Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, wa ba'du :
Saya mendengar berita tentang terbakarnya masjid, pustaka dan rumahmu, termasuk juga meninggalnya dua orang anakmu. Saya ikut berdukacita dengan kejadian tersebut. Saya juga telah menelpon dan mengunjungi Anda bersama beberapa orang. Tapi ungkapan belasungkawa yang saya tulis ini bersifat khusus.
Ungkapan yang ingin saya sampaikan adalah Firman Allah Subhanahu Wata'ala :
" Alif lam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta. QS. Al-Ankabut : 1- 3
Dan Firman-Nya :
Dan Sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. QS. Muhammad : 31
Dan Firman-Nya :
Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", Maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami adalah besertamu". bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia? QS. Al-Ankabut : 10 .
Saya berdoa kepada Allah supaya Dia senantiasa memberikan kebaikan padamu, mengumpulkan anda dan kerabat anda yang telah meninggal di Sorga Firdaus yang tertinggi. Ketahuilah bahwa semua yang diambil Allah itu adalah kepunyaan-Nya, demikian juga segala yang diberikan-Nya, segala sesuatunya pasti ada ajalnya, maka bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah [4]).
Bergembiralah anda dengan apa yang dijanjikan oleh Allah untuk hamba-Nya yang beriman lagi bersabar, saya akan sebutkan beberapa janji Allah yang akan membuat tenang hati anda, mendinginkan musibah besar yang menimpa anda, akan melapangkan dada anda, menjauhkah rasa sedih dan mendung yang menyelimuti anda. Saya akan sampaikan semua itu dari Firman Allah yang Maha Mulia, Maha Bijaksana, Maha Penyantun lagi Maha Penyayang dimana sayang-Nya lebih baik dibandingkan dengan sayang orang tua kepada anaknya. Ungkapan ini juga saya ambil dari Sabda-sabda Nabi dan Panutan kita Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam:
1. Shalawat Allah, Rahmat dan Hidayah-Nya untuk orang yang sabar
Allah berfirman :
Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk). ( QS. Al-Baqarah : 155-157 )
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ( dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar), maksudnya beritakan kepada mereka bahwasanya mereka akan diberikan pahala tanpa dihitung. Orang-orang yang sabar mendapatkan berita yang sangat besar, dan predikat yang sangat tinggi. Kemudian Allah menjelaskan siapa orang yang sabar itu dengan firmannya :
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah). Musibah itu adalah segala sesuatu yang menyedihkan hati atau menyakiti badan, atau kedua-duanya sekaligus sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat diatas, diantara : meninggalnya orang-orang yang dicintai, anak-anak, karib kerabat dan teman-teman, juga berbagai macam penyakit yang menimpa badan seseorang atau badan orang yang dicintainya, kemudian mereka berkata : Inna lillahi (kita semua milik Allah), segala aktifitas kita diatur oleh Allah. Kita tidak bisa memiliki diri, anak dan harta kita secara mutlak. Jadi kalau Allah menguji kita dengan sesuatu, maka sesungguhnya itu berarti Allah berbuat sesuatu terhadap apa yang dimiliki-Nya, tidak ada hak bagi kita untuk menantang.
Termasuk kesempurnaan ubudiyah seorang hamba ketika dia mengetahui bahwa cobaan yang datang dari Allah yang Maha Bijaksana – yang lebih sayang kepada hamba-Nya dari diri mereka sendiri ataupun ibu mereka -, kemudian pengetahuannya itu menyebabkan dia Ridha dengan keputusan Allah serta bersyukur dengan pengaturan-Nya, karena semua itu merupakan kebaikan untuk dirinya meskipun dia tidak menyadarinya.
Karena kita merupakan kepunyaan Allah maka kepada-Nya jugalah kita akan kembali pada hari kiamat nanti. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amalannya, kalau kita sabar dan mengharapkan pahala dari-Nya maka pahala itu akan kita dapatkan secara utuh, namun kalau seandainya kita kecewa dan marah maka kita tidak akan mendapatkan kecuali kemurkaan dan pahala yang hilang. Oleh karena itu kalau kita menyadari bahwa kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya maka itu akan mendorong kita untuk bersabar
Kemudian Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang sabar tadi akan mendapatkan Shalawat dari Allah, yaitu berupa pujian-Nya, dan akan mendapatkan Rahmat yang besar. Diantara rahmat itu adalah taufik dari Allah untuk bersabar sehingga dia bisa mendapatkan pahala secara sempurna.
