tekanan ini dan menghindari pengaruh
negatif yang timbul karenanya ketika sejak semula ia telah siap
menghadapi berbagai tantangan yang dihadapinya. Hal itu diperoleh dari
pendidikan imaniah (pendidikan keimanan) yang benar bagi generasi putra
dan putri di rumah, masjid, sekolah, lembaga-lembaga bimbingan dan
pusat-pusat pendidikan.
Karena seorang hamba ketika bergantung kepada Allah  dan dapat
merasakan keagungan serta penguasaan-Nya atas sesuatu pada satu sisi,
juga merasakan akan kelembutan dan rahmat-Nya terhadap hamba-Nya
dari sisi yang lain, dia tidak akan merasa khawatir akan kesulitan dan
tantangan, bahkan menjalani dan menghadapinya dengan ketegaran dan
kesuksesan.
DISADUR DARI  :
http://www.islamhouse.com/p/291703

UNIVERSITAS ISLAM - SAUDI









Terperdaya Oleh Nikmat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang yang lima: [1] Masa mudamu sebelum masa tuamu, [2] masa sehatmu sebelum sakitmu, [3] masa kayamu sebelum miskinmu, [4] waktu luangmu sebelum sibukmu, dan [5] hidupmu sebelum matimu.” (HR. al-Hakim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, lihat Fath al-Bari [11/264], hadits ini disahihkan al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 486)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah sekedar kesenangan sementara, dan sesungguhnya akherat itulah negeri tempat tinggal yang sebenarnya.” (QS. Ghafir: 39)
Ada seorang yang bertanya kepada Muhammad bin Wasi’, “Bagaimana keadaanmu pagi ini?”. Maka beliau menjawab, “Bagaimanakah menurutmu mengenai seorang yang melampaui tahapan perjalanan setiap harinya menuju alam akherat?”. al-Hasan berkata, “Sesungguhnya dirimu adalah kumpulan perjalanan hari. Setiap kali hari berlalu, maka lenyaplah sebagian dari dirimu.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 482)
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/terperdata-oleh-nikmat.html

design taman

CONTOH DESIGN TAMAN
(edirumah2008@gmail.com) 
 



The Future is for Islam

Shaykh al-Albani [1] , Source: Silsilatul-Ahaadeet hus-Saheehah (pp.6-8),
 Al-Istiqaamah Magazine , Issue No.2 - Safar 1417H / July 1996

"Allaah - the Mighty and Majestic - said:
"It is He who has sent His Messenger with guidance and the religion of truth, that He may make it prevail over all other religions, no matter how much the disbelievers detest it." [Soorah as-Saff 61:9].
We are given the good tidings in this verse that the future is for Islaam, which will gain dominance, ascendancy and rule over all other religions. Some people may think that this was fulfilled in the time of the Prophet sallallaahu 'alayhi wa sallam and the Rightly Guided Khaleefahs (successors) and the righteous kings - but that is not the case. Rather, only a part of this true promise was fulfilled then - as the Prophet sallallaahu 'alayhi wa sallam indicated in his saying:
"Night and day will not pass away until al-Laat and al-'Uzzaa are worshipped." So 'Aaishah radiallaahu 'anhaa said: O Messenger of Allaah! I thought that when Allaah sent down:
"It is He who has sent His Messenger with guidance and the religion of truth, that He may make it prevail over all other religions, no matter how much the disbelievers detest it."
that it would be complete. He sallallaahu 'alayhi wa sallam said: "There will be of that what Allaah wishes." 2
There are other ahaadeeth which show how far Islaam will reach and dominate and how far it will spread, such that there is no doubt that the future is for Islaam, by the permission and favour of Allaah. So I will quote what I am able to from these ahaadeeth and hopefully they will strengthen the determination of the workers for Islaam; and be a proof against those who are indifferent and those who have despaired!
Firstly: "Indeed Allaah gathered up the earth for me so that I saw its east and its west; and indeed the dominion of my Ummah will reach what was gathered up for me from it." 3 And even clearer than it and more general is the hadeeth:
Secondly: "This affair will reach what is reached by the night and the day; and Allaah will not leave a dwelling of brick, nor fur, except that Allaah will cause this Deen to enter it - bringing honour or humiliation. Honour which Allaah gives to Islaam and humiliation which Allaah will give to disbelief." 4
The Future is for Islam by Shaykh al-Albânî
DOA MASUK PASAR, MALL DAN PUSAT-PUSAT KERAMAIAN LAINNYA

“Barangsiapa masuk pasar, lalu membaca:



لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.

“Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lahu, lahulmulku walahulhamdu, yuhyii wa yumiitu wa huwa hayyun laa yamuutu, biyadihil khoiir, wa huwa ‘ala kulli syai’in qodiir.”

