Masjid yang menanti Anda ...

PEMBANGUNAN MASJID & PESANTREN

Masjid dan pesantren 2010 Masjid di Jurang jero, Sadan, Kebumen, Jawa Tengah Masjid diKemalang, Klaten, Jawa Tengah Masjid di Jurug, Pan...

Berbakti Kepada Orang Tua Sebab Diangkatnya Kesulitan

http://firanda.com
Kedelapan : Berbakti Kepada Orangtua Merupakan Sebab Diangkatnya Kesulitan dan Kesedihan.

خرج ثلاثة (ممن كان قبلكم) يمشون فأصابهم المطر فدخلوا في غار في جبل فانحطت عليهم صخرة (من الجبل فسدت عليهم الغار) قال فقال بعضهم لبعض ادعوا الله بأفضل عمل عملتموه (انظروا أعمالا عملتموها صالحة لله فادعوا الله بها لعله يفرجها عنكم) فقال أحدهم اللهم إني كان لي أبوان شيخان كبيران (ولي صِبْيَةٌ صغار) فكنت أخرج فأرعى ثم أجيء فأحلب فأجيء بالحلاب فآتي به أبوي فيشربان ثم أسقي الصبية وأهلي وامرأتي فاحتبست ليلة فجئت فإذا هما نائمان قال (فقمت عند رؤوسهما أكره أن أوقظهما وأكره أن أسقي الصبية) فكرهت أن أوقظهما والصبية يتضاغون عند رجلي (فلبثت والقدح على يدي أنتظر استيقاظهما) فلم يزل ذلك دأبي ودأبهما حتى طلع الفجر اللهم إن كنت تعلم أني فعلت ذلك ابتغاء وجهك فافرج عنا فرجة نرى منها السماء قال ففرج عنهم (فرأوا السماء)...الحديث

Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam bersabda ((Tiga orang (dari orang-orang terdahulu sebelum kalian) keluar berjalan lalu turunlah hujan menimpa mereka, maka mereka lalu masuk ke dalam goa di sebuah gunung. Lalu jatuhlah sebuah batu (dari gunung hingga menutupi mulut goa), lalu sebagian mereka berkata kepada yang lainnya, “Berdoalah kepada Allah dengan amalan yang terbaik yang pernah kalian amalkan!” (lihatlah amalan-amalan kalian yang telah kalian lakukan ikhlaslah karena Allah maka berdoalah dengan amalan-amalan sholeh tersebut semoga Allah membuka batu besar tersebut dari kalian). Maka salah seorang diantara mereka berkata, “Ya Allah aku memiliki dua orangtuaku yang telah tua (dan aku memiliki anak-anak kecil), (pada sauatu waktu) aku keluar untuk menggembala lalu aku kembali, lalu aku memerah susu lalu aku datang membawa susu kepada mereka berdua lalu mereka berdua minum kemudian aku memberi minum anak-anakku, keluargaku[1], dan istriku. Pada suatu malam aku tertahan (terlambat) dan ternyata mereka berdua telah tertidur (maka akupun berdiri di dekat kepala mereka berdua aku tidak ingin membangunkan mereka berdua dan aku tidak ingin memberi minum anak-anakku), maka aku tidak ingin membangunkan mereka berdua padahal anak-anaku berteriak-teriak di kedua kakiku (dan aku tetap diam di tempat dan gelas berada di tanganku, aku menunggu mereka berdua bagnun dari tidur mereka) dan demikian keadaannya hingga terbit fajar. Ya Allah jika Engkau mengetahui bahwasanya aku melakukan hal itu karena mengharap wajahMu maka bukalah bagi kami celah hingga kami bisa melihat langit”, maka dibukakan bagi mereka dan mereka bisa melihat langit....[2]
Lihatlah bagaimana orang ini telah mendahulukan kepentingan kedua orangtuanya dari pada kepentingan anak-anaknya, karib kerabatnya, dan istrinya. Bahkan anak-anaknya yang masih kecil menangis-nangis karena kelaparan di kakinya tidak ia perdulikan demi kedua orangtuanya. Oleh karenanya hendaknya mereka yang telah mendahulukan ketaatan kepada istrinya di atas ketaatan kepada ibunya hendaknya merenungkan hadits ini…, apalagi yang sampai rela mengeluarkan ibunya dari rumahnya karena taat kepada istrinya…

عن أبي الدرداء أن رجلا أتاه فقال إن لي امرأة وإن أمي تأمرني بطلاقها قال أبو الدرداء سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فأَضِعْ ذلك الباب أو احفظْهُ

Dari Abud Darda’ bahwasanya seorang datang kepadanya lalu berkata, “Aku memiliki seorang istri dan ibuku memintaku untuk menceraikannya”, Abud Darda’ berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam berkata, ((Orangtua[3] adalah pintu surga yang paling tengah, jika kau ingin maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah pintu itu))[4]
Berkata Al-Qodhi, “((Pintu surga yang paling tengah)) yaitu pintu yang paling baik dan yang paling tinggi, dan maknanya adalah “Sebaik-baik perkara yang bisa mengantarkan untuk masuk surga dan mengantarkan sampai kepada tingkatan surga yang tinggi yaitu taat kepada oangtua dan memperhatikan orangtua”[5]

Ada ulama yang berkata, “Surga itu memiliki pintu-pintu dan pintu yang baik dimasuki adalah yang paling tengah dan sebab untuk memasuki pintu yang tengah itu adalah menjaga hak-hak orangtua”[6]

Berbakti Kepada Orang Tua Sebab Diangkatnya Kesulitan

http://firanda.com
Kedelapan : Berbakti Kepada Orangtua Merupakan Sebab Diangkatnya Kesulitan dan Kesedihan.