Kemudian Allah menjelaskan : وَأُولَـئِكَ هُمُ الْـمُهْتَدُونَ (mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk), orang-orang yang mengerti kebenaran, dimana mereka menyadari bahwa mereka adalah milik Allah, akan kembali kepada-Nya dan beramal (bersabar) karena-Nya [6]).
((نعم العدلان ونعمة العلاوة ]أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ [، فهذان العدلان، ]وَأُولَـئِكَ هُمُ الْـمُهْتَدُونَ [، فهذه العلاوة )) [7])
" Ada 'Idlan [8]) dan 'alawah [9]) yang sangat nikmat, adapun 'idlan" adalah firman Allahأُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ (Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka ), sementara 'alawah adalah firman-Nya : وَأُولَـئِكَ هُمُ الْـمُهْتَدُونَ (dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ) . karena orang yang mendapat musibah itu diberikan pahala yang berlebih.
2. Minta tolong kepada Allah dengan Sabar, karena kesabaran adalah salah satu sumber kebahagiaan. Allah berfirman:
3. Cinta Allah untuk orang-orang yang sabar, sebagaimana Firman-Nya:
4. Allah bersama orang-orang yang sabar, sebagaimana Firman-Nya:
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" QS. Al-Baqarah : 153.
5. Orang yang sabar berhak masuk sorga, sebagaimana Allah berfirman :
" Mereka Itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang Tinggi (dalam syurga) Karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan Ucapan selamat di dalamnya" QS. Al-Furqan : 75
6. Orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas (jumlahnya), tidak ditimbang dan tidak di takar [15]) . Sebagaimana Firman Allah:
" Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas" QS. Az-Zumar : 10.
7. Semua musibah tertulis di lauh mahfuzh, sebelum Allah menciptakan semua makhluk-Nya, ini adalah permasalahan yang sangat besar yang tidak bisa dicerna dengan akal semata, yang membuat para ilmuwan terpana, tapi semua itu bagi Allah adalah sangat ringan [16]). Allah berfirman :
" Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri" QS. Al-Hadiid : 22-23
Musibah yang menimpa jiwa, harta, anak dan orang-orang yang dicintai, semuanya terjadi sesuai dengan Qadha dan Qadar Allah. Sesuai dengan Ilmu-Nya (Pengetahuan Allah), sesuai dengan apa yang telah dituliskan-Nya, kehendak dan hikmah-Nya. Apabila seorang hamba beriman dan meyakini bahwa semuanya dari Allah kemudian dia ridha, menyerahkan semuanya kepada Allah, maka dia akan mendapatkan pahala yang melimpah di dunia dan akhirat, Allah akan menunjuki hatinya sehingga dia menjadi tentram dan tidak gelisah ketika terjadi musibah, Allah akan memberikannya ketetapan hati dan kesabaran, sehingga dia akan mendapatkan pahala di dunia dan juga balasan yang setimpal di akhirat [18]).
Allah berfirman :
" Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu" QS. At-Taghabun : 11.
'Ilqimah meriwayatkan dari Abdullah tentang: ومن يؤمن بالله يهدي قلبه (dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya) dia mengatakan : dia itu adalah orang yang apabila ditimpa musibah dia ridha dan yakin bahwa semua itu dari Allah [20]).
Sungguh sangat indah apa yang diungkapkan oleh Ibnu Nashiruddin ad-dimasyqi – rahimahullah – dalam syairnya :
Mahasuci Allah yang menguji manusia yang dicinta-Nya
Ujian tersebut merupakan pemberian dari-Nya
Sabarlah menghadapi ujian dan ridhalah
Karena itu merupakan obatnya
Serahkan kepada Allah semua yang sudah ditaqdirkan-Nya
9. Allah akan membalas orang-orang yang sabar dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.
Allah berfirman :
" Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. dan Sesungguhnya kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan" .
Dalam ayat ini Allah bersumpah bahwa Dia akan membalas orang-orang yang sabar dengan ganjaran yang lebih baik dari apa yang mereka lakukan, setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat dan bahkan lebih, karena sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan orang-orang yang baik pekerjaan mereka dan akan menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka [22]).