Allah mencatat untuknya satu juta kebaikan, menghapus darinya satu juta keburukan dan meninggikan untuknya satu juta derajat.”


(HR. At-Tirmidzi 5/291, Al-Hakim 1/538 dan Ibnu Majah 2235. Al-Albani menyatakan, hadits tersebut hasan dalam Shahih Ibnu Majah 2/21 dan Shahih At-Tirmidzi 2/152.)

Arti doa tersebut:

(Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bag-iNya segala pujian. Dia-lah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Dia-lah Yang Hidup, tidak akan mati. Di tangan-Nya semua kebaikan. Dan Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Tempat yang paling baik adalah masjid. Sedangkan tempat yang paling buruk adalah pasar”. (HR Ibnu Hibban no 1599. Syeikh Syuaib al Arnauth mengatakan, “Hadits hasan”).

Keutamaannya besar dan dahsyat karena pasar, mall dan pusat-pusat keramaian biasanya melalaikan dan menjerumuskan, karena itu kalau kita ingat Allah dan berdzikir kepadaNya di tempat-tempat tersebut maka kita mendapat keutamaan yang besar dan dahsyat tersebut..

Selamat Mengamalkan dan Semoga Sukses, Amien.

Artikel: PengusahaMuslim. com

LOWONGAN

Lowongan Kerja Bagian Akuntansi

lowongan kerja
Yayasan Majelis At Turots Al Islamy  Yogyakarta mengajak ikhwah sekalian bergabung dalam tim keuangan yayasan, insyaAlloh dengan tim tersebut Yayasan Majelis At Turots Al Islamy dapat meningkatkan kinerja keuangannya.
Alhamdulillah saat ini Yayasan Majelis At Turots Al Islamy Yogyakarta telah memiliki beberapa program keagamaan, pendidikan, kesehatan dan sosial yang seluruhnya di tujukan bagi kaum muslimin.
Diantara program yang sudah berjalan adalah :
1. Pondok Pesantren Islamic Center Bin Baz
2. Pondok Pesantren Jamilurrohman
3. Rumah Sakit Islam At Turots Al Islamy
4. Lajnah Dakwah
5. Lajnah Pengembangan Sarana Phisik
6. Perumahan Islami
7. Toko Bangunan Berkah
8. Penerbitan Majalah
9. ICBB Mart, dll

Bagi Ikhwah yang berminat dan memenuhi syarat-syarat di bawah ini :
1. Pria berakhlak baik
2. Pendidikan D3 Akuntasi  (Pengalaman diutamakan)
3. Mampu mengoperasikan komputer minimal MS Word dan Excel
4.Pernah menggunakan program Akuntasi( Zahir, Myob, Accurate, dll)
5. Belum Menikah
6. Siap di tempatkan di unit kerja yang ada

Silahkan mengirimkan data lengkap ke email :
edirumah2008@gmail.com atau isnaini.ahmad@gmail.com

Demikian informasikan ini kami sampaikan, kami berharap ikhwah sekalian dapat menyebarkannya.
Penerimaan Santri Baru 



 Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Ma'had Jamilurrahman As-Salafy yang berkedudukan di Dusun Sawo Glondong, Wirokerten, Banguntapan, Bantul menerima pendaftaran santri baru tahun ajaran 2010/2011.  Program yang ditawarkan adalah I’dad Ad-Du’at (Putra dan Putri) dan Tahfidz Al-Qur`an (Putra dan Putri).
SYARAT PENDAFTARAN:
  1. Menyerahkan foto copi ijazah terakhir yang dilegalisasi, minimal SMP/sederajat
  2. Dapat membaca Al-Qur’an dengan lancer
  3. Menyertakan surat pernyataan dari penanggung jawab biaya
  4. Menyerahkan SKCK atau tazkiyah (rekomendasi) dari ustadz-ustadz yang dikenal oleh pihak ma’had
  5. Mendapat surat izin tertulis dari orang tua
  6. Sehat jasmani dan rohani
  7. Menandatangani surat pernyataan taat peraturan
  8. Bagi calon santri putrid harus diantar oleh mahromnya dan memasukkan seluruh syarat-syarat di atas ke dalam sebuah amplop tertutup (setelah terlebih dahulu diperiksa oleh panitia pendaftaran santri putri)
  9. Bagi santri pindahan dari ma’had lain harus menyertakan surat pindah dari pesantren asal
  10. Siap ditugaskan di tempat yang ditentukan yayasan
  11. Lulus tes wawancara.
KETENTUAN PEMBIAYAAN
  1. Membayar uang pendaftaran sebesar Rp 50.000,-
  2. Membayar uang pangkal sebesar Rp 300.000,-
  3. Uang SPP per bulan Rp 200.000,- (makan 3 x).
PROGRAM GRATIS
Dibuka program bea siswa untuk program I’dad Du’at dengan ketentuan sebagai berikut:
  1. Waktu belajar 2 tahun (bebas SPP bulanan)
  2. Lolos seleksi dan tes wawancara
  3. Bisa membaca Al-Qur’an
  4. Diutamakan memiliki kemampuan Bahasa Arab dasar
  5. Sanggup menyelesaikan masa belajar selama 2 tahun dan siap ditugaskan sesuai ketentuan Yayasan.

WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN
  1. Waktu Pendaftaran : Dibuka tanggal 24 Juni – 31 Juli 2010
  2. Tempat Pendaftaran : Sekretariat Pendaftaran Santri Baru Ma’had Jamilurrahman As-Salafy, Dusun Glondong RT 04, Desa Wirokerten, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, DIY
Keterangan lebih lanjut, hubungi:
  • Ustadz Zaid       : 0813 2739 4768
  • Ustadz Said       : 0813 9277 1606 (untuk Putri)
  • Ustadz Muslam : 0818 0419 0266 (untuk putra)
Petunjuk Rute:
Dari terminal Giwagan Yogya + 1 kilometer ke arah Pondok (selatan) naik ojek/becak/jalan kaki.. 

www.islamhouse.com


 Dari Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthany kepada Fadhilah Syekh Ahmad Al-Hawasy, Istrinya Ummu Ana dan Tasnim serta seluruh keluarga
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, wa ba'du :
          Saya mendengar berita tentang terbakarnya masjid, pustaka dan rumahmu, termasuk juga meninggalnya dua orang anakmu. Saya ikut berdukacita dengan kejadian tersebut. Saya juga telah menelpon dan mengunjungi Anda bersama beberapa orang. Tapi ungkapan belasungkawa yang saya tulis ini bersifat khusus.
          Ungkapan yang ingin saya sampaikan adalah Firman Allah Subhanahu Wata'ala :  
" Alif lam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta. QS. Al-Ankabut : 1- 3
Dan Firman-Nya :
Dan Sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. QS. Muhammad : 31
Dan Firman-Nya :
Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", Maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami adalah besertamu". bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia? QS. Al-Ankabut : 10 .
          Saya berdoa kepada Allah supaya Dia senantiasa memberikan kebaikan padamu, mengumpulkan anda dan kerabat anda yang telah meninggal di Sorga Firdaus yang tertinggi. Ketahuilah bahwa semua yang diambil Allah itu adalah kepunyaan-Nya, demikian juga segala yang diberikan-Nya, segala sesuatunya pasti ada ajalnya, maka bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah  [4]).
          Bergembiralah anda dengan apa yang dijanjikan oleh Allah untuk hamba-Nya yang beriman lagi bersabar, saya akan sebutkan beberapa janji Allah yang akan membuat tenang hati anda, mendinginkan musibah besar yang menimpa anda, akan melapangkan dada anda, menjauhkah rasa sedih dan mendung yang menyelimuti anda. Saya akan sampaikan semua itu dari Firman Allah yang Maha Mulia, Maha Bijaksana, Maha Penyantun lagi Maha Penyayang dimana sayang-Nya lebih baik dibandingkan dengan sayang orang tua kepada anaknya. Ungkapan ini juga saya ambil dari Sabda-sabda Nabi dan Panutan kita Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam:
1. Shalawat Allah, Rahmat dan Hidayah-Nya untuk orang yang sabar
 Allah berfirman :
Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk). ( QS. Al-Baqarah : 155-157 )

 وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ( dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar), maksudnya beritakan kepada mereka bahwasanya mereka akan diberikan pahala tanpa dihitung. Orang-orang yang sabar mendapatkan berita yang sangat besar, dan predikat yang sangat tinggi. Kemudian Allah menjelaskan siapa orang yang sabar itu dengan firmannya :
 الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah). Musibah itu adalah segala sesuatu yang menyedihkan hati atau menyakiti badan, atau kedua-duanya sekaligus sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat diatas, diantara : meninggalnya orang-orang yang dicintai, anak-anak, karib kerabat dan teman-teman, juga berbagai macam penyakit yang menimpa badan seseorang atau badan orang yang dicintainya, kemudian mereka berkata : Inna lillahi (kita semua milik Allah), segala aktifitas kita diatur oleh Allah. Kita tidak bisa memiliki diri, anak dan harta kita secara mutlak. Jadi kalau Allah menguji kita dengan sesuatu, maka sesungguhnya itu berarti Allah berbuat sesuatu terhadap apa yang dimiliki-Nya, tidak ada hak bagi kita untuk menantang.
          Termasuk kesempurnaan ubudiyah  seorang hamba ketika dia mengetahui bahwa cobaan yang datang dari Allah yang Maha Bijaksana – yang lebih sayang kepada hamba-Nya dari diri mereka sendiri ataupun ibu mereka -, kemudian pengetahuannya itu menyebabkan dia Ridha dengan keputusan Allah serta bersyukur dengan pengaturan-Nya, karena semua itu merupakan kebaikan untuk dirinya meskipun dia tidak menyadarinya.
          Karena kita merupakan kepunyaan Allah maka kepada-Nya jugalah kita akan kembali pada hari kiamat nanti. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amalannya, kalau kita sabar dan mengharapkan pahala dari-Nya maka pahala itu akan kita dapatkan secara utuh, namun kalau seandainya kita kecewa dan marah maka kita tidak akan mendapatkan kecuali kemurkaan dan pahala yang hilang. Oleh karena itu kalau kita menyadari bahwa kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya maka itu akan mendorong kita untuk bersabar
          Kemudian Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang sabar tadi akan mendapatkan Shalawat dari Allah, yaitu berupa pujian-Nya, dan akan mendapatkan Rahmat yang besar. Diantara rahmat itu adalah taufik dari Allah untuk bersabar sehingga dia bisa mendapatkan pahala secara sempurna.
          Kemudian Allah menjelaskan : وَأُولَـئِكَ هُمُ الْـمُهْتَدُونَ (mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk), orang-orang yang mengerti kebenaran, dimana mereka menyadari bahwa mereka adalah milik Allah, akan kembali kepada-Nya dan beramal (bersabar) karena-Nya  [6]).
           Amirul mukminin Umar Radiyallahu 'Anhu berkata :
((نعم العدلان ونعمة العلاوة ]أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ [، فهذان العدلان، ]وَأُولَـئِكَ هُمُ الْـمُهْتَدُونَ [، فهذه العلاوة )) [7])
" Ada 'Idlan [8]) dan 'alawah [9]) yang sangat nikmat, adapun 'idlan" adalah firman Allahأُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ  (Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka ), sementara 'alawah adalah firman-Nya : وَأُولَـئِكَ هُمُ الْـمُهْتَدُونَ (dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ) . karena orang yang mendapat musibah itu diberikan pahala yang berlebih.
2.    Minta tolong kepada Allah dengan Sabar,  karena kesabaran adalah salah satu sumber kebahagiaan. Allah berfirman:
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu" QS. Al-Baqarah : 45 .
3.       Cinta Allah untuk orang-orang yang sabar, sebagaimana Firman-Nya:
"Allah mencintai orang-orang yang sabar"   QS. Ali Imran : 146.
4.       Allah bersama orang-orang yang sabar, sebagaimana Firman-Nya:
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar"  QS. Al-Baqarah : 153.
5. Orang yang sabar berhak masuk sorga, sebagaimana Allah berfirman :
" Mereka Itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang Tinggi (dalam syurga) Karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan Ucapan selamat di dalamnya"  QS. Al-Furqan : 75
6. Orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas (jumlahnya), tidak ditimbang dan tidak di takar  [15]. Sebagaimana Firman Allah:
" Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas"   QS. Az-Zumar : 10.
7.       Semua musibah tertulis di lauh mahfuzh, sebelum Allah  menciptakan semua makhluk-Nya, ini adalah permasalahan yang sangat besar yang tidak bisa dicerna dengan akal semata, yang membuat para ilmuwan terpana, tapi semua itu bagi Allah adalah sangat ringan  [16]). Allah berfirman :
" Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri"  QS. Al-Hadiid : 22-23