خرج ثلاثة (ممن كان قبلكم) يمشون فأصابهم المطر فدخلوا في غار في جبل فانحطت عليهم صخرة (من الجبل فسدت عليهم الغار) قال فقال بعضهم لبعض ادعوا الله بأفضل عمل عملتموه (انظروا أعمالا عملتموها صالحة لله فادعوا الله بها لعله يفرجها عنكم) فقال أحدهم اللهم إني كان لي أبوان شيخان كبيران (ولي صِبْيَةٌ صغار) فكنت أخرج فأرعى ثم أجيء فأحلب فأجيء بالحلاب فآتي به أبوي فيشربان ثم أسقي الصبية وأهلي وامرأتي فاحتبست ليلة فجئت فإذا هما نائمان قال (فقمت عند رؤوسهما أكره أن أوقظهما وأكره أن أسقي الصبية) فكرهت أن أوقظهما والصبية يتضاغون عند رجلي (فلبثت والقدح على يدي أنتظر استيقاظهما) فلم يزل ذلك دأبي ودأبهما حتى طلع الفجر اللهم إن كنت تعلم أني فعلت ذلك ابتغاء وجهك فافرج عنا فرجة نرى منها السماء قال ففرج عنهم (فرأوا السماء)...الحديث

Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam bersabda ((Tiga orang (dari orang-orang terdahulu sebelum kalian) keluar berjalan lalu turunlah hujan menimpa mereka, maka mereka lalu masuk ke dalam goa di sebuah gunung. Lalu jatuhlah sebuah batu (dari gunung hingga menutupi mulut goa), lalu sebagian mereka berkata kepada yang lainnya, “Berdoalah kepada Allah dengan amalan yang terbaik yang pernah kalian amalkan!” (lihatlah amalan-amalan kalian yang telah kalian lakukan ikhlaslah karena Allah maka berdoalah dengan amalan-amalan sholeh tersebut semoga Allah membuka batu besar tersebut dari kalian). Maka salah seorang diantara mereka berkata, “Ya Allah aku memiliki dua orangtuaku yang telah tua (dan aku memiliki anak-anak kecil), (pada sauatu waktu) aku keluar untuk menggembala lalu aku kembali, lalu aku memerah susu lalu aku datang membawa susu kepada mereka berdua lalu mereka berdua minum kemudian aku memberi minum anak-anakku, keluargaku[1], dan istriku. Pada suatu malam aku tertahan (terlambat) dan ternyata mereka berdua telah tertidur (maka akupun berdiri di dekat kepala mereka berdua aku tidak ingin membangunkan mereka berdua dan aku tidak ingin memberi minum anak-anakku), maka aku tidak ingin membangunkan mereka berdua padahal anak-anaku berteriak-teriak di kedua kakiku (dan aku tetap diam di tempat dan gelas berada di tanganku, aku menunggu mereka berdua bagnun dari tidur mereka) dan demikian keadaannya hingga terbit fajar. Ya Allah jika Engkau mengetahui bahwasanya aku melakukan hal itu karena mengharap wajahMu maka bukalah bagi kami celah hingga kami bisa melihat langit”, maka dibukakan bagi mereka dan mereka bisa melihat langit....[2]
Lihatlah bagaimana orang ini telah mendahulukan kepentingan kedua orangtuanya dari pada kepentingan anak-anaknya, karib kerabatnya, dan istrinya. Bahkan anak-anaknya yang masih kecil menangis-nangis karena kelaparan di kakinya tidak ia perdulikan demi kedua orangtuanya. Oleh karenanya hendaknya mereka yang telah mendahulukan ketaatan kepada istrinya di atas ketaatan kepada ibunya hendaknya merenungkan hadits ini…, apalagi yang sampai rela mengeluarkan ibunya dari rumahnya karena taat kepada istrinya…

عن أبي الدرداء أن رجلا أتاه فقال إن لي امرأة وإن أمي تأمرني بطلاقها قال أبو الدرداء سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فأَضِعْ ذلك الباب أو احفظْهُ

Dari Abud Darda’ bahwasanya seorang datang kepadanya lalu berkata, “Aku memiliki seorang istri dan ibuku memintaku untuk menceraikannya”, Abud Darda’ berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam berkata, ((Orangtua[3] adalah pintu surga yang paling tengah, jika kau ingin maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah pintu itu))[4]
Berkata Al-Qodhi, “((Pintu surga yang paling tengah)) yaitu pintu yang paling baik dan yang paling tinggi, dan maknanya adalah “Sebaik-baik perkara yang bisa mengantarkan untuk masuk surga dan mengantarkan sampai kepada tingkatan surga yang tinggi yaitu taat kepada oangtua dan memperhatikan orangtua”[5]

Ada ulama yang berkata, “Surga itu memiliki pintu-pintu dan pintu yang baik dimasuki adalah yang paling tengah dan sebab untuk memasuki pintu yang tengah itu adalah menjaga hak-hak orangtua”[6]