Sungguh sangat indah apa yang dikatakan oleh Abu Ya'la al-Moushily dalam syairnya:
Sungguh saya melihat dan merasakan dalam keseharian
Kesabaran itu ada bekas dan hasilnya sangat baik
Orang yang berjuang dengan keras menggapai keinginannya
10. Doa yang diucapkan ketika mendapat musibah dan pahala yang dijanjikan untuk doa-doa tersebut.
Hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Ummu Salamah Radiyallahu 'Anha, beliau berkata : Saya mendengar Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa aalihi Wasallam – bersabda :
((ما من عبدٍ تُصيبه مصيبةٌ فيقول: إنَّا لله، وإنَّا إليه راجعون، اللهم أْجُرني في مصيبتي، واخلف لي خيرًا منها، إلا أجره الله في مصيبته ، وأخلف له خيرًا منها )) قالت أم سلمة، فلما توفي أبو سلمة t قلت كما أمرني رسول الله r، فأخلف الله لي خيرًا منه رسولَ الله r، وفي لفظ: ((ما من مسلم تصيبه مصيبة فيقول ما أمره الله: ((إنَّا لله وإنَّا إليه راجعون ، اللهم أجُرْني في مصيبتي واخلِفْ لي خيرًا منها...)) الحديث))
" Tidak ada seorang hambapun yang apabila ditimpa musibah kemudian dia mengucapkan - Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Ya Allah berikanlah pahala bagiku karena musibah ini dan berikanlah saya ganti yang lebih baik -, niscaya Allah akan memberikan pahala karena musibah itu dan memberikan ganti yang lebih baik. Kemudian Ummu Salamah mengatakan : ketika Abu Salamah meninggal maka akupun mengucapkan doa yang diperintahkan oleh Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa aalihi Wasallam – maka Allah pun memberikan yang lebih baik kepadaku yaitu Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa aalihi Wasallam. Dalam Riwayat lain disebutkan : "Tidak ada seorang muslimpun yang ditimpa musibah kemudian dia mengucapkan apa yang diperintahkan oleh Allah : Inna lillahi wa inna ilahi raji'uun, Ya Allah berikanlah pahala kepada ku dalam musibah ini dan ganti yang lebih baik…..[24])
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah do'anya berbunyi :
((إنَّا لله وإنَّا إليه راجعون، اللهم عندك أحتسب مصيبتي، فأجُرْني فيها، وعوِّضني خيرًا منها ))
" Innah lillahi wa inna ilaihi raji'uun, Ya Allah saya mengharapkan pahala dari-Mu dalam musibah ini, maka berikanlah kepadaku pahala tersebut, dan berikan ganti yang lebih baik bagiku dari musibah ini" [25]).
Dari Abu Musa al-Asy'ari Radiyallahu 'Anhu dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda : Apabila anak seorang hamba meninggal, maka Allah berfirman kepada para malaikat : Apakah kalian mengambil anak hamba-Ku ?, Merekapun menjawab : Benar. Kemudian Allah berfirman : Kalian telah mengambil buah hatinya ?, Mereka menjawab: Benar. Allah berfirman lagi : Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku itu?, Mereka menjawab : dia ( hamba tersebut ) memuji Engkau dan Istirja' (mengucapakan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un), maka Allah pun berfirman: Buatkan untuk hamba-Ku rumah di sorga dan beri nama dengan RUMAH AL-HAMD (Rumah Pujian) [26]).
Ibnu Nashiruddin – rahimahullahu- mengatakan dalam syairnya :
Taqdir Allah pasti akan terjadi, di dalamnya ada kebaikan
Bagi orang mukmin yang yakin, tidak untuk orang yang lalai
Apabila datang kepadanya kegembiran atau kesusahan
11. Pahala yang Besar dan sorga bagi orang yang meninggal kerabat yang dicintainya kemudian dia bersabar mengharapkan pahala dari Allah.
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa aalihi Wasallam – bersabda: Allah ta'ala berfirman :
((ما لعبدي المؤمن عندي جزاءٌ إذا قبضت صفيَّه من أهل الدنيا ثم احتسبه إلا الجنة ))
" Tidak ada balasan bagi seorang mukmin disisi-Ku apabila Aku ambil Shafiyyahu (orang yang disayanginya) didunia ini kemudian dia ihtisab (mengharap pahala dari-Ku) melainkan Sorga " [28]).