  Musibah yang menimpa jiwa, harta, anak dan orang-orang yang dicintai, semuanya terjadi sesuai dengan Qadha dan Qadar Allah. Sesuai dengan Ilmu-Nya (Pengetahuan Allah), sesuai dengan apa yang telah dituliskan-Nya, kehendak dan hikmah-Nya. Apabila seorang hamba beriman dan meyakini bahwa semuanya dari Allah kemudian dia ridha, menyerahkan semuanya kepada Allah, maka dia akan mendapatkan pahala yang melimpah di dunia dan akhirat, Allah akan menunjuki hatinya sehingga dia menjadi tentram dan tidak gelisah ketika terjadi musibah, Allah akan memberikannya ketetapan hati dan kesabaran, sehingga dia akan mendapatkan pahala di dunia dan juga balasan yang setimpal di akhirat [18])
Allah berfirman :
" Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu"  QS. At-Taghabun : 11.
'Ilqimah meriwayatkan dari Abdullah tentang:  ومن يؤمن بالله يهدي قلبه  (dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya) dia mengatakan : dia itu adalah orang yang apabila ditimpa musibah dia ridha dan yakin bahwa semua itu dari Allah [20]).
          Sungguh sangat indah apa yang diungkapkan oleh Ibnu Nashiruddin ad-dimasyqi – rahimahullah – dalam syairnya :
Mahasuci Allah yang menguji manusia yang dicinta-Nya
Ujian tersebut merupakan pemberian dari-Nya
Sabarlah menghadapi ujian dan ridhalah
Karena itu merupakan obatnya
Serahkan kepada Allah semua yang sudah ditaqdirkan-Nya
Allah akan melakukan apa yang dikehendaki-Nya [21]).
9.    Allah akan membalas orang-orang yang sabar dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan. 
Allah berfirman :
" Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. dan Sesungguhnya kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan" .
Dalam ayat ini Allah bersumpah bahwa Dia akan membalas orang-orang yang sabar dengan ganjaran yang lebih baik dari apa yang mereka lakukan, setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat dan bahkan lebih, karena sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan orang-orang yang baik pekerjaan mereka dan akan menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka [22]).
Sungguh sangat indah apa yang dikatakan oleh Abu Ya'la al-Moushily dalam syairnya:
Sungguh saya melihat dan merasakan dalam keseharian
Kesabaran itu ada bekas dan hasilnya sangat baik
Orang yang berjuang dengan keras menggapai keinginannya
Dibarengi dengan kesabaran pasti akan berakhir dengan keberhasilan [23])
10.  Doa yang diucapkan ketika mendapat musibah dan pahala yang dijanjikan untuk doa-doa tersebut.
       Hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Ummu Salamah Radiyallahu 'Anha, beliau berkata : Saya mendengar Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa aalihi Wasallam – bersabda :
((ما من عبدٍ تُصيبه مصيبةٌ فيقول: إنَّا لله، وإنَّا إليه راجعون، اللهم أْجُرني في مصيبتي، واخلف لي خيرًا منها، إلا أجره الله في مصيبته ، وأخلف له خيرًا منها )) قالت أم سلمة، فلما توفي أبو سلمة t قلت كما أمرني رسول الله r، فأخلف الله لي خيرًا منه رسولَ الله r، وفي لفظ: ((ما من مسلم تصيبه مصيبة فيقول ما أمره الله: ((إنَّا لله وإنَّا إليه راجعون ، اللهم أجُرْني في مصيبتي واخلِفْ لي خيرًا منها...)) الحديث))
" Tidak ada seorang hambapun yang apabila ditimpa musibah kemudian dia mengucapkan - Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Ya Allah berikanlah pahala bagiku karena musibah ini dan berikanlah saya ganti yang lebih baik -, niscaya Allah akan memberikan pahala karena musibah itu dan memberikan ganti yang lebih baik. Kemudian Ummu Salamah mengatakan : ketika Abu Salamah meninggal maka akupun mengucapkan doa yang diperintahkan oleh Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa aalihi Wasallam – maka Allah pun memberikan yang lebih baik kepadaku yaitu Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa aalihi Wasallam. Dalam Riwayat lain disebutkan : "Tidak ada seorang muslimpun yang ditimpa musibah kemudian dia mengucapkan apa yang diperintahkan oleh Allah : Inna lillahi wa inna ilahi raji'uun, Ya Allah berikanlah pahala kepada ku dalam musibah ini dan ganti yang lebih baik…..[24])
       Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah do'anya berbunyi :
((إنَّا لله وإنَّا إليه راجعون، اللهم عندك أحتسب مصيبتي، فأجُرْني فيها، وعوِّضني خيرًا منها  ))
" Innah lillahi wa inna ilaihi raji'uun, Ya Allah saya mengharapkan pahala dari-Mu dalam musibah ini, maka berikanlah kepadaku pahala tersebut, dan berikan ganti yang lebih baik bagiku dari musibah ini" [25]).