Yang dimaksud dengan Shafiyyahu (orang yang disayangi) di sini adalah anak, saudara dan setiap orang yang dicintai.
Dan yang dimaksud dengan ihtisab adalah bersabar dengan kehilangan orang yang dicintai dengan mengharapkan pahala dan ganjaran dari Allah semata.
Sudut pengambilan dalil dari hadits diatas adalah : bahwasanya kata-kata Shafiyyahu (orang yang disayangi) lebih umum dari sekedar anak atau yang lainnya, dan dijanjikan pahala dan sorga bagi orang yang ditinggal oleh orang-orang yang dicintainya dan dia ridha [29]).
Saya pernah mendengar dari guru saya Syaikh bin Baz –rahimahullahu- mengatakan : maksud Shaffiyuhu disini adalah orang-orang yang dicintainya seperti : anak, bapak, ibu, atau istri [30]).
12. Orang yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang terbaik setelah mereka, berdasarkan hadits Mush'ab bin sa'ad:
عن مصعب بن سعد عن أبيه t قال: قلت: يا رسول الله أيُّ الناس أشدُّ بلاءً؟ قال: ((الأنبياء، ثم الأمثل فالأمثل: يُبتلى الرجل على حسب دينه، فإن كان في دينه صُلبًا اشتدَّ بلاؤه، وإن كان في دينه رقةً ابتُلِيَ على قدر دينه ، فما يبرح البلاء بالعبد حتى يتركه يمشي على الأرض وما عليه خطيئة))
" Dari Mush'ab bin sa'ad, dari bapaknya, dia berkata : saya bertanya kepada Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa aalihi Wasallam -, siapakah yang paling berat cobaannya ? Berliau bersabda : para nabi, kemudian orang-orang terbaik dan seterusnya, seseorang akan diuji sesuai dengan keimanannya, kalau seandainya imannya kuat maka semakin berat ujiannya, kalau seandainya imannya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan kadar keimanannya itu, ujian akan senantiasa menimpa seorang hamba sampai dia tidak punya dosa lagi di dunia ini [31]).
Orang yang paling besar cobaannya adalah para nabi, karena kalau mereka tidak mendapat cobaan (musibah ), mungkin orang akan mengira mereka itu Tuhan. Juga dengan beratnya cobaan yang mereka terima tentu ummatnya akan bisa lebih bersabar dengan cobaan yang menimpa mereka. Orang yang berat cobaannya akan semakin merendahkan diri dan berserah diri kepada Allah.
Dalam hadits lain dijelaskan :
عن أبي هريرة t يرفعه: ((إن الرجل ليكون له عند الله المنزلة فما يبلغها بعمل، فما يزال الله يبتليه بما يكره حتى يبلِّغه إياها.
" Dari Abu Hurairah Radiyallahu 'Anhu : Seseorang hamba telah disiapkan baginya disisi Allah sebuah kedudukan, dia tidak bisa sampai kepadanya dengan amalannya semata, maka Allah akan senantiasa memberikan cobaan kepadanya dengan yang tidak disukainya, sehingga akhirnya dia bisa mencapai kedudukan tersebut [32]).
13. Orang yang besar cobaannya maka pahala dan ganjarannya akan semakin besar dan lebih sempurna. Ini berdasarkan hadits :
عن أنس t عن النبي r قال: ((إن عِظم الجزاء مع عظم البلاء، وإن الله إذا أحب قومًا ابتلاهم، فمن رضي فله الرضا، ومن سخط فله السخط ))
" Dari Anas Radiyallahu 'Anhu dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda: Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan, sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya, siapa saja yang ridha dengan ujian tersebut maka Allah pun akan ridha kepadanya, dan siapa saja yang benci dengan ujian tersebut maka diapun akan mendapatkan kebencian (dari Allah) " [33]).
Maksud hadits ini adalah untuk mendorong kita bersabar menghadapi ujian dan cobaan ketika telah terjadi, bukan maksudnya meminta-minta supaya diuji oleh Allah karena itu dilarang. Siapa saja yang ridha dengan ujian yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan mendapatkan pahala yang melimpah dan keridhaan dari Allah. Adapun orang yang tidak suka dan benci dengan ujian yang diberikan Allah, maka diapun akan mendapatkan kebencian dan siksa yang pedih dari Allah, karena orang yang melakukan kejahatan akan diberikan ganjaran ganjaran yang setimpal [34]).