Dari Abu Musa al-Asy'ari Radiyallahu 'Anhu dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda : Apabila anak seorang hamba meninggal, maka Allah berfirman kepada para malaikat : Apakah kalian mengambil anak hamba-Ku ?, Merekapun menjawab : Benar. Kemudian Allah berfirman : Kalian telah mengambil buah hatinya ?, Mereka menjawab: Benar. Allah berfirman lagi : Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku itu?, Mereka menjawab : dia ( hamba tersebut ) memuji Engkau dan Istirja' (mengucapakan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un), maka Allah pun berfirman: Buatkan untuk hamba-Ku rumah di sorga dan beri nama dengan RUMAH AL-HAMD (Rumah Pujian) [26]).
Ibnu Nashiruddin – rahimahullahu- mengatakan dalam syairnya :
Taqdir Allah pasti akan terjadi, di dalamnya ada kebaikan
Bagi orang mukmin yang yakin, tidak untuk orang yang lalai
Apabila datang kepadanya kegembiran atau kesusahan
Dalam setiap kesempatan itu dia mengucapkan Alhamdulillah [27])
11.  Pahala yang Besar dan sorga bagi orang yang meninggal kerabat yang dicintainya kemudian dia bersabar mengharapkan pahala dari Allah.
          Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa aalihi Wasallam – bersabda: Allah ta'ala berfirman :      
((ما لعبدي المؤمن عندي جزاءٌ إذا قبضت صفيَّه من أهل الدنيا ثم احتسبه إلا الجنة ))
" Tidak ada balasan bagi seorang mukmin disisi-Ku apabila Aku ambil Shafiyyahu (orang yang disayanginya) didunia ini kemudian dia ihtisab (mengharap pahala dari-Ku) melainkan Sorga " [28]).  
Yang dimaksud dengan Shafiyyahu  (orang yang disayangi) di sini adalah anak, saudara dan setiap orang yang dicintai.
Dan yang dimaksud dengan ihtisab adalah bersabar dengan kehilangan orang  yang dicintai dengan mengharapkan pahala dan ganjaran dari Allah semata.
Sudut pengambilan dalil dari hadits diatas adalah : bahwasanya kata-kata Shafiyyahu  (orang yang disayangi) lebih umum dari sekedar anak atau yang lainnya, dan dijanjikan pahala dan sorga bagi orang yang ditinggal oleh orang-orang yang dicintainya dan dia ridha [29]).
          Saya pernah mendengar dari guru saya Syaikh bin Baz –rahimahullahu- mengatakan : maksud Shaffiyuhu  disini adalah orang-orang yang dicintainya seperti : anak, bapak, ibu, atau istri [30]).
12.  Orang yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang terbaik setelah mereka, berdasarkan hadits Mush'ab bin sa'ad: 
عن مصعب بن سعد عن أبيه t قال: قلت: يا رسول الله أيُّ الناس أشدُّ بلاءً؟ قال: ((الأنبياء، ثم الأمثل فالأمثل: يُبتلى الرجل على حسب دينه، فإن كان في دينه صُلبًا اشتدَّ بلاؤه، وإن كان في دينه رقةً ابتُلِيَ على قدر دينه ، فما يبرح البلاء بالعبد حتى يتركه يمشي على الأرض وما عليه خطيئة))
" Dari Mush'ab bin sa'ad,  dari bapaknya, dia berkata : saya bertanya kepada Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa aalihi Wasallam -, siapakah yang paling berat cobaannya ? Berliau bersabda : para nabi, kemudian orang-orang terbaik dan seterusnya, seseorang akan diuji sesuai dengan keimanannya, kalau seandainya imannya kuat maka semakin berat ujiannya, kalau seandainya imannya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan kadar keimanannya itu, ujian akan senantiasa menimpa seorang hamba sampai dia tidak punya dosa lagi di dunia ini [31]).
          Orang yang paling besar cobaannya adalah para nabi, karena kalau mereka tidak mendapat cobaan (musibah ), mungkin orang akan mengira mereka itu Tuhan. Juga dengan beratnya cobaan yang mereka terima tentu ummatnya akan bisa lebih bersabar dengan cobaan yang menimpa mereka. Orang yang berat cobaannya akan semakin merendahkan diri dan berserah diri kepada Allah.
          Dalam hadits lain dijelaskan :
عن أبي هريرة t يرفعه: ((إن الرجل ليكون له عند الله المنزلة فما يبلغها بعمل، فما يزال الله يبتليه بما يكره حتى يبلِّغه إياها.
" Dari Abu Hurairah Radiyallahu 'Anhu : Seseorang hamba telah disiapkan baginya disisi Allah sebuah kedudukan, dia tidak bisa sampai kepadanya dengan amalannya semata, maka Allah akan senantiasa memberikan cobaan kepadanya dengan yang tidak disukainya, sehingga akhirnya dia bisa mencapai kedudukan tersebut [32]).
13.  Orang yang besar cobaannya maka pahala dan ganjarannya akan semakin besar dan lebih sempurna. Ini berdasarkan hadits :
عن أنس t عن النبي r قال: ((إن عِظم الجزاء مع عظم البلاء، وإن الله إذا أحب قومًا ابتلاهم، فمن رضي فله الرضا، ومن سخط فله السخط ))
" Dari Anas Radiyallahu 'Anhu dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda: Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan, sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya, siapa saja yang ridha dengan ujian tersebut maka Allah pun akan ridha kepadanya, dan siapa saja yang benci dengan ujian tersebut maka diapun akan mendapatkan kebencian (dari Allah) " [33]).
          Maksud hadits ini adalah untuk mendorong kita bersabar menghadapi ujian dan cobaan ketika telah terjadi, bukan maksudnya meminta-minta supaya diuji oleh Allah karena itu dilarang. Siapa saja yang ridha dengan ujian yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan mendapatkan pahala yang melimpah dan keridhaan dari Allah. Adapun orang yang tidak suka dan benci dengan ujian yang diberikan Allah, maka diapun akan mendapatkan kebencian dan siksa yang pedih dari Allah, karena orang yang melakukan kejahatan akan diberikan ganjaran  ganjaran yang setimpal [34]).
          Dan tidak diragukan lagi bahwasanya kesabaran itu merupakan cahaya sebagaimana disebutkan dalam hadits :
قال النبي r: ((والصبر ضياء ))
" Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : Kesabaran itu adalah cahaya" [35]).  (HR. Muslim no : 223 )
          Yang dimaksud dengan ضياء  ( cahaya ) adalah : cahaya yang dihasilkan oleh sinar yang mempunyai kekuatan untuk membakar, seperti cahaya matahari, beda halnya dengan bulan, karena cahayanya hanya berupa penerang saja, tidak punya kekuatan untuk membakar. Jadi ketika sabar itu sangat berat dirasakan oleh jiwa manusia, maka dibutuhkan usaha keras untuk mengontrol diri dan menjaganya hawa nafsu, maka disitulah kesabaran itu berfungsi sebagai cahaya pembakar [36]). Oleh karena itu – wallahu a'lam – makanya orang-orang yang sabar itu akan diberikan pahala tanpa dihitung-hitung lagi.
14.  Ujian akan senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah sehingga ketika dia berjumpa dengan Allah maka dia tidak punya kesalahan lagi, karena kesalahan-kesalahannya sudah dihapuskan oleh ujian-ujian tersebut [37]), ini berdasarkan hadits Abu Hurairah.
عن أبي هريرة t قال: قال رسول الله r: ((ما يزال البلاء بالمؤمن والمؤمنة: في نفسه، وماله، وولده، حتى يلقى الله وما عليه خطيئة ))
" Dari Abu Hurairah Radiyallahu 'Anhu dia berkata, Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda : Ujian ( cobaan ) akan senantiasa menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, harta, dan anaknya sehingga ketika dia bertemu dengan Allah dia tidak punya kesalahan lagi "[38]).
15.  Keutamaan orang yang meninggal anaknya dan dia ihtisab ( sabar )
       Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda :
عن أنس بن مالك t قال: قال رسول الله r: ((ما من الناس مسلم يموت له ثلاثة من الولد لم يبلغوا الحنث إلا أدخله الله الجنة بفضل رحمته إياهم  ))
Dari Anas bin Malik Radiyallahu 'Anhu dia berkata : Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda : tidak ada seorang muslimpun apabila meninggal tiga orang anaknya yang belum baligh melainkan Allah akan memasukkannya ke dalam sorga dengan keutamaan-Nya kepada mereka " [39]) .
          Anak yang dimaksud di sini mencakup anak laki-laki dan perempuan. Dalam hadist lain disebutkan :
عن عبد الله بن مسعود t قال: قال رسول الله r: ((ما تعدُّون الرّقوب فيكم ))؟ قال: قلنا: الذي لا يُولد له. قال: ((ليس ذاك بالرّقوب، ولكنه الرجل الذي لم يقدِّم من ولده شيئًا  ))
" Dari Abdullah bin Mas'ud Radiyallahu 'Anhu dia berkata; Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda: apakah yang dimaksud dengan Ar-Raquub menurut kalian ?, kamipun menjawab : dia adalah orang yang tidak punya anak. Beliau pun bersabda : bukan itu yang dimaksud dengan Ar-raquub, tetapi dia adalah orang yang tidak ada meninggal satupun anaknya ( ketika dia masih hidup ) " [40]).
16.  Siapa saja yang meninggal tiga orang anaknya – ketika dia masih hidup – maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka dan dia akan dimasukkan ke sorga.
          Ini berdasarkan hadits berikut :
((من مات له ثلاثة من الولد لم يبلغوا الحنث كان له حجابًا من النار أو دخل الجنة ))
" Dari Abu Hurairah - Radiyallahu 'Anhu – dari Nabi - Shalallahu 'Alaihi Wasallam – siapa saja yang meninggal tiga orang anaknya yang belum baligh maka mereka akan menghalanginya dari api neraka atau dia akan masuk ke dalam sorga" [41]).
Dalam shahih Muslim disebutkan :
أن النبي  قال لامرأة مات لها ثلاثة من الولد: ((لقد احتظرت بحظار شديد من النار ))
       " Bahwasanya Nabi - Shalallahu 'Alaihi Wasallam – berkata kepada seorang wanita yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya : sungguh kamu telah berbenteng dengan benteng yang kokoh dari api neraka") HR. Muslim : 2636 .
Dan juga dalam hadits lain disebutkan :
عن عتبة بن عبدٍ t قال: سمعت رسول الله r يقول: ((ما من مسلم يموت له ثلاثة من الولد، لم يبلغوا الحنث إلا تلقَّوْه من أبواب الجنة الثمانية من أيها شاء دخل  ))
" Dari Utbah bin Abdin - Radiyallahu 'Anhu -, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda: tidak ada seorang muslimpun yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya yang belum baligh kecuali mereka akan menyambut mereka di delapan pintu sorga, dia bisa memasukinya dari pintu manapun yang dia sukai"[43]).