Dan tidak diragukan lagi bahwasanya kesabaran itu merupakan cahaya sebagaimana disebutkan dalam hadits :
قال النبي r: ((والصبر ضياء ))
" Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : Kesabaran itu adalah cahaya" [35]). (HR. Muslim no : 223 )
Yang dimaksud dengan ضياء ( cahaya ) adalah : cahaya yang dihasilkan oleh sinar yang mempunyai kekuatan untuk membakar, seperti cahaya matahari, beda halnya dengan bulan, karena cahayanya hanya berupa penerang saja, tidak punya kekuatan untuk membakar. Jadi ketika sabar itu sangat berat dirasakan oleh jiwa manusia, maka dibutuhkan usaha keras untuk mengontrol diri dan menjaganya hawa nafsu, maka disitulah kesabaran itu berfungsi sebagai cahaya pembakar [36]). Oleh karena itu – wallahu a'lam – makanya orang-orang yang sabar itu akan diberikan pahala tanpa dihitung-hitung lagi.
14. Ujian akan senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah sehingga ketika dia berjumpa dengan Allah maka dia tidak punya kesalahan lagi, karena kesalahan-kesalahannya sudah dihapuskan oleh ujian-ujian tersebut [37]), ini berdasarkan hadits Abu Hurairah.
عن أبي هريرة t قال: قال رسول الله r: ((ما يزال البلاء بالمؤمن والمؤمنة: في نفسه، وماله، وولده، حتى يلقى الله وما عليه خطيئة ))
" Dari Abu Hurairah Radiyallahu 'Anhu dia berkata, Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda : Ujian ( cobaan ) akan senantiasa menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, harta, dan anaknya sehingga ketika dia bertemu dengan Allah dia tidak punya kesalahan lagi "[38]).
15. Keutamaan orang yang meninggal anaknya dan dia ihtisab ( sabar )
Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda :
عن أنس بن مالك t قال: قال رسول الله r: ((ما من الناس مسلم يموت له ثلاثة من الولد لم يبلغوا الحنث إلا أدخله الله الجنة بفضل رحمته إياهم ))
Dari Anas bin Malik Radiyallahu 'Anhu dia berkata : Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda : tidak ada seorang muslimpun apabila meninggal tiga orang anaknya yang belum baligh melainkan Allah akan memasukkannya ke dalam sorga dengan keutamaan-Nya kepada mereka " [39]) .
Anak yang dimaksud di sini mencakup anak laki-laki dan perempuan. Dalam hadist lain disebutkan :
عن عبد الله بن مسعود t قال: قال رسول الله r: ((ما تعدُّون الرّقوب فيكم ))؟ قال: قلنا: الذي لا يُولد له. قال: ((ليس ذاك بالرّقوب، ولكنه الرجل الذي لم يقدِّم من ولده شيئًا ))
" Dari Abdullah bin Mas'ud Radiyallahu 'Anhu dia berkata; Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda: apakah yang dimaksud dengan Ar-Raquub menurut kalian ?, kamipun menjawab : dia adalah orang yang tidak punya anak. Beliau pun bersabda : bukan itu yang dimaksud dengan Ar-raquub, tetapi dia adalah orang yang tidak ada meninggal satupun anaknya ( ketika dia masih hidup ) " [40]).
16. Siapa saja yang meninggal tiga orang anaknya – ketika dia masih hidup – maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka dan dia akan dimasukkan ke sorga.
Ini berdasarkan hadits berikut :
((من مات له ثلاثة من الولد لم يبلغوا الحنث كان له حجابًا من النار أو دخل الجنة ))
" Dari Abu Hurairah - Radiyallahu 'Anhu – dari Nabi - Shalallahu 'Alaihi Wasallam – siapa saja yang meninggal tiga orang anaknya yang belum baligh maka mereka akan menghalanginya dari api neraka atau dia akan masuk ke dalam sorga" [41]).
Dalam shahih Muslim disebutkan :
أن النبي قال لامرأة مات لها ثلاثة من الولد: ((لقد احتظرت بحظار شديد من النار ))
" Bahwasanya Nabi - Shalallahu 'Alaihi Wasallam – berkata kepada seorang wanita yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya : sungguh kamu telah berbenteng dengan benteng yang kokoh dari api neraka") HR. Muslim : 2636 .