[4]) lihat Shahih Muslim Kitab Janaiz, hadits no : 923
[6]) lihat Tafsir Taisir Karimurrahman karya Syekh As-Sa'di hal : 76 dan Tafsir Ibnu Katsir hal : 135
[7]) lih. Tafsir ibnu Katsir : 135, Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari Bab Ash-Shabru 'inda ash-shadmah al-ula, hadist no :1302
[8]) 'idlan adalah barang yang diletakkan dikedua sisi unta atau hewan tunggangan lainnya. pent
[9]) 'alawah adalah barang tambahan yang diletakkan diatas unta atau hewan tunggangan lainnya. pent
[14]) Tafsir Ibnu Katsir : 1511 dan Tafsar As-Sa'di : 721
[16]) Tafsir Ibnu Katsir : 1313 dan Tafsar As-Sa'di : 842
[18]) Tafsir As-Sa'di : 867
[20]) HR. Bukhari no : 4907
[21]) Lihat buku : Bardu al-Akbad 'inda faqdi al-aulaad karangan Ibnu Nashir ad-Dimasyqy : 12
[22]) Tafsir Ibnu Katsir : 753 dan Tafsir As-Sa'di : 449
[23]) Lihat buku : Ash-Shabru Al-jamil karangan Salim Al-Hilaly : 15-16
[24]) HR. Muslim no : 918
[25]) HR. Ibnu Majah no : 1098, dan disahihkan oleh Albani dalam Shahih Ibnu Majah : 1/267
[26]) HR. Tirmizi no : 1021
[27]) Lihat kitab : Bardu Al-Akbaad 'inda Faqdi al-Aulaad : 17
[28]) HR. Bukhari no : 6424
[29]) Fathul Bari : 11/242-243
[30]) Saya mendengarkannya ketika beliau menjelaskan Shahih Bukhari hadist no : 6424, pada hari Ahad tanggal 14/10/1419 di Jami' Al-Kabir – Riyadh.
[31]) HR. Tirmizi no : 2398, Tirmizi mengatakan Hadist ini Hasan Shahih. Ibnu Majah no : 4023, dihasankah oleh Albani dalam Shahih Tirmizi : 2/565, dan Shahih Ibnu Majah : 2/371, dan juga dalam Silsilah Hadits Shahih no : 143
[32]) HR. Abu Ya'la dan Ibnu Hibban, disahihkan oleh Albani dalam Silsilah Hadits Shahihah no : 1599
[33]) HR. Tirmizi no : 2396, dan Ibnu Majah no : 4031, dihasankan oleh AlBani dalam Shahih Sunan Tirmizi : 2/564, dan Shahih Ibnu Majah : 2/373, serta dalam Silsilah Hadits Shahihah no : 146
[34]) Tuhfatul Ahwazi karangan Almubarakfuri : 7/77
[35]) HR. Muslim : 223
[36]) Jami'ul 'Ulum wal Hikam karangan Ibnu Rajab : 2/ 24, 25
[37]) Tuhfatul Ahwazi karangan Almubarakfuri : 7/80
[38]) HR. Tirmizi no : 2399, dihasankan oleh Albani dalam Shahih Tirmizi : 2/565 dan dalam Silsilah Hadits Shahihah no : 2280
[39]) HR. Bukhari no : 1381
[40]) HR. Muslim : 2806
[41]) HR. Bukhari no : 1381
[43]) HR. Ibnu Majah no : 1603, dan dihasankan oleh Albani dalam Shahih Ibnu Majah : 2/46