Dan juga dalam hadits lain disebutkan :
عن عتبة بن عبدٍ t قال: سمعت رسول الله r يقول: ((ما من مسلم يموت له ثلاثة من الولد، لم يبلغوا الحنث إلا تلقَّوْه من أبواب الجنة الثمانية من أيها شاء دخل ))
" Dari Utbah bin Abdin - Radiyallahu 'Anhu -, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda: tidak ada seorang muslimpun yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya yang belum baligh kecuali mereka akan menyambut mereka di delapan pintu sorga, dia bisa memasukinya dari pintu manapun yang dia sukai"[43]).
[4]) lihat Shahih Muslim Kitab Janaiz, hadits no : 923
[6]) lihat Tafsir Taisir Karimurrahman karya Syekh As-Sa'di hal : 76 dan Tafsir Ibnu Katsir hal : 135
[7]) lih. Tafsir ibnu Katsir : 135, Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari Bab Ash-Shabru 'inda ash-shadmah al-ula, hadist no :1302
[8]) 'idlan adalah barang yang diletakkan dikedua sisi unta atau hewan tunggangan lainnya. pent
[9]) 'alawah adalah barang tambahan yang diletakkan diatas unta atau hewan tunggangan lainnya. pent
[14]) Tafsir Ibnu Katsir : 1511 dan Tafsar As-Sa'di : 721
[16]) Tafsir Ibnu Katsir : 1313 dan Tafsar As-Sa'di : 842
[18]) Tafsir As-Sa'di : 867
[20]) HR. Bukhari no : 4907
[21]) Lihat buku : Bardu al-Akbad 'inda faqdi al-aulaad karangan Ibnu Nashir ad-Dimasyqy : 12
[22]) Tafsir Ibnu Katsir : 753 dan Tafsir As-Sa'di : 449
[23]) Lihat buku : Ash-Shabru Al-jamil karangan Salim Al-Hilaly : 15-16
[24]) HR. Muslim no : 918
[25]) HR. Ibnu Majah no : 1098, dan disahihkan oleh Albani dalam Shahih Ibnu Majah : 1/267
[26]) HR. Tirmizi no : 1021
[27]) Lihat kitab : Bardu Al-Akbaad 'inda Faqdi al-Aulaad : 17
[28]) HR. Bukhari no : 6424
[29]) Fathul Bari : 11/242-243
[30]) Saya mendengarkannya ketika beliau menjelaskan Shahih Bukhari hadist no : 6424, pada hari Ahad tanggal 14/10/1419 di Jami' Al-Kabir – Riyadh.
[31]) HR. Tirmizi no : 2398, Tirmizi mengatakan Hadist ini Hasan Shahih. Ibnu Majah no : 4023, dihasankah oleh Albani dalam Shahih Tirmizi : 2/565, dan Shahih Ibnu Majah : 2/371, dan juga dalam Silsilah Hadits Shahih no : 143
[32]) HR. Abu Ya'la dan Ibnu Hibban, disahihkan oleh Albani dalam Silsilah Hadits Shahihah no : 1599
[33]) HR. Tirmizi no : 2396, dan Ibnu Majah no : 4031, dihasankan oleh AlBani dalam Shahih Sunan Tirmizi : 2/564, dan Shahih Ibnu Majah : 2/373, serta dalam Silsilah Hadits Shahihah no : 146
[34]) Tuhfatul Ahwazi karangan Almubarakfuri : 7/77
[35]) HR. Muslim : 223
[36]) Jami'ul 'Ulum wal Hikam karangan Ibnu Rajab : 2/ 24, 25
[37]) Tuhfatul Ahwazi karangan Almubarakfuri : 7/80
[38]) HR. Tirmizi no : 2399, dihasankan oleh Albani dalam Shahih Tirmizi : 2/565 dan dalam Silsilah Hadits Shahihah no : 2280
[39]) HR. Bukhari no : 1381
[40]) HR. Muslim : 2806
[41]) HR. Bukhari no : 1381
[43]) HR. Ibnu Majah no : 1603, dan dihasankan oleh Albani dalam Shahih Ibnu Majah : 2